Tag Archives: Matt

Let’s Bus A Take?

Beberapa detik kemudian iPhonenya berdering, “Matt! Wait. Are you sure you have no idea where you are? Like in which part of Jakarta, central, west, east, anything like that? You have GPS on your phone, right? We’re just gonna… I’m not gonna send you the text, guide yourself with the GPS to bigger street, because it’s easier to reach public transportation from bigger streets. Find out in which part of Jakarta you are because I will send you to the nearest train station, so I need to know where exactly you are. Wait. Am I going too much about the whole thing? I’m not underestimating your ability to survive, nor do I know your actual condition, whether you were lost like the traveler’s usual lost or the I-don’t-know-what-to-do kinda lost, but I feel this sense of responsibility as you are in my country and you sound like… I don’t know, lost.”

Matt tak memiliki kesempatan barang sedetik untuk menjawab satu saja dari rentetan pertanyaan itu, tawanya nyaris terhambur saat mendengar nada khawatir dalam suara Tiara tapi ditahannya hingga wanita itu selesai bicara. Sepersekian detik setelah Tiara nampaknya selesai, tawa Matt pun meledak. Ia tak mau membandingkan, tapi Tiara mengingatkannya pada ibunya di Amerika sana. Caranya mengajukan rentetan pertanyaan, nada bicaranya saat mengkhawatirkan sesuatu, dan tentu saja intensitas emosional yang ditularkan pada Matt. Sesuatu yang tulus sedang dialaminya, dan itu datang dari seorang asing bernama Tiara. Ya Tuhan, Matt bahkan tak tahu siapa nama lengkap Tiara.

Serta merta saat Tiara belum lagi menyemprotnya untuk menghentikan tawa sialan itu, Matt menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia hanya perlu waktu berpikir sedikit untuk memikirkan langkah sistematis menuju Yogya. Tapi ia baik-baik saja dan semuanya dalam kendali. “I mean thanks, I really appreciate what you did, and I’ll do exactly what you told me to do, Ma’am!”

“That’s silly,”

“You’re not, what you told me to do isn’t silly either.”

“The ma’am part is.”

“Oh,” keduanya terkikik lagi sebelum mengakhiri panggilan telepon.

Pikiran Matt kali ini lebih bisa diajak bekerja sama, sesaat ia merasa bodoh, ah tidak, Tiara yang membuatnya merasa bodoh, ia sendiri tak bodoh, begitu gumamnya. Ia hanya memerlukan sedikit waktu berpikir, menjelajahi internet untuk beberapa info praktis di kota Jakarta, lalu mencari kendaraan umum menuju stasiun itu saja. Tapi wanita Yogya itu membuatnya terlihat ia seperti traveler tak berpengalaman dan cengeng, yang tersesat di kota besar saja sudah harus mengadu ke seorang wanita. Ia terus menyalahkan Tiara atas perasaan buruknya terhadap diri sendiri. Tetapi senyum lebar kini menghiasi wajahnya.

***

Kini Tiara akan mengirimnya ke stasiun kereta terdekat, tapi sebelum menginfokan Tiara di mana GPS-nya mengatakan dirinya berada, Matt, dalam upaya putus asanya, mencari jadwal bus. Sepuluh menit yang tak membuahkan hasil dan malam beranjak larut, ia harus bergerak cepat, paling tidak ke tempat yang lebih ramai. Ia pun menyerah, ia memberitahu Tiara bahwa ia ada di sebuah wilayah di Jakarta Pusat. Tiara menyarankan, agar Matt segera menuju jalan protokol terdekat untuk mencegat taksi, menanyakan harga di awal, minimal perkiraan harga sebelum naik menuju Gambir. Maksimal 30 ribu rupiah, begitu kata Tiara, tak buta kenyataan bahwa selalu akan ada orang yang mengambil untung dari ketaktahuan orang lain.

***

Di rumah Hardi, kedua ekspat menanyakan ada masalah apa dengan Matt, tepat saat Hardi menginjakkan kaki di ruangan dengan TV LCD 36 inchi.

“Ga ada masalah kok, dia minta dicariin cewek Indonesia for tonight, gue tolak lah, kan ngerendahin banget as if dia bisa datang seenaknya dan dapet cewek begitu aja. Typical arrogant tourist who thinks every local girl wants to sleep with bule. He pissed off as I said no to the stupid request,” jawab Hardi dengan wajah yang disetel tersinggung.

“Yea man, that’s bloody ridiculos, sometimes whiteys are so arrogant to behave like they own the world. I am white but I never liked such arrogancy, you know?” seorang lelaki Inggris berkomentar pedas terhadap perilaku Matt.

“Itu tidak baik, right? You travel ke negara mana saja with respect. Otherwise, piss off, Jeez!!!”

“Yes, true,” senyum tipis terlihat dari wajah Hardi, menyadari ia berhasil membuat kedua teman rumahnya percaya pada cerita tentang Matt. Tapi tak ada yang menyadari senyuman tipis itu, mereka berganti fokus sesekali dari layar TV, memandang satu sama lain, memandang Hardi, lalu beralih kembali ke TV. Hardi puas dengan reaksi yang didapatnya, lantas mengajak keduanya menuju salah satu kafe di Kemang untuk menikmati bir dan bersosialisasi dengan makhluk malam Jakarta lainnya.

***

Tak juga beranjak dari rumahnya yang kembali beraroma kopi, Tiara mengaktifkan laptopnya kembali, membaca ulang profil Matt karena ia yakin pasti melewatkan sesuatu di profil tersebut, profil yang mengesankan Matt seorang yang cerdas dan lucu. Sepertinya tak ada yang terlewat, kesan sedikit ceroboh (dan bodoh) yang didapatnya lewat obrolan telepon barusan pastilah karena Matt lelah. Itu saja.

Rasa lelah atau ngantuk terkadang membuat kita melakukan hal-hal konyol. Pernah suatu kali saat traveling berdua di Bangkok, Tiara dan mantan kekasihnya berjalan kaki berkilo-kilo meter. Berjalan kaki selalu menjadi pilihan menyenangkan karena bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih dekat dan detail, namun malam sebelumnya mereka clubbing hingga dini hari, berjanji tak akan ada yang mabuk. Mereka pun memasuki klub malam itu, Tiara sok cool mendapati banyaknya wanita mengenakan bikini saja. “Demi tuhan ini bukan pantai! Wow!” batin Tiara, tapi ia tak sedang mengkritik suatu budaya atau prostitusi terbuka macam itu. “Tunggu, apa itu di ujung sebelah sana? Oh baiklah, topless. Hahaha. I love Thailand!” ia terus saja membatin sambil membiasakan diri dengan apa yang ada di club itu. Banyak wanita lokal, dan prianya, tentu saja kebanyakan berkulit putih.

Kekasihnya melingkarkan tangan di pinggang Tiara, mungkin sekedar meyakinkan ia tak akan berbuat macam-macam. Namun tak sedikit wanita di bar itu terang-terangan merayu kekasihnya, sebelum kemudian membelai tangan Tiara, menawarkan threesome. “Hun, can I have a drink?” kata Tiara sesaat setelah berhasil lepas dari walah satu wanita di sana. Mereka tak juga beranjak karena sensasi berada di klub itu bukan sesuatu yang akan mereka rasakan setiap hari.

“I need one too,” balas lelaki itu. Tapi mereka sama-sama berjanji harus ada yang tetap sadar sebelum malam berakhir. Keduanya mabuk, lalu bangun kesiangan dan ngotot berjalan kaki. Setelah beberapa kilometer, Tiara menyerah, “Can’t we just bus a take?”

“What?” pasangannya menatap keheranan.

“Umh. Take a bus.” Tiara sangat malu, walau sadar bahasa Inggris bukan bahasa-ibu-nya. Kurang tidur, rasa lelah dan alkohol memperlambat fungsi otaknya, mungkin itu yang sekarang terjadi pada Matt.

Tagged , , , , , , , , , , , ,

Matt, Si Abang Kerak Telor

Matthew beruntung kali ini, pegal di betisnya memang tak berkurang namun paling tidak, di bagian belakang bus tempatnya berdiri, seseorang baru saja beranjak berdiri dari kursinya, yang langsung diambil alih dengan cepat oleh Matt. Keterampilan adu cepat yang dipelajarinya dari mengamati kerumunan penumpang yang tak pernah sepi walau jam pulang kerja sudah jauh terlewat.

Tanpa Ika dan kebersamaan mereka yang mengundang perhatian, Matt tenggelam dalam kerumunan itu, tak ada yang peduli, tak ada yang memperhatikan, orang-orang menyumpal telinganya dengan earphone, atau sibuk dengan gadget masing-masing. Merengut, tersenyum sesekali, ada pula yang larut dalam bacaannya, seolah dirinya tersedot ke dalam buku dan tak lagi tahu di mana raganya berada. Sebagian lagi hanya bersandar ke dinding bus dengan mata terpejam.

Matt tersadar, ini kali pertama dalam perjalanannya di mana ia begitu tak diperhatikan, dianggap sama dan menjadi satu dengan aliran lalu lintas manusia Jakarta. Sebagai orang berkulit putih dengan postur khas kaukasia yang menjulang di antara manusia Asia, selama berbulan-bulan Matt terbiasa menjadi pusat perhatian. Awalnya ia menikmati peran sebagai pusat perhatian, dan menjadi teman praktek bahasa Inggris yang begitu antusias, terutama bagi anak-anak, tapi tak lama berselang, Matt terkadang bosan. Semua akan bertanya hal yang itu-itu lagi. Hi. How are you? Where do you come from? What do you do? Yang unik, ia mengalami pola percakapan macam ini di hampir setiap negara Asia Tenggara.

Anak-anak: Hello, Sir.

Matt: Hi, kids, how are you?

Anak-anak: I’m fine, thank you, and you?

Ia tak memiliki masalah untuk bersosialisasi dengan siapapun termasuk anak-anak, tapi perasaan bosan yang datangnya hanya sesekali yang jarang itu, akan menerkam dengan intensitas tinggi. Intensitas yang tentu tak akan membantunya menghilang dari sorotan lampu. Bila saja pabrik pakaian di China sana berhasil menemukan camouflage suit terbaik yang bisa membuatnya nampak lebih Asia untuk menghindari perhatian, ia pasti akan membelinya. Harga tak lagi relevan di titik ini, ia bahkan akan menggalang dana untuk menghadiahi diri pakaian bunglon, agar bisa muncul dan menghilang kapan pun ia mau.

Namun, di sebuah bus padat di Jakarta malam itu, kesadaran bahwa tak seorang pun memperhatikannya membuatnya sedikit girang. Rasanya mirip seperti pulang, semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Matt tersenyum tipis di balik brewoknya, saat seorang pemuda di sampingnya yang tadi menggunakan topi untuk menutupi wajah, menoleh ke arah Matt, “Hi, where do you come from?”

***

Malam itu, pukul delapan, Hardi masih pulas dibuai kenyamanan kamar. Pintu kamar diketuk pelan sebelum Matt muncul. Seisi rumah sudah mahfum bila ada bule celingukan sesaat, melempar senyum serasa menyapa dan berkenalan dengan mareka di ruang tamu lantai bawah, lantas langsung menuju ke kamar Hardi.

Kehadian Matt di kamar itu tak sanggup mengusik Hardi dari tidurnya yang dalam. Matt kemudian mengambil perlengkapan mandinya, merasa lengket setelah seharian terpapar matahari dan debu.

Tak lama berselang, ia menerima notifikasi email di iPhonenya, Lia, hostnya di Yogya baru saja memberitahukan tak dapat menjamu Matt karena mendadak harus ke luar kota. Jadi Lia mengabarkan akan mencarikan host pengganti agar Matt tak perlu repot kelabakan mencari host lain dengan waktu mepet.

Sepuluh menit kemudian, Matt bahkan belum membaca email tersebut dan Lia sudah mengirimkan email lain. Lia berhasil meyakinkan temannya, sesama member di komunitas traveling mereka, untuk menampung Matt. Temannya itu akan menghubungi Matt secepatnya melalui email. Pria Amerika yang kini wajahnya bersih dari brengos itu nampak lima tahun lebih muda saat keluar dari kamar mandi dan berbasa-basi sebentar dengan penghuni lain.

Email pertama yang dibacanya membuat sedikit panik, bagaimana tidak, dalam memilih tuan rumahnya Matt benar-benar mempelajari profil sang host dan biasanya ia hanya mengirimkan satu permohonan untuk satu calon tuan rumah saja, tak seperti kebiasaan beberapa traveler lain yang terkadang “menyebar” permohonan, lalu memilih host seenak hati, sementara calon host yang lain yang juga telah menyatakan kesanggupan untuk menerima tamu, tak kunjung dikabari kepastian kedatangan mereka. Menjengkelkan.

Matt memperlakukan setiap orang dengan respek, ia tak menganggap host semata-mata tumpangan gratis. Ia akan mengirim satu request hingga konfirm, berikut mengirim kepastian kapan ia akan datang, berapa lama akan tinggal dan detil semacam itu, untuk mencocokkan jadwal dengan sang host, apakah hostnya dapat menerima kehadirannya di tanggal-tanggal yang disebutkan. Pembatalan sepihak dari calon host sama saja mengacaukan jadwal Matt. Karena ia harus mengalokasikan beberapa puluh menit dari yang seharusnya digunakan bersosialisasi, berkeliling atau tidur, untuk mencari host baru.

Email kedua membuatnya sedikit lega, sembari harap-harap cemas menanti email dari teman Lia, yang entah orangnya seperti apa. Terlepas dari jiwa petualangnya, dan kemampuannya beradaptasi di berbagai situasi, untuk soal akomodasi semacam ini ia lebih suka bila memiliki gambaran walau sedikit tentang calon host. Siapakah pengganti Lia ini? Orang macam apa dia? Asyik kah? Open-minded kah? Apa Matt bisa minum bir bersama orang ini? Ia ingat fakta banyaknya muslim di Indonesia, yang didapatnya dari Ika. Tentu sulit mengajak seorang muslim minum bir, terlebih wanita muslim, batinnya.

Lamunannya diinterupsi Hardi yang meregangkan badan dengan malas, menyapa, “Heiiii.” Hardi pun bertanya sopan, bagaimana hari tamunya di Monas. Mata Matt berbinar saat menceritakan tentang Kerak Telor,“That stuff is so f-ing delicious, dude!” Ia masih kagum dengan cara membuat kerak telor yang disaksikannya sore tadi. Bagaimana ajaibnya benda itu menempel dengan mantap di wajan kecil sang penjual saat dipanggang terbalik, namun bisa dilepas utuh tanpa merusak bentuk bundarnya. Sepertinya seseorang baru saja menemukan makanan favorit yang baru. Karena ia menginginkannya untuk makan siang atau makan malam besok. Ia menginginkan kerak telor di Yogya. Ia lantas mengeluarkan dua bungkus kerak telor, satu untuknya dan satu untuk Hardi, “If you’ve had enough of this being in Jakarta, I don’t mind helping you finish it.” Diiringi tawa akrab mereka dari dalam kamar ber-AC yang kini dipenuhi aroma kerak telor.

Tak ada kerak telor di Yogya. Mungkin ada tapi tak populer dan Hardi tak pernah melihat seorang penjual kerak telor pun di Yogya. Tapi mungkin Hardi salah, mungkin Hardi tak cukup mengeksplorasi kota itu hingga bertemu dengan abang penjual kerak telor, demikian cetusnya pada Matt, yang ditanggapi dengan mata membelalak tak percaya. Bagaimana bisa makanan selezat ini tak populer di Yogya, kota itu kan masih satu pulau dengan Jakarta?

Apa maksudmu ga populer? Matt memicingkan mata penuh siasat, katanya ia akan tinggal lebih lama di Jakarta untuk belajar membuat kerak telor. “If I make a great abang kerak telor, I can be a millionaire selling those on Yogya’s street, don’t you think?”

Tagged , , , , , , , ,
%d bloggers like this: