Tag Archives: Kerak Telor

Matt, Si Abang Kerak Telor

Matthew beruntung kali ini, pegal di betisnya memang tak berkurang namun paling tidak, di bagian belakang bus tempatnya berdiri, seseorang baru saja beranjak berdiri dari kursinya, yang langsung diambil alih dengan cepat oleh Matt. Keterampilan adu cepat yang dipelajarinya dari mengamati kerumunan penumpang yang tak pernah sepi walau jam pulang kerja sudah jauh terlewat.

Tanpa Ika dan kebersamaan mereka yang mengundang perhatian, Matt tenggelam dalam kerumunan itu, tak ada yang peduli, tak ada yang memperhatikan, orang-orang menyumpal telinganya dengan earphone, atau sibuk dengan gadget masing-masing. Merengut, tersenyum sesekali, ada pula yang larut dalam bacaannya, seolah dirinya tersedot ke dalam buku dan tak lagi tahu di mana raganya berada. Sebagian lagi hanya bersandar ke dinding bus dengan mata terpejam.

Matt tersadar, ini kali pertama dalam perjalanannya di mana ia begitu tak diperhatikan, dianggap sama dan menjadi satu dengan aliran lalu lintas manusia Jakarta. Sebagai orang berkulit putih dengan postur khas kaukasia yang menjulang di antara manusia Asia, selama berbulan-bulan Matt terbiasa menjadi pusat perhatian. Awalnya ia menikmati peran sebagai pusat perhatian, dan menjadi teman praktek bahasa Inggris yang begitu antusias, terutama bagi anak-anak, tapi tak lama berselang, Matt terkadang bosan. Semua akan bertanya hal yang itu-itu lagi. Hi. How are you? Where do you come from? What do you do? Yang unik, ia mengalami pola percakapan macam ini di hampir setiap negara Asia Tenggara.

Anak-anak: Hello, Sir.

Matt: Hi, kids, how are you?

Anak-anak: I’m fine, thank you, and you?

Ia tak memiliki masalah untuk bersosialisasi dengan siapapun termasuk anak-anak, tapi perasaan bosan yang datangnya hanya sesekali yang jarang itu, akan menerkam dengan intensitas tinggi. Intensitas yang tentu tak akan membantunya menghilang dari sorotan lampu. Bila saja pabrik pakaian di China sana berhasil menemukan camouflage suit terbaik yang bisa membuatnya nampak lebih Asia untuk menghindari perhatian, ia pasti akan membelinya. Harga tak lagi relevan di titik ini, ia bahkan akan menggalang dana untuk menghadiahi diri pakaian bunglon, agar bisa muncul dan menghilang kapan pun ia mau.

Namun, di sebuah bus padat di Jakarta malam itu, kesadaran bahwa tak seorang pun memperhatikannya membuatnya sedikit girang. Rasanya mirip seperti pulang, semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Matt tersenyum tipis di balik brewoknya, saat seorang pemuda di sampingnya yang tadi menggunakan topi untuk menutupi wajah, menoleh ke arah Matt, “Hi, where do you come from?”

***

Malam itu, pukul delapan, Hardi masih pulas dibuai kenyamanan kamar. Pintu kamar diketuk pelan sebelum Matt muncul. Seisi rumah sudah mahfum bila ada bule celingukan sesaat, melempar senyum serasa menyapa dan berkenalan dengan mareka di ruang tamu lantai bawah, lantas langsung menuju ke kamar Hardi.

Kehadian Matt di kamar itu tak sanggup mengusik Hardi dari tidurnya yang dalam. Matt kemudian mengambil perlengkapan mandinya, merasa lengket setelah seharian terpapar matahari dan debu.

Tak lama berselang, ia menerima notifikasi email di iPhonenya, Lia, hostnya di Yogya baru saja memberitahukan tak dapat menjamu Matt karena mendadak harus ke luar kota. Jadi Lia mengabarkan akan mencarikan host pengganti agar Matt tak perlu repot kelabakan mencari host lain dengan waktu mepet.

Sepuluh menit kemudian, Matt bahkan belum membaca email tersebut dan Lia sudah mengirimkan email lain. Lia berhasil meyakinkan temannya, sesama member di komunitas traveling mereka, untuk menampung Matt. Temannya itu akan menghubungi Matt secepatnya melalui email. Pria Amerika yang kini wajahnya bersih dari brengos itu nampak lima tahun lebih muda saat keluar dari kamar mandi dan berbasa-basi sebentar dengan penghuni lain.

Email pertama yang dibacanya membuat sedikit panik, bagaimana tidak, dalam memilih tuan rumahnya Matt benar-benar mempelajari profil sang host dan biasanya ia hanya mengirimkan satu permohonan untuk satu calon tuan rumah saja, tak seperti kebiasaan beberapa traveler lain yang terkadang “menyebar” permohonan, lalu memilih host seenak hati, sementara calon host yang lain yang juga telah menyatakan kesanggupan untuk menerima tamu, tak kunjung dikabari kepastian kedatangan mereka. Menjengkelkan.

Matt memperlakukan setiap orang dengan respek, ia tak menganggap host semata-mata tumpangan gratis. Ia akan mengirim satu request hingga konfirm, berikut mengirim kepastian kapan ia akan datang, berapa lama akan tinggal dan detil semacam itu, untuk mencocokkan jadwal dengan sang host, apakah hostnya dapat menerima kehadirannya di tanggal-tanggal yang disebutkan. Pembatalan sepihak dari calon host sama saja mengacaukan jadwal Matt. Karena ia harus mengalokasikan beberapa puluh menit dari yang seharusnya digunakan bersosialisasi, berkeliling atau tidur, untuk mencari host baru.

Email kedua membuatnya sedikit lega, sembari harap-harap cemas menanti email dari teman Lia, yang entah orangnya seperti apa. Terlepas dari jiwa petualangnya, dan kemampuannya beradaptasi di berbagai situasi, untuk soal akomodasi semacam ini ia lebih suka bila memiliki gambaran walau sedikit tentang calon host. Siapakah pengganti Lia ini? Orang macam apa dia? Asyik kah? Open-minded kah? Apa Matt bisa minum bir bersama orang ini? Ia ingat fakta banyaknya muslim di Indonesia, yang didapatnya dari Ika. Tentu sulit mengajak seorang muslim minum bir, terlebih wanita muslim, batinnya.

Lamunannya diinterupsi Hardi yang meregangkan badan dengan malas, menyapa, “Heiiii.” Hardi pun bertanya sopan, bagaimana hari tamunya di Monas. Mata Matt berbinar saat menceritakan tentang Kerak Telor,“That stuff is so f-ing delicious, dude!” Ia masih kagum dengan cara membuat kerak telor yang disaksikannya sore tadi. Bagaimana ajaibnya benda itu menempel dengan mantap di wajan kecil sang penjual saat dipanggang terbalik, namun bisa dilepas utuh tanpa merusak bentuk bundarnya. Sepertinya seseorang baru saja menemukan makanan favorit yang baru. Karena ia menginginkannya untuk makan siang atau makan malam besok. Ia menginginkan kerak telor di Yogya. Ia lantas mengeluarkan dua bungkus kerak telor, satu untuknya dan satu untuk Hardi, “If you’ve had enough of this being in Jakarta, I don’t mind helping you finish it.” Diiringi tawa akrab mereka dari dalam kamar ber-AC yang kini dipenuhi aroma kerak telor.

Tak ada kerak telor di Yogya. Mungkin ada tapi tak populer dan Hardi tak pernah melihat seorang penjual kerak telor pun di Yogya. Tapi mungkin Hardi salah, mungkin Hardi tak cukup mengeksplorasi kota itu hingga bertemu dengan abang penjual kerak telor, demikian cetusnya pada Matt, yang ditanggapi dengan mata membelalak tak percaya. Bagaimana bisa makanan selezat ini tak populer di Yogya, kota itu kan masih satu pulau dengan Jakarta?

Apa maksudmu ga populer? Matt memicingkan mata penuh siasat, katanya ia akan tinggal lebih lama di Jakarta untuk belajar membuat kerak telor. “If I make a great abang kerak telor, I can be a millionaire selling those on Yogya’s street, don’t you think?”

Tagged , , , , , , , ,
%d bloggers like this: