Tag Archives: norma

Post-human

Kau pernah bercinta dengan kesendirian. Semalaman itu. Saat berpuluh belokan kaulewati, hanya untuk menemukan sunyi. Sendiri menjadi begitu familiar. Kau mengenalnya sebaik setiap lekuk tubuh orang yang kaucinta. Hanya saja, ia tak di sana. Hanya kau dan kesepianmu yang jahanam. Lama-lama, toh kau tak keberatan. Kau begitu putus asa sehingga mengira memang layak mendapatkan apa yang kau punya saat itu: kesendirian.

Katamu, kau terjebak keadaan hingga tak tahu harus melangkah ke mana selain berdiam di tempat dan menerima. Kau merasionalisasi segalanya. Sementara tak segalanya dapat dicerna otak manusia yang serba terbatas. Tiba-tiba kau bergerak, berjalan kembali setelah lama terpaku di satu titik. Kau berjalan, namun telah kehilangan arah.

Tujuan tak penting, katamu. Tujuan akan membelenggu gerak, sementara tanpa tujuan adalah membebaskan. Tidak ada keyakinan dalam kalimatmu, hingga aku tahu kau tengah menghibur diri saja.

Bukankah tujuan yang menjadikan kita manusia?

Kau jawab, “Bukankah manusia tak pernah bisa disederhanakan sebegitu rupa? Tetapi mungkin memang aku selesai menjadi manusia. Menuruti tuntutan ini dan anu dengan mengabaikan hati nurani. Tampil sebagai apa yang bisa diterima masyarakat walau itu bukan aku? Itukah manusia? Aku selesai menjadi manusia.”

Kalimatmu begitu final, muak yang kausimpan beribu hari lamanya. Marahmu meracau, mungkin memang sebaiknya kau selesai menjadi manusia, menjadi manusia menuntutmu untuk serba palsu. Kau jadi dirimu saja: sebentuk kegilaan yang berjalan tanpa tujuan.

Bolehkan aku berjalan bersamamu? Kita menjadi gila bersama? Melambaikan selamat tinggal pada makhluk-makhluk yang berpikir mereka manusia, yang berpikir manusia adalah makhluk berakal budi. Haha! Aku ikut muak kaubuat. Akal budi macam apa yang ditampilkan dengan kepalsuan? Menjadi manusia bukanlah tentang akal budi, persetan pula dengan hati nurani. Menjadi manusia berarti kau menyesuaikan diri, menjadi sesuatu yang bukan engkau. Kau akan muak pada manusia lain sebelum muntah-muntah karena ketakberdayaanmu menghadapi mereka. Bolehkan aku berlajan bersamamu? Kita menjadi gila bersama? Menjadi apa yang bukan manusia.

Tagged , , , , , , , ,

Yasmin

Namaku Yasmin, nama wangi yang dianugerahkan orangtuaku, nama yang akan melekat hingga amanatku selesai di dunia, nama yang wanginya kujaga dalam tindakan paling tak sadar sekalipun. Mungkin orangtuaku menanamkan semacam chip yang memprogramku untuk secara otomatis mengacu pada seperangkat kesantunan yang ada dalam masyarakat, walau kata orang aku macam pelacur, atheis pula!

Ah, kadang para pelacur lebih bermoral dan berhati nurani ketimbang orang yang terlihat suci dan atheis lebih spiritualis ketimbang orang yang terlihat relijius. Soal apa yang ada di dalam, siapalah yang tahu? Proses perjalanan spiritual individu, siapalah yang mengerti? Namun begitulah, kapasitas manusia menilai memang tak dapat diharapkan, mendekati helpless, namun mereka bertindak seolah yang paling benar dan menutup kemungkinan adanya kebenaran lain, padahal apalah yang absolut di dunia? Mungkin karena itulah orangtuaku menamaiku Yasmin, agar aku lebih mirip bunga ketimbang manusia.

Aku menjaga wangiku sesuai kapasitasku yang di luar jangkauan manusia. Sebutlah saja aku setan, tapi pemahamanku melampaui manusia normal. Lalu sebutlah aku abnormal, namun namaku kujunjung selalu. Sekuat itulah aku menjaga amanat. Atau aku hanya seorang narsis yang bangga dengan dunia yang kubangun sendiri? Kau simpulkan saja.

Nama adalah penting bagiku, namun seperti pernah kubilang, bahwa simpul dapat terurai dan temali bisa terputus, kita sudah dewasa untuk paham. Sehingga kunyatakan malam ini juga, aku menyanggupi menghapus nama-nama penting dalam hidupku. Orang-orang kusayang yang mengecilkanku atau konsisten tak santun terhadapku. Orang-orang bertuhan tapi sikapnya seperti bangsat. Nama, adalah penting. Namun semudah itu aku menghapus nama-nama dalam hidupku. Karena sikap, jauh lebih berarti.

Namaku Yasmin, aku wangi yang sekarat namun bertahan dalam kebusukan yang segera kuhilangkan. Malam ini, itulah waktunya. Seharusnya aku mendengar semacam permintaan maaf, tapi apa yang bisa kuharapkan dari manusia? Aku bukan manusia, aku bunga, yang disebut pelacur atheis, namun sudah nyata di mana aku berdiri. Aku tak abu-abu, namun putih, garisku tegas. Itulah yang kupertahankan dan satu-satunya yang bisa kubanggakan dari hidupku di dunia.

Namaku Yasmin, aku menyayangi saudara-saudaraku dengan hati, mereka membalasnya keji tak berhati. Aku tak mampu membenci namun tak sanggup pula bertahan dengan kepura-puraan dan segala duri yang ditancapkan. Aku masih menyayangi saudaraku, namun dengan ini kuputus tali yang mereka bilang persaudaraan, karena aku tak bersaudara dengan bangsat. Aku hanya bunga yang mudah menghapus nama walau itu penting. Aku Yasmin.

Tagged , , , ,
%d bloggers like this: