Tag Archives: agama

Gambir

Sudah menjelang tengah malam saat Matt akhirnya tiba di Gambir, selama perjalanan ia mengenali beberapa lansekap yang tadi siang dilaluinya. Akhirnya, terlampau lelah karena kurang tidur, ia pun tak lagi tertarik pada pemandangan Jakarta di malam hari, ia memanfaatkan waktu di taksi untuk mencari jadwal keberangkatan kereta ke kota tempat Tiara menunggunya, bila ternyata tak ada keberangkatan tewat tengah malam ini, Matt terpaksa menghabiskan malam di stasiun itu.

Situs demi situs dikunjunginya dan ia tak menemukan kereta malam ke Yogyakarta, ia tak akan mencoba ke terminal bus atau mencari hotel. Ia sudah pasrah saja bila harus menginap di stasiun, toh itu biasa dalam sebuah perjalanan, untuk menghabiskan waktu menunggu di tempat umum. Ia hanya harus memastikan segala barang bawaannya aman. Biasanya ia akan tidur di lantai atau kursi panjang bila ada, sembari memeluk tumpukan kedua ranselnya agar barangnya lebih terlindung dari jangkauan tangan-tangan nakal.

Kantung mata kini mulai nampak di wajah Matt yang coklat kemerahanan terbakar matahari tropis. Ia menyandarkan kepala ke jok mobil sembari memejamkan mata, memikirkan apa yang barusan dialaminya. Orang itu sungguh gila, bagaimana mungkin seseorang semarah itu hanya karena ditolak ajakannya clubbing? Matt pernah bertemu dengan banyak orang aneh, tapi Hardi benar-benar sakit jiwa. Dari cara Hardi tertawa, Matt menangkap memang ada sesuatu yang tak wajar. Matt mengingat-ingat kembali mengapa ia menerima tawaran lelaki itu, padahal sejak awal ia tak terlalu “klik” melihat rona wajah Hardi.

Bagaimanapun, perjalanan yang dilakukannya ini lagi-lagi bukan soal perpindahan geografis dari satu tempat di atas peta ke tempat lain. Ia ingin menjadi orang yang lebih baik, termasuk lebih bisa berbaik sangka terhadap orang lain, terlebih pada orang yang menawarkan sebuah kebaikan untuk membuka rumahnya untuk disinggahi. Apa dosa Hardi saat itu, bila belum apa-apa Matt sudah mencurigainya? Lagipula kita hidup dengan berbagai jenis orang, apa salahnya sedikit saja berusaha lebih terbuka dan mengerti orang lain? Segala pertanyaan itu, akhirnya menyeret Matt pada keputusannya menginap di rumah Hardi selama di Jakarta, yang ternyata berujung sekedar menitipkan barang seharian. Tak jadi menginap, tak ada cerita berakrab ria dengan kehidupan malam Jakarta seperti yang direncanakannya. Lagipula, kehidupan malam macam apa lagi yang dicarinya setelah puas berkelana di Thailand? Walau sadar pengetahuannya termasuk minimalis soal traveling, ia yakin kehidupan malam di Thailand lebih “wah” dibanding Jakarta. Paling tidak dia tak pernah mendengar Jakarta mempromosikan klub striptis sebagai daya tarik wisatanya.

Nyatanya memang Matt tak banyak tahu tentang Indonesia, selain sebagai kepulauan surga tropis dengan barisan pantai dan kebudayaan yang konon eksotis. Pun baru tadi siang ia mendengar bahwa Indonesia memiliki populasi penduduk muslim yang jumlahnya banyak sekali itu. Ia pernah bertemu seorang Perancis di sebuah bar di Kuala Lumpur, lalu mereka tiba-tiba terlibat obrolan seru tentang keragaman budaya KL. Bayangkan, di kota itu, warga muslim melayu mengenakan busana tertutup, kontras dengan warga beretnis Cina yang dengan nyamannya melenggok dengan busana minimalis dan ketat, sementara yang keturunan India melenggang dengan busana mencolok mata berkat warna jreng-nya. Tak ada konflik. Entah karena toleransi sudah begitu mengakar sebagai bagian dari budaya Kuala Lumpur, atau… masyarakatnya terlampau sibuk untuk mengurusi hal-hal yang hingga kapan pun akan senantiasa ada: perbedaan.

Di Perancis sendiri sebagai negara maju, perbedaan tak dipandang demikian. Perbedaan dan kebebasan berekspresi masih menjadi isu. Ada upaya pelarangan bagi wanita muslim di sana untuk memakai jilbab di tempat umum. Berkat Islamophobia yang marak di negara-negara barat, dan banyaknya kaum agnostik dan atheis yang cenderung enggan mengurusi isu-isu religi, aturan itu tak mendapat banyak perlawanan sehingga dengan leluasa diterapkan di tempat-tempat umum, juga oleh para pemilik toko, kafe atau restoran yang enggan tempatnya disambangi para wanita berjilbab. Namun pada akhirnya kontroversi yang lebih santer tak dapat dihindari, kaum muslim dan para pendukungnya merasa ada hak-hak yang dilanggar, sementara kaum feminis, yang notabene tak mendasarkan diri pada “islamophobia” dalam  membangun argumennya, menganggap jilbab sebagai upaya penindasan hak asasi perempuan. Budaya patriarki dalam Islam terus menindas perempuan hingga bahkan ke ranah ‘cara berpakaian’. Kaum feminis ini mengajukan satu pertanyaan mendasar, “Bagaimana bila apa yang dipikir sebagai kebebasan, ternyata bukan kebebasan sesungguhnya?” Tak ada yang “bebas” dari kewajiban menutup kepala, alasan menutup aurat demi menghindari mengundang birahi pun tak dianggap cukup kuat. Bagaimana tidak? Angka kekerasan seksual di negara yang represif secara seksual seperti Arab Saudi ternyata lebih tinggi dibanding negara yang secara seksual jauh lebih bebas seperti Swedia. (perlu riset lebih jauh tentang ini).

Kata Islam bagi Matt, walau tak separah beberapa temannya yang mengidentikkan agama itu dengan terorisme, namun selalu mengingatkannya pada satu kata: represif. Dipikir-pikirnya lagi, apa menariknya tawaran Hardi untuk clubbing di Jakarta, di ibukota negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia? Clubbing heboh dan pesta seru macam apa yang mungkin terjadi? Konsep kehidupan malam yang glamor dan penduduk mayoritas muslim sungguh tak bisa dicernanya. Saat ini ia membayangkan apa mungkin ia menenggak bir selama sebulan ke depan perjalanannya di Indonesia? Akan sedikit mengerikan kalau ia tak bisa minum bir selama sebulan, batinnya.

Walau sudah mencari berkali-kali di telepon genggamnya, dengan pikiran yang kemana-mana, setiba di stasiun Matt masih memastikan jadwal kereta sekali lagi. Kereta terakhir hari itu sudah berangkat pukul 21.00 lalu, dan ia… sangat kecewa, walau sudah tahu dari hasil pencarian di internet bahwa tak ada kereta ke Yogya lewat dari tengah malam. Insting travelernya memerintahkan segera menyusun strategi mencari tempat terbaik untuk tidur. Ada kafe dan restoran yang buka 24 jam di Gambir, tapi sepi pengunjung saat Matt tiba. Sebagai turis, ia tak tahu jam ramai dan sepi, tapi apa salahnya bertanya apa ia boleh “kemping” di salah satu kafe itu.

Ia pun memesan secangkir teh di salah satu kafe dan mencari tempat duduk di sudut sepi dekat jendela, dipikirnya, tempat lebih tertutup di stasiun seperti dalam kafe ini selalu lebih aman ketimbang di area yang lebih terbuka. Ia lantas melangkah kembali menuju petugas di belakang counter, mengandalkan kemampuan diplomatis seadanya untuk diijinkan merebahkan badan di sudut jendela yang dipilihnya. Petugas itu agak berpikir sebelum berkata apapun, namun memutuskan tak tega melihat wajah lelah Matt, lalu mengizinkannya tidur dengan menjejerkan dua kursi kafe agar bisa sekedar meluruskan kaki. Petugas yang sama lalu mendapat tugas mengawasi ransel besar Matt sementara pemiliknya ke toilet, mengosongkan kemih dan sedikit membersihkan diri sebelum tidur. Di sudut kafe berpencahayaan terang benderang itu, seorang bule malang akan tidur sangat nyenyak malam ini.

Tagged , , , , , , , , , , , ,

Osama

Adalah tuhan dan agama, yang kerap menimbulkan huru hara di muka bumi ketimbang menciptakan kedamaian. Konflik-tuhan-agama seolah merupakan suatu niscaya dan ketiganya adalah tiga serangkai yang mencerahkan dan menyesatkan dalam arti sebenarnya. Karena tuhan dan agama, manusia bisa membatasi dengan siapa dirinya boleh bergaul, dan melakukan pembenaran ketika menyingkirkan orang lain yang tak sepaham, atau medoakan yang jelek-jelek untuk mereka yang menentang. Padahal doa tak ada yang jelek, karena bila ia jelek, maka ia kutukan, bukan doa. Dan bila fasih mengutuk, kenapa beragama?

Konflik agama bukan barang baru di planet ini, dari persoalan Palestina yang mendunia dan sarat isu politik hingga konflik di negeri sendiri, sebutlah Maluku. Di kalangan umat kristen Maluku beredar isu tentang islamisasi birokrasi Maluku dan dominasi ekonomi oleh para pendatang, antara lain dari Buton dan Makasar yang notabene muslim. Sementara itu di kalangan muslimnya santer dikabarkan tentang kristenisasi masyarakat Maluku, juga isu RMS yang meresahkan keamanan dan kedamaian di sana.

Acap kali saya melihat perdebatan mengenai tuhan dan agama, tak jarang pula saya terlibat di dalamnya dan dari semua itu, ada satu pola yang nampak, bahwa akal sehat sering dikesampingkan untuk mendukung argumen the believers. Ayat kitab suci, cukuplah itu. Satu keterikatan terhadap satu kepercayaan yang entah bagaimana caranya akan dibela sampai titik darah penghabisan bila perlu. Alasannya satu: KARENA INI AGAMAKU.

Begitulah, agama berpotensi menimbulkan konflik karena dogma dan ajarannya yang harus diterima tanpa mempertanyakan, jalani aja supaya jadi ahli surga, katanya. Sedihnya, dari setiap agama besar dan kecil yang masing-masing memiliki beberapa golongan yang seringkali berseberangan pemahaman antara satu dan lainnya, masing-masing meyakini pemahamannya yang paling benar. Kitabnya yang paling suci. Sudah ada kata “paling” di situ, yang artinya menegasikan yang lain, yang tidak paling. Arti lainnya adalah, menutup dialog. Selesai.

Mari kita tengok Osama bin Laden yang kematiannya masih meninggalkan perdebatan di sana sini, topiknya tak sebatas “Benarkah ia sudah mati?” tapi juga perdebatan pro-kontra terhadap apa yang sudah dilakukan Osama selama hidupnya. Bagi satu kubu, Osama tak lebih dari manusia rendah, untuk kubu lainnya Osama bagai pahlawan yang dielu-elukan jasanya bagi dunia jihad.

Osama bin Laden, bukanlah tuhan. Osama bukan agama. Namun pembelanya rela mati demi tuhan dan agamanya Osama. Pihak tertentu akan langsung mengaitkannya dengan islam, namun orang islam sendiri banyak yang menolak Osama digolongkan sebagai muslim dengan alasan islam itu damai, bukan teror.

Tagged , , ,

Muhammad Amin dan Ketololannya

Nama depannya Muhammad, junjungan umat islam sedunia, tapi alih-alih menyebarkan ajaran islam, Muhammad yang satu ini gemar mengkritisi tuhan dan agama. Ia cukup kontroversial di dunia fesbukiyah, mungkin karena topik sensitif yang sering diangkatnya dalam status, terutama soal tuhan dan agama. Bukunya yang berjudul “Ziarah ke Makam Tuhan” pun tak lepas dari hujatan-hujatan ‘ketuhanan’ yang lahir dari pemikirannya.

Tuhan memang selalu menjadi topik menarik untuk dibicarakan, bagi saya pribadi menyimak orang perang kata karena tuhan itu seperti nonton film kartun, ada tokoh yang sudah terlindas truk, ketiban gunung, diguyur aspal, tapi masih aja hidup, sama dengan orang-orang yang berargumen tanpa dasar yang parahnya, sering ga nyambung dengan bahasan, tapi diapa-apain ya tetep aja ngotot dengan pendiriannya. Bravo!!!

Soal pembicaraan ketuhanan, bagaimanapun si empunya hajat (dalam hal facebook: pemilik status/note) mengajak kahalayak untuk melepaskan atribut keyakinan pribadi dan murni mengajak diskusi yang rasional, tetap akan bermunculan orang-orang yang ngotot dengan keyakinan kacamata kuda. Atau yang bernada menyadarkan forum dengan kalimatnya, “Tiada tuhan selain Allah”. Hehe, Allah itu tuhan kan? Allah yang mana? Allahnya siapa?

Demikian pula yang terjadi di status terakhir Bung Amin pagi ini, “Semesta punya trilyunan planet, klo satu planet bisa punya ribuan tuhan seperti di bumi, jangan-jangan jumlah tuhan lebih banyak dari jumlah planet.” Dengan kurang ajarnya si Amin mengatakan jumlah tuhan lebih banyak daripada jumlah planet, manusia “tolol” macam dia inilah yang bisa merusak moral umat manusia. Tuhan cuma satu kok disekutukan. Sungguh dosanya tiada terkira. Wajar saja ada manusia-manusia yang berusaha menyadarkan si Amin.

Hayu Aji: maha besar Allah yg menciptakan semesta dan meliputi segala sesuatu.

(Hmmm syukurlah masih ada orang beriman di lingkaran pertemanan Amin)

Miina Catlover: Coba di slidiki tow mas! Bukn hny menduga duga… Oceeeeee

(Bung Amin, mulai sekarang kau harus keliling semesta untuk bikin status)

Abu Faz: Semakin terlihat TOLOL nya seorang Amin..

(Kasihan si Amin…)

 Zen Arifin: Bukan Tuhan kecuali Allooh. Muhammad utusan Allooh. Allooh maha Kuasa.

(Ada tuhan baru lagi nih, namanya Allooh)

Adi: Hahahaha…Sadiz…

(No comment)

Adimas: jangan2 planet2 lain diluar tata matahari tuhannya itu muhammad amin

(Susunan kalimat yang absurd… Kalo planet di dalam matahari kira2 punya tuhan gak ya?)

Abdul Mu’iz: jangan-jangan again and again

(Ini ga penting…)

Lulu Lul: ayo diselidiki ada alloh gak di angkasa sana, kalo ada kita panggil dan ajak diskusi…:D

(Engg…)

Mas Bacht: bagaiamana kalau ribuan planet itu hanya elemen kecil dari “entitas” bernama Tuhan?

(Reflektif, ok)

Phikahariwangeun: Ssst . . . G usah terlalu jauh berpikir kesanalah bung min. Mendingan kita kembl kpd kehidupan sosial masyarakat kita yg banyak masalahnya. Dari pada kita terlalu jauh berpikir dari apa yg anda baca. Yg real aja min. . . Sdr kita masih banyak yg susah. . . Jangan so pinter dan anggap org lain bodoh. Itu sombong namanya. bcr thn bcr anda silahkan aja. Bg kami tidak ada thn kecuali Allah. . .

(Absurd emang nama tengahnya Amin, tapi si Adun ini ngomong apa sih? Realitas sosial? Tingkat arogansi Amin? Toleransi pada saudara? Kebodohan orang lain? Oh… ok ok, dia cuma mau baca syahadat…)

Me: Astaga, sungguh malang nasib Bung Amin ini, sudah “tolol”, sok pintar dan nganggap orang lain bodoh dengan status2nya pula… Haleluya!!

(Di-like 2 orang yang tidak ngejempol statusnya bung Amin itu sendiri, saya ngeri kalo sarkasme saya ga tertangkap :p)

Ardika: mending g ush brimajanasi aplg brkhayal klo smua itu cma takhayul,tdk ada Tuhan klo anda tdk menTuhankan…….dan tdk ada Dewa klo anda tdk menDewakan…..hanya Allah dzat pncpt Alam.

(Trilyunan planet di semesta ternyata cuma hasil imajinasi Amin. Amin maha besar… Oh, ada Allah lagi di komen ini -cium salib-)

Hava: and Ifrit bless Us

(Ga penting nomer 2)

Jimmi Zul: Tiada tuhan selain hidup. Dan tidak ada utusan hidup selain diri sendiri.

(…… Asik, saya bisa jadi tuhan selama saya masih hidup!)

H K Proletariat: ‎@Mina: Ini bukan dugaan, memang di dunia ini ada ribuan ”Tuhan” yg dibuat otak manusia, ada yg menuhankan duit, sains, google, dan sendal jepit, org Jepang yg beragama Shinto justru menuhankan dewa matahari, koruptor menuhankan duit, sebagian org juga tanpa sadar menuhankan Facebook, twitter, yg suka tangannya gatal jika sehari tak update status wkwkwwkwkwk

(Very well said, finally…)

***

Ya, begitulah Muhammad Amin yang kontroversial dan teraniaya dengan segala judgement. Yang penting di sini justru daya tangkap orang mengartikan sesuatu. Lebih tepatnya mungkin kemauan orang untuk mengerti suatu persoalan atau pemikiran sebelum melayangkan komentar, lebih tepatnya sebelum ‘mensyahadati bung Amin yang sesat’. Haha. Dari sebagian kalimat-kalimat Bung Amin, yang saya tangkap justru beliau ini mengkritik konsep tuhan di kepala manusia daripada tuhannya itu sendiri. Dia itu mengkritisi manusianya, bung! Tapi orang2 malah ribut membela tuhannya masing-masing yang katanya maha besar, kalau memang maha besar tentu tak perlu dibela :p

Jelas Amin memang kurang ajar, karena dia seperti tuhan, memberi petunjuk tanpa membeberkan detailnya, katanya “terdapat tanda-tanda kebesaran allah bagi orang-orang yang berpikir”, alias… lu pikir aja sendiri apa maunya allah, dan apa maunya Amin…

Tagged , ,
%d bloggers like this: