Tag Archives: Lia

Tiara

Udara Yogya hari itu terbilang dingin setelah seharian diguyur hujan, Tiara  masih duduk di ruang tamu rumah mungilnya, menikmati secangkir double espresso yang kini aromanya mengambil alih segala keresahan Tiara. Masa depan bisnisnya terancam saat calon investor yang menjadi tumpuan harapan tiba-tiba mengindikasikan akan membatalkan kerjasama bisnis mereka.

Telah berjam-jam ia berpindah dari satu titik ke titik lain di rumahnya. Di halaman belakang, dengan rambut panjang sepunggung yang sengaja digerai agar lebih hangat, ia mengamati barisan pohon terong yang ditanamnya belum lama berselang, salah satu di antara pohon-pohon itu akhirnya tercerabut dari akar lalu tumbang akibat deraan air hujan. Tiara hanya menatapnya, ia akan membenahi posisi pohon itu kemudian, pikirnya. Ia berpindah ke teras depan, menikmati hujan dengan sesekali menjulurkan tangannya agar terkena cipratan air, diresapinya irama rintik air hujan dari atas atap, juga yang menimpa hamparan rumput dan pepohonan di hadapannya, seperti harmoni kelabu berlatarkan orkestra kodok dari kebun tebu tak jauh dari rumah itu, bertemankan langit abu-abu dengan awan tebal menggantung, dingin menusuk dan pahit kopi kentalnya. Segalanya begitu suram bagi Tiara hari itu.

Wanita yang memiliki darah Cina itu terpekur menggenggam cangkir kopinya dengan kedua tangan, memikirkan segala kemungkinan, berharap yang terbaik dan mempersiapkan diri bagi yang terburuk. Ia tengah mencari inspirasi akan langkah apa yang hendak diambilnya bila yang terburuk menjadi nyata. Sudah menjadi kebiasaannya untuk tetap berpikir jernih dalam situasi apapun, kecuali bila itu berkaitan dengan asmara. Ia hanya wanita biasa yang cenderung lemah hati saat berurusan dengan cinta dan laki-laki.

Ketangguhan yang nampak di meja rapat kantornya, atau ketegasan seorang pemimpin bisnis, sama sekali lenyap tanpa jejak saat berhadapan dengan lelaki. Menyadari kelemahannya yang satu itu, ia selalu berusaha meyakinkan diri, “Itu kan dulu, sekarang ngga lagi kok,” pernyataan yang selalu muncul dari waktu ke waktu hanya untuk dilanggarnya kembali. Ia mengingat banyak detail seperti seorang wanita mengingat dosa-dosa pasangannya, namun selalu lupa pernah menyatakan hal semacam itu. “Masa iya sih?” Tanyanya pada sahabatnya setiap kali, yang dibalas dengan helaan nafas panjang sang sahabat. Lalu mereka akan menghabiskan malam bertemankan cangkir demi cangkir kopi, dan kepulan asap rokok.

Handphonenya berbunyi, Lia, “Hai Ti, kamu lagi apa?” suara di ujung sana menyapa, dari nadanya Tiara langsung tanggap, sang sahabatnya yang satu itu sedang gelisah.

“Lagi bengong nih, kenapa?”

“Gini, aku ada mau host cowok Amrik dua atau tiga hari lagi, tapi terus ada panggilan dadakan ke Papua. Biasa, kerjaan. Harus berangkat besok pagi nih, Ti. Gimana dong?” Tiara tanggap betul ini semacam permohonan terselubung untuk menggantikan Lia hosting cowok ini. Tapi gimana, Tiara pun seperti butuh waktu sendirian untuk berpikir dan menyusun strategi terkait bisnisnya. “Orangnya asyik kok, Tiii,” rajuk Lia tiba-tiba seperti mengerti apa yang tengah dipikirkan Tiara.

“Hmmm…” gumaman malas terdengar dari hp Lia.

“Duh, Ti, kamu liat orangnya deh, kayaknya asyik, ganteng pula, serius deh.”

“Kamu nih mau minta tolong ato mau nyomblangin aku, sih?”

“Ya dua-duanya, kamu kan udah lama banget ngejomblo, sebagai teman yang baik, aku impor dong cowok ini langsung dari Amrik, just for you, darla. Lagian kan sekarang Yogya dingin…” tawa keduanya meledak diselingi rutukan Tiara. “Sebentar lagi aku kirim link ke profilnya dia biar kamu bisa cek, aku kasih tau dia juga sekarang soal ini, habis ini kamu kirim email ya, kenalan kek ato gimana gitu, ok?”

“Baeklaaaah.”

“Aaaahhh!!! I love you so much! Makasiiih!” Sambungan telepon pun mati. Tiara langsung melempar pelan teleponnya ke atas bantal di sofa seberangnya.

Lima menit berikutnya Tiara sudah sibuk dengan laptop, menyelidiki siapa calon tamu yang “diimpor” Lia ini. Beberapa uraian di profil Matthew Flanagan membuat senyumnya terkembang. “Okayyy, he’s got some brain,” gumam Tiara. “And some sense of humor too, it seemed. Sepertinya tipe orang yang menyenangkan, lagipula kan cuma mau nginap paling lama tiga malam, ga masalah lah, melihat pengalaman berbulan-bulannya traveling, yang model begini sudah tau harus ke mana dan ngapain, tak perlu diantar, ga manja, dan harusnya sih tau tata krama, kan udah ketemu banyak orang di lapangan? Harusnya sih ngerti lah. Biasanya mereka juga punya cerita-cerita hebat oleh-oleh dari petualangannya. Mungkin nanti aku dapat lagi cerita kekaguman ke pohon pisang, ato yang semacam itu lah. Lucu kan? Eh tapi itu cerita bule Eropa entah dari mana itu deh, kalo di Amrik ada pohon pisang dong ya? Oh! Ya ampun… matanya cokelatnya killer abis deh…” Tiara langsung berkhayal menghabiskan malam dengan Matt, bernaungkan cahaya rembulan di tepi pantai. Tersipu akibat tatapan Matt yang semacam kompromi antara hangat dan dingin, serius dan jenaka, intens dan seksi… Pikiran yang segera diakhirinya dengan tenggakan espresso terakhir di cangkir.

Segera Tiara mengklik opsi “kirim pesan”, memperkenalkan diri dan sedikit membantu menjelaskan situasi Lia yang, dia yakin sebenarnya sudah dilakukan sendiri oleh Lia, tapi apa salahnya menambahkan bahwa Lia adalah orang yang bertanggung jawab sehingga tak mungkin membiarkan seorang yang jauh dari rumah seperti Matt, terlantar. Cis, dibacanya sekali lagi suratnya, cukup murahan, tapi kan maksudnya bercanda? Begitu pikir Tiara. Dikirimnya email tersebut bersama nomor kontak dan peta rumahnya.

Saat banyak perempuan lain takut untuk mengungkapkan identitas personal seperti tempat tinggal pada orang asing, Tiara justru sangat terbuka mengenai hal itu. Bagaimana tidak, toh ia sudah terlanjur membuka tempat tinggalnya untuk kegiatan belajar dan bermain anak-anak sekitar rumahnya. Tak jarang teman-teman dari berbagai komunitas menjadikan rumah itu sebagai tempat singgah pula. Faktor yang menurut Tiara, “terlanjur semua orang tahu” yang sebenarnya bukan terlanjur, ia hanya begitu terbuka menyambut dan menjamu orang-orang.

Banyaknya berita kejahatan terhadap wanita tak juga membuatnya ciut. Ia percaya, manusia pada dasarnya baik, minimal kebanyakan manusia itu baik, kalaupun ada yang jahat jumlahnya tak sebanding dengan yang baik, dan sebenarnya hal-hal jahat macam itu semenjak dulunya sudah ada, pasti ada. Hanya saja, sekarang, dengan jurnalisme haus darah –julukannya terhadap pemberitaan yang memberitakan apa saja, penting tak penting— jumlah kejahatan yang dari dulunya segitu-gitu aja tanpa fluktuasi tajam itu diekspos di segala lini: media cetak dan elektronik, termasuk menjadi berita viral di internet. Hasilnya, kita seolah melihat kejahatan di mana-mana, lalu keluarlah ungkapan, “jaman sekarang harus hati-hati, harus lebih waspada” atau hal-hal bersifat peringatan semacam itu. Kita memilih apa yang mesti dipercaya. Tiara memilih aman dalam kepercayaan untuk fokus ke hal-hal baik dalam hidup. Menurutnya, waspada itu perlu, tapi bukan berarti harus menutup diri dan mencurigai setiap orang.

Tagged , , , ,
%d bloggers like this: