Tag Archives: Matthew

Menuju Yogya

Belum tuntas urusannya di kamar kecil salah satu kafe di Gambir itu, iPhone Matt berbunyi dari dalam ransel yang digantung di pintu toilet. Pasti Tiara, pikirnya. Sejauh ini hanya ada tiga orang yang mengetahui nomor Indonesia tersebut. Hardi tak mungkin menghubunginya setelah apa yang terjadi. Ika pun, ia tak memliki alasan menghubungi Matt tengah malam begini.

Masih dengan tangan basah selepas cuci muka, Matt buru-buru menyambar handuk yang menjuntai dari dalam ransel, mengelap wajah dan tangannya sambil lalu sebelum merogoh-rogoh mencari telepon tersebut. Sudah mati. Ia beralih lagi ke handuknya untuk mengeringkan diri.

Matt beranjak lagi ke sudut nyaman yang malam ini menjadi daerah teritorialnya. Menghubungi Tiara.

“Hi, how is it going?” sahut suara di ujung sana tanpa basa basi.

“Hi Teeyarah, the last train to Yogya was at 9 pm, so… it’s’ too late now.”

“Ah ok, what you gonna do then? Finding a hotel?”

“I’m too tired for that, I’m just gonna spend the night here on the station, I found some cozy corner at a café, it’s pretty cool. Anyway, thanks for checking me in.”

“No problem, I’m just wondering if everything’s okay with the lost boy. Just give me a call if there’s anything I could do for you.” Tutur Tiara manis.

“Awww… Thank you so much, I appreciate that, I’ll take the earliest train tomorrow, I’ll let you know later.” Matt menjawab seraya tersenyum, selalu mengharukan mengetahui ada orang yang peduli saat kita jauh dari rumah.

“Okay then, you have a good rest, and stay safe ya!”

“Good night.”

Setelah menyetel alarm, iPhone pun dimatikan demi menghemat baterai. Jaket hitam tipis dengan tudung kepala sudah terpasang, lalu Matt meringkuk berbantalkan ransel besar dan memeluk ranselnya yang lebih kecil. Pegawai kafe itu menoleh ke arah Matt, memandangi badannya yang meringkuk sedemikian, dan bergumam, “Dasar backpacker!”

***

Cahaya mentari di luar stasiun masih semburat malu-malu saat Matthew terbangun pukul lima, selama beberapa detik bingung di mana dirinya berada. Masih ada waktu beberapa jam sebelum kereta paling awal pagi itu berangkat. Ia pun terlelap kembali hingga setengah jam kemudian, hanya sesaat sebelum alarmnya berdering.

Masih linglung, ia menyapukan padangan ke sekitar, ada beberapa pengunjung lain yang sedang menikmati kopi panasnya, mungkin menunggu jemputan, mungkin pula menunggu keretanya berangkat. Matt melangkah lagi ke kamar kecil untuk membasuh wajahnya. Kemudian ia memesan secangkir cappuccino panas dan dua potong donat keju untuk sarapan. Sebenarnya saat itu ia lebih menginginkan sandwhich dengan potongan sayuran dan daging, namun ia harus puas dengan pilihan yang ada.

“Can I have a walk for a minute and leave my stuff here after finishing my breakfast?” tanyanya pada kasir yang segera terbengong-bengong lalu celingukan seraya memanggil-manggil temannya, mencari bantuan penerjemahan. Ia bukan petugas yang sama dengan yang semalam, tapi untunglah temannya yang semalam memberi ijin Matt “menginap”, shiftnya belum usai. Ia muncul dari dapur membawa pesanan makanan pelanggan. Matt menanyakan hal yang sama, dijawab dengan anggukan, diikuti tangan kanan yang menunjuk bawaan Matt, lalu menunjuk ke bawah kakinya, menginstruksikan agar Matt lebih baik menaruh barangnya di balik counter, mereka akan menjaga barang-barang itu untuknya. Matt sangat berterimakasih pada kedua petugas itu, karena ia bisa setidaknya berjalan-jalan menikmati pagi beberapa saat tanpa membawa semua barangnya yang berat itu.

Di Stasiun Gambir, ada beberapa penitipan barang berbayar yang terletak di dekat toilet, tapi Matt tak tahu dan itu membuatnya berimprovisasi tanpa harus mengeluarkan ongkos tambahan. Terkadang solo traveler adalah diplomat yang handal, terutama di saat-saat genting.

Seusai sarapan seadanya dengan dua donat, kopi dan beberapa teguk air putih, Matt pun melenggang keluar dari stasiun. Tak lama kemudian… Monas!!! Ia baru sadar di mana dia berada, lalu terkekeh pada diri sendiri. Dari sekian banyak tempat di Jakarta yang bisa dikunjunginya dalam 24 jam terakhir, ia terpaku di depan monumen ramping itu, dua kali. Kurt Cobain mini keluar lagi dari rumahnya di daypack berwarna hitam, berpose lagi berlatarkan Monas, kali ini dengan langit yang mulai terang namun masih bersemburat jingga.

Sekembalinya ke stasiun Matt langsung membeli tiket kereta paling awal yang bisa membawanya segera ke Yogya. Dalam keadaan normal, sejak semalam mungkin ia sudah hitchhike dari Jakarta ke mana saja selama arahnya ke timur, sesuai dengan rute perjalannya. Tapi itu tak dilakukan. Mungkin lelah perjalanannya kebetulan terakumulasi dan mencapai puncaknya di Indonesia. Seusai membayar batinnya merutuk, thirties fucking bucks for a one way train ticket!

Akhirnya tibalah saatnya memasuki gerbong kereta eksekutif itu, keluhannya tentang betapa mahal harga yang harus dibayar demi sebuah tiket kereta segera –sedikit—teredam. Interior yang terang dan bersih, hawa AC yang nyaman, semua memberi kesan sedikit mewah. Tak mengecewakan untuk tiket semahal itu. Tunggu saja hingga ia ditawari makanan kereta yang sering mengecoh “unexperienced passengers” karena dikira gratis, padahal tak pernah gratis itu.

Baru sesaat setelah duduk ia teringat pada iPhonenya yang belum dinyalakan, ia segera menghubungi Tiara.

“Good morning, Teeyarah! How are you?”

“Hey, I’m good, just woke up.”

“Did I wake you up? I’m sorry…”

“No. I’ve been awake for maybe ten minutes. What’s up?”

“Guess what? I’m already on the train! I will be there in eight hours, will you be home?” nada ceria begitu terasa dari suaranya, yang segera menular ke ujung satunya.

“Yay! Congrats youuuu! If you’re taking one from Gambir I bethca will get some decent sleep along the way, because I think only executive ones departure from the station? I’m not sure though because it’s been a while for me not taking a train from Jakarta and I heard the business and economic class are now all as well cozy. Anyway, I don’t know if I’d be home by the time you arrived, just ring me when you’re in Yogya.”

“Will do. I will need that, I mean to get some sleep but I’m very excited about going to Yogya, sleeping would be difficult at this point!”

“Hahaha, just enjoy your trip, as you’re on the day trip you’ll be able to see some nice sceneries along the way, and remember if the train attendants offered you some dishes or drink, it’s never for free. Well sometimes tickets come with snacks, but just ask first.”

“It’s good to know, thanks!!!”

“Welcome! I’ll see ya soon!”

Tak lama kemudian, kereta merayap perlahan tepat seperti yang dijadwalkan.

Tagged , , , , , , , ,

Gambir

Sudah menjelang tengah malam saat Matt akhirnya tiba di Gambir, selama perjalanan ia mengenali beberapa lansekap yang tadi siang dilaluinya. Akhirnya, terlampau lelah karena kurang tidur, ia pun tak lagi tertarik pada pemandangan Jakarta di malam hari, ia memanfaatkan waktu di taksi untuk mencari jadwal keberangkatan kereta ke kota tempat Tiara menunggunya, bila ternyata tak ada keberangkatan tewat tengah malam ini, Matt terpaksa menghabiskan malam di stasiun itu.

Situs demi situs dikunjunginya dan ia tak menemukan kereta malam ke Yogyakarta, ia tak akan mencoba ke terminal bus atau mencari hotel. Ia sudah pasrah saja bila harus menginap di stasiun, toh itu biasa dalam sebuah perjalanan, untuk menghabiskan waktu menunggu di tempat umum. Ia hanya harus memastikan segala barang bawaannya aman. Biasanya ia akan tidur di lantai atau kursi panjang bila ada, sembari memeluk tumpukan kedua ranselnya agar barangnya lebih terlindung dari jangkauan tangan-tangan nakal.

Kantung mata kini mulai nampak di wajah Matt yang coklat kemerahanan terbakar matahari tropis. Ia menyandarkan kepala ke jok mobil sembari memejamkan mata, memikirkan apa yang barusan dialaminya. Orang itu sungguh gila, bagaimana mungkin seseorang semarah itu hanya karena ditolak ajakannya clubbing? Matt pernah bertemu dengan banyak orang aneh, tapi Hardi benar-benar sakit jiwa. Dari cara Hardi tertawa, Matt menangkap memang ada sesuatu yang tak wajar. Matt mengingat-ingat kembali mengapa ia menerima tawaran lelaki itu, padahal sejak awal ia tak terlalu “klik” melihat rona wajah Hardi.

Bagaimanapun, perjalanan yang dilakukannya ini lagi-lagi bukan soal perpindahan geografis dari satu tempat di atas peta ke tempat lain. Ia ingin menjadi orang yang lebih baik, termasuk lebih bisa berbaik sangka terhadap orang lain, terlebih pada orang yang menawarkan sebuah kebaikan untuk membuka rumahnya untuk disinggahi. Apa dosa Hardi saat itu, bila belum apa-apa Matt sudah mencurigainya? Lagipula kita hidup dengan berbagai jenis orang, apa salahnya sedikit saja berusaha lebih terbuka dan mengerti orang lain? Segala pertanyaan itu, akhirnya menyeret Matt pada keputusannya menginap di rumah Hardi selama di Jakarta, yang ternyata berujung sekedar menitipkan barang seharian. Tak jadi menginap, tak ada cerita berakrab ria dengan kehidupan malam Jakarta seperti yang direncanakannya. Lagipula, kehidupan malam macam apa lagi yang dicarinya setelah puas berkelana di Thailand? Walau sadar pengetahuannya termasuk minimalis soal traveling, ia yakin kehidupan malam di Thailand lebih “wah” dibanding Jakarta. Paling tidak dia tak pernah mendengar Jakarta mempromosikan klub striptis sebagai daya tarik wisatanya.

Nyatanya memang Matt tak banyak tahu tentang Indonesia, selain sebagai kepulauan surga tropis dengan barisan pantai dan kebudayaan yang konon eksotis. Pun baru tadi siang ia mendengar bahwa Indonesia memiliki populasi penduduk muslim yang jumlahnya banyak sekali itu. Ia pernah bertemu seorang Perancis di sebuah bar di Kuala Lumpur, lalu mereka tiba-tiba terlibat obrolan seru tentang keragaman budaya KL. Bayangkan, di kota itu, warga muslim melayu mengenakan busana tertutup, kontras dengan warga beretnis Cina yang dengan nyamannya melenggok dengan busana minimalis dan ketat, sementara yang keturunan India melenggang dengan busana mencolok mata berkat warna jreng-nya. Tak ada konflik. Entah karena toleransi sudah begitu mengakar sebagai bagian dari budaya Kuala Lumpur, atau… masyarakatnya terlampau sibuk untuk mengurusi hal-hal yang hingga kapan pun akan senantiasa ada: perbedaan.

Di Perancis sendiri sebagai negara maju, perbedaan tak dipandang demikian. Perbedaan dan kebebasan berekspresi masih menjadi isu. Ada upaya pelarangan bagi wanita muslim di sana untuk memakai jilbab di tempat umum. Berkat Islamophobia yang marak di negara-negara barat, dan banyaknya kaum agnostik dan atheis yang cenderung enggan mengurusi isu-isu religi, aturan itu tak mendapat banyak perlawanan sehingga dengan leluasa diterapkan di tempat-tempat umum, juga oleh para pemilik toko, kafe atau restoran yang enggan tempatnya disambangi para wanita berjilbab. Namun pada akhirnya kontroversi yang lebih santer tak dapat dihindari, kaum muslim dan para pendukungnya merasa ada hak-hak yang dilanggar, sementara kaum feminis, yang notabene tak mendasarkan diri pada “islamophobia” dalam  membangun argumennya, menganggap jilbab sebagai upaya penindasan hak asasi perempuan. Budaya patriarki dalam Islam terus menindas perempuan hingga bahkan ke ranah ‘cara berpakaian’. Kaum feminis ini mengajukan satu pertanyaan mendasar, “Bagaimana bila apa yang dipikir sebagai kebebasan, ternyata bukan kebebasan sesungguhnya?” Tak ada yang “bebas” dari kewajiban menutup kepala, alasan menutup aurat demi menghindari mengundang birahi pun tak dianggap cukup kuat. Bagaimana tidak? Angka kekerasan seksual di negara yang represif secara seksual seperti Arab Saudi ternyata lebih tinggi dibanding negara yang secara seksual jauh lebih bebas seperti Swedia. (perlu riset lebih jauh tentang ini).

Kata Islam bagi Matt, walau tak separah beberapa temannya yang mengidentikkan agama itu dengan terorisme, namun selalu mengingatkannya pada satu kata: represif. Dipikir-pikirnya lagi, apa menariknya tawaran Hardi untuk clubbing di Jakarta, di ibukota negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia? Clubbing heboh dan pesta seru macam apa yang mungkin terjadi? Konsep kehidupan malam yang glamor dan penduduk mayoritas muslim sungguh tak bisa dicernanya. Saat ini ia membayangkan apa mungkin ia menenggak bir selama sebulan ke depan perjalanannya di Indonesia? Akan sedikit mengerikan kalau ia tak bisa minum bir selama sebulan, batinnya.

Walau sudah mencari berkali-kali di telepon genggamnya, dengan pikiran yang kemana-mana, setiba di stasiun Matt masih memastikan jadwal kereta sekali lagi. Kereta terakhir hari itu sudah berangkat pukul 21.00 lalu, dan ia… sangat kecewa, walau sudah tahu dari hasil pencarian di internet bahwa tak ada kereta ke Yogya lewat dari tengah malam. Insting travelernya memerintahkan segera menyusun strategi mencari tempat terbaik untuk tidur. Ada kafe dan restoran yang buka 24 jam di Gambir, tapi sepi pengunjung saat Matt tiba. Sebagai turis, ia tak tahu jam ramai dan sepi, tapi apa salahnya bertanya apa ia boleh “kemping” di salah satu kafe itu.

Ia pun memesan secangkir teh di salah satu kafe dan mencari tempat duduk di sudut sepi dekat jendela, dipikirnya, tempat lebih tertutup di stasiun seperti dalam kafe ini selalu lebih aman ketimbang di area yang lebih terbuka. Ia lantas melangkah kembali menuju petugas di belakang counter, mengandalkan kemampuan diplomatis seadanya untuk diijinkan merebahkan badan di sudut jendela yang dipilihnya. Petugas itu agak berpikir sebelum berkata apapun, namun memutuskan tak tega melihat wajah lelah Matt, lalu mengizinkannya tidur dengan menjejerkan dua kursi kafe agar bisa sekedar meluruskan kaki. Petugas yang sama lalu mendapat tugas mengawasi ransel besar Matt sementara pemiliknya ke toilet, mengosongkan kemih dan sedikit membersihkan diri sebelum tidur. Di sudut kafe berpencahayaan terang benderang itu, seorang bule malang akan tidur sangat nyenyak malam ini.

Tagged , , , , , , , , , , , ,

Let’s Bus A Take?

Beberapa detik kemudian iPhonenya berdering, “Matt! Wait. Are you sure you have no idea where you are? Like in which part of Jakarta, central, west, east, anything like that? You have GPS on your phone, right? We’re just gonna… I’m not gonna send you the text, guide yourself with the GPS to bigger street, because it’s easier to reach public transportation from bigger streets. Find out in which part of Jakarta you are because I will send you to the nearest train station, so I need to know where exactly you are. Wait. Am I going too much about the whole thing? I’m not underestimating your ability to survive, nor do I know your actual condition, whether you were lost like the traveler’s usual lost or the I-don’t-know-what-to-do kinda lost, but I feel this sense of responsibility as you are in my country and you sound like… I don’t know, lost.”

Matt tak memiliki kesempatan barang sedetik untuk menjawab satu saja dari rentetan pertanyaan itu, tawanya nyaris terhambur saat mendengar nada khawatir dalam suara Tiara tapi ditahannya hingga wanita itu selesai bicara. Sepersekian detik setelah Tiara nampaknya selesai, tawa Matt pun meledak. Ia tak mau membandingkan, tapi Tiara mengingatkannya pada ibunya di Amerika sana. Caranya mengajukan rentetan pertanyaan, nada bicaranya saat mengkhawatirkan sesuatu, dan tentu saja intensitas emosional yang ditularkan pada Matt. Sesuatu yang tulus sedang dialaminya, dan itu datang dari seorang asing bernama Tiara. Ya Tuhan, Matt bahkan tak tahu siapa nama lengkap Tiara.

Serta merta saat Tiara belum lagi menyemprotnya untuk menghentikan tawa sialan itu, Matt menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia hanya perlu waktu berpikir sedikit untuk memikirkan langkah sistematis menuju Yogya. Tapi ia baik-baik saja dan semuanya dalam kendali. “I mean thanks, I really appreciate what you did, and I’ll do exactly what you told me to do, Ma’am!”

“That’s silly,”

“You’re not, what you told me to do isn’t silly either.”

“The ma’am part is.”

“Oh,” keduanya terkikik lagi sebelum mengakhiri panggilan telepon.

Pikiran Matt kali ini lebih bisa diajak bekerja sama, sesaat ia merasa bodoh, ah tidak, Tiara yang membuatnya merasa bodoh, ia sendiri tak bodoh, begitu gumamnya. Ia hanya memerlukan sedikit waktu berpikir, menjelajahi internet untuk beberapa info praktis di kota Jakarta, lalu mencari kendaraan umum menuju stasiun itu saja. Tapi wanita Yogya itu membuatnya terlihat ia seperti traveler tak berpengalaman dan cengeng, yang tersesat di kota besar saja sudah harus mengadu ke seorang wanita. Ia terus menyalahkan Tiara atas perasaan buruknya terhadap diri sendiri. Tetapi senyum lebar kini menghiasi wajahnya.

***

Kini Tiara akan mengirimnya ke stasiun kereta terdekat, tapi sebelum menginfokan Tiara di mana GPS-nya mengatakan dirinya berada, Matt, dalam upaya putus asanya, mencari jadwal bus. Sepuluh menit yang tak membuahkan hasil dan malam beranjak larut, ia harus bergerak cepat, paling tidak ke tempat yang lebih ramai. Ia pun menyerah, ia memberitahu Tiara bahwa ia ada di sebuah wilayah di Jakarta Pusat. Tiara menyarankan, agar Matt segera menuju jalan protokol terdekat untuk mencegat taksi, menanyakan harga di awal, minimal perkiraan harga sebelum naik menuju Gambir. Maksimal 30 ribu rupiah, begitu kata Tiara, tak buta kenyataan bahwa selalu akan ada orang yang mengambil untung dari ketaktahuan orang lain.

***

Di rumah Hardi, kedua ekspat menanyakan ada masalah apa dengan Matt, tepat saat Hardi menginjakkan kaki di ruangan dengan TV LCD 36 inchi.

“Ga ada masalah kok, dia minta dicariin cewek Indonesia for tonight, gue tolak lah, kan ngerendahin banget as if dia bisa datang seenaknya dan dapet cewek begitu aja. Typical arrogant tourist who thinks every local girl wants to sleep with bule. He pissed off as I said no to the stupid request,” jawab Hardi dengan wajah yang disetel tersinggung.

“Yea man, that’s bloody ridiculos, sometimes whiteys are so arrogant to behave like they own the world. I am white but I never liked such arrogancy, you know?” seorang lelaki Inggris berkomentar pedas terhadap perilaku Matt.

“Itu tidak baik, right? You travel ke negara mana saja with respect. Otherwise, piss off, Jeez!!!”

“Yes, true,” senyum tipis terlihat dari wajah Hardi, menyadari ia berhasil membuat kedua teman rumahnya percaya pada cerita tentang Matt. Tapi tak ada yang menyadari senyuman tipis itu, mereka berganti fokus sesekali dari layar TV, memandang satu sama lain, memandang Hardi, lalu beralih kembali ke TV. Hardi puas dengan reaksi yang didapatnya, lantas mengajak keduanya menuju salah satu kafe di Kemang untuk menikmati bir dan bersosialisasi dengan makhluk malam Jakarta lainnya.

***

Tak juga beranjak dari rumahnya yang kembali beraroma kopi, Tiara mengaktifkan laptopnya kembali, membaca ulang profil Matt karena ia yakin pasti melewatkan sesuatu di profil tersebut, profil yang mengesankan Matt seorang yang cerdas dan lucu. Sepertinya tak ada yang terlewat, kesan sedikit ceroboh (dan bodoh) yang didapatnya lewat obrolan telepon barusan pastilah karena Matt lelah. Itu saja.

Rasa lelah atau ngantuk terkadang membuat kita melakukan hal-hal konyol. Pernah suatu kali saat traveling berdua di Bangkok, Tiara dan mantan kekasihnya berjalan kaki berkilo-kilo meter. Berjalan kaki selalu menjadi pilihan menyenangkan karena bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih dekat dan detail, namun malam sebelumnya mereka clubbing hingga dini hari, berjanji tak akan ada yang mabuk. Mereka pun memasuki klub malam itu, Tiara sok cool mendapati banyaknya wanita mengenakan bikini saja. “Demi tuhan ini bukan pantai! Wow!” batin Tiara, tapi ia tak sedang mengkritik suatu budaya atau prostitusi terbuka macam itu. “Tunggu, apa itu di ujung sebelah sana? Oh baiklah, topless. Hahaha. I love Thailand!” ia terus saja membatin sambil membiasakan diri dengan apa yang ada di club itu. Banyak wanita lokal, dan prianya, tentu saja kebanyakan berkulit putih.

Kekasihnya melingkarkan tangan di pinggang Tiara, mungkin sekedar meyakinkan ia tak akan berbuat macam-macam. Namun tak sedikit wanita di bar itu terang-terangan merayu kekasihnya, sebelum kemudian membelai tangan Tiara, menawarkan threesome. “Hun, can I have a drink?” kata Tiara sesaat setelah berhasil lepas dari walah satu wanita di sana. Mereka tak juga beranjak karena sensasi berada di klub itu bukan sesuatu yang akan mereka rasakan setiap hari.

“I need one too,” balas lelaki itu. Tapi mereka sama-sama berjanji harus ada yang tetap sadar sebelum malam berakhir. Keduanya mabuk, lalu bangun kesiangan dan ngotot berjalan kaki. Setelah beberapa kilometer, Tiara menyerah, “Can’t we just bus a take?”

“What?” pasangannya menatap keheranan.

“Umh. Take a bus.” Tiara sangat malu, walau sadar bahasa Inggris bukan bahasa-ibu-nya. Kurang tidur, rasa lelah dan alkohol memperlambat fungsi otaknya, mungkin itu yang sekarang terjadi pada Matt.

Tagged , , , , , , , , , , , ,

Guardian Angel and Evilish Devil

Sebelum menghubungi hostnya di Yogya, masih dilingkupi kekesalan, Matthew menyempatkan diri untuk mempelajari profil Tiara melalui iPhone-nya, hal yang sudah menjadi semacam etika tak tertulis. Karena seorang calon surfer atau tamu yang baik harus mempelajari dahulu aturan-aturan di rumah yang akan disinggahinya walaupun hanya untuk beberapa malam. Matt pun ingin sedikit banyak tahu, orang macam apa yang akan dijumpainya itu.

Ia perlu mengeluarkan unek-uneknya, memaki dunia. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah bisa dilakukannya saat bertemu Tiara nanti? Itu sebenarnya yang perlu diketahui Matt. Ia hanya perlu menuangkan kepenatan pada orang yang mengerti bahasanya, atau bahkan yang tak mengerti sama sekali, namun mau mendengarkan tanpa menghakimi. Itu saja. Ia akan sangat berterima kasih pada dunia bila dipertemukan dengan orang semacam itu. Sambil memandangi wajah oriental Tiara di layarnya, tiba-tiba, ia ingin Tiara, wanita yang belum dikenalnya, menjadi orang yang dibutuhkannya. Ia ingin Tiara mendengarkan.

Dihisapnya dalam dalam batang Marlboro Light yang tinggal setengah di antara jari tengah dan telunjuk, ia nyaris tersedak asap rokok saat membaca Tiara menuliskan “pretty well behaved” di bagian “education” di profilnya, pernyataan konyol yang berhasil menguapkan rasa kesal walau sedikit. Ia menyukai profil Tiara. Sepertinya wanita yang menyenangkan walau terlihat agak konyol. Mudah-mudahan juga seorang pendengar yang baik. Ia betul-betul memerlukan seorang pendengar yang bersedia hanya berada di sampingnya, menampung segala keluhnya saat itu.

Tentu bukan sekali ini ia terpaksa terlibat dengan orang yang begitu menyebalkan dalam rangkaian perjalanan Asia-nya. Tetapi orang-orang menyebalkan ini biasa dijumpai di jalanan berwujud scammer yang memanfaatkan minimnya pengetahuan para turis tentang suatu wilayah dan budaya, demi keuntungan materi. Atau berwujud para turis menyebalkan yang mengeluh setiap saat tentang apa yang dilihatnya. Toliet yang jorok lah, kebiasaan penduduk lokal yang mengganggu lah, transportasi yang tak nyaman lah, cuaca tak mendukung lah. Matt selalu berpikir, untuk apa mereka “melihat dunia” bila hanya bisa mengeluhkan apa-apa yang tak sesuai keinginan dan standar mereka. Lebih baik tak usah kemana-mana saja.

Traveling bukan semata-mata mencari kesenangan, terkadang seseorang perlu mejelajahi dunia hanya untuk menemukan dirinya sendiri. Dalam segala kejadian buruk yang menimpanya, Matt selalu berusaha mencari sisi terang. Ia percaya silver lining, garis perak yang membingkai setiap awan kelabu. Selama perjalanannya, ia senantiasa berhasil membingkai segalanya dalam sebuah garis perak indah, walau terkadang perlu waktu menemukan (atau menciptakan, tergantung dari mana melihatnya) garis tersebut. Namun tak sekali jua ia mengijinkan harinya kacau hanya karena sebuah kejadian buruk. Move on bagi seorang pengelana seperti Matt memiliki makna lebih, yang bukan hanya move on dari sebuah masalah, tapi juga move on dari satu lokasi ke lokasi berikutnya tanpa mengikutsertakan segala permasalahan ataupun menyeret awan kelabu yang hanya akan mengganggu perjalanan.

Namun di malam yang murah hati mulai menurunkan gerimis itu, Matt menyadari satu hal, ia tak pernah benar-benar move on. Ia berusaha secara konstan memanipulasi diri agar percaya bahwa ia selalu bisa move on. Kasihannya, dirinya benar-benar percaya ia betulan berhasil menjadi seorang bijak yang dapat memilah dan meninggalkan apa yang harus ditinggalkan. Tidak. Kebrengsekan Hardi berhasil membangkitkan amarah-amarah yang selama ini tersembunyi rapi jauh sekali di dalam dirinya, amarah dan kekesalan yang bahkan tak disadarinya ada. Tapi perasaan-perasaan destruktif itu hadir kini, bangkit entah dari mana hingga Matt pun semakin marah. Kali ini karena menyadari bahwa dirinya tak pernah benar-benar move on seperti apa yang diyakini. Ia hanya meninggalkan masalah, bukan menyelesaikan seperti yang seharusnya sebelum melangkah lagi. Tak heran sisa-sisa kemarahannya masih ada, terakulumasi tanpa sadar dan siap meledak saat sesuatu memicu.

Kontemplasi itu lagi, hal yang belakangan sedang berusaha Matt hindari karena semakin merenung, semakin ia membenci dirinya akibat ketakmampuannya mengatasi diri sendiri. Sebatang lagi Marlboro Light menyala, gerimis masih halus menyapa, menghembuskan sedikit udara segar di tengah sumpeknya Jakarta.

Matt menghubungi nomor yang dikirimkan Tiara melalui email. Tak ada jawaban. Rasa gelisahnya semakin menjadi. Apa yang harus dilakukan? Dihubunginya nomor Tiara sekali lagi, berharap kali ini akan diangkat.

“Halo?” suara lembut Tiara menyahut di ujung sana.

“Hi, Tayara? This is Matthew Flanagan, I know this is a bit late and I supposed to go there in two or three days but are you up for a stranger tomorrow morning?” tanya Matt langsung ke pokok permasalahan.

“Huh? It’s Tee-ara” Tiara tak mengantisipasi telepon dari orang asing itu hingga ia perlu mencerna beberapa saat sebelum bisa berbicara.

“Hi Tee-yarah. Yeah I know. I don’t know where I am at the moment and I just feel like going there tonight, do you think it’s possible? I haven’t even checked any possible transportation to get me there like now.”

Tiara tak menjawab pertanyaan, ia justru terpaku pada Matt yang tak tahu dirinya di mana, “What do you mean you don’t know where you are?”

“It’s a long story,” jawab Matt sambil tertawa-tawa.

Ada sesuatu yang tak enak dirasakan Tiara dalam tawa Matt yang terkesan dipaksakan. “Where are you now?”

“I wish I knew,” cetus Matt lagi, kali ini ia tertawa lepas, karena ia sudah memberitahu Tiara sebelumnya ia tak tahu ada di mana.

“Oh sorry, you told me before. Why so soon? I mean you are very welcome here but what happened? How’s Jakarta been treating you?”

“The city has been nice to me but my guardian angel told me to leave the town as soon as possible.”

“Oh, really?” Tiara bercanda setengah sinis, merasa Matt menyembunyikan sesuatu. Sebagai orang asing, Tiara bisa menghargai itu, “Do you also have a devil with you? What’s the devil told you?”

“He didn’t tell me anything, not even a clue what should I be doing right now in the middle of nowhere, that’s why it’s an evilish devil.” Lagi-lagi tawa tersembur, keterhubungan keduanya tercipta kuat saat itu.

Tiara prihatin pada bule nyasar satu itu. Ia menginstruksikan pada Matt, seolah lelaki itu seorang anak kecil dengan masalah belajar, untuk bertanya pada orang sekitar, bagaimana caranya ke stasiun. “Just any station, I’ll give you a list of train stations in Jakarta. Ask for the nearest one. I will send along a text in Indonesian, all you need to do is to show them my text, okay?”

“Will do, Ma’am” tawa renyah lagi-lagi keluar dari mulut Matt.

“Shut up. Save your battery.” Matt tak tahu maksud Tiara dengan baterai, apakah baterai HP, atau energinya. Wanita itu sungguh lucu.

Tagged , , , , , , , , , ,

Homophobe

Aroma kerak telor di kamar langsung menyambut kembali Hardi yang barusan dari kamar mandi, ia sudah segar dan wangi lagi walau matanya masih agak sembab akibat tidur pulas beberapa jam. Matt terpejam di atas tempat tidur sambil memegang perutnya dengan sebelah tangan, kekenyangan. Tangan lainnya masih menggenggam iPhone seselesainya membaca email dari Tiara. Ia akan menghubungi wanita itu nanti.

Hardi yang tadinya tak bermasalah dengan kerak telor mendadak jengkel kamarnya dipenuhi aroma mengganggu itu. Ia baru sadar setelah hidungnya mulai netral sekembalinya dari kamar mandi. Semua ini gara-gara Matt, seharusnya bule satu itu minta ijin dulu pada pemilik kamar, apa boleh makan di kamar. Bukan seenaknya membuka bungkus makanan yang sekarang baunya nempel, belum lagi remah-remah serundengnya yang mengotori meja di samping tempat tidur Hardi.

Seraya mematut diri di cermin, ia melirik pada Matt, “Are you ready?” tanya Hardi memendam rasa tak sukanya terhadap pendatang baru di kamarnya itu, bersikap seolah tak ada apa-apa.

Matt membuka matanya dengan malas menuju wajah di cermin dengan pandangan bertanya-tanya. Ia tak ingat pernah membuat janji dengan Hardi, “What? Where?”

“Have a drink somewhere, or partying around?”

“Oh well I’d really love to, but I feel really worn out tonight, can I just stay here?”

“Are you sure? Come on! This is your first night in Jakarta, bro! First night in Indonesia! We should celebrate tonight! There would be a lot of hot chicks you can flirt with.” kata Hardi berapi-api setengah memaksa.

Matt tak suka apa yang barusan didengarnya, setengah mati ia mengumpulkan uang demi keliling Asia, demi pemahaman yang lebih baik tentang manusia dan budayanya, demi lebih bisa menghargai orang lain, hanya untuk dicap sebagai orang yang mau mengorbankan sinyal tubuhnya yang meraung minta istirahat demi… wanita-wanita seksi di klub malam? Selain merendahkan dirinya, ia pun tak suka cara Hardi bicara tentang wanita. Entahlah, Matt bukannya tak pernah bercanda tentang wanita, itu biasa dilakukannya dengan teman-teman dekatnya di Amerika sana, mereka bahkan tak jarang menggosipkan para wanita malang itu, tapi semua semata-mata bercanda, berbeda dengan cara bicara Hardi yang tak terdengar seperti bercanda, tak lucu, begitu menyebalkan dan merendahkan. “Only because it’s my first night here doesn’t mean I have to be up all night long for some hot chicks, bro. But thanks.” pungkasnya tajam dengan tekanan di kata ‘bro’.

Wajah kuning langsat Hardi memerah, tak suka kemurahan hatinya menyediakan kamar gratis dibalas dengan keberanian sang tamu melempar komentar pedas. Bagaimanapun, ia yang punya otoritas penuh di ruangan itu, lawan bicaranya hanyalah tamu. Tamu seharusnya sopan. Seharusnya ditampung saja sudah berterima kasih, sudah bersyukur. Bukan membuat kamar menjadi bau. Bukan menantang tuan rumah. Bukan menyindir keakraban tuan rumah dengan penekanan ‘bro’ yang sengaja dilebih-lebihkan. Hardi merasa terhina. “Yeah you’d rather spend the whole time here in this smelly room, thanks to your silly kerak telor, the cheap food not even faggots want to eat!”

Darah terpompa lebih deras ke seluruh tubuh Matt, membuat kepala dan dadanya terasa hangat dan nafasnya lebih berat. Ia serta merta terduduk tegak dan menatap tajam pada Hardi yang kini sudah berbalik membelakangi cermin, berdiri menghadap Matt. “What the? What is your problem, Hardi? If your life is even HARDER than your name, you have no right to judge people’s sexual orientation!”

“See? You’re a faggot!” Hahaha, tawa histeris Hardi menyiratkan sesuatu, bahwa Matt akan percuma saja meladeni argumen apapun yang keluar dari orang yang bisa tertawa histeris macam itu.

“Listen. Seek help. You have some issue. Oh WAIT. You don’t. You’re just an A-HOLE. I’m so sorry for you.” Berlawanan dengan Hardi yang nada bicaranya seperti di luar kendali, Matt tampak menguasai keadaan dengan tetap membuat suaranya terkontrol. Tajam, datar dan rendah. Namun wajahnya merah dan matanya seperti singa siap menerkam korbannya.

Ia serta merta bangkit dari tempat tidur, buru-buru mengemasi barangnya, untung saja ia tadi agak berhati-hati saat mengeluarkan handuk, baju ganti dan perlengkapan mandi, hingga sekarang tak perlu berlama-lama membereskan semuanya kembali. Napasnya memburu menahan emosi, sekali lagi Hardi memprovokasinya ia bisa saja meledak dan menghantam Hardi dengan kepalannya yang sudah lama sekali tidak digunakan. Ia tak butuh memukul orang sekarang. Ia hanya perlu pergi secepatnya dari rumah itu.

Hardi menyaksikan semua itu dengan wajah sinis dan dengusan nyinyir, ia hendak meluncurkan cercaan lain untuk memancing emosi lawan, sebelum dilihatnya kilatan di mata Matt yang membuat Hardi ciut di kandang sendiri. Matt rak perlu dipanncing rupanya. Tapi ia hanyalah orang asing, sementara Hardi si penghuni rumah, lebih mengerti keadaan, lebih tahu situasi dan lingkungan, lebih mudah mencari dukungan atau bala bantuan bila diperlukan. Tapi jaraknya dengan Matt terlalu dekat, ia akan babak belur sebelum sempat meminta bantuan teman-teman di rumahnya. Lagipula, berurusan dengan polisi adalah hal terakhir yang dibutuhkan Hardi dalam hidupnya. Ia hanya butuh pasokan alkohol secepatnya. Malam itu juga. Saat itu juga.

Beban belasan kilo segera berpindah ke punggung Matt, dengan napas memburu, bergulat menahan diri agar tak melukai siapapun, tanpa ragu ia membanting pintu di belakangnya, meninggalkkan Hardi, melewati dua orang ekspat di ruang TV lantai bawah yang keduanya memandang penuh tanya padanya. Ia terus melangkah meninggalkan rumah itu untuk kedua kalinya di hari yang sama. Tanpa menoleh kembali. Hari pertamanya di Indonesia berakhir berantakan.

Ia tak mengenal daerah itu, ia tak mengenal Indonesia sama sekali, ia tak tahu harus berbuat apa, ia hanya ingin berjalan sejauh mungkin, nanti akan dipikirnya apa yang harus dilakukan. Mungkin mencari hotel untuk malam itu saja, mungkin langsung menuju Yogya. Tapi bagaimana? Ia lantas merutuk, menyesali brewok yang kini sudah lenyap. Kesan yang ditampilkan dengan brewok itu selalu lebih sangar, setidaknya membuat orang berpikir dua kali untuk mencari masalah dengannya. Itu penting untuk survival di tempat asing. Ah, dalam perjalanan beberapa bulan ini, ia berusaha keras memercayai manusia pada dasarnya baik, kenapa brewok kini menjadi soal? Bila manusia pada dasarnya baik, dengan atau tanpa brewok seharusnya Matt aman. Ia tak perlu tampil lebih intimidatif untuk menghindari menjadi korban kriminalitas. Persetan! Pikirannya tak bisa berhenti berperang, mulai dari mengutuk kecongkakan Hardi, meributkan brewok, memikirkan hotel, perjalanannya di Asia, hakikat manusia, pembuktian diri, atau lebih tepatnya mencari bukti atas prasangka baiknya terhadap manusia. Kepalanya ingin pecah. Untuk pertama kali selama perjalanannya ia begitu kesal. Ia hanya perlu menemukan tempat untuk duduk sesaat, menyulut sebatang rokok, lantas… Tiara! Ya, Tiara. Matthew akan menghubungi Tiara.

Tagged , , , , , , ,

Tiara

Udara Yogya hari itu terbilang dingin setelah seharian diguyur hujan, Tiara  masih duduk di ruang tamu rumah mungilnya, menikmati secangkir double espresso yang kini aromanya mengambil alih segala keresahan Tiara. Masa depan bisnisnya terancam saat calon investor yang menjadi tumpuan harapan tiba-tiba mengindikasikan akan membatalkan kerjasama bisnis mereka.

Telah berjam-jam ia berpindah dari satu titik ke titik lain di rumahnya. Di halaman belakang, dengan rambut panjang sepunggung yang sengaja digerai agar lebih hangat, ia mengamati barisan pohon terong yang ditanamnya belum lama berselang, salah satu di antara pohon-pohon itu akhirnya tercerabut dari akar lalu tumbang akibat deraan air hujan. Tiara hanya menatapnya, ia akan membenahi posisi pohon itu kemudian, pikirnya. Ia berpindah ke teras depan, menikmati hujan dengan sesekali menjulurkan tangannya agar terkena cipratan air, diresapinya irama rintik air hujan dari atas atap, juga yang menimpa hamparan rumput dan pepohonan di hadapannya, seperti harmoni kelabu berlatarkan orkestra kodok dari kebun tebu tak jauh dari rumah itu, bertemankan langit abu-abu dengan awan tebal menggantung, dingin menusuk dan pahit kopi kentalnya. Segalanya begitu suram bagi Tiara hari itu.

Wanita yang memiliki darah Cina itu terpekur menggenggam cangkir kopinya dengan kedua tangan, memikirkan segala kemungkinan, berharap yang terbaik dan mempersiapkan diri bagi yang terburuk. Ia tengah mencari inspirasi akan langkah apa yang hendak diambilnya bila yang terburuk menjadi nyata. Sudah menjadi kebiasaannya untuk tetap berpikir jernih dalam situasi apapun, kecuali bila itu berkaitan dengan asmara. Ia hanya wanita biasa yang cenderung lemah hati saat berurusan dengan cinta dan laki-laki.

Ketangguhan yang nampak di meja rapat kantornya, atau ketegasan seorang pemimpin bisnis, sama sekali lenyap tanpa jejak saat berhadapan dengan lelaki. Menyadari kelemahannya yang satu itu, ia selalu berusaha meyakinkan diri, “Itu kan dulu, sekarang ngga lagi kok,” pernyataan yang selalu muncul dari waktu ke waktu hanya untuk dilanggarnya kembali. Ia mengingat banyak detail seperti seorang wanita mengingat dosa-dosa pasangannya, namun selalu lupa pernah menyatakan hal semacam itu. “Masa iya sih?” Tanyanya pada sahabatnya setiap kali, yang dibalas dengan helaan nafas panjang sang sahabat. Lalu mereka akan menghabiskan malam bertemankan cangkir demi cangkir kopi, dan kepulan asap rokok.

Handphonenya berbunyi, Lia, “Hai Ti, kamu lagi apa?” suara di ujung sana menyapa, dari nadanya Tiara langsung tanggap, sang sahabatnya yang satu itu sedang gelisah.

“Lagi bengong nih, kenapa?”

“Gini, aku ada mau host cowok Amrik dua atau tiga hari lagi, tapi terus ada panggilan dadakan ke Papua. Biasa, kerjaan. Harus berangkat besok pagi nih, Ti. Gimana dong?” Tiara tanggap betul ini semacam permohonan terselubung untuk menggantikan Lia hosting cowok ini. Tapi gimana, Tiara pun seperti butuh waktu sendirian untuk berpikir dan menyusun strategi terkait bisnisnya. “Orangnya asyik kok, Tiii,” rajuk Lia tiba-tiba seperti mengerti apa yang tengah dipikirkan Tiara.

“Hmmm…” gumaman malas terdengar dari hp Lia.

“Duh, Ti, kamu liat orangnya deh, kayaknya asyik, ganteng pula, serius deh.”

“Kamu nih mau minta tolong ato mau nyomblangin aku, sih?”

“Ya dua-duanya, kamu kan udah lama banget ngejomblo, sebagai teman yang baik, aku impor dong cowok ini langsung dari Amrik, just for you, darla. Lagian kan sekarang Yogya dingin…” tawa keduanya meledak diselingi rutukan Tiara. “Sebentar lagi aku kirim link ke profilnya dia biar kamu bisa cek, aku kasih tau dia juga sekarang soal ini, habis ini kamu kirim email ya, kenalan kek ato gimana gitu, ok?”

“Baeklaaaah.”

“Aaaahhh!!! I love you so much! Makasiiih!” Sambungan telepon pun mati. Tiara langsung melempar pelan teleponnya ke atas bantal di sofa seberangnya.

Lima menit berikutnya Tiara sudah sibuk dengan laptop, menyelidiki siapa calon tamu yang “diimpor” Lia ini. Beberapa uraian di profil Matthew Flanagan membuat senyumnya terkembang. “Okayyy, he’s got some brain,” gumam Tiara. “And some sense of humor too, it seemed. Sepertinya tipe orang yang menyenangkan, lagipula kan cuma mau nginap paling lama tiga malam, ga masalah lah, melihat pengalaman berbulan-bulannya traveling, yang model begini sudah tau harus ke mana dan ngapain, tak perlu diantar, ga manja, dan harusnya sih tau tata krama, kan udah ketemu banyak orang di lapangan? Harusnya sih ngerti lah. Biasanya mereka juga punya cerita-cerita hebat oleh-oleh dari petualangannya. Mungkin nanti aku dapat lagi cerita kekaguman ke pohon pisang, ato yang semacam itu lah. Lucu kan? Eh tapi itu cerita bule Eropa entah dari mana itu deh, kalo di Amrik ada pohon pisang dong ya? Oh! Ya ampun… matanya cokelatnya killer abis deh…” Tiara langsung berkhayal menghabiskan malam dengan Matt, bernaungkan cahaya rembulan di tepi pantai. Tersipu akibat tatapan Matt yang semacam kompromi antara hangat dan dingin, serius dan jenaka, intens dan seksi… Pikiran yang segera diakhirinya dengan tenggakan espresso terakhir di cangkir.

Segera Tiara mengklik opsi “kirim pesan”, memperkenalkan diri dan sedikit membantu menjelaskan situasi Lia yang, dia yakin sebenarnya sudah dilakukan sendiri oleh Lia, tapi apa salahnya menambahkan bahwa Lia adalah orang yang bertanggung jawab sehingga tak mungkin membiarkan seorang yang jauh dari rumah seperti Matt, terlantar. Cis, dibacanya sekali lagi suratnya, cukup murahan, tapi kan maksudnya bercanda? Begitu pikir Tiara. Dikirimnya email tersebut bersama nomor kontak dan peta rumahnya.

Saat banyak perempuan lain takut untuk mengungkapkan identitas personal seperti tempat tinggal pada orang asing, Tiara justru sangat terbuka mengenai hal itu. Bagaimana tidak, toh ia sudah terlanjur membuka tempat tinggalnya untuk kegiatan belajar dan bermain anak-anak sekitar rumahnya. Tak jarang teman-teman dari berbagai komunitas menjadikan rumah itu sebagai tempat singgah pula. Faktor yang menurut Tiara, “terlanjur semua orang tahu” yang sebenarnya bukan terlanjur, ia hanya begitu terbuka menyambut dan menjamu orang-orang.

Banyaknya berita kejahatan terhadap wanita tak juga membuatnya ciut. Ia percaya, manusia pada dasarnya baik, minimal kebanyakan manusia itu baik, kalaupun ada yang jahat jumlahnya tak sebanding dengan yang baik, dan sebenarnya hal-hal jahat macam itu semenjak dulunya sudah ada, pasti ada. Hanya saja, sekarang, dengan jurnalisme haus darah –julukannya terhadap pemberitaan yang memberitakan apa saja, penting tak penting— jumlah kejahatan yang dari dulunya segitu-gitu aja tanpa fluktuasi tajam itu diekspos di segala lini: media cetak dan elektronik, termasuk menjadi berita viral di internet. Hasilnya, kita seolah melihat kejahatan di mana-mana, lalu keluarlah ungkapan, “jaman sekarang harus hati-hati, harus lebih waspada” atau hal-hal bersifat peringatan semacam itu. Kita memilih apa yang mesti dipercaya. Tiara memilih aman dalam kepercayaan untuk fokus ke hal-hal baik dalam hidup. Menurutnya, waspada itu perlu, tapi bukan berarti harus menutup diri dan mencurigai setiap orang.

Tagged , , , ,

Matt, Si Abang Kerak Telor

Matthew beruntung kali ini, pegal di betisnya memang tak berkurang namun paling tidak, di bagian belakang bus tempatnya berdiri, seseorang baru saja beranjak berdiri dari kursinya, yang langsung diambil alih dengan cepat oleh Matt. Keterampilan adu cepat yang dipelajarinya dari mengamati kerumunan penumpang yang tak pernah sepi walau jam pulang kerja sudah jauh terlewat.

Tanpa Ika dan kebersamaan mereka yang mengundang perhatian, Matt tenggelam dalam kerumunan itu, tak ada yang peduli, tak ada yang memperhatikan, orang-orang menyumpal telinganya dengan earphone, atau sibuk dengan gadget masing-masing. Merengut, tersenyum sesekali, ada pula yang larut dalam bacaannya, seolah dirinya tersedot ke dalam buku dan tak lagi tahu di mana raganya berada. Sebagian lagi hanya bersandar ke dinding bus dengan mata terpejam.

Matt tersadar, ini kali pertama dalam perjalanannya di mana ia begitu tak diperhatikan, dianggap sama dan menjadi satu dengan aliran lalu lintas manusia Jakarta. Sebagai orang berkulit putih dengan postur khas kaukasia yang menjulang di antara manusia Asia, selama berbulan-bulan Matt terbiasa menjadi pusat perhatian. Awalnya ia menikmati peran sebagai pusat perhatian, dan menjadi teman praktek bahasa Inggris yang begitu antusias, terutama bagi anak-anak, tapi tak lama berselang, Matt terkadang bosan. Semua akan bertanya hal yang itu-itu lagi. Hi. How are you? Where do you come from? What do you do? Yang unik, ia mengalami pola percakapan macam ini di hampir setiap negara Asia Tenggara.

Anak-anak: Hello, Sir.

Matt: Hi, kids, how are you?

Anak-anak: I’m fine, thank you, and you?

Ia tak memiliki masalah untuk bersosialisasi dengan siapapun termasuk anak-anak, tapi perasaan bosan yang datangnya hanya sesekali yang jarang itu, akan menerkam dengan intensitas tinggi. Intensitas yang tentu tak akan membantunya menghilang dari sorotan lampu. Bila saja pabrik pakaian di China sana berhasil menemukan camouflage suit terbaik yang bisa membuatnya nampak lebih Asia untuk menghindari perhatian, ia pasti akan membelinya. Harga tak lagi relevan di titik ini, ia bahkan akan menggalang dana untuk menghadiahi diri pakaian bunglon, agar bisa muncul dan menghilang kapan pun ia mau.

Namun, di sebuah bus padat di Jakarta malam itu, kesadaran bahwa tak seorang pun memperhatikannya membuatnya sedikit girang. Rasanya mirip seperti pulang, semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Matt tersenyum tipis di balik brewoknya, saat seorang pemuda di sampingnya yang tadi menggunakan topi untuk menutupi wajah, menoleh ke arah Matt, “Hi, where do you come from?”

***

Malam itu, pukul delapan, Hardi masih pulas dibuai kenyamanan kamar. Pintu kamar diketuk pelan sebelum Matt muncul. Seisi rumah sudah mahfum bila ada bule celingukan sesaat, melempar senyum serasa menyapa dan berkenalan dengan mareka di ruang tamu lantai bawah, lantas langsung menuju ke kamar Hardi.

Kehadian Matt di kamar itu tak sanggup mengusik Hardi dari tidurnya yang dalam. Matt kemudian mengambil perlengkapan mandinya, merasa lengket setelah seharian terpapar matahari dan debu.

Tak lama berselang, ia menerima notifikasi email di iPhonenya, Lia, hostnya di Yogya baru saja memberitahukan tak dapat menjamu Matt karena mendadak harus ke luar kota. Jadi Lia mengabarkan akan mencarikan host pengganti agar Matt tak perlu repot kelabakan mencari host lain dengan waktu mepet.

Sepuluh menit kemudian, Matt bahkan belum membaca email tersebut dan Lia sudah mengirimkan email lain. Lia berhasil meyakinkan temannya, sesama member di komunitas traveling mereka, untuk menampung Matt. Temannya itu akan menghubungi Matt secepatnya melalui email. Pria Amerika yang kini wajahnya bersih dari brengos itu nampak lima tahun lebih muda saat keluar dari kamar mandi dan berbasa-basi sebentar dengan penghuni lain.

Email pertama yang dibacanya membuat sedikit panik, bagaimana tidak, dalam memilih tuan rumahnya Matt benar-benar mempelajari profil sang host dan biasanya ia hanya mengirimkan satu permohonan untuk satu calon tuan rumah saja, tak seperti kebiasaan beberapa traveler lain yang terkadang “menyebar” permohonan, lalu memilih host seenak hati, sementara calon host yang lain yang juga telah menyatakan kesanggupan untuk menerima tamu, tak kunjung dikabari kepastian kedatangan mereka. Menjengkelkan.

Matt memperlakukan setiap orang dengan respek, ia tak menganggap host semata-mata tumpangan gratis. Ia akan mengirim satu request hingga konfirm, berikut mengirim kepastian kapan ia akan datang, berapa lama akan tinggal dan detil semacam itu, untuk mencocokkan jadwal dengan sang host, apakah hostnya dapat menerima kehadirannya di tanggal-tanggal yang disebutkan. Pembatalan sepihak dari calon host sama saja mengacaukan jadwal Matt. Karena ia harus mengalokasikan beberapa puluh menit dari yang seharusnya digunakan bersosialisasi, berkeliling atau tidur, untuk mencari host baru.

Email kedua membuatnya sedikit lega, sembari harap-harap cemas menanti email dari teman Lia, yang entah orangnya seperti apa. Terlepas dari jiwa petualangnya, dan kemampuannya beradaptasi di berbagai situasi, untuk soal akomodasi semacam ini ia lebih suka bila memiliki gambaran walau sedikit tentang calon host. Siapakah pengganti Lia ini? Orang macam apa dia? Asyik kah? Open-minded kah? Apa Matt bisa minum bir bersama orang ini? Ia ingat fakta banyaknya muslim di Indonesia, yang didapatnya dari Ika. Tentu sulit mengajak seorang muslim minum bir, terlebih wanita muslim, batinnya.

Lamunannya diinterupsi Hardi yang meregangkan badan dengan malas, menyapa, “Heiiii.” Hardi pun bertanya sopan, bagaimana hari tamunya di Monas. Mata Matt berbinar saat menceritakan tentang Kerak Telor,“That stuff is so f-ing delicious, dude!” Ia masih kagum dengan cara membuat kerak telor yang disaksikannya sore tadi. Bagaimana ajaibnya benda itu menempel dengan mantap di wajan kecil sang penjual saat dipanggang terbalik, namun bisa dilepas utuh tanpa merusak bentuk bundarnya. Sepertinya seseorang baru saja menemukan makanan favorit yang baru. Karena ia menginginkannya untuk makan siang atau makan malam besok. Ia menginginkan kerak telor di Yogya. Ia lantas mengeluarkan dua bungkus kerak telor, satu untuknya dan satu untuk Hardi, “If you’ve had enough of this being in Jakarta, I don’t mind helping you finish it.” Diiringi tawa akrab mereka dari dalam kamar ber-AC yang kini dipenuhi aroma kerak telor.

Tak ada kerak telor di Yogya. Mungkin ada tapi tak populer dan Hardi tak pernah melihat seorang penjual kerak telor pun di Yogya. Tapi mungkin Hardi salah, mungkin Hardi tak cukup mengeksplorasi kota itu hingga bertemu dengan abang penjual kerak telor, demikian cetusnya pada Matt, yang ditanggapi dengan mata membelalak tak percaya. Bagaimana bisa makanan selezat ini tak populer di Yogya, kota itu kan masih satu pulau dengan Jakarta?

Apa maksudmu ga populer? Matt memicingkan mata penuh siasat, katanya ia akan tinggal lebih lama di Jakarta untuk belajar membuat kerak telor. “If I make a great abang kerak telor, I can be a millionaire selling those on Yogya’s street, don’t you think?”

Tagged , , , , , , , ,
%d bloggers like this: