“Oh my God, dude! I thought you’re missing somewhere?!” Sontak Hardi terlonjak saat orang yang ditunggu tiba-tiba menepuk bahunya dari samping, sementara ia tengah asyik menatap kosong ke arah barisan menu yang terpampang besar di tembok di hadapannya. Pikirannya membayangkan eksotisme Vietnam dan liburan berminggu-minggu, selamanya bila perlu.

Cengiran jahil muncul dari wajah Thomas, “You know, macet as always.” Jelas Hardi tak percaya alasan klasik itu. Seorang Jerman macam Thomas, akan setengah mati mengusahakan datang tepat waktu, terlebih bila sudah paham betul jam-jam dan titik-titik macet Jakarta. Beberapa bulan tinggal di Jakarta rupanya sudah membuatnya ahli jam karet dengan macet sebagai alasan.

Jadi, kita butuh ngobrolin detil itinerary lu, lu mau jalan ke mana aja? Tanya Hardi sekali lagi. Thomas masih sulit memutuskan hendak ke mana ia setelah habis kontrak enam bulan sebagai konsultan DRR management di sebuah NGO internasional.  Ia merencanakan liburan sebulan dengan rute ke timur seperti banyak dilakukan para turis yang memulai dari Jakarta. Bila memungkinkan, Hardi akan bergabung dengan Thomas di Bali.

Rute biasanya: Jakarta – Dieng – Yogya – Bromo (via Surabaya atau Malang) – Bali – Lombok. Begitu jelas Hardi, yang serta merta diprotes, bahwa itu hanya lima titik, selain Jakarta. Mereka berdebat. Memang hanya lima tempat, tapi di masing-masing tempat ada begitu banyak hal untuk dilihat dan dilakukan. Ambil contoh Yogya, tak cukup sehari atau dua hari untuk mengeksplor Yogya dari gunung, ke kota, hingga pantainya. Pilihan pantai di Yogya sendiri ada yang cantik berpasir putih di kawasan karst Gunungkidul sana, ada pula yang eksotis berpasir hitam di daerah Bantul yang relatif lebih mudah dicapai dari pusat kota.

“Dude I thought you’ve done some googling!”

Thomas protes dengan tutur Inggrisnya yang khas, kental logat Jerman. “I become not sure,” katanya, ia tahu banyak sekali hal yang bisa dilakukan di satu kota saja, tapi bukankah lima kota masih terlalu sedikit untuk perjalanan sebulan?

Hardi sebetulnya hanya ingin membantu memberi berbagai saran yang diketahuinya sebagai orang yang bertemu dengan banyak traveler dan mengetahui rute mereka dengan baik, saking seringnya mendengarkan kisah perjalanan dan rencana perjalanan berikutnya dari tamu-tamunya yang datang silih berganti.

Hal lain yang perlu dipastikan Hardi Nugroho adalah memastikan kapan Thomas dengan kekacauan perencanaan macam itu akan tiba di Bali. Ia akan ke Bali juga. Tapi percuma bila tak ada kawan. Ia akan ke Bali saat Thomas di Bali. Ia akan pergi bila ada jaminan Thomas di sana. Thomas harus di sana, atau dia gigit jari.

Pernah terbayang apa jadinya seorang sosialita bila sendiri di tempat nongkrong? Hardi itu gila kehidupan malam, gila ‘bergaol’, selalu haus berada di tengah kerumunan orang, menjadi pusat perhatian bila perlu. Minimal, ia tak boleh sendiri di tempat-tempat hip di Pulau Dewata. Terbayang kering garing seperti apa bila ia sendiri, anak muda sekarang menamainya, ‘mati gaya’. Seseorang seperti Hardi tentulah lebih memilih mati secara biologis daripada harus mati gaya saat kesadaran dan lima panca indranya berfungsi baik.

“Gini aja deh Tom, lu matengin dulu rencana perjalanan lu, nanti kasih tau, secepatnya kalo bisa, biar gue bisa atur cuti, kapan, tanggal berapa lu ada di Bali. Gue sekarang kedatangan orang Amrik, kami mau ke Kemang malam ini, ato lu ikut aja?” tutur Hardi, tentu dalam bahasa Inggris. Katanya Thomas akan menyusul kemudian bila sempat. Sekarang ia hendak menyambangi sebuah acara budaya di kedutaannya.

Mereka bergegas meninggalkan kafe yang kini telah semakin ramai. Ada sekelompok cewek di meja pojok, terpana menatap betapa menawannya Thomas, bahkan setelah polusi Jakarta menempel di wajah dan kulitnya yang kini lengket. Senyum tulus terlempar walau tipis dan agak malu-malu, dari bibir merah jambu di bawah hidung mancung melengkung. Cukup membuat cewek-cewek ABG itu bengong sepersekian detik, terhipnotis.

***

Setiba di rumahnya, Hardi mencari Matt di segala sudut rumah yang mungkin disambangi Matt. Ruang tamu, ruang makan, dapur. Tak ada. Ok, berarti Matt belum pulang, saat sebagian housematesnya sudah kembali, sibuk memasak di dapur atau terhipnotis siaran TV. Ia sengaja tak bertanya pada satupun dari mereka, apakah mereka melihat penghuni baru nan tampan tersebut. Toh lebih mudah mengecek ke beberapa ruangan ketimbang harus menjelaskan tentang penghuni baru mana lagi yang dimaksud Hardi, Hardi sudah menampung begitu banyak penghuni baru setiap bulannya.

Ia lalu memasuki kamarnya, tubuhnya segera rebah di atas tempat tidur, remote AC disetel hingga ke suhu 16, jam menunjukkan pukul tujuh malam. Ia lelap dalam sesaat. Masih dalam setelan kemeja biru pas badan dan celana hitam yang telah dikenakannya seharian.

***

Sekali lagi Matt harus berdesakan di bus Trans Jakarta, kali ini tanpa Ika karena perempuan itu harus ganti halte beberapa saat lalu, setelah sebelumnya berkali-kali memastikan Matt tahu harus ganti halte di mana, dan turun di halte apa. Ditanyainya Matt kembali untuk memastikan lelaki itu benar-benar paham. Ia sudah bertingkah selayaknya Matt anak umur sepuluh tahun yang berkeliaran sendirian di jalanan ibu kota, melupakan fakta bahwa bagaimanapun konyolnya boneka Kurt Cobain dalam ransel Matt, pemiliknya telah mengarungi jalanan di kota-kota Asia Tenggara beberapa bulan terakhir ini.

Mereka sudah bertukar nomor. Ika sengaja menyodorkan secarik kartu nama yang bagian belakangnya kosong, untuk ditulisi kontak telepon dan email Matt. Tindakan sentimentil, atau bahkan mungkin sedikit centil, yang dimaksudkan untuk mendapatkan jejak fisik Matt dalam bentuk apapun yang bisa didapatnya. Tulisan tangan di belakang kartu nama entah siapa. Tak apalah. Juga beberapa jepret selfies. Cukup untuk menutup episode pertemuannya dengan Matt.

Oh! Ada apa dengan Ika! Ia berjalan dengan senyum terkulum tak kunjung hilang selepas pertemuan dengan Matt. Menjadi penuh harap bungah-bungah musim semi. Ia memang belum pernah berinteraksi langsung dengan bule sebelumnya, tapi apa ia tak paham kebanyakan traveler menikmati perjalanan itu sendiri dalam setiap momennya. Hanya jejak kaki dan kenangan manis yang mereka tinggalkan. Hanya itu pulalah yang mereka bawa, berikut tambahan beberapa megabyte jatah dalam memori kamera.

Ika seperti tak peduli. Siapa peduli bila kehangatan dan kekuatan tatapan mata seorang lelaki sudah meresap hingga ke jiwa? Tak peduli seperti apa perkenalannya dan hanya berapa jam obrolannya, yang paling penting adalah, jejak itu ada, akan selalu di sana, dan tersegel bukti fisik berupa rekam tulisan tangan dan beberapa pose manis dengan Ika dalam rangkulan. Rangkulan bersahabat yang sering dilakukan Matt selama perjalanannya. Matt berfoto merangkul petani Thailand, merangkul ibu-ibu di Philippine, merangkul host perempuannya, juga host lelakinya. Dan seterusnya. Tapi… Ika tak peduli. Itu tak penting, yang penting adalah hangat dalam dirinya yang muncul kembali dan semoga saja ada di sana hingga lama, cukup lama untuk membuatnya bertahan…

Advertisements
Tagged , , ,

Impian Hardi dan Kehangatan Vietnam

Jakarta jam-jam pulang kantor, persimpangan jalan seputaran Citraland sangat padat kendaraan dan orang berlalu-lalang mengejar bus berikutnya menuju rumah masing-masing. Masih dengan setelah kantoran, celana hitam berpotongan lurus dan kemeja biru langit pas badan yang lengannya digulung hingga siku, Hardi sekali lagi mencuri pandang ke layar Blackberry di genggamannya yang tidak sedang menyala. Ia memastikan rambutnya rapi walau wajahnya nampak lelah.

Sudah setengah jam ia berada di salah satu kafe, mengecek email ditemani secangkir besar Cappuccino yang kini telah dingin terpapar suhu ruang berpendingin, sesekali ia melihat ke arah pintu kafe, jelas-jelas menanti seseorang.

Orang yang dinanti tak kunjung datang hingga setengah jam kemudian, sementara Hardi sudah selesai dengan aktivitasnya mengecek dan menulis email ke beberapa kolega dan calon tamu berikutnya yang akan datang menjelang natal. Tiga perempat cangkir cappuccino telah direguk, tak membantu kantuknya hilang walau sedikit. Ia ingin pulang saja, sekedar meluruskan badan sesaat sebelum malam datang.

Ya, kehidupan malam Hardi sepertinya lebih penting ketimbang pekerjaan kantorannya. Kantuk yang menyergap di jam-jam kantor bisa menguap begitu saja bersama kepulan asap rokok, bila tak di kafe di bilangan Kemang, ya di club.

Entahlah, selain melepaskan diri dari rutinitas siang yang membosankan, malam juga begitu berarti baginya. Ia bertemu orang-orang favoritnya, biasanya ekspat, atau traveler yang singgah di Jakarta. Mereka akan berbicara tentang pekerjaannya di Jakarta, melontarkan pujian dan kekaguman tentang kehidupan di Indonesia, biasanya topik kekaguman ini berlangsung singkat, seperempat, atau seperdelapannya dibandingkan dengan banyaknya curhat berisi cercaan setiap kali harus berurusan dengan kantor imigrasi.

Bagaimana tidak, kantor-kantor itu kedatangan warga asing setiap harinya, namun kemampuan komunikasi mereka seringkali tak memadai, hanya cukup untuk percakapan ringan, ketemu masalah sedikit, mereka bingung tak mengerti penjelasan ekspat atau turis asing, pun tak tanggap.

Tapi yang paling dinikmati Hardi adalah dongeng petualangang teman-teman nongkrongnya ini. Kebanyakan mereka pernah menginjakkan kaki di banyak negara lain, terutama di Asia Tenggara. Sebagian dirinya bergelora setiap kali sebuah kisah dituturkan. Ia pun ingin pergi, berkunjung ke tempat jauh dan mengisahkan ceritanya pada dunia.

***

Vietnam, September 2012.

Thomas, akhirnya dapat menginjakkan kaki di Ho Chi Minh City, yang biasa disebut HCMC. Perdebatan alot dengan sang boss berujung manis, ia diperbolehkan menabung jam kerja agar durasi liburannya lebih panjang. Seharusnya ia bekerja delapan jam per hari, berkat kemampuan membujuk, atau lebih tepat  disebut merengek, ia lalu bekerja hingga 12 jam, mengakumulasikan kelebihan jam untuk ditukar dengan hari liburan. Sungguh menyenangkan, dan membuat sirik siapapun yang tak berdaya mengganti jadwal seenaknya, termasuk Hardi Nugroho.

Berbeda dengan kebiasaan Matt yang traveling tanpa tahu apapun tentang tempat yang dikunjunginya, Thomas menghabiskan lebih banyak waktu mempelajari suatu tempat sebelum berkunjung. Namun, setelah mendapat pengetahuan yang cukup, hal yang pertama dilakukan saat traveling justru bukan mengunjungi titik-titik yang banyak dikunjungi turis.

Thomas Weber, dengan bahasa Inggrisnya yang tak kunjung lancar, akan berjalan kaki hingga berkilo-kilo meter mengelilingi kota. Suatu hari setelah sarapan di hotel, ia mengganti celana pendek dan kaus putihnya dengan celana panjang khaki, mengenakan kemeja kotak-kotak merah kesayangan dan sepatu kets abu-abu. Kostum lapangan yang membuatnya terlihat lebih rapi ketimbang Matt dengan gaya tabrak lari, jarang bercukur dan lusuh.

Thomas lantas mencangklongkan Canon EOS 600D. Lebih mudah demikian ketimbang mengamankannya di dalam tas kamera, yang justru menyulitkan bila sewaktu-waktu hendak mengabadikan momen. Handphone lawasnya telah berada di saku celana, passport dalam tas pinggang telah terpasang kembali dengan rapi di balik kemeja, lalu diraihnya postman bag ukuran sedang berbahan kanvas, dan kunci kamar yang ternyata masih menggantung di sisi luar pintu. Ia lupa mencabutnya barusan saat hendak berganti pakaian.

***

Baru saja menikmati kota HCMC lebih kurang tiga kilometer, hujan mulai turun. Thomas yang rambutnya kini sedikit basah berlari agak panic mencari tempat berteduh, Canon kesayangan adalah hal pertama yang ia khawatirkan. Ia berlari menuju kolong sebuah jembatan yang uniknya memiliki hamparan rumput walau sempit sekali, nyaris seperti tempat piknik.

Benar saja, tiga orang bapak paruh baya memandang ke arahnya pebuh rasa ingin tahu. Dari pakaiannya, Thomas menilai mereka orang kurang mampu, semua berpakaian apa adanya dan lusuh. Rasa khawatir dan takut tiba-tiba menyergap, bagaimanapun ia orang asing. Ia tak kenal siapapun di kota itu. Ia tak bisa meminta pertolongan pada siapapun bila hal buruk terjadi, dan ia tak tahu sedang berada di mana dengan orang macam apa.

Di tengah segala rasa khawatir, Thomas mengumpulkan keberanian untuk membalas tatapan ketiga orang tersebut, lantas tersenyum. Ia melirik peti di belakang orang-orang itu. Di hadapan mereka ada beberapa kaleng kosong bir. Ah. Benar-benar piknik rupanya. Salah satu dari mereka melambakan tangan pada turis ini, yang dari penampilannya tentulah memiliki lebih banyak uang dari mereka.

Bukan rahasia bahwa orang-orang di negara berkembang selalu menginginkan uang para turis. Thomas menepis pikiran macam itu lalu bergabung dengan entah siapa orang-orang ini. Lima menit berikutnya mereka sudah tertawa-tawa. Bukan karena obrolan yang lucu, tapi karena mereka tak bisa mengobrol sama sekali. Ketiganya tak berbahasa Jerman maupun Inggris, sementara Thomas tak bicara bahasa setempat. Apa lagi yang bisa dilakukan selain berbahasa isyarat lalu tertawa-tawa tanpa mengerti satu sama lain.

Terkadang, mereka menggambarkan suatu objek di buku catatan Thomas untuk menjelaskan apa yang mereka coba bicarakan. Dua kaleng bir sudah tuntas oleh Thomas sendiri, berbeda dengan Indonesia yang perlu lebih banyak uang untuk membeli bir sehingga agak mustahil mendapati orang di kolong jembatan menikmati bir, bir di Vietnam bukanlah minuman mahal, semua orang bisa membelinya seperti orang Indonesia membeli rokok. Baiklah, rokok tak murah, ya? Tapi kita mampu, kan?

Hijan telah reda saat Thomas ditawari kaleng ketiga yang dengan senang hati dibukanya. Jerman dan bir. Siapa tak tahu fakta itu? Tiga kaleng sama sekali tidak banyak untuk pemuda Jerman bermata biru dan senyum menawan itu. Kaleng ketiga tuntas dalam kurang dari sepuluh menit dan hujan sudah benar-benar reda.

Thomas tak tahu bagaimana harus mengucapkan terimakasih, ia hanya mengatupkan kedua tangan sembari membungkuk-bungkuk, mengeluarkan mulai dari ‘danke’ hingga ‘thank you so much’. Ia pun meraih dompetnya, menyodorkan beberapa lembar Dong untuk tiga kaleng bir, yang ditolak mentah-mentah. Orang-orang ini menawarkan kehangatan tanpa ingin uang Thomas. Hangat yang meresapi jiwa Thomas, yang walau sering bertemu orang-orang tulus, ia pun sering menjadi korban pemerasan atau bujuk rayu yang pada intinya, orang menginginkan uangnya. Tiga kaleng bir dingin dan tiga orang Vietnam kini direkamnya baik-baik dengan kamera dan dalam ingatan.

 

 

Diupload dari atas bus full dangdut Yogya-Karawang. Berbagai detail, terutama tentang Vietnam, akan ditambahkan kemudian.

Tagged , , , , ,

Protected: Diari 30 Hari 30 Cerita

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Monas, Bus, Kurt Cobain dan Bungah Musim Semi

Tak jauh dari tempat Ika dan Matt duduk, kepanikan seorang wanita mengundang kerumunan orang. Ia merogoh setiap sakunya, ditepuk-tepuknya lagi dan lagi setiap saku, “Handphone saya ilang!” ulangnya kembali, yang mengundang perhatian semakin banyak orang. “Astagaaa…!” ia tercekat mulai berkaca-kaca, namun sekali lagi merogoh-rogoh ke dalam tas selempangnya yang tadi dengan bebas berada di sisi badan bagian kiri. Seperti tak kunjung percaya handphonenya telah benar-benar raib entah ke mana.

Matt yang kini memiliki penerjemah pribadi mendapat penjelasan tanpa diminta bahwa wanita yang kini sedang ditenangkan oleh beberapa orang tersebut baru saja kehilangan handphonenya, sepertinya dicopet. Serta merta ingatan Matt melayang pada obrolan pagi itu lagi. Oh, sudah sedemikian parah kah Indonesia? Baru mendapat peringatan dari Hardi beberapa jam sebelumnya, Matt sudah menyaksikan sendiri korban copet panik di tengah keramaian.

Sekali lagi Matt mencatat dalam hati, rangkuman kejadian untuk dicerna kemudian,  dengan sedikit membubuhkan pemikirannya yang, oh-kau-tak-pernah-tahu, kontemplatif! Gaya easy going Matt yang slengekan akan menipu siapapun bahwa mungkin, sekali lagi hanya mungkin, Matt adalah pemuda di bawah 30 tahun paling bijak yang pernah eksis di dunia backpackers.

Untuk memfasilitasi hobi rahasianya yang satu itu –berkontemplasi, Matt lebih suka naik bus dari satu kota ke kota lainnya ketimbang memilih moda transportasi lain, hal yang tak banyak diketahui orang yang seringkali sebenarnya sekadar menyarankan alternatif terbaik, termurah dan tercepat dari satu kota menuju kota lain. Terkadang melakukan hitchhike begitu mudah si suatu daerah, terkadang naik kereta adalah pilihan terbaik. Tapi Matt memilih bus. Pokoknya bus.

Posisi duduk di kereta yang terkadang harus hadap-hadapan tak memungkinkannya untuk menghabiskan waktu sendiri. Hitchike sama saja, Matt mesti paling tidak berbasa basi dengan orang baik hati yang mau mengangkut backpacker dekil macam dirinya. Tapi memang biasanya backpacker cowok itu dekil sih ya, beda dengan para cewek yang walau berhari-hari bergulat dengan debu jalanan, mereka punya superpower untuk tetap kinclong. Hanya kaum hawa, dan tuhan yang tahu rahasianya.

Matt, yang sudah berbulan-bulan hidup nomaden sebagai traveler, jarang memiliki ruang pribadi yang terkadang dibutuhkan setiap individu. Berkat jejaring traveler, ia sering mendapat tempat menginap gratis, yang artinya tentu saja berhemat, sebuah keuntungan yang sepintas lalu semacam oportunis. Tapi arti lainnya bagi penikmat perjalanan adalah, lebih lama durasi travelling, lebih banyak tempat yang dikunjungi, lebih banyak orang yang ditemui, lebih beragam budaya yang dicoba selami, lebih kaya wawasan, lebih luas perspektif, lebih memahami kehidupan. Lebih manusia. Mudah-mudahan.

Saat disediakan kamar pribadi di rumah host atau penduduk lokal sekalipun, Matt akan mengobrol tak jarang hingga larut malam dengan kenalan-kenalan barunya, yang seringkali kehangatannya mengingatkan akan keluarganya di Amerika sana.

Saat bertualang siang harinya, ia harus berinteraksi lagi dengan banyak orang entah sekadar menanyakan arah atau terlibat obrolan seru dengan penduduk lokal atau sesama turis. Dirinya melebur bersama orang-orang lain yang ditemuinya, menyatu dengan tanah yang diinjaknya, pemandangan yang dinikmatinya. Ia, tak memiliki waktu untuk berkontemplasi dan memikirkan ‘ke-dalam’

Bus, satu-satunya jawaban bagi Matt untuk dapat menyalurkan hobi merenungnya itu, kedalaman pemikirannya mungkin akan menjadikannya Paulo Coelho selanjutnya? Agak mustahil membayangkan pria yang kemana-mana membawa boneka Kurt Cobain untuk mainan, menjadi Paulo Coelho. Tapi, siapa tahu?

Bus, tak bertempat duduk hadap-hadapan, dan Matt seringkali dengan culas berhasil menyita dua kursi sekaligus untuknya sendiri. Upaya egois dalam rangka menghadiahi diri sedikit ruang pribadi. Saat ditanya apa bedanya merenung di bus dengan merenung di alam terbuka? Toh ia sering bertualang di alam, dan bukankah lebih syahdu menyelami kehidupan dan pemikiran diri sendiri di tengah-tengah pemandangan indah, di antara udara segar alam terbuka?

Beda. Bus itu spesial. Bus itu ajaib. Terlalu banyak hal di alam terbuka yang bisa dinikmati yang membuat kita tetap sibuk. Namun di bus kita terkurung, tak berdaya, tak bisa melakukan banyak hal, dalam perjalanan malam seringkali yang terlihat hanya kerlip cahaya lampu dan sisanya kegelapan. Dalam keadaan seperti itu, kita bosan, lalu… tidur, atau… melamun. Tapi Matt tak mau dibilang melamun. Ia calon Paulo Coelho, bagaimanapun, Coelho tak melamun. Tapi lagi-lagi, Coelho tak bawa boneka kemana-mana. (Matt: ini boneka Kurt Cobain! Beda!)

***

Kurt Cobain diposisikan Matt sedemikian rupa berlatarkan monas, kakinya direnggangkan beberapa senti, dan Snap! Waktunya berfoto. Kurt Cobain in Monas! Pose-pose sang empunya boneka tak kalah ajaib ketika berperan sebagai penata gaya idolanya tersebut. Matt nungging, jongkok, nungging lagi dan jongkok kembali, mengabadikan berbagai pose Kurt, dari close-up shot hingga foto berlatar Monas sampai ke puncaknya, memang harus berjuang nungging-nungging untuk dapat sudut demikian bagi boneka setinggi dua puluh senti saja. Di dunia fotografi, Matt ini fotografer yang lebih banyak gaya ketimbang modelnya, biasanya itu kebiasaan fotografer amatir. Gaya kocak yang sungguh tak sinkron dengan brewok lebat a la biker Harley Davidson yang tak kunjung dicukurnya.

Foto-foto hasil perjuangan mulianya tersebut –mulia karena berani mempermalukan diri di tempat umum, di kemudian hari akan muncul di blog Matt yang semakin hari semakin jarang diupdate. Maklum, ritme perjalanannya kini semakin cepat seiring sang traveller yang semakin gatal berlama-lama di satu kota saja. Boneka Kurt Cobain menjadi tokoh utama dari blog itu dan ada begitu banyak peristiwa dan pemikiran ditulis dari perspektif Sang Legenda. Versi konyol. Sebutlah Matt, kali ini tak sedang menjadi Coelho, namun coba-coba nekat menjadi Cobain.

Ika, sembari merapikan ujung ciput jilbabnya, terkikik mengamati Matt yang begitu larut dalam sesi foto boneka yang kesannya tak main-main. Pemandangan tak biasa melihat pria dewasa masih melakukan hal konyol macam itu tanpa peduli ditertawakan orang. Matt yang tak biasa. Mata coklat jenaka yang sekaligus menyimpan keteduhan. Penampilan apa adanya, tanda begitu nyaman ia dengan diri sendiri. Lontaran pertanyaan-pertanyaan entah sensitif entah polos yang bernada tanpa prasangka. Intensitas dan keseriusannya mendengarkan.

Rasanya sudah lama sekali Ika tak pernah merasa begitu diperhatikan… Begitu didengarkan… Perasaan bungah pergantian musim dingin ke musim semi yang kini dihadirkan oleh seorang asing yang baru saja dikenalnya. Ika tak pernah percaya perasaan macam itu bisa hadir secara instan, tapi ia kini merasakannya hanya di jam ke-dua setelah pertemuan tak sengaja dengan Matt.

Ada ketertarikan yang sekarang menjelma keterikatan, untuk terus menggali lebih jauh tentang Matt, untuk membuka dirinya lebih dalam kepada Matt, meski di tengah segala kendala bahasa yang acap terjadi. Namun hingga berapa lama lagi kebersamaan yang begitu Ika nikmati itu harus berakhir dan menguap bersama jejak Matt di Jakarta? Berapa jam? Berapa menit?

Kamu mau foto sama Kurt? He would bring you nice memories. Lamunan Ika dibuyarkan oleh sodoran boneka di hadapannya. Serta merta diraihnya Kurt mendekat ke wajah, ke samping dagu seperti SPG mempromosikan barang dagangan. Cheers! Senyum manis dari bibir mungil Ika pun terekam kamera. Mungkin akan membawakan Matt ‘the nice memories’ di kemudian hari.

Pertemuan dengan Wanita Berjilbab

Matt berjalan sejauh kurang lebih satu kilometer sebelum menemukan shelter bus Trans Jakarta yang dimaksud Hardi saat berbincang di meja makan. Walau tanpa modal bahasa Indonesia sama sekali, ia tak menemui banyak kesulitan dalam menemukan arahan menuju Monas. Sontak ia berpikir bahwa semua orang Indonesia mengerti bahasa Inggris, tak seperti yang diduganya sebelumnya. Belum setengah jam berdesakan di bus, Ia melintasi jalan protokol ibukota yang dipenuhi gedung menjulang dan pawai mobil mewah yang tersendat macet. Dari posisinya yang terhimpit badan para penumpang lain, ia masih dengan leluasa menyaksikan pemandangan di luar bus melalui jendela.

Ia selalu membayangkan negara dunia ke tiga tak seharusnya semegah Jakarta, yang “wah” namun menyisakan jejak-jejak kemiskinan di banyak sudut dalam berbagai bentuknya. Pengemis dan gelandangan. Pemukiman kumuh. Selokan berair hitam pekat dipenuhi sampah. Sebuah kontradiksi yang sekali lagi harus disaksikan Matt selama petualangannya di Asia Tenggara.

Keheranannya belum juga sirna saat seorang wanita muda berjilbab memasuki bus, berdiri tepat di hadapannya. Tak sering ia bertemu langsung dengan wanita berjilbab, aneh rasanya kini berdiri hadap-hadapan dengan wanita ini. Perasaan yang sama menghinggapi wanita tersebut, bahwa ia jarang sekali berhadapan dengan jarak sedekat ini dengan seorang bule. Mereka pun dengan canggung saling menatap, diikuti saling melempar senyuman dan menganggukkan kepala.

“Where are you from?” si wanita memberanikan diri bertanya dengan bahasa Inggris yang patah-patah karena canggungnya.

“I’m from The States,” jawab Matt menunjukkan senyum lebar dan minatnya untuk meneruskan percakapan.

“What is that?” tanya wanita itu polos.

“The States? It’s America,” jelasnya sembari mengulurkan tangan, “I’m Matt, Matthew Flanagan.”

Tak biasa berkenalan dengan bule, wanita itu hanya menyambut uluran tangan Matt dengan tersenyum, tanpa berkata apapun. Terlebih ia jengah kini orang di kiri dan kanannya semua melirik ke arah mereka, setengah cuek dengan earphone terbenam di telinga, setengah penasaran.

“What’s your name?” tanya Matt akhirnya.

“My name is Ika.”

“Ah nice name, nice to meet you, Ika. I’m going to Monas, still far away?”

Merasa lebih santai dengan keramahan dan keterbukaan Matt, Ika pun lebih percaya diri berbahasa Inggris, lagipula ia tak pernah berkesempatan mempraktekkan hasil belajarnya bahasa Inggrisnya selama bertahun-tahun dengan native speaker. Ia menginstruksikan Matt untuk turun dua halte lagi, lalu sepintas bercerita bahwa ia barusan wawancara kerja di sebuah majalah ternama.

“If you’re free after the interview, why not join me to Monas?” ada sesuatu pada wanita itu yang begitu menarik bagi Matt. Ika terdiam sesaat, digigitnya bibir mungilnya, tanda ia sedang mempertimbangkan ajakan pria yang baru dikenalnya tersebut. Seandainya Matt pemuda lokal, tentunya Ika langsung menolak takut. Tapi Matt turis, tak mungkin turis berbuat kriminal di negara asing, kan? Demikian pikir Ika. Ia lantas mengiyakan ajakan Matt, lagipula Monas tempat umum, tak mungkin Matt macam-macam, dan Ika tak punya kesibukan lain hari itu.

***

Sengatan panas matahari tepat menimpa kepala saat Matt dan Ika memasuki area Monas. Hari minggu itu rombongan wisatawan dari luar kota Jakarta memadati Monas. Matt menyapukan pandangannya, mencoba mencari pembenaran akan keterangan Hardi tentang banyaknya copet berkeliaran di Monas. Ia berlagak seperti detektif yang ahli membaca orang dari penampilan dan bahasa tubuh.

Seorang pemuda berpenampilan lusuh dengan skinny jeans sobek-sobek dan kaus hitam pudar duduk di bawah pohon. Sebentar-sebentar dilihatnya handphone-nya, lalu diedarkan pandang ke sekeliling, nampak sedang menanti seseorang. Penampilannya berandalan namun Matt tak mencurigai anak punk ini sebagai copet.

Matt lantas menepis pikiran sok cool-nya yang pura-pura mampu membaca gelagat orang lain. Ia bagaimanapun, terlahir dengan pribadi easy going yang lebih sering berpikiran positif terhadap siapapun dan situasi apapun.

Bule bercelana pendek dan berkaus tanpa lengan, berjalan bersama wanita muda berjilbab. Pemandangan unik yang cukup mengundang perhatian para pengunjung lain. Sepasang teman baru ini toh lebih asyik ngobrol sendiri ketimbang memperhatikan tatapan aneh orang lain.

Jadi, Ika, aku belum pernah ngobrol langsung dengan wanita muslim berjilbab sepertimu, ini jadi pengalaman pertama yang seru buatku. Begitu ungkap Matt tak lama setelah mereka menemukan tempat berteduh di antara sengatan matahari Jakarta yang kian menjadi. Matt berusaha mengarahkan obrolan pada keislaman Ika. Akan sangat menarik baginya mendengarkan cerita tentang islam dari orang islamnya langsung, bukan dari media barat yang muatan beritanya cenderung mengidentikkan islam dengan teroris.

Ika tersenyum simpul, “Kamu pasti sudah tahu Indonesia punya penduduk muslim terbanyak di dunia, mungkin lebih banyak ketimbang jumlah seluruh muslim di timur tengah.”

“Oh ya???” Matt terperanjat, dia benar-benar tak melakukan riset apapun sebelum bertandang ke Indonesia.

“Yes, Matt, gampangnya, kamu akan menemukan banyak banget cewek berjilbab di sini, lihat aja rombongan arah jam 5 kita, mayoritas berjilbab, kan?” Matt lalu menoleh ke arah kanan belakangnya, sedikit mengangkat kacamata minusnya dan mendapati serombongan turis lokal berseragam biru yang hampir seluruhnya berjilbab.

Matt menatap Ika sembari menyunggingkan senyum, “No offense, tapi apa nyaman pake penutup kepala di negara tropis kayak gini?”

Ika geli mendengar pertanyaan yang menurutnya polos tersebut, ia pernah mendengar para jilbabers pemula bagaimanapun merasa tak nyaman. Beberapa bahkan mengeluhkan ketajaman pendengaran mereka sedikit terganggu dengan gemerisik gesekan jilbab dengan daun telinga, dan tentunya kegerahan dengan tambahan lapisan kain di kepala. Namun semua itu hanyalah soal waktu hingga terbiasa. Seperti ABG yang dadanya baru tumbuh dan terpaksa memakai bra, rasanya tak nyaman sama sekali. Gatal lah, seperti terikat lah, namun beberapa bulan kemudian keluhan itu sudah tak terasa lagi. Bra bahkan akan menjadi bagian hidup remaja cewek yang justru akan merasa tak nyaman luar biasa saat tak dikenakan keluar rumah.

Lawan bicaranya yang kini berkeringat terjemur matahari mengeluarkan botol minumnya, menawari Ika sebelum menenggak untuk dirinya sendiri. Sopan sekali, pikir Ika. “Jadi, apa setiap wanita muslim wajib pakai jilbab?” lanjut Matt.

Pertanyaan itu sungguhlah di luar kapasitas Ika untuk menjawab, mengingat selain faktor iman, sebagian dirinya mengakui bahwa ia mengenakan jilbab sebatas karena tekanan sosial. Ibunya di kampung adalah guru ngaji, teman-teman SMU-nya pun mayoritas mengenakan jilbab. Buruk sekali bila ia tak kunjung berjilbab. Ia tak kuat membayangkan pandangan negatif para tentangga dan kawan-kawannya di sekolah. Ia lalu mulai berdandan seperti teman-temannya, mencoba menyesuaikan diri dengan menaati kewajiban umat muslim yang satu itu.

“Ya, Matt, kami wajib pake jilbab untuk menutup aurat. Itu penting supaya ga ngundang birahi lelaki juga.” Ika menjawab sebisanya, saat hati kecilnya justru mencari jawaban yang lebih matang. Bagaimana tidak, ia tak menguasai ajaran islam secara kritis. Selama ini ia hanya ikut-ikutan, dan ia menyadarinya. Ia mengutarakan jawaban yang ia tahu agar tak terlihat berkepala kosong. Tak mungkin kan Ika mengaku hanya ikut-ikutan?

Matt memahami jawaban Ika sebatas ‘keimanan’, apapun alasannya, bila iman yang bicara, selesailah masalah. Tak ada diskusi. Tak ada ruang mengkritisi. Namun pertanyaan Matt itu membuat Ika terusik dan sekali lagi ingin menemukan jawaban atas keimanannya. Ia melamun, teringat ibunya di kampung. Apa kata ibunya bila tahu Ika mempertanyakan ajaran agama?

Matt’s First Day in Indonesia

Perasaan itu selalu muncul saat ia menginjakkan kaki di negara yang belum pernah disinggahinya. Baur antara senang, haru dan girang. Andai bisa menghilang sesaat dari pandangan para penumpang lain yang turun dari pesawat jurusan HCMC-Jakarta, Matthew Flanagan sudah jejingkrakan akhirnya bisa bertandang ke Indonesia. “Petualangan baru!” Serunya dalam hati, namun hanya bisa diekspresikan lewat senyum kelewat lebar di wajah brewoknya. Antusiasme yang mengundang senyum dari beberapa orang asing yang beradu mata dengannya.

Berlagak cool dan berusaha tak memejamkan mata, ia menghirup udara Jakarta yang sarat polusi dalam-dalam, seolah meresapi setiap partikelnya. Ritual itu selalu dilakukannya di setiap airport, mungkin mencoba menjadi satu dengan tempat baru. Ia lalu melangkah dengan mantap mengikuti arus penumpang menuju pintu keluar. Hal pertama yang dilakukannya kemudian adalah mencari simcard Indonesia agar segera bisa menghubungi kenalan-kenalannya. Tanpa banyak tanya, segera dibayarnya sebuah simcard dari provider teleponyang konon jaringannya paling luas di Indonesia. Ia meminta tolong si penjual untuk mengaktifkan kartu tersebut.

“Hi Hardi, this is Matthew Flanagan. How are you? I sent you a request the other day to stay at your house.” Hardi, hostnya di Jakarta, dikenal Matt melalui situs jejaring traveler.

“Hi hi, Matthew, I’ve been waiting for you! Welcome to Indonesia! Yes, I have a room ready for you, did you get the direction to my house?” jawab Hardi ramah.

“Yes I got it, now about to find a cab, but I think it’s better to touch base with you first. I’m so excited to explore your country!” Ungkap Matt penuh semangat.

Hardi tertawa renyah, kemudian menjelaskan pada Matt untuk memastikan atau paling tidak menanyakan perkiraan tarif taksi pada sopirnya sebelum berangkat, untuk menghindari sopir nakal yang gemar mengajak penumpang berkeliling Jakarta dahulu sebelum mengantar ke tujuan. Hardi lalu menyarankan Matt untuk menggunakan sebuah layanan taxi yang reputasinya dikenal baik, saran yang Matthew hargai dengan berkali-kali berterima kasih.

***

Matahari Jakarta belum terik saat Matthew tiba di rumah bertingkat 3 itu tanpa kesulitan berarti. Sopir dari armada yang dipilihnya sudah biasa berhadapaan dengan bule, terlebih mereka telah diberi pelatihan bahasa Inggris dasar.

Sosok enerjik Hardi menghambur keluar dari rumah, menjabat erat tangan Matt seolah berjumpa kawan lama. Interaksi macam itu sudah biasa terjadi di antara sesama anggota komunitas traveling yang mereka geluti, sekalipun belum pernah bertatap muka.

Hardi memandu Matt berkeliling rumahnya, menunjukkan letak kamar mandi dan kamar yang akan ditempati Matt di lantai dua, dapur dan jemuran di lantai yang terpisah. Rumah berkamar enam itu bergaya modern minimalis, didominasi warna putih dan abu-abu. Hardi menghuninya bersama lima orang expat, semuanya telah pergi ke kantor masing-masing saat Matthew tiba, hanya hostnya itu yang tinggal untuk menyambut kedatangan Matt.

***

Saat Matt menata barang di kamarnya, yang juga kamar Hardi, host yang berwajah selalu tersenyum itu menyiapkan dua cangkir kopi kental di dapur. Ide yang baik untuk keduanya. Hardi memerlukan terjangan kafein dalam darah untuk tetap terjaga setelah berpesta semalam suntuk. Sementara Matt yang juga kurang tidur hendak bertualang ke Monas siang itu juga, tanpa istirahat terlebih dahulu setelah perjalanan beberapa jam dengan pesawat.

Setelah membasuh wajahnya, sesaat Matt menghempaskan tubuh di kasur empuk Hardi, ia akan terlelap dalam beberapa menit andai saja tak tercium aroma kopi yang menyeruak dari dapur di lantai satu. Segera diceknya barang-barangnya sekali lagi, memastikan bahwa ia tak membuat kamar tersebut berantakan di hari pertamanya. Matt menyiapkan Daypack Deuter 20 liternya, tas ranselnya yang lebih kecil untuk membawa serta teman setia selama perjalanan di kota: botol minum, kamera poket, dompet dan notes kecil yang kerap digunakan untuk mencatat tip-tip perjalanan, mencatat kontak kenalan barunya, juga curahan pikiran dan perasaan yang terkadang menyergap tak tahu waktu.

Sembari menenteng ransel, Matt menghampiri Hardi yang masih sibuk menyiapkan sandwich di dapur. Hardi terheran-heran dengan stamina yang dimiliki Matt. Pikirnya, Vietnam memang tak jauh-jauh amat, tapi pastilah di Vietnam pun Matthew menghabiskan waktu dengan hidup nomaden dari satu tempat ke tempat lain. Lalu setelah sampai di Indonesia, pria Amerika itu pun tak beristirahat barang sejenak? “Hey, where are you going? Don’t you need some rest?” tanya Hardi, yang diikuti cengiran lebar saat tahu Matt hendak ke Monas.

“Why? What’s so funny about Monas?”

“Nothing dude, it’s just… it is historical place but I think it’s not so interesting, but you can still see Jakarta from the tower. Well, basically other than Kota Tua, there are nothing much to offer about this town. The nightlife would be awesome though.” Matt termangut-mangut mendengar penjelasan Hardi. Sebagai traveler impulsif, ia tak melakukan riset yang memadai tentang tempat-tempat yang akan dikunjunginya. Ia hanya mendengarkan saran orang lain, lalu pergi mengikuti ke mana hatinya ingin pergi.

“I have only two days in Jakarta. Kota tua noted, I think I’d go there tomorrow and if you’re free tonight, are you up for a drink or some party somewhere? Or any suggestion?” Tawaran keluyuran malam yang tentu saja disambut antusias oleh Hardi. Pesta telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan selama karir gemilangnya di Jakarta. Tentu saja ia akan dengan senang hati membawa Matt menganal kehidupan malam ibu kota yang sudah dikenalnya dengan baik.

***

Mereka menikmati “brunch” yang disiapkan Hardi di meja makan sembari berbincang tentang petualangan Matt di Asia Tenggara. Sedikit terburu-buru karena sudah terlambat lebih dari dua jam ke kantor, Hardi memperingatkan agar Matt tak membawa serta barang-barang berharganya. Terlalu banyak copet di Jakarta, terutama Monas, demikian terang Hardi. Matt hanya perlu membawa uang untuk transport, jangan membawa uang lebih, jangan membawa kamera, jangan membawa dompet dan kartu-kartu penting. Uang transport. Itu saja yang perlu dibawa.

Matthew heran, apakah betul Jakarta sedemikian tidak amannya, namun melihat gelagat Hardi yang tanpa kompromi, dan terburu-buru, mereka tak sempat berdiskusi lebih jauh. Sekali lagi Hardi memastikan keamanan Matt. “If you have other than pocket money in your day pack, you better leave them in my room, so much safer there. I just don’t want your first day here leave you with bad impression if you happened to encounter with any of those bastards on the street.” Tanpa pikir panjang, Matt kembali ke kamar Hardi dan membenamkan barang-barangnya kembali ke ransel besarnya. Ia hanya membawa botol minum dan beberapa lembar sepuluhan dan lima puluhan ribu sekarang.

Hardi sudah berada di pintu saat Matt membalikkan badan, siap berangkat. Dikuncinya pintu kamar tersebut, sembari berpesan bahwa biasanya sudah ada yang pulang ke rumah sekitar pukul lima sore, namun Hardi baru akan kembali saat jam makan malam, pukul tujuh nanti. Karena kunci kamar dibawa Hardi, Matt baru akan memiliki akses ke kamar setelah Hardi pulang.

Mereka lalu melenggang meninggalkan rumah itu, menuju arah yang berlawanan.

Ilusi

Adalah cerita bebungaan di musim semi, yang menuturkan pada dunia, warna-warna indah, wewangian nan memabukkan dan kita berharap waktu berhenti tepat saat itu, saat cerah menyelusup hingga ke ceruk terdalam, saat hangat menembus hingga ke benteng terkokoh. Imajinasi tak dewasa yang dihantam kenyataan bahwa waktu tak pernah berkompromi dan dunia tak selamanya cerah. Ilusi.

Tagged , , , , , ,

Picisan

Bila kisah kita ditulis utuh, adakah kau tersentuh, atau justru tercekam rasa iba yang membunuh?

Mereka menginginkan cerita kita, yang tak sanggup kurangkai sempurna karena pusaran yang kuat menarikku dalam rasa yang melumpuhkan sel otak dan jemari.

Penggalan-penggalan kubuat dengan terbata dan kecamuk yang mengacaukan. Jemariku masih berjuang di tengah kebas dan kelu, menyampaikan lagi dan lagi sebuah absurditas, sebuah pesan klise bertabur kasih. Picisan.

Tagged , , , , ,

Hasrat

Aku masih ingin berbagi cerita dan rasa denganmu… Kau tahu? Mereka bilang aku terlihat tegar karena tak pernah merasakan cinta yang mendalam, dengan perih yang dahsyat. Aku hanya tersenyum, cukuplah kita yang tahu dan mengumbar cinta berpadu nafsu. Kita telah berkecukupan dalam segala kesederhanaan dan keterbatasan, sejak awal kisah dimulai hingga saat kau melangkah pergi.

Tagged , , , , ,

Holographic Separation

Ruangku bernafas terasa pengap, waktu seakan berhenti saat kususuri lagi lorong itu empat tahun ke belakang. Ada kau, tersenyum bungah, memberi hangat hingga ke jiwa. Saat itu kita menikmati apa yang kita miliki: dunia.

Aku berterimakasih padamu atas masa lalu yang kau bubuhkan ruh hingga kini dan nanti: masa lalu yang sekarat namun abadi.

Aku masih ingin memelukmu dalam sakit dan senang, dalam air mata tak tahu diri yang tumpah tanpa ijin. Se-tak-tahu diri rasa terhadapmu yang kucoba bunuh namun tak kunjung mati.

Aku ingin memelukmu lagi hari ini, saat ulang tahunmu, namun dunia seperti memberi kita jarak dengan berbagai cara.

Selamat ulang tahun, aku tahu kau masih mendengarkan dan merasakanku…

Tagged , , , , ,
%d bloggers like this: