Tag Archives: Yogya

Menuju Yogya

Belum tuntas urusannya di kamar kecil salah satu kafe di Gambir itu, iPhone Matt berbunyi dari dalam ransel yang digantung di pintu toilet. Pasti Tiara, pikirnya. Sejauh ini hanya ada tiga orang yang mengetahui nomor Indonesia tersebut. Hardi tak mungkin menghubunginya setelah apa yang terjadi. Ika pun, ia tak memliki alasan menghubungi Matt tengah malam begini.

Masih dengan tangan basah selepas cuci muka, Matt buru-buru menyambar handuk yang menjuntai dari dalam ransel, mengelap wajah dan tangannya sambil lalu sebelum merogoh-rogoh mencari telepon tersebut. Sudah mati. Ia beralih lagi ke handuknya untuk mengeringkan diri.

Matt beranjak lagi ke sudut nyaman yang malam ini menjadi daerah teritorialnya. Menghubungi Tiara.

“Hi, how is it going?” sahut suara di ujung sana tanpa basa basi.

“Hi Teeyarah, the last train to Yogya was at 9 pm, so… it’s’ too late now.”

“Ah ok, what you gonna do then? Finding a hotel?”

“I’m too tired for that, I’m just gonna spend the night here on the station, I found some cozy corner at a café, it’s pretty cool. Anyway, thanks for checking me in.”

“No problem, I’m just wondering if everything’s okay with the lost boy. Just give me a call if there’s anything I could do for you.” Tutur Tiara manis.

“Awww… Thank you so much, I appreciate that, I’ll take the earliest train tomorrow, I’ll let you know later.” Matt menjawab seraya tersenyum, selalu mengharukan mengetahui ada orang yang peduli saat kita jauh dari rumah.

“Okay then, you have a good rest, and stay safe ya!”

“Good night.”

Setelah menyetel alarm, iPhone pun dimatikan demi menghemat baterai. Jaket hitam tipis dengan tudung kepala sudah terpasang, lalu Matt meringkuk berbantalkan ransel besar dan memeluk ranselnya yang lebih kecil. Pegawai kafe itu menoleh ke arah Matt, memandangi badannya yang meringkuk sedemikian, dan bergumam, “Dasar backpacker!”

***

Cahaya mentari di luar stasiun masih semburat malu-malu saat Matthew terbangun pukul lima, selama beberapa detik bingung di mana dirinya berada. Masih ada waktu beberapa jam sebelum kereta paling awal pagi itu berangkat. Ia pun terlelap kembali hingga setengah jam kemudian, hanya sesaat sebelum alarmnya berdering.

Masih linglung, ia menyapukan padangan ke sekitar, ada beberapa pengunjung lain yang sedang menikmati kopi panasnya, mungkin menunggu jemputan, mungkin pula menunggu keretanya berangkat. Matt melangkah lagi ke kamar kecil untuk membasuh wajahnya. Kemudian ia memesan secangkir cappuccino panas dan dua potong donat keju untuk sarapan. Sebenarnya saat itu ia lebih menginginkan sandwhich dengan potongan sayuran dan daging, namun ia harus puas dengan pilihan yang ada.

“Can I have a walk for a minute and leave my stuff here after finishing my breakfast?” tanyanya pada kasir yang segera terbengong-bengong lalu celingukan seraya memanggil-manggil temannya, mencari bantuan penerjemahan. Ia bukan petugas yang sama dengan yang semalam, tapi untunglah temannya yang semalam memberi ijin Matt “menginap”, shiftnya belum usai. Ia muncul dari dapur membawa pesanan makanan pelanggan. Matt menanyakan hal yang sama, dijawab dengan anggukan, diikuti tangan kanan yang menunjuk bawaan Matt, lalu menunjuk ke bawah kakinya, menginstruksikan agar Matt lebih baik menaruh barangnya di balik counter, mereka akan menjaga barang-barang itu untuknya. Matt sangat berterimakasih pada kedua petugas itu, karena ia bisa setidaknya berjalan-jalan menikmati pagi beberapa saat tanpa membawa semua barangnya yang berat itu.

Di Stasiun Gambir, ada beberapa penitipan barang berbayar yang terletak di dekat toilet, tapi Matt tak tahu dan itu membuatnya berimprovisasi tanpa harus mengeluarkan ongkos tambahan. Terkadang solo traveler adalah diplomat yang handal, terutama di saat-saat genting.

Seusai sarapan seadanya dengan dua donat, kopi dan beberapa teguk air putih, Matt pun melenggang keluar dari stasiun. Tak lama kemudian… Monas!!! Ia baru sadar di mana dia berada, lalu terkekeh pada diri sendiri. Dari sekian banyak tempat di Jakarta yang bisa dikunjunginya dalam 24 jam terakhir, ia terpaku di depan monumen ramping itu, dua kali. Kurt Cobain mini keluar lagi dari rumahnya di daypack berwarna hitam, berpose lagi berlatarkan Monas, kali ini dengan langit yang mulai terang namun masih bersemburat jingga.

Sekembalinya ke stasiun Matt langsung membeli tiket kereta paling awal yang bisa membawanya segera ke Yogya. Dalam keadaan normal, sejak semalam mungkin ia sudah hitchhike dari Jakarta ke mana saja selama arahnya ke timur, sesuai dengan rute perjalannya. Tapi itu tak dilakukan. Mungkin lelah perjalanannya kebetulan terakumulasi dan mencapai puncaknya di Indonesia. Seusai membayar batinnya merutuk, thirties fucking bucks for a one way train ticket!

Akhirnya tibalah saatnya memasuki gerbong kereta eksekutif itu, keluhannya tentang betapa mahal harga yang harus dibayar demi sebuah tiket kereta segera –sedikit—teredam. Interior yang terang dan bersih, hawa AC yang nyaman, semua memberi kesan sedikit mewah. Tak mengecewakan untuk tiket semahal itu. Tunggu saja hingga ia ditawari makanan kereta yang sering mengecoh “unexperienced passengers” karena dikira gratis, padahal tak pernah gratis itu.

Baru sesaat setelah duduk ia teringat pada iPhonenya yang belum dinyalakan, ia segera menghubungi Tiara.

“Good morning, Teeyarah! How are you?”

“Hey, I’m good, just woke up.”

“Did I wake you up? I’m sorry…”

“No. I’ve been awake for maybe ten minutes. What’s up?”

“Guess what? I’m already on the train! I will be there in eight hours, will you be home?” nada ceria begitu terasa dari suaranya, yang segera menular ke ujung satunya.

“Yay! Congrats youuuu! If you’re taking one from Gambir I bethca will get some decent sleep along the way, because I think only executive ones departure from the station? I’m not sure though because it’s been a while for me not taking a train from Jakarta and I heard the business and economic class are now all as well cozy. Anyway, I don’t know if I’d be home by the time you arrived, just ring me when you’re in Yogya.”

“Will do. I will need that, I mean to get some sleep but I’m very excited about going to Yogya, sleeping would be difficult at this point!”

“Hahaha, just enjoy your trip, as you’re on the day trip you’ll be able to see some nice sceneries along the way, and remember if the train attendants offered you some dishes or drink, it’s never for free. Well sometimes tickets come with snacks, but just ask first.”

“It’s good to know, thanks!!!”

“Welcome! I’ll see ya soon!”

Tak lama kemudian, kereta merayap perlahan tepat seperti yang dijadwalkan.

Advertisements
Tagged , , , , , , , ,

Guardian Angel and Evilish Devil

Sebelum menghubungi hostnya di Yogya, masih dilingkupi kekesalan, Matthew menyempatkan diri untuk mempelajari profil Tiara melalui iPhone-nya, hal yang sudah menjadi semacam etika tak tertulis. Karena seorang calon surfer atau tamu yang baik harus mempelajari dahulu aturan-aturan di rumah yang akan disinggahinya walaupun hanya untuk beberapa malam. Matt pun ingin sedikit banyak tahu, orang macam apa yang akan dijumpainya itu.

Ia perlu mengeluarkan unek-uneknya, memaki dunia. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah bisa dilakukannya saat bertemu Tiara nanti? Itu sebenarnya yang perlu diketahui Matt. Ia hanya perlu menuangkan kepenatan pada orang yang mengerti bahasanya, atau bahkan yang tak mengerti sama sekali, namun mau mendengarkan tanpa menghakimi. Itu saja. Ia akan sangat berterima kasih pada dunia bila dipertemukan dengan orang semacam itu. Sambil memandangi wajah oriental Tiara di layarnya, tiba-tiba, ia ingin Tiara, wanita yang belum dikenalnya, menjadi orang yang dibutuhkannya. Ia ingin Tiara mendengarkan.

Dihisapnya dalam dalam batang Marlboro Light yang tinggal setengah di antara jari tengah dan telunjuk, ia nyaris tersedak asap rokok saat membaca Tiara menuliskan “pretty well behaved” di bagian “education” di profilnya, pernyataan konyol yang berhasil menguapkan rasa kesal walau sedikit. Ia menyukai profil Tiara. Sepertinya wanita yang menyenangkan walau terlihat agak konyol. Mudah-mudahan juga seorang pendengar yang baik. Ia betul-betul memerlukan seorang pendengar yang bersedia hanya berada di sampingnya, menampung segala keluhnya saat itu.

Tentu bukan sekali ini ia terpaksa terlibat dengan orang yang begitu menyebalkan dalam rangkaian perjalanan Asia-nya. Tetapi orang-orang menyebalkan ini biasa dijumpai di jalanan berwujud scammer yang memanfaatkan minimnya pengetahuan para turis tentang suatu wilayah dan budaya, demi keuntungan materi. Atau berwujud para turis menyebalkan yang mengeluh setiap saat tentang apa yang dilihatnya. Toliet yang jorok lah, kebiasaan penduduk lokal yang mengganggu lah, transportasi yang tak nyaman lah, cuaca tak mendukung lah. Matt selalu berpikir, untuk apa mereka “melihat dunia” bila hanya bisa mengeluhkan apa-apa yang tak sesuai keinginan dan standar mereka. Lebih baik tak usah kemana-mana saja.

Traveling bukan semata-mata mencari kesenangan, terkadang seseorang perlu mejelajahi dunia hanya untuk menemukan dirinya sendiri. Dalam segala kejadian buruk yang menimpanya, Matt selalu berusaha mencari sisi terang. Ia percaya silver lining, garis perak yang membingkai setiap awan kelabu. Selama perjalanannya, ia senantiasa berhasil membingkai segalanya dalam sebuah garis perak indah, walau terkadang perlu waktu menemukan (atau menciptakan, tergantung dari mana melihatnya) garis tersebut. Namun tak sekali jua ia mengijinkan harinya kacau hanya karena sebuah kejadian buruk. Move on bagi seorang pengelana seperti Matt memiliki makna lebih, yang bukan hanya move on dari sebuah masalah, tapi juga move on dari satu lokasi ke lokasi berikutnya tanpa mengikutsertakan segala permasalahan ataupun menyeret awan kelabu yang hanya akan mengganggu perjalanan.

Namun di malam yang murah hati mulai menurunkan gerimis itu, Matt menyadari satu hal, ia tak pernah benar-benar move on. Ia berusaha secara konstan memanipulasi diri agar percaya bahwa ia selalu bisa move on. Kasihannya, dirinya benar-benar percaya ia betulan berhasil menjadi seorang bijak yang dapat memilah dan meninggalkan apa yang harus ditinggalkan. Tidak. Kebrengsekan Hardi berhasil membangkitkan amarah-amarah yang selama ini tersembunyi rapi jauh sekali di dalam dirinya, amarah dan kekesalan yang bahkan tak disadarinya ada. Tapi perasaan-perasaan destruktif itu hadir kini, bangkit entah dari mana hingga Matt pun semakin marah. Kali ini karena menyadari bahwa dirinya tak pernah benar-benar move on seperti apa yang diyakini. Ia hanya meninggalkan masalah, bukan menyelesaikan seperti yang seharusnya sebelum melangkah lagi. Tak heran sisa-sisa kemarahannya masih ada, terakulumasi tanpa sadar dan siap meledak saat sesuatu memicu.

Kontemplasi itu lagi, hal yang belakangan sedang berusaha Matt hindari karena semakin merenung, semakin ia membenci dirinya akibat ketakmampuannya mengatasi diri sendiri. Sebatang lagi Marlboro Light menyala, gerimis masih halus menyapa, menghembuskan sedikit udara segar di tengah sumpeknya Jakarta.

Matt menghubungi nomor yang dikirimkan Tiara melalui email. Tak ada jawaban. Rasa gelisahnya semakin menjadi. Apa yang harus dilakukan? Dihubunginya nomor Tiara sekali lagi, berharap kali ini akan diangkat.

“Halo?” suara lembut Tiara menyahut di ujung sana.

“Hi, Tayara? This is Matthew Flanagan, I know this is a bit late and I supposed to go there in two or three days but are you up for a stranger tomorrow morning?” tanya Matt langsung ke pokok permasalahan.

“Huh? It’s Tee-ara” Tiara tak mengantisipasi telepon dari orang asing itu hingga ia perlu mencerna beberapa saat sebelum bisa berbicara.

“Hi Tee-yarah. Yeah I know. I don’t know where I am at the moment and I just feel like going there tonight, do you think it’s possible? I haven’t even checked any possible transportation to get me there like now.”

Tiara tak menjawab pertanyaan, ia justru terpaku pada Matt yang tak tahu dirinya di mana, “What do you mean you don’t know where you are?”

“It’s a long story,” jawab Matt sambil tertawa-tawa.

Ada sesuatu yang tak enak dirasakan Tiara dalam tawa Matt yang terkesan dipaksakan. “Where are you now?”

“I wish I knew,” cetus Matt lagi, kali ini ia tertawa lepas, karena ia sudah memberitahu Tiara sebelumnya ia tak tahu ada di mana.

“Oh sorry, you told me before. Why so soon? I mean you are very welcome here but what happened? How’s Jakarta been treating you?”

“The city has been nice to me but my guardian angel told me to leave the town as soon as possible.”

“Oh, really?” Tiara bercanda setengah sinis, merasa Matt menyembunyikan sesuatu. Sebagai orang asing, Tiara bisa menghargai itu, “Do you also have a devil with you? What’s the devil told you?”

“He didn’t tell me anything, not even a clue what should I be doing right now in the middle of nowhere, that’s why it’s an evilish devil.” Lagi-lagi tawa tersembur, keterhubungan keduanya tercipta kuat saat itu.

Tiara prihatin pada bule nyasar satu itu. Ia menginstruksikan pada Matt, seolah lelaki itu seorang anak kecil dengan masalah belajar, untuk bertanya pada orang sekitar, bagaimana caranya ke stasiun. “Just any station, I’ll give you a list of train stations in Jakarta. Ask for the nearest one. I will send along a text in Indonesian, all you need to do is to show them my text, okay?”

“Will do, Ma’am” tawa renyah lagi-lagi keluar dari mulut Matt.

“Shut up. Save your battery.” Matt tak tahu maksud Tiara dengan baterai, apakah baterai HP, atau energinya. Wanita itu sungguh lucu.

Tagged , , , , , , , , , ,

Homophobe

Aroma kerak telor di kamar langsung menyambut kembali Hardi yang barusan dari kamar mandi, ia sudah segar dan wangi lagi walau matanya masih agak sembab akibat tidur pulas beberapa jam. Matt terpejam di atas tempat tidur sambil memegang perutnya dengan sebelah tangan, kekenyangan. Tangan lainnya masih menggenggam iPhone seselesainya membaca email dari Tiara. Ia akan menghubungi wanita itu nanti.

Hardi yang tadinya tak bermasalah dengan kerak telor mendadak jengkel kamarnya dipenuhi aroma mengganggu itu. Ia baru sadar setelah hidungnya mulai netral sekembalinya dari kamar mandi. Semua ini gara-gara Matt, seharusnya bule satu itu minta ijin dulu pada pemilik kamar, apa boleh makan di kamar. Bukan seenaknya membuka bungkus makanan yang sekarang baunya nempel, belum lagi remah-remah serundengnya yang mengotori meja di samping tempat tidur Hardi.

Seraya mematut diri di cermin, ia melirik pada Matt, “Are you ready?” tanya Hardi memendam rasa tak sukanya terhadap pendatang baru di kamarnya itu, bersikap seolah tak ada apa-apa.

Matt membuka matanya dengan malas menuju wajah di cermin dengan pandangan bertanya-tanya. Ia tak ingat pernah membuat janji dengan Hardi, “What? Where?”

“Have a drink somewhere, or partying around?”

“Oh well I’d really love to, but I feel really worn out tonight, can I just stay here?”

“Are you sure? Come on! This is your first night in Jakarta, bro! First night in Indonesia! We should celebrate tonight! There would be a lot of hot chicks you can flirt with.” kata Hardi berapi-api setengah memaksa.

Matt tak suka apa yang barusan didengarnya, setengah mati ia mengumpulkan uang demi keliling Asia, demi pemahaman yang lebih baik tentang manusia dan budayanya, demi lebih bisa menghargai orang lain, hanya untuk dicap sebagai orang yang mau mengorbankan sinyal tubuhnya yang meraung minta istirahat demi… wanita-wanita seksi di klub malam? Selain merendahkan dirinya, ia pun tak suka cara Hardi bicara tentang wanita. Entahlah, Matt bukannya tak pernah bercanda tentang wanita, itu biasa dilakukannya dengan teman-teman dekatnya di Amerika sana, mereka bahkan tak jarang menggosipkan para wanita malang itu, tapi semua semata-mata bercanda, berbeda dengan cara bicara Hardi yang tak terdengar seperti bercanda, tak lucu, begitu menyebalkan dan merendahkan. “Only because it’s my first night here doesn’t mean I have to be up all night long for some hot chicks, bro. But thanks.” pungkasnya tajam dengan tekanan di kata ‘bro’.

Wajah kuning langsat Hardi memerah, tak suka kemurahan hatinya menyediakan kamar gratis dibalas dengan keberanian sang tamu melempar komentar pedas. Bagaimanapun, ia yang punya otoritas penuh di ruangan itu, lawan bicaranya hanyalah tamu. Tamu seharusnya sopan. Seharusnya ditampung saja sudah berterima kasih, sudah bersyukur. Bukan membuat kamar menjadi bau. Bukan menantang tuan rumah. Bukan menyindir keakraban tuan rumah dengan penekanan ‘bro’ yang sengaja dilebih-lebihkan. Hardi merasa terhina. “Yeah you’d rather spend the whole time here in this smelly room, thanks to your silly kerak telor, the cheap food not even faggots want to eat!”

Darah terpompa lebih deras ke seluruh tubuh Matt, membuat kepala dan dadanya terasa hangat dan nafasnya lebih berat. Ia serta merta terduduk tegak dan menatap tajam pada Hardi yang kini sudah berbalik membelakangi cermin, berdiri menghadap Matt. “What the? What is your problem, Hardi? If your life is even HARDER than your name, you have no right to judge people’s sexual orientation!”

“See? You’re a faggot!” Hahaha, tawa histeris Hardi menyiratkan sesuatu, bahwa Matt akan percuma saja meladeni argumen apapun yang keluar dari orang yang bisa tertawa histeris macam itu.

“Listen. Seek help. You have some issue. Oh WAIT. You don’t. You’re just an A-HOLE. I’m so sorry for you.” Berlawanan dengan Hardi yang nada bicaranya seperti di luar kendali, Matt tampak menguasai keadaan dengan tetap membuat suaranya terkontrol. Tajam, datar dan rendah. Namun wajahnya merah dan matanya seperti singa siap menerkam korbannya.

Ia serta merta bangkit dari tempat tidur, buru-buru mengemasi barangnya, untung saja ia tadi agak berhati-hati saat mengeluarkan handuk, baju ganti dan perlengkapan mandi, hingga sekarang tak perlu berlama-lama membereskan semuanya kembali. Napasnya memburu menahan emosi, sekali lagi Hardi memprovokasinya ia bisa saja meledak dan menghantam Hardi dengan kepalannya yang sudah lama sekali tidak digunakan. Ia tak butuh memukul orang sekarang. Ia hanya perlu pergi secepatnya dari rumah itu.

Hardi menyaksikan semua itu dengan wajah sinis dan dengusan nyinyir, ia hendak meluncurkan cercaan lain untuk memancing emosi lawan, sebelum dilihatnya kilatan di mata Matt yang membuat Hardi ciut di kandang sendiri. Matt rak perlu dipanncing rupanya. Tapi ia hanyalah orang asing, sementara Hardi si penghuni rumah, lebih mengerti keadaan, lebih tahu situasi dan lingkungan, lebih mudah mencari dukungan atau bala bantuan bila diperlukan. Tapi jaraknya dengan Matt terlalu dekat, ia akan babak belur sebelum sempat meminta bantuan teman-teman di rumahnya. Lagipula, berurusan dengan polisi adalah hal terakhir yang dibutuhkan Hardi dalam hidupnya. Ia hanya butuh pasokan alkohol secepatnya. Malam itu juga. Saat itu juga.

Beban belasan kilo segera berpindah ke punggung Matt, dengan napas memburu, bergulat menahan diri agar tak melukai siapapun, tanpa ragu ia membanting pintu di belakangnya, meninggalkkan Hardi, melewati dua orang ekspat di ruang TV lantai bawah yang keduanya memandang penuh tanya padanya. Ia terus melangkah meninggalkan rumah itu untuk kedua kalinya di hari yang sama. Tanpa menoleh kembali. Hari pertamanya di Indonesia berakhir berantakan.

Ia tak mengenal daerah itu, ia tak mengenal Indonesia sama sekali, ia tak tahu harus berbuat apa, ia hanya ingin berjalan sejauh mungkin, nanti akan dipikirnya apa yang harus dilakukan. Mungkin mencari hotel untuk malam itu saja, mungkin langsung menuju Yogya. Tapi bagaimana? Ia lantas merutuk, menyesali brewok yang kini sudah lenyap. Kesan yang ditampilkan dengan brewok itu selalu lebih sangar, setidaknya membuat orang berpikir dua kali untuk mencari masalah dengannya. Itu penting untuk survival di tempat asing. Ah, dalam perjalanan beberapa bulan ini, ia berusaha keras memercayai manusia pada dasarnya baik, kenapa brewok kini menjadi soal? Bila manusia pada dasarnya baik, dengan atau tanpa brewok seharusnya Matt aman. Ia tak perlu tampil lebih intimidatif untuk menghindari menjadi korban kriminalitas. Persetan! Pikirannya tak bisa berhenti berperang, mulai dari mengutuk kecongkakan Hardi, meributkan brewok, memikirkan hotel, perjalanannya di Asia, hakikat manusia, pembuktian diri, atau lebih tepatnya mencari bukti atas prasangka baiknya terhadap manusia. Kepalanya ingin pecah. Untuk pertama kali selama perjalanannya ia begitu kesal. Ia hanya perlu menemukan tempat untuk duduk sesaat, menyulut sebatang rokok, lantas… Tiara! Ya, Tiara. Matthew akan menghubungi Tiara.

Tagged , , , , , , ,

Tiara

Udara Yogya hari itu terbilang dingin setelah seharian diguyur hujan, Tiara  masih duduk di ruang tamu rumah mungilnya, menikmati secangkir double espresso yang kini aromanya mengambil alih segala keresahan Tiara. Masa depan bisnisnya terancam saat calon investor yang menjadi tumpuan harapan tiba-tiba mengindikasikan akan membatalkan kerjasama bisnis mereka.

Telah berjam-jam ia berpindah dari satu titik ke titik lain di rumahnya. Di halaman belakang, dengan rambut panjang sepunggung yang sengaja digerai agar lebih hangat, ia mengamati barisan pohon terong yang ditanamnya belum lama berselang, salah satu di antara pohon-pohon itu akhirnya tercerabut dari akar lalu tumbang akibat deraan air hujan. Tiara hanya menatapnya, ia akan membenahi posisi pohon itu kemudian, pikirnya. Ia berpindah ke teras depan, menikmati hujan dengan sesekali menjulurkan tangannya agar terkena cipratan air, diresapinya irama rintik air hujan dari atas atap, juga yang menimpa hamparan rumput dan pepohonan di hadapannya, seperti harmoni kelabu berlatarkan orkestra kodok dari kebun tebu tak jauh dari rumah itu, bertemankan langit abu-abu dengan awan tebal menggantung, dingin menusuk dan pahit kopi kentalnya. Segalanya begitu suram bagi Tiara hari itu.

Wanita yang memiliki darah Cina itu terpekur menggenggam cangkir kopinya dengan kedua tangan, memikirkan segala kemungkinan, berharap yang terbaik dan mempersiapkan diri bagi yang terburuk. Ia tengah mencari inspirasi akan langkah apa yang hendak diambilnya bila yang terburuk menjadi nyata. Sudah menjadi kebiasaannya untuk tetap berpikir jernih dalam situasi apapun, kecuali bila itu berkaitan dengan asmara. Ia hanya wanita biasa yang cenderung lemah hati saat berurusan dengan cinta dan laki-laki.

Ketangguhan yang nampak di meja rapat kantornya, atau ketegasan seorang pemimpin bisnis, sama sekali lenyap tanpa jejak saat berhadapan dengan lelaki. Menyadari kelemahannya yang satu itu, ia selalu berusaha meyakinkan diri, “Itu kan dulu, sekarang ngga lagi kok,” pernyataan yang selalu muncul dari waktu ke waktu hanya untuk dilanggarnya kembali. Ia mengingat banyak detail seperti seorang wanita mengingat dosa-dosa pasangannya, namun selalu lupa pernah menyatakan hal semacam itu. “Masa iya sih?” Tanyanya pada sahabatnya setiap kali, yang dibalas dengan helaan nafas panjang sang sahabat. Lalu mereka akan menghabiskan malam bertemankan cangkir demi cangkir kopi, dan kepulan asap rokok.

Handphonenya berbunyi, Lia, “Hai Ti, kamu lagi apa?” suara di ujung sana menyapa, dari nadanya Tiara langsung tanggap, sang sahabatnya yang satu itu sedang gelisah.

“Lagi bengong nih, kenapa?”

“Gini, aku ada mau host cowok Amrik dua atau tiga hari lagi, tapi terus ada panggilan dadakan ke Papua. Biasa, kerjaan. Harus berangkat besok pagi nih, Ti. Gimana dong?” Tiara tanggap betul ini semacam permohonan terselubung untuk menggantikan Lia hosting cowok ini. Tapi gimana, Tiara pun seperti butuh waktu sendirian untuk berpikir dan menyusun strategi terkait bisnisnya. “Orangnya asyik kok, Tiii,” rajuk Lia tiba-tiba seperti mengerti apa yang tengah dipikirkan Tiara.

“Hmmm…” gumaman malas terdengar dari hp Lia.

“Duh, Ti, kamu liat orangnya deh, kayaknya asyik, ganteng pula, serius deh.”

“Kamu nih mau minta tolong ato mau nyomblangin aku, sih?”

“Ya dua-duanya, kamu kan udah lama banget ngejomblo, sebagai teman yang baik, aku impor dong cowok ini langsung dari Amrik, just for you, darla. Lagian kan sekarang Yogya dingin…” tawa keduanya meledak diselingi rutukan Tiara. “Sebentar lagi aku kirim link ke profilnya dia biar kamu bisa cek, aku kasih tau dia juga sekarang soal ini, habis ini kamu kirim email ya, kenalan kek ato gimana gitu, ok?”

“Baeklaaaah.”

“Aaaahhh!!! I love you so much! Makasiiih!” Sambungan telepon pun mati. Tiara langsung melempar pelan teleponnya ke atas bantal di sofa seberangnya.

Lima menit berikutnya Tiara sudah sibuk dengan laptop, menyelidiki siapa calon tamu yang “diimpor” Lia ini. Beberapa uraian di profil Matthew Flanagan membuat senyumnya terkembang. “Okayyy, he’s got some brain,” gumam Tiara. “And some sense of humor too, it seemed. Sepertinya tipe orang yang menyenangkan, lagipula kan cuma mau nginap paling lama tiga malam, ga masalah lah, melihat pengalaman berbulan-bulannya traveling, yang model begini sudah tau harus ke mana dan ngapain, tak perlu diantar, ga manja, dan harusnya sih tau tata krama, kan udah ketemu banyak orang di lapangan? Harusnya sih ngerti lah. Biasanya mereka juga punya cerita-cerita hebat oleh-oleh dari petualangannya. Mungkin nanti aku dapat lagi cerita kekaguman ke pohon pisang, ato yang semacam itu lah. Lucu kan? Eh tapi itu cerita bule Eropa entah dari mana itu deh, kalo di Amrik ada pohon pisang dong ya? Oh! Ya ampun… matanya cokelatnya killer abis deh…” Tiara langsung berkhayal menghabiskan malam dengan Matt, bernaungkan cahaya rembulan di tepi pantai. Tersipu akibat tatapan Matt yang semacam kompromi antara hangat dan dingin, serius dan jenaka, intens dan seksi… Pikiran yang segera diakhirinya dengan tenggakan espresso terakhir di cangkir.

Segera Tiara mengklik opsi “kirim pesan”, memperkenalkan diri dan sedikit membantu menjelaskan situasi Lia yang, dia yakin sebenarnya sudah dilakukan sendiri oleh Lia, tapi apa salahnya menambahkan bahwa Lia adalah orang yang bertanggung jawab sehingga tak mungkin membiarkan seorang yang jauh dari rumah seperti Matt, terlantar. Cis, dibacanya sekali lagi suratnya, cukup murahan, tapi kan maksudnya bercanda? Begitu pikir Tiara. Dikirimnya email tersebut bersama nomor kontak dan peta rumahnya.

Saat banyak perempuan lain takut untuk mengungkapkan identitas personal seperti tempat tinggal pada orang asing, Tiara justru sangat terbuka mengenai hal itu. Bagaimana tidak, toh ia sudah terlanjur membuka tempat tinggalnya untuk kegiatan belajar dan bermain anak-anak sekitar rumahnya. Tak jarang teman-teman dari berbagai komunitas menjadikan rumah itu sebagai tempat singgah pula. Faktor yang menurut Tiara, “terlanjur semua orang tahu” yang sebenarnya bukan terlanjur, ia hanya begitu terbuka menyambut dan menjamu orang-orang.

Banyaknya berita kejahatan terhadap wanita tak juga membuatnya ciut. Ia percaya, manusia pada dasarnya baik, minimal kebanyakan manusia itu baik, kalaupun ada yang jahat jumlahnya tak sebanding dengan yang baik, dan sebenarnya hal-hal jahat macam itu semenjak dulunya sudah ada, pasti ada. Hanya saja, sekarang, dengan jurnalisme haus darah –julukannya terhadap pemberitaan yang memberitakan apa saja, penting tak penting— jumlah kejahatan yang dari dulunya segitu-gitu aja tanpa fluktuasi tajam itu diekspos di segala lini: media cetak dan elektronik, termasuk menjadi berita viral di internet. Hasilnya, kita seolah melihat kejahatan di mana-mana, lalu keluarlah ungkapan, “jaman sekarang harus hati-hati, harus lebih waspada” atau hal-hal bersifat peringatan semacam itu. Kita memilih apa yang mesti dipercaya. Tiara memilih aman dalam kepercayaan untuk fokus ke hal-hal baik dalam hidup. Menurutnya, waspada itu perlu, tapi bukan berarti harus menutup diri dan mencurigai setiap orang.

Tagged , , , ,
%d bloggers like this: