Tag Archives: Traveling

Menuju Yogya

Belum tuntas urusannya di kamar kecil salah satu kafe di Gambir itu, iPhone Matt berbunyi dari dalam ransel yang digantung di pintu toilet. Pasti Tiara, pikirnya. Sejauh ini hanya ada tiga orang yang mengetahui nomor Indonesia tersebut. Hardi tak mungkin menghubunginya setelah apa yang terjadi. Ika pun, ia tak memliki alasan menghubungi Matt tengah malam begini.

Masih dengan tangan basah selepas cuci muka, Matt buru-buru menyambar handuk yang menjuntai dari dalam ransel, mengelap wajah dan tangannya sambil lalu sebelum merogoh-rogoh mencari telepon tersebut. Sudah mati. Ia beralih lagi ke handuknya untuk mengeringkan diri.

Matt beranjak lagi ke sudut nyaman yang malam ini menjadi daerah teritorialnya. Menghubungi Tiara.

“Hi, how is it going?” sahut suara di ujung sana tanpa basa basi.

“Hi Teeyarah, the last train to Yogya was at 9 pm, so… it’s’ too late now.”

“Ah ok, what you gonna do then? Finding a hotel?”

“I’m too tired for that, I’m just gonna spend the night here on the station, I found some cozy corner at a café, it’s pretty cool. Anyway, thanks for checking me in.”

“No problem, I’m just wondering if everything’s okay with the lost boy. Just give me a call if there’s anything I could do for you.” Tutur Tiara manis.

“Awww… Thank you so much, I appreciate that, I’ll take the earliest train tomorrow, I’ll let you know later.” Matt menjawab seraya tersenyum, selalu mengharukan mengetahui ada orang yang peduli saat kita jauh dari rumah.

“Okay then, you have a good rest, and stay safe ya!”

“Good night.”

Setelah menyetel alarm, iPhone pun dimatikan demi menghemat baterai. Jaket hitam tipis dengan tudung kepala sudah terpasang, lalu Matt meringkuk berbantalkan ransel besar dan memeluk ranselnya yang lebih kecil. Pegawai kafe itu menoleh ke arah Matt, memandangi badannya yang meringkuk sedemikian, dan bergumam, “Dasar backpacker!”

***

Cahaya mentari di luar stasiun masih semburat malu-malu saat Matthew terbangun pukul lima, selama beberapa detik bingung di mana dirinya berada. Masih ada waktu beberapa jam sebelum kereta paling awal pagi itu berangkat. Ia pun terlelap kembali hingga setengah jam kemudian, hanya sesaat sebelum alarmnya berdering.

Masih linglung, ia menyapukan padangan ke sekitar, ada beberapa pengunjung lain yang sedang menikmati kopi panasnya, mungkin menunggu jemputan, mungkin pula menunggu keretanya berangkat. Matt melangkah lagi ke kamar kecil untuk membasuh wajahnya. Kemudian ia memesan secangkir cappuccino panas dan dua potong donat keju untuk sarapan. Sebenarnya saat itu ia lebih menginginkan sandwhich dengan potongan sayuran dan daging, namun ia harus puas dengan pilihan yang ada.

“Can I have a walk for a minute and leave my stuff here after finishing my breakfast?” tanyanya pada kasir yang segera terbengong-bengong lalu celingukan seraya memanggil-manggil temannya, mencari bantuan penerjemahan. Ia bukan petugas yang sama dengan yang semalam, tapi untunglah temannya yang semalam memberi ijin Matt “menginap”, shiftnya belum usai. Ia muncul dari dapur membawa pesanan makanan pelanggan. Matt menanyakan hal yang sama, dijawab dengan anggukan, diikuti tangan kanan yang menunjuk bawaan Matt, lalu menunjuk ke bawah kakinya, menginstruksikan agar Matt lebih baik menaruh barangnya di balik counter, mereka akan menjaga barang-barang itu untuknya. Matt sangat berterimakasih pada kedua petugas itu, karena ia bisa setidaknya berjalan-jalan menikmati pagi beberapa saat tanpa membawa semua barangnya yang berat itu.

Di Stasiun Gambir, ada beberapa penitipan barang berbayar yang terletak di dekat toilet, tapi Matt tak tahu dan itu membuatnya berimprovisasi tanpa harus mengeluarkan ongkos tambahan. Terkadang solo traveler adalah diplomat yang handal, terutama di saat-saat genting.

Seusai sarapan seadanya dengan dua donat, kopi dan beberapa teguk air putih, Matt pun melenggang keluar dari stasiun. Tak lama kemudian… Monas!!! Ia baru sadar di mana dia berada, lalu terkekeh pada diri sendiri. Dari sekian banyak tempat di Jakarta yang bisa dikunjunginya dalam 24 jam terakhir, ia terpaku di depan monumen ramping itu, dua kali. Kurt Cobain mini keluar lagi dari rumahnya di daypack berwarna hitam, berpose lagi berlatarkan Monas, kali ini dengan langit yang mulai terang namun masih bersemburat jingga.

Sekembalinya ke stasiun Matt langsung membeli tiket kereta paling awal yang bisa membawanya segera ke Yogya. Dalam keadaan normal, sejak semalam mungkin ia sudah hitchhike dari Jakarta ke mana saja selama arahnya ke timur, sesuai dengan rute perjalannya. Tapi itu tak dilakukan. Mungkin lelah perjalanannya kebetulan terakumulasi dan mencapai puncaknya di Indonesia. Seusai membayar batinnya merutuk, thirties fucking bucks for a one way train ticket!

Akhirnya tibalah saatnya memasuki gerbong kereta eksekutif itu, keluhannya tentang betapa mahal harga yang harus dibayar demi sebuah tiket kereta segera –sedikit—teredam. Interior yang terang dan bersih, hawa AC yang nyaman, semua memberi kesan sedikit mewah. Tak mengecewakan untuk tiket semahal itu. Tunggu saja hingga ia ditawari makanan kereta yang sering mengecoh “unexperienced passengers” karena dikira gratis, padahal tak pernah gratis itu.

Baru sesaat setelah duduk ia teringat pada iPhonenya yang belum dinyalakan, ia segera menghubungi Tiara.

“Good morning, Teeyarah! How are you?”

“Hey, I’m good, just woke up.”

“Did I wake you up? I’m sorry…”

“No. I’ve been awake for maybe ten minutes. What’s up?”

“Guess what? I’m already on the train! I will be there in eight hours, will you be home?” nada ceria begitu terasa dari suaranya, yang segera menular ke ujung satunya.

“Yay! Congrats youuuu! If you’re taking one from Gambir I bethca will get some decent sleep along the way, because I think only executive ones departure from the station? I’m not sure though because it’s been a while for me not taking a train from Jakarta and I heard the business and economic class are now all as well cozy. Anyway, I don’t know if I’d be home by the time you arrived, just ring me when you’re in Yogya.”

“Will do. I will need that, I mean to get some sleep but I’m very excited about going to Yogya, sleeping would be difficult at this point!”

“Hahaha, just enjoy your trip, as you’re on the day trip you’ll be able to see some nice sceneries along the way, and remember if the train attendants offered you some dishes or drink, it’s never for free. Well sometimes tickets come with snacks, but just ask first.”

“It’s good to know, thanks!!!”

“Welcome! I’ll see ya soon!”

Tak lama kemudian, kereta merayap perlahan tepat seperti yang dijadwalkan.

Advertisements
Tagged , , , , , , , ,

Let’s Bus A Take?

Beberapa detik kemudian iPhonenya berdering, “Matt! Wait. Are you sure you have no idea where you are? Like in which part of Jakarta, central, west, east, anything like that? You have GPS on your phone, right? We’re just gonna… I’m not gonna send you the text, guide yourself with the GPS to bigger street, because it’s easier to reach public transportation from bigger streets. Find out in which part of Jakarta you are because I will send you to the nearest train station, so I need to know where exactly you are. Wait. Am I going too much about the whole thing? I’m not underestimating your ability to survive, nor do I know your actual condition, whether you were lost like the traveler’s usual lost or the I-don’t-know-what-to-do kinda lost, but I feel this sense of responsibility as you are in my country and you sound like… I don’t know, lost.”

Matt tak memiliki kesempatan barang sedetik untuk menjawab satu saja dari rentetan pertanyaan itu, tawanya nyaris terhambur saat mendengar nada khawatir dalam suara Tiara tapi ditahannya hingga wanita itu selesai bicara. Sepersekian detik setelah Tiara nampaknya selesai, tawa Matt pun meledak. Ia tak mau membandingkan, tapi Tiara mengingatkannya pada ibunya di Amerika sana. Caranya mengajukan rentetan pertanyaan, nada bicaranya saat mengkhawatirkan sesuatu, dan tentu saja intensitas emosional yang ditularkan pada Matt. Sesuatu yang tulus sedang dialaminya, dan itu datang dari seorang asing bernama Tiara. Ya Tuhan, Matt bahkan tak tahu siapa nama lengkap Tiara.

Serta merta saat Tiara belum lagi menyemprotnya untuk menghentikan tawa sialan itu, Matt menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia hanya perlu waktu berpikir sedikit untuk memikirkan langkah sistematis menuju Yogya. Tapi ia baik-baik saja dan semuanya dalam kendali. “I mean thanks, I really appreciate what you did, and I’ll do exactly what you told me to do, Ma’am!”

“That’s silly,”

“You’re not, what you told me to do isn’t silly either.”

“The ma’am part is.”

“Oh,” keduanya terkikik lagi sebelum mengakhiri panggilan telepon.

Pikiran Matt kali ini lebih bisa diajak bekerja sama, sesaat ia merasa bodoh, ah tidak, Tiara yang membuatnya merasa bodoh, ia sendiri tak bodoh, begitu gumamnya. Ia hanya memerlukan sedikit waktu berpikir, menjelajahi internet untuk beberapa info praktis di kota Jakarta, lalu mencari kendaraan umum menuju stasiun itu saja. Tapi wanita Yogya itu membuatnya terlihat ia seperti traveler tak berpengalaman dan cengeng, yang tersesat di kota besar saja sudah harus mengadu ke seorang wanita. Ia terus menyalahkan Tiara atas perasaan buruknya terhadap diri sendiri. Tetapi senyum lebar kini menghiasi wajahnya.

***

Kini Tiara akan mengirimnya ke stasiun kereta terdekat, tapi sebelum menginfokan Tiara di mana GPS-nya mengatakan dirinya berada, Matt, dalam upaya putus asanya, mencari jadwal bus. Sepuluh menit yang tak membuahkan hasil dan malam beranjak larut, ia harus bergerak cepat, paling tidak ke tempat yang lebih ramai. Ia pun menyerah, ia memberitahu Tiara bahwa ia ada di sebuah wilayah di Jakarta Pusat. Tiara menyarankan, agar Matt segera menuju jalan protokol terdekat untuk mencegat taksi, menanyakan harga di awal, minimal perkiraan harga sebelum naik menuju Gambir. Maksimal 30 ribu rupiah, begitu kata Tiara, tak buta kenyataan bahwa selalu akan ada orang yang mengambil untung dari ketaktahuan orang lain.

***

Di rumah Hardi, kedua ekspat menanyakan ada masalah apa dengan Matt, tepat saat Hardi menginjakkan kaki di ruangan dengan TV LCD 36 inchi.

“Ga ada masalah kok, dia minta dicariin cewek Indonesia for tonight, gue tolak lah, kan ngerendahin banget as if dia bisa datang seenaknya dan dapet cewek begitu aja. Typical arrogant tourist who thinks every local girl wants to sleep with bule. He pissed off as I said no to the stupid request,” jawab Hardi dengan wajah yang disetel tersinggung.

“Yea man, that’s bloody ridiculos, sometimes whiteys are so arrogant to behave like they own the world. I am white but I never liked such arrogancy, you know?” seorang lelaki Inggris berkomentar pedas terhadap perilaku Matt.

“Itu tidak baik, right? You travel ke negara mana saja with respect. Otherwise, piss off, Jeez!!!”

“Yes, true,” senyum tipis terlihat dari wajah Hardi, menyadari ia berhasil membuat kedua teman rumahnya percaya pada cerita tentang Matt. Tapi tak ada yang menyadari senyuman tipis itu, mereka berganti fokus sesekali dari layar TV, memandang satu sama lain, memandang Hardi, lalu beralih kembali ke TV. Hardi puas dengan reaksi yang didapatnya, lantas mengajak keduanya menuju salah satu kafe di Kemang untuk menikmati bir dan bersosialisasi dengan makhluk malam Jakarta lainnya.

***

Tak juga beranjak dari rumahnya yang kembali beraroma kopi, Tiara mengaktifkan laptopnya kembali, membaca ulang profil Matt karena ia yakin pasti melewatkan sesuatu di profil tersebut, profil yang mengesankan Matt seorang yang cerdas dan lucu. Sepertinya tak ada yang terlewat, kesan sedikit ceroboh (dan bodoh) yang didapatnya lewat obrolan telepon barusan pastilah karena Matt lelah. Itu saja.

Rasa lelah atau ngantuk terkadang membuat kita melakukan hal-hal konyol. Pernah suatu kali saat traveling berdua di Bangkok, Tiara dan mantan kekasihnya berjalan kaki berkilo-kilo meter. Berjalan kaki selalu menjadi pilihan menyenangkan karena bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih dekat dan detail, namun malam sebelumnya mereka clubbing hingga dini hari, berjanji tak akan ada yang mabuk. Mereka pun memasuki klub malam itu, Tiara sok cool mendapati banyaknya wanita mengenakan bikini saja. “Demi tuhan ini bukan pantai! Wow!” batin Tiara, tapi ia tak sedang mengkritik suatu budaya atau prostitusi terbuka macam itu. “Tunggu, apa itu di ujung sebelah sana? Oh baiklah, topless. Hahaha. I love Thailand!” ia terus saja membatin sambil membiasakan diri dengan apa yang ada di club itu. Banyak wanita lokal, dan prianya, tentu saja kebanyakan berkulit putih.

Kekasihnya melingkarkan tangan di pinggang Tiara, mungkin sekedar meyakinkan ia tak akan berbuat macam-macam. Namun tak sedikit wanita di bar itu terang-terangan merayu kekasihnya, sebelum kemudian membelai tangan Tiara, menawarkan threesome. “Hun, can I have a drink?” kata Tiara sesaat setelah berhasil lepas dari walah satu wanita di sana. Mereka tak juga beranjak karena sensasi berada di klub itu bukan sesuatu yang akan mereka rasakan setiap hari.

“I need one too,” balas lelaki itu. Tapi mereka sama-sama berjanji harus ada yang tetap sadar sebelum malam berakhir. Keduanya mabuk, lalu bangun kesiangan dan ngotot berjalan kaki. Setelah beberapa kilometer, Tiara menyerah, “Can’t we just bus a take?”

“What?” pasangannya menatap keheranan.

“Umh. Take a bus.” Tiara sangat malu, walau sadar bahasa Inggris bukan bahasa-ibu-nya. Kurang tidur, rasa lelah dan alkohol memperlambat fungsi otaknya, mungkin itu yang sekarang terjadi pada Matt.

Tagged , , , , , , , , , , , ,

Guardian Angel and Evilish Devil

Sebelum menghubungi hostnya di Yogya, masih dilingkupi kekesalan, Matthew menyempatkan diri untuk mempelajari profil Tiara melalui iPhone-nya, hal yang sudah menjadi semacam etika tak tertulis. Karena seorang calon surfer atau tamu yang baik harus mempelajari dahulu aturan-aturan di rumah yang akan disinggahinya walaupun hanya untuk beberapa malam. Matt pun ingin sedikit banyak tahu, orang macam apa yang akan dijumpainya itu.

Ia perlu mengeluarkan unek-uneknya, memaki dunia. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah bisa dilakukannya saat bertemu Tiara nanti? Itu sebenarnya yang perlu diketahui Matt. Ia hanya perlu menuangkan kepenatan pada orang yang mengerti bahasanya, atau bahkan yang tak mengerti sama sekali, namun mau mendengarkan tanpa menghakimi. Itu saja. Ia akan sangat berterima kasih pada dunia bila dipertemukan dengan orang semacam itu. Sambil memandangi wajah oriental Tiara di layarnya, tiba-tiba, ia ingin Tiara, wanita yang belum dikenalnya, menjadi orang yang dibutuhkannya. Ia ingin Tiara mendengarkan.

Dihisapnya dalam dalam batang Marlboro Light yang tinggal setengah di antara jari tengah dan telunjuk, ia nyaris tersedak asap rokok saat membaca Tiara menuliskan “pretty well behaved” di bagian “education” di profilnya, pernyataan konyol yang berhasil menguapkan rasa kesal walau sedikit. Ia menyukai profil Tiara. Sepertinya wanita yang menyenangkan walau terlihat agak konyol. Mudah-mudahan juga seorang pendengar yang baik. Ia betul-betul memerlukan seorang pendengar yang bersedia hanya berada di sampingnya, menampung segala keluhnya saat itu.

Tentu bukan sekali ini ia terpaksa terlibat dengan orang yang begitu menyebalkan dalam rangkaian perjalanan Asia-nya. Tetapi orang-orang menyebalkan ini biasa dijumpai di jalanan berwujud scammer yang memanfaatkan minimnya pengetahuan para turis tentang suatu wilayah dan budaya, demi keuntungan materi. Atau berwujud para turis menyebalkan yang mengeluh setiap saat tentang apa yang dilihatnya. Toliet yang jorok lah, kebiasaan penduduk lokal yang mengganggu lah, transportasi yang tak nyaman lah, cuaca tak mendukung lah. Matt selalu berpikir, untuk apa mereka “melihat dunia” bila hanya bisa mengeluhkan apa-apa yang tak sesuai keinginan dan standar mereka. Lebih baik tak usah kemana-mana saja.

Traveling bukan semata-mata mencari kesenangan, terkadang seseorang perlu mejelajahi dunia hanya untuk menemukan dirinya sendiri. Dalam segala kejadian buruk yang menimpanya, Matt selalu berusaha mencari sisi terang. Ia percaya silver lining, garis perak yang membingkai setiap awan kelabu. Selama perjalanannya, ia senantiasa berhasil membingkai segalanya dalam sebuah garis perak indah, walau terkadang perlu waktu menemukan (atau menciptakan, tergantung dari mana melihatnya) garis tersebut. Namun tak sekali jua ia mengijinkan harinya kacau hanya karena sebuah kejadian buruk. Move on bagi seorang pengelana seperti Matt memiliki makna lebih, yang bukan hanya move on dari sebuah masalah, tapi juga move on dari satu lokasi ke lokasi berikutnya tanpa mengikutsertakan segala permasalahan ataupun menyeret awan kelabu yang hanya akan mengganggu perjalanan.

Namun di malam yang murah hati mulai menurunkan gerimis itu, Matt menyadari satu hal, ia tak pernah benar-benar move on. Ia berusaha secara konstan memanipulasi diri agar percaya bahwa ia selalu bisa move on. Kasihannya, dirinya benar-benar percaya ia betulan berhasil menjadi seorang bijak yang dapat memilah dan meninggalkan apa yang harus ditinggalkan. Tidak. Kebrengsekan Hardi berhasil membangkitkan amarah-amarah yang selama ini tersembunyi rapi jauh sekali di dalam dirinya, amarah dan kekesalan yang bahkan tak disadarinya ada. Tapi perasaan-perasaan destruktif itu hadir kini, bangkit entah dari mana hingga Matt pun semakin marah. Kali ini karena menyadari bahwa dirinya tak pernah benar-benar move on seperti apa yang diyakini. Ia hanya meninggalkan masalah, bukan menyelesaikan seperti yang seharusnya sebelum melangkah lagi. Tak heran sisa-sisa kemarahannya masih ada, terakulumasi tanpa sadar dan siap meledak saat sesuatu memicu.

Kontemplasi itu lagi, hal yang belakangan sedang berusaha Matt hindari karena semakin merenung, semakin ia membenci dirinya akibat ketakmampuannya mengatasi diri sendiri. Sebatang lagi Marlboro Light menyala, gerimis masih halus menyapa, menghembuskan sedikit udara segar di tengah sumpeknya Jakarta.

Matt menghubungi nomor yang dikirimkan Tiara melalui email. Tak ada jawaban. Rasa gelisahnya semakin menjadi. Apa yang harus dilakukan? Dihubunginya nomor Tiara sekali lagi, berharap kali ini akan diangkat.

“Halo?” suara lembut Tiara menyahut di ujung sana.

“Hi, Tayara? This is Matthew Flanagan, I know this is a bit late and I supposed to go there in two or three days but are you up for a stranger tomorrow morning?” tanya Matt langsung ke pokok permasalahan.

“Huh? It’s Tee-ara” Tiara tak mengantisipasi telepon dari orang asing itu hingga ia perlu mencerna beberapa saat sebelum bisa berbicara.

“Hi Tee-yarah. Yeah I know. I don’t know where I am at the moment and I just feel like going there tonight, do you think it’s possible? I haven’t even checked any possible transportation to get me there like now.”

Tiara tak menjawab pertanyaan, ia justru terpaku pada Matt yang tak tahu dirinya di mana, “What do you mean you don’t know where you are?”

“It’s a long story,” jawab Matt sambil tertawa-tawa.

Ada sesuatu yang tak enak dirasakan Tiara dalam tawa Matt yang terkesan dipaksakan. “Where are you now?”

“I wish I knew,” cetus Matt lagi, kali ini ia tertawa lepas, karena ia sudah memberitahu Tiara sebelumnya ia tak tahu ada di mana.

“Oh sorry, you told me before. Why so soon? I mean you are very welcome here but what happened? How’s Jakarta been treating you?”

“The city has been nice to me but my guardian angel told me to leave the town as soon as possible.”

“Oh, really?” Tiara bercanda setengah sinis, merasa Matt menyembunyikan sesuatu. Sebagai orang asing, Tiara bisa menghargai itu, “Do you also have a devil with you? What’s the devil told you?”

“He didn’t tell me anything, not even a clue what should I be doing right now in the middle of nowhere, that’s why it’s an evilish devil.” Lagi-lagi tawa tersembur, keterhubungan keduanya tercipta kuat saat itu.

Tiara prihatin pada bule nyasar satu itu. Ia menginstruksikan pada Matt, seolah lelaki itu seorang anak kecil dengan masalah belajar, untuk bertanya pada orang sekitar, bagaimana caranya ke stasiun. “Just any station, I’ll give you a list of train stations in Jakarta. Ask for the nearest one. I will send along a text in Indonesian, all you need to do is to show them my text, okay?”

“Will do, Ma’am” tawa renyah lagi-lagi keluar dari mulut Matt.

“Shut up. Save your battery.” Matt tak tahu maksud Tiara dengan baterai, apakah baterai HP, atau energinya. Wanita itu sungguh lucu.

Tagged , , , , , , , , , ,

Matt, Si Abang Kerak Telor

Matthew beruntung kali ini, pegal di betisnya memang tak berkurang namun paling tidak, di bagian belakang bus tempatnya berdiri, seseorang baru saja beranjak berdiri dari kursinya, yang langsung diambil alih dengan cepat oleh Matt. Keterampilan adu cepat yang dipelajarinya dari mengamati kerumunan penumpang yang tak pernah sepi walau jam pulang kerja sudah jauh terlewat.

Tanpa Ika dan kebersamaan mereka yang mengundang perhatian, Matt tenggelam dalam kerumunan itu, tak ada yang peduli, tak ada yang memperhatikan, orang-orang menyumpal telinganya dengan earphone, atau sibuk dengan gadget masing-masing. Merengut, tersenyum sesekali, ada pula yang larut dalam bacaannya, seolah dirinya tersedot ke dalam buku dan tak lagi tahu di mana raganya berada. Sebagian lagi hanya bersandar ke dinding bus dengan mata terpejam.

Matt tersadar, ini kali pertama dalam perjalanannya di mana ia begitu tak diperhatikan, dianggap sama dan menjadi satu dengan aliran lalu lintas manusia Jakarta. Sebagai orang berkulit putih dengan postur khas kaukasia yang menjulang di antara manusia Asia, selama berbulan-bulan Matt terbiasa menjadi pusat perhatian. Awalnya ia menikmati peran sebagai pusat perhatian, dan menjadi teman praktek bahasa Inggris yang begitu antusias, terutama bagi anak-anak, tapi tak lama berselang, Matt terkadang bosan. Semua akan bertanya hal yang itu-itu lagi. Hi. How are you? Where do you come from? What do you do? Yang unik, ia mengalami pola percakapan macam ini di hampir setiap negara Asia Tenggara.

Anak-anak: Hello, Sir.

Matt: Hi, kids, how are you?

Anak-anak: I’m fine, thank you, and you?

Ia tak memiliki masalah untuk bersosialisasi dengan siapapun termasuk anak-anak, tapi perasaan bosan yang datangnya hanya sesekali yang jarang itu, akan menerkam dengan intensitas tinggi. Intensitas yang tentu tak akan membantunya menghilang dari sorotan lampu. Bila saja pabrik pakaian di China sana berhasil menemukan camouflage suit terbaik yang bisa membuatnya nampak lebih Asia untuk menghindari perhatian, ia pasti akan membelinya. Harga tak lagi relevan di titik ini, ia bahkan akan menggalang dana untuk menghadiahi diri pakaian bunglon, agar bisa muncul dan menghilang kapan pun ia mau.

Namun, di sebuah bus padat di Jakarta malam itu, kesadaran bahwa tak seorang pun memperhatikannya membuatnya sedikit girang. Rasanya mirip seperti pulang, semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Matt tersenyum tipis di balik brewoknya, saat seorang pemuda di sampingnya yang tadi menggunakan topi untuk menutupi wajah, menoleh ke arah Matt, “Hi, where do you come from?”

***

Malam itu, pukul delapan, Hardi masih pulas dibuai kenyamanan kamar. Pintu kamar diketuk pelan sebelum Matt muncul. Seisi rumah sudah mahfum bila ada bule celingukan sesaat, melempar senyum serasa menyapa dan berkenalan dengan mareka di ruang tamu lantai bawah, lantas langsung menuju ke kamar Hardi.

Kehadian Matt di kamar itu tak sanggup mengusik Hardi dari tidurnya yang dalam. Matt kemudian mengambil perlengkapan mandinya, merasa lengket setelah seharian terpapar matahari dan debu.

Tak lama berselang, ia menerima notifikasi email di iPhonenya, Lia, hostnya di Yogya baru saja memberitahukan tak dapat menjamu Matt karena mendadak harus ke luar kota. Jadi Lia mengabarkan akan mencarikan host pengganti agar Matt tak perlu repot kelabakan mencari host lain dengan waktu mepet.

Sepuluh menit kemudian, Matt bahkan belum membaca email tersebut dan Lia sudah mengirimkan email lain. Lia berhasil meyakinkan temannya, sesama member di komunitas traveling mereka, untuk menampung Matt. Temannya itu akan menghubungi Matt secepatnya melalui email. Pria Amerika yang kini wajahnya bersih dari brengos itu nampak lima tahun lebih muda saat keluar dari kamar mandi dan berbasa-basi sebentar dengan penghuni lain.

Email pertama yang dibacanya membuat sedikit panik, bagaimana tidak, dalam memilih tuan rumahnya Matt benar-benar mempelajari profil sang host dan biasanya ia hanya mengirimkan satu permohonan untuk satu calon tuan rumah saja, tak seperti kebiasaan beberapa traveler lain yang terkadang “menyebar” permohonan, lalu memilih host seenak hati, sementara calon host yang lain yang juga telah menyatakan kesanggupan untuk menerima tamu, tak kunjung dikabari kepastian kedatangan mereka. Menjengkelkan.

Matt memperlakukan setiap orang dengan respek, ia tak menganggap host semata-mata tumpangan gratis. Ia akan mengirim satu request hingga konfirm, berikut mengirim kepastian kapan ia akan datang, berapa lama akan tinggal dan detil semacam itu, untuk mencocokkan jadwal dengan sang host, apakah hostnya dapat menerima kehadirannya di tanggal-tanggal yang disebutkan. Pembatalan sepihak dari calon host sama saja mengacaukan jadwal Matt. Karena ia harus mengalokasikan beberapa puluh menit dari yang seharusnya digunakan bersosialisasi, berkeliling atau tidur, untuk mencari host baru.

Email kedua membuatnya sedikit lega, sembari harap-harap cemas menanti email dari teman Lia, yang entah orangnya seperti apa. Terlepas dari jiwa petualangnya, dan kemampuannya beradaptasi di berbagai situasi, untuk soal akomodasi semacam ini ia lebih suka bila memiliki gambaran walau sedikit tentang calon host. Siapakah pengganti Lia ini? Orang macam apa dia? Asyik kah? Open-minded kah? Apa Matt bisa minum bir bersama orang ini? Ia ingat fakta banyaknya muslim di Indonesia, yang didapatnya dari Ika. Tentu sulit mengajak seorang muslim minum bir, terlebih wanita muslim, batinnya.

Lamunannya diinterupsi Hardi yang meregangkan badan dengan malas, menyapa, “Heiiii.” Hardi pun bertanya sopan, bagaimana hari tamunya di Monas. Mata Matt berbinar saat menceritakan tentang Kerak Telor,“That stuff is so f-ing delicious, dude!” Ia masih kagum dengan cara membuat kerak telor yang disaksikannya sore tadi. Bagaimana ajaibnya benda itu menempel dengan mantap di wajan kecil sang penjual saat dipanggang terbalik, namun bisa dilepas utuh tanpa merusak bentuk bundarnya. Sepertinya seseorang baru saja menemukan makanan favorit yang baru. Karena ia menginginkannya untuk makan siang atau makan malam besok. Ia menginginkan kerak telor di Yogya. Ia lantas mengeluarkan dua bungkus kerak telor, satu untuknya dan satu untuk Hardi, “If you’ve had enough of this being in Jakarta, I don’t mind helping you finish it.” Diiringi tawa akrab mereka dari dalam kamar ber-AC yang kini dipenuhi aroma kerak telor.

Tak ada kerak telor di Yogya. Mungkin ada tapi tak populer dan Hardi tak pernah melihat seorang penjual kerak telor pun di Yogya. Tapi mungkin Hardi salah, mungkin Hardi tak cukup mengeksplorasi kota itu hingga bertemu dengan abang penjual kerak telor, demikian cetusnya pada Matt, yang ditanggapi dengan mata membelalak tak percaya. Bagaimana bisa makanan selezat ini tak populer di Yogya, kota itu kan masih satu pulau dengan Jakarta?

Apa maksudmu ga populer? Matt memicingkan mata penuh siasat, katanya ia akan tinggal lebih lama di Jakarta untuk belajar membuat kerak telor. “If I make a great abang kerak telor, I can be a millionaire selling those on Yogya’s street, don’t you think?”

Tagged , , , , , , , ,

“Oh my God, dude! I thought you’re missing somewhere?!” Sontak Hardi terlonjak saat orang yang ditunggu tiba-tiba menepuk bahunya dari samping, sementara ia tengah asyik menatap kosong ke arah barisan menu yang terpampang besar di tembok di hadapannya. Pikirannya membayangkan eksotisme Vietnam dan liburan berminggu-minggu, selamanya bila perlu.

Cengiran jahil muncul dari wajah Thomas, “You know, macet as always.” Jelas Hardi tak percaya alasan klasik itu. Seorang Jerman macam Thomas, akan setengah mati mengusahakan datang tepat waktu, terlebih bila sudah paham betul jam-jam dan titik-titik macet Jakarta. Beberapa bulan tinggal di Jakarta rupanya sudah membuatnya ahli jam karet dengan macet sebagai alasan.

Jadi, kita butuh ngobrolin detil itinerary lu, lu mau jalan ke mana aja? Tanya Hardi sekali lagi. Thomas masih sulit memutuskan hendak ke mana ia setelah habis kontrak enam bulan sebagai konsultan DRR management di sebuah NGO internasional.  Ia merencanakan liburan sebulan dengan rute ke timur seperti banyak dilakukan para turis yang memulai dari Jakarta. Bila memungkinkan, Hardi akan bergabung dengan Thomas di Bali.

Rute biasanya: Jakarta – Dieng – Yogya – Bromo (via Surabaya atau Malang) – Bali – Lombok. Begitu jelas Hardi, yang serta merta diprotes, bahwa itu hanya lima titik, selain Jakarta. Mereka berdebat. Memang hanya lima tempat, tapi di masing-masing tempat ada begitu banyak hal untuk dilihat dan dilakukan. Ambil contoh Yogya, tak cukup sehari atau dua hari untuk mengeksplor Yogya dari gunung, ke kota, hingga pantainya. Pilihan pantai di Yogya sendiri ada yang cantik berpasir putih di kawasan karst Gunungkidul sana, ada pula yang eksotis berpasir hitam di daerah Bantul yang relatif lebih mudah dicapai dari pusat kota.

“Dude I thought you’ve done some googling!”

Thomas protes dengan tutur Inggrisnya yang khas, kental logat Jerman. “I become not sure,” katanya, ia tahu banyak sekali hal yang bisa dilakukan di satu kota saja, tapi bukankah lima kota masih terlalu sedikit untuk perjalanan sebulan?

Hardi sebetulnya hanya ingin membantu memberi berbagai saran yang diketahuinya sebagai orang yang bertemu dengan banyak traveler dan mengetahui rute mereka dengan baik, saking seringnya mendengarkan kisah perjalanan dan rencana perjalanan berikutnya dari tamu-tamunya yang datang silih berganti.

Hal lain yang perlu dipastikan Hardi Nugroho adalah memastikan kapan Thomas dengan kekacauan perencanaan macam itu akan tiba di Bali. Ia akan ke Bali juga. Tapi percuma bila tak ada kawan. Ia akan ke Bali saat Thomas di Bali. Ia akan pergi bila ada jaminan Thomas di sana. Thomas harus di sana, atau dia gigit jari.

Pernah terbayang apa jadinya seorang sosialita bila sendiri di tempat nongkrong? Hardi itu gila kehidupan malam, gila ‘bergaol’, selalu haus berada di tengah kerumunan orang, menjadi pusat perhatian bila perlu. Minimal, ia tak boleh sendiri di tempat-tempat hip di Pulau Dewata. Terbayang kering garing seperti apa bila ia sendiri, anak muda sekarang menamainya, ‘mati gaya’. Seseorang seperti Hardi tentulah lebih memilih mati secara biologis daripada harus mati gaya saat kesadaran dan lima panca indranya berfungsi baik.

“Gini aja deh Tom, lu matengin dulu rencana perjalanan lu, nanti kasih tau, secepatnya kalo bisa, biar gue bisa atur cuti, kapan, tanggal berapa lu ada di Bali. Gue sekarang kedatangan orang Amrik, kami mau ke Kemang malam ini, ato lu ikut aja?” tutur Hardi, tentu dalam bahasa Inggris. Katanya Thomas akan menyusul kemudian bila sempat. Sekarang ia hendak menyambangi sebuah acara budaya di kedutaannya.

Mereka bergegas meninggalkan kafe yang kini telah semakin ramai. Ada sekelompok cewek di meja pojok, terpana menatap betapa menawannya Thomas, bahkan setelah polusi Jakarta menempel di wajah dan kulitnya yang kini lengket. Senyum tulus terlempar walau tipis dan agak malu-malu, dari bibir merah jambu di bawah hidung mancung melengkung. Cukup membuat cewek-cewek ABG itu bengong sepersekian detik, terhipnotis.

***

Setiba di rumahnya, Hardi mencari Matt di segala sudut rumah yang mungkin disambangi Matt. Ruang tamu, ruang makan, dapur. Tak ada. Ok, berarti Matt belum pulang, saat sebagian housematesnya sudah kembali, sibuk memasak di dapur atau terhipnotis siaran TV. Ia sengaja tak bertanya pada satupun dari mereka, apakah mereka melihat penghuni baru nan tampan tersebut. Toh lebih mudah mengecek ke beberapa ruangan ketimbang harus menjelaskan tentang penghuni baru mana lagi yang dimaksud Hardi, Hardi sudah menampung begitu banyak penghuni baru setiap bulannya.

Ia lalu memasuki kamarnya, tubuhnya segera rebah di atas tempat tidur, remote AC disetel hingga ke suhu 16, jam menunjukkan pukul tujuh malam. Ia lelap dalam sesaat. Masih dalam setelan kemeja biru pas badan dan celana hitam yang telah dikenakannya seharian.

***

Sekali lagi Matt harus berdesakan di bus Trans Jakarta, kali ini tanpa Ika karena perempuan itu harus ganti halte beberapa saat lalu, setelah sebelumnya berkali-kali memastikan Matt tahu harus ganti halte di mana, dan turun di halte apa. Ditanyainya Matt kembali untuk memastikan lelaki itu benar-benar paham. Ia sudah bertingkah selayaknya Matt anak umur sepuluh tahun yang berkeliaran sendirian di jalanan ibu kota, melupakan fakta bahwa bagaimanapun konyolnya boneka Kurt Cobain dalam ransel Matt, pemiliknya telah mengarungi jalanan di kota-kota Asia Tenggara beberapa bulan terakhir ini.

Mereka sudah bertukar nomor. Ika sengaja menyodorkan secarik kartu nama yang bagian belakangnya kosong, untuk ditulisi kontak telepon dan email Matt. Tindakan sentimentil, atau bahkan mungkin sedikit centil, yang dimaksudkan untuk mendapatkan jejak fisik Matt dalam bentuk apapun yang bisa didapatnya. Tulisan tangan di belakang kartu nama entah siapa. Tak apalah. Juga beberapa jepret selfies. Cukup untuk menutup episode pertemuannya dengan Matt.

Oh! Ada apa dengan Ika! Ia berjalan dengan senyum terkulum tak kunjung hilang selepas pertemuan dengan Matt. Menjadi penuh harap bungah-bungah musim semi. Ia memang belum pernah berinteraksi langsung dengan bule sebelumnya, tapi apa ia tak paham kebanyakan traveler menikmati perjalanan itu sendiri dalam setiap momennya. Hanya jejak kaki dan kenangan manis yang mereka tinggalkan. Hanya itu pulalah yang mereka bawa, berikut tambahan beberapa megabyte jatah dalam memori kamera.

Ika seperti tak peduli. Siapa peduli bila kehangatan dan kekuatan tatapan mata seorang lelaki sudah meresap hingga ke jiwa? Tak peduli seperti apa perkenalannya dan hanya berapa jam obrolannya, yang paling penting adalah, jejak itu ada, akan selalu di sana, dan tersegel bukti fisik berupa rekam tulisan tangan dan beberapa pose manis dengan Ika dalam rangkulan. Rangkulan bersahabat yang sering dilakukan Matt selama perjalanannya. Matt berfoto merangkul petani Thailand, merangkul ibu-ibu di Philippine, merangkul host perempuannya, juga host lelakinya. Dan seterusnya. Tapi… Ika tak peduli. Itu tak penting, yang penting adalah hangat dalam dirinya yang muncul kembali dan semoga saja ada di sana hingga lama, cukup lama untuk membuatnya bertahan…

Tagged , , ,

Impian Hardi dan Kehangatan Vietnam

Jakarta jam-jam pulang kantor, persimpangan jalan seputaran Citraland sangat padat kendaraan dan orang berlalu-lalang mengejar bus berikutnya menuju rumah masing-masing. Masih dengan setelah kantoran, celana hitam berpotongan lurus dan kemeja biru langit pas badan yang lengannya digulung hingga siku, Hardi sekali lagi mencuri pandang ke layar Blackberry di genggamannya yang tidak sedang menyala. Ia memastikan rambutnya rapi walau wajahnya nampak lelah.

Sudah setengah jam ia berada di salah satu kafe, mengecek email ditemani secangkir besar Cappuccino yang kini telah dingin terpapar suhu ruang berpendingin, sesekali ia melihat ke arah pintu kafe, jelas-jelas menanti seseorang.

Orang yang dinanti tak kunjung datang hingga setengah jam kemudian, sementara Hardi sudah selesai dengan aktivitasnya mengecek dan menulis email ke beberapa kolega dan calon tamu berikutnya yang akan datang menjelang natal. Tiga perempat cangkir cappuccino telah direguk, tak membantu kantuknya hilang walau sedikit. Ia ingin pulang saja, sekedar meluruskan badan sesaat sebelum malam datang.

Ya, kehidupan malam Hardi sepertinya lebih penting ketimbang pekerjaan kantorannya. Kantuk yang menyergap di jam-jam kantor bisa menguap begitu saja bersama kepulan asap rokok, bila tak di kafe di bilangan Kemang, ya di club.

Entahlah, selain melepaskan diri dari rutinitas siang yang membosankan, malam juga begitu berarti baginya. Ia bertemu orang-orang favoritnya, biasanya ekspat, atau traveler yang singgah di Jakarta. Mereka akan berbicara tentang pekerjaannya di Jakarta, melontarkan pujian dan kekaguman tentang kehidupan di Indonesia, biasanya topik kekaguman ini berlangsung singkat, seperempat, atau seperdelapannya dibandingkan dengan banyaknya curhat berisi cercaan setiap kali harus berurusan dengan kantor imigrasi.

Bagaimana tidak, kantor-kantor itu kedatangan warga asing setiap harinya, namun kemampuan komunikasi mereka seringkali tak memadai, hanya cukup untuk percakapan ringan, ketemu masalah sedikit, mereka bingung tak mengerti penjelasan ekspat atau turis asing, pun tak tanggap.

Tapi yang paling dinikmati Hardi adalah dongeng petualangang teman-teman nongkrongnya ini. Kebanyakan mereka pernah menginjakkan kaki di banyak negara lain, terutama di Asia Tenggara. Sebagian dirinya bergelora setiap kali sebuah kisah dituturkan. Ia pun ingin pergi, berkunjung ke tempat jauh dan mengisahkan ceritanya pada dunia.

***

Vietnam, September 2012.

Thomas, akhirnya dapat menginjakkan kaki di Ho Chi Minh City, yang biasa disebut HCMC. Perdebatan alot dengan sang boss berujung manis, ia diperbolehkan menabung jam kerja agar durasi liburannya lebih panjang. Seharusnya ia bekerja delapan jam per hari, berkat kemampuan membujuk, atau lebih tepat  disebut merengek, ia lalu bekerja hingga 12 jam, mengakumulasikan kelebihan jam untuk ditukar dengan hari liburan. Sungguh menyenangkan, dan membuat sirik siapapun yang tak berdaya mengganti jadwal seenaknya, termasuk Hardi Nugroho.

Berbeda dengan kebiasaan Matt yang traveling tanpa tahu apapun tentang tempat yang dikunjunginya, Thomas menghabiskan lebih banyak waktu mempelajari suatu tempat sebelum berkunjung. Namun, setelah mendapat pengetahuan yang cukup, hal yang pertama dilakukan saat traveling justru bukan mengunjungi titik-titik yang banyak dikunjungi turis.

Thomas Weber, dengan bahasa Inggrisnya yang tak kunjung lancar, akan berjalan kaki hingga berkilo-kilo meter mengelilingi kota. Suatu hari setelah sarapan di hotel, ia mengganti celana pendek dan kaus putihnya dengan celana panjang khaki, mengenakan kemeja kotak-kotak merah kesayangan dan sepatu kets abu-abu. Kostum lapangan yang membuatnya terlihat lebih rapi ketimbang Matt dengan gaya tabrak lari, jarang bercukur dan lusuh.

Thomas lantas mencangklongkan Canon EOS 600D. Lebih mudah demikian ketimbang mengamankannya di dalam tas kamera, yang justru menyulitkan bila sewaktu-waktu hendak mengabadikan momen. Handphone lawasnya telah berada di saku celana, passport dalam tas pinggang telah terpasang kembali dengan rapi di balik kemeja, lalu diraihnya postman bag ukuran sedang berbahan kanvas, dan kunci kamar yang ternyata masih menggantung di sisi luar pintu. Ia lupa mencabutnya barusan saat hendak berganti pakaian.

***

Baru saja menikmati kota HCMC lebih kurang tiga kilometer, hujan mulai turun. Thomas yang rambutnya kini sedikit basah berlari agak panic mencari tempat berteduh, Canon kesayangan adalah hal pertama yang ia khawatirkan. Ia berlari menuju kolong sebuah jembatan yang uniknya memiliki hamparan rumput walau sempit sekali, nyaris seperti tempat piknik.

Benar saja, tiga orang bapak paruh baya memandang ke arahnya pebuh rasa ingin tahu. Dari pakaiannya, Thomas menilai mereka orang kurang mampu, semua berpakaian apa adanya dan lusuh. Rasa khawatir dan takut tiba-tiba menyergap, bagaimanapun ia orang asing. Ia tak kenal siapapun di kota itu. Ia tak bisa meminta pertolongan pada siapapun bila hal buruk terjadi, dan ia tak tahu sedang berada di mana dengan orang macam apa.

Di tengah segala rasa khawatir, Thomas mengumpulkan keberanian untuk membalas tatapan ketiga orang tersebut, lantas tersenyum. Ia melirik peti di belakang orang-orang itu. Di hadapan mereka ada beberapa kaleng kosong bir. Ah. Benar-benar piknik rupanya. Salah satu dari mereka melambakan tangan pada turis ini, yang dari penampilannya tentulah memiliki lebih banyak uang dari mereka.

Bukan rahasia bahwa orang-orang di negara berkembang selalu menginginkan uang para turis. Thomas menepis pikiran macam itu lalu bergabung dengan entah siapa orang-orang ini. Lima menit berikutnya mereka sudah tertawa-tawa. Bukan karena obrolan yang lucu, tapi karena mereka tak bisa mengobrol sama sekali. Ketiganya tak berbahasa Jerman maupun Inggris, sementara Thomas tak bicara bahasa setempat. Apa lagi yang bisa dilakukan selain berbahasa isyarat lalu tertawa-tawa tanpa mengerti satu sama lain.

Terkadang, mereka menggambarkan suatu objek di buku catatan Thomas untuk menjelaskan apa yang mereka coba bicarakan. Dua kaleng bir sudah tuntas oleh Thomas sendiri, berbeda dengan Indonesia yang perlu lebih banyak uang untuk membeli bir sehingga agak mustahil mendapati orang di kolong jembatan menikmati bir, bir di Vietnam bukanlah minuman mahal, semua orang bisa membelinya seperti orang Indonesia membeli rokok. Baiklah, rokok tak murah, ya? Tapi kita mampu, kan?

Hijan telah reda saat Thomas ditawari kaleng ketiga yang dengan senang hati dibukanya. Jerman dan bir. Siapa tak tahu fakta itu? Tiga kaleng sama sekali tidak banyak untuk pemuda Jerman bermata biru dan senyum menawan itu. Kaleng ketiga tuntas dalam kurang dari sepuluh menit dan hujan sudah benar-benar reda.

Thomas tak tahu bagaimana harus mengucapkan terimakasih, ia hanya mengatupkan kedua tangan sembari membungkuk-bungkuk, mengeluarkan mulai dari ‘danke’ hingga ‘thank you so much’. Ia pun meraih dompetnya, menyodorkan beberapa lembar Dong untuk tiga kaleng bir, yang ditolak mentah-mentah. Orang-orang ini menawarkan kehangatan tanpa ingin uang Thomas. Hangat yang meresapi jiwa Thomas, yang walau sering bertemu orang-orang tulus, ia pun sering menjadi korban pemerasan atau bujuk rayu yang pada intinya, orang menginginkan uangnya. Tiga kaleng bir dingin dan tiga orang Vietnam kini direkamnya baik-baik dengan kamera dan dalam ingatan.

 

 

Diupload dari atas bus full dangdut Yogya-Karawang. Berbagai detail, terutama tentang Vietnam, akan ditambahkan kemudian.

Tagged , , , , ,
%d bloggers like this: