Tag Archives: Host

Guardian Angel and Evilish Devil

Sebelum menghubungi hostnya di Yogya, masih dilingkupi kekesalan, Matthew menyempatkan diri untuk mempelajari profil Tiara melalui iPhone-nya, hal yang sudah menjadi semacam etika tak tertulis. Karena seorang calon surfer atau tamu yang baik harus mempelajari dahulu aturan-aturan di rumah yang akan disinggahinya walaupun hanya untuk beberapa malam. Matt pun ingin sedikit banyak tahu, orang macam apa yang akan dijumpainya itu.

Ia perlu mengeluarkan unek-uneknya, memaki dunia. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah bisa dilakukannya saat bertemu Tiara nanti? Itu sebenarnya yang perlu diketahui Matt. Ia hanya perlu menuangkan kepenatan pada orang yang mengerti bahasanya, atau bahkan yang tak mengerti sama sekali, namun mau mendengarkan tanpa menghakimi. Itu saja. Ia akan sangat berterima kasih pada dunia bila dipertemukan dengan orang semacam itu. Sambil memandangi wajah oriental Tiara di layarnya, tiba-tiba, ia ingin Tiara, wanita yang belum dikenalnya, menjadi orang yang dibutuhkannya. Ia ingin Tiara mendengarkan.

Dihisapnya dalam dalam batang Marlboro Light yang tinggal setengah di antara jari tengah dan telunjuk, ia nyaris tersedak asap rokok saat membaca Tiara menuliskan “pretty well behaved” di bagian “education” di profilnya, pernyataan konyol yang berhasil menguapkan rasa kesal walau sedikit. Ia menyukai profil Tiara. Sepertinya wanita yang menyenangkan walau terlihat agak konyol. Mudah-mudahan juga seorang pendengar yang baik. Ia betul-betul memerlukan seorang pendengar yang bersedia hanya berada di sampingnya, menampung segala keluhnya saat itu.

Tentu bukan sekali ini ia terpaksa terlibat dengan orang yang begitu menyebalkan dalam rangkaian perjalanan Asia-nya. Tetapi orang-orang menyebalkan ini biasa dijumpai di jalanan berwujud scammer yang memanfaatkan minimnya pengetahuan para turis tentang suatu wilayah dan budaya, demi keuntungan materi. Atau berwujud para turis menyebalkan yang mengeluh setiap saat tentang apa yang dilihatnya. Toliet yang jorok lah, kebiasaan penduduk lokal yang mengganggu lah, transportasi yang tak nyaman lah, cuaca tak mendukung lah. Matt selalu berpikir, untuk apa mereka “melihat dunia” bila hanya bisa mengeluhkan apa-apa yang tak sesuai keinginan dan standar mereka. Lebih baik tak usah kemana-mana saja.

Traveling bukan semata-mata mencari kesenangan, terkadang seseorang perlu mejelajahi dunia hanya untuk menemukan dirinya sendiri. Dalam segala kejadian buruk yang menimpanya, Matt selalu berusaha mencari sisi terang. Ia percaya silver lining, garis perak yang membingkai setiap awan kelabu. Selama perjalanannya, ia senantiasa berhasil membingkai segalanya dalam sebuah garis perak indah, walau terkadang perlu waktu menemukan (atau menciptakan, tergantung dari mana melihatnya) garis tersebut. Namun tak sekali jua ia mengijinkan harinya kacau hanya karena sebuah kejadian buruk. Move on bagi seorang pengelana seperti Matt memiliki makna lebih, yang bukan hanya move on dari sebuah masalah, tapi juga move on dari satu lokasi ke lokasi berikutnya tanpa mengikutsertakan segala permasalahan ataupun menyeret awan kelabu yang hanya akan mengganggu perjalanan.

Namun di malam yang murah hati mulai menurunkan gerimis itu, Matt menyadari satu hal, ia tak pernah benar-benar move on. Ia berusaha secara konstan memanipulasi diri agar percaya bahwa ia selalu bisa move on. Kasihannya, dirinya benar-benar percaya ia betulan berhasil menjadi seorang bijak yang dapat memilah dan meninggalkan apa yang harus ditinggalkan. Tidak. Kebrengsekan Hardi berhasil membangkitkan amarah-amarah yang selama ini tersembunyi rapi jauh sekali di dalam dirinya, amarah dan kekesalan yang bahkan tak disadarinya ada. Tapi perasaan-perasaan destruktif itu hadir kini, bangkit entah dari mana hingga Matt pun semakin marah. Kali ini karena menyadari bahwa dirinya tak pernah benar-benar move on seperti apa yang diyakini. Ia hanya meninggalkan masalah, bukan menyelesaikan seperti yang seharusnya sebelum melangkah lagi. Tak heran sisa-sisa kemarahannya masih ada, terakulumasi tanpa sadar dan siap meledak saat sesuatu memicu.

Kontemplasi itu lagi, hal yang belakangan sedang berusaha Matt hindari karena semakin merenung, semakin ia membenci dirinya akibat ketakmampuannya mengatasi diri sendiri. Sebatang lagi Marlboro Light menyala, gerimis masih halus menyapa, menghembuskan sedikit udara segar di tengah sumpeknya Jakarta.

Matt menghubungi nomor yang dikirimkan Tiara melalui email. Tak ada jawaban. Rasa gelisahnya semakin menjadi. Apa yang harus dilakukan? Dihubunginya nomor Tiara sekali lagi, berharap kali ini akan diangkat.

“Halo?” suara lembut Tiara menyahut di ujung sana.

“Hi, Tayara? This is Matthew Flanagan, I know this is a bit late and I supposed to go there in two or three days but are you up for a stranger tomorrow morning?” tanya Matt langsung ke pokok permasalahan.

“Huh? It’s Tee-ara” Tiara tak mengantisipasi telepon dari orang asing itu hingga ia perlu mencerna beberapa saat sebelum bisa berbicara.

“Hi Tee-yarah. Yeah I know. I don’t know where I am at the moment and I just feel like going there tonight, do you think it’s possible? I haven’t even checked any possible transportation to get me there like now.”

Tiara tak menjawab pertanyaan, ia justru terpaku pada Matt yang tak tahu dirinya di mana, “What do you mean you don’t know where you are?”

“It’s a long story,” jawab Matt sambil tertawa-tawa.

Ada sesuatu yang tak enak dirasakan Tiara dalam tawa Matt yang terkesan dipaksakan. “Where are you now?”

“I wish I knew,” cetus Matt lagi, kali ini ia tertawa lepas, karena ia sudah memberitahu Tiara sebelumnya ia tak tahu ada di mana.

“Oh sorry, you told me before. Why so soon? I mean you are very welcome here but what happened? How’s Jakarta been treating you?”

“The city has been nice to me but my guardian angel told me to leave the town as soon as possible.”

“Oh, really?” Tiara bercanda setengah sinis, merasa Matt menyembunyikan sesuatu. Sebagai orang asing, Tiara bisa menghargai itu, “Do you also have a devil with you? What’s the devil told you?”

“He didn’t tell me anything, not even a clue what should I be doing right now in the middle of nowhere, that’s why it’s an evilish devil.” Lagi-lagi tawa tersembur, keterhubungan keduanya tercipta kuat saat itu.

Tiara prihatin pada bule nyasar satu itu. Ia menginstruksikan pada Matt, seolah lelaki itu seorang anak kecil dengan masalah belajar, untuk bertanya pada orang sekitar, bagaimana caranya ke stasiun. “Just any station, I’ll give you a list of train stations in Jakarta. Ask for the nearest one. I will send along a text in Indonesian, all you need to do is to show them my text, okay?”

“Will do, Ma’am” tawa renyah lagi-lagi keluar dari mulut Matt.

“Shut up. Save your battery.” Matt tak tahu maksud Tiara dengan baterai, apakah baterai HP, atau energinya. Wanita itu sungguh lucu.

Advertisements
Tagged , , , , , , , , , ,
%d bloggers like this: