Category Archives: Uncategorized

Fitting In

Sesungguhnya kita berlomba menjadi layak, menjadi pantas bagi ruang kosmos yang entah sekian juta tahun cahaya yang diperlukan menuju ke batas terjauhnya, jika batas itu ada. Kita kecil, teramat sangat kecil, dalam megahnya semesta. Namun sesungguhnya kita berlomba menjadi layak. Batasan-batasan seolah tak lagi nampak saat kita berjuang demi sebuah makna. Tapi apalah makna bila moral masih digadang-gadang dengan menghakimi –menyakiti bila perlu– orang lain yang dianggap cacat moral. Apalah layak bila yang tidak ada diada-adakan demi decak kagum semata…

Advertisements

Asing

Kita telah kembali pada yang sunyi. Menjadi lebih asing dari ceceran daun di ujung jalan. Musim dingin telah berlalu namun pikiran ini tetap membeku, kesulitan mencerna apa yang tengah terjadi.

Adalah tentang sesuatu yang sebaiknya lenyap sebelum muncul. Perasaanku, yang tak tahu diri menginginkanmu sekali lagi. Sebentuk asa purba menuntut dipatri pada sebuah papan yang meneriakkan kepemilikan. Kita bukan itu. Komitmen kita sesatunya adalah pertemuan demi pertemuan, yang diakhiri kulit telanjangku yang menempel padamu. Tuntutan kita sesatunya adalah kebahagiaan yang dibayar dengan sesaknya dadaku. Ini menjadi perkara “membahagiakanmu dan melupakan perasaanku sendiri”. Karena perasaan itu sepatutnya dimasukkan ke dalam karung dan diletakkan pada palung terdalam di muka galaksi.

Perasaan itu tak sepatutnya ada dan tak selayaknya dibesar-besarkan. Kuberitahu kau, sayang, memang kita yang tak semestinya mencoba mengontrol perasaan karena itu hanyalah perbuatan yang sia-sia. Tapi pernahkan kau mendengar tentang susunan superkluster galaksi bertitel Laniakea? Di dalamnya ada seratus ribu galaksi, terbentang sebanyak hanya-tuhan-yang-tahu-berapa-juta-tahun-cahaya jaraknya. Atau mungkin ilmuwan tahu. Tapi bukan aku, karena memahami perasaanku yang sepersekian debu mikro pun aku tak sanggup.

Kita bagian dari debu mikro, dengan ukuran kecil yang jahanam di konstelasi semesta. Tak sepatutnya kisah kita dibesar-besarkan. Tapi, sayang, malam ini  kuhabiskan dengan pikiran penuh akanmu, karena dalam hidupku, sayang, kaulah pusatnya. Pentingmu melebihi ukuran seratus ribu galaksi berjarak hanya-tuhan-yang-tahu. Kau lebih dari itu. Bagaimana aku menyingkirkan pikiran tentangmu yang besarnya seolah melebihi Laniakea?

Aku telah tak tahu diri belakangan ini. Tak ada yang bisa kusalahkan selain kau yang memperlakukanku seperti puteri kecil. Kauberikan gaun indah, bebungaan dan dongeng pengantar tidur, juga kecupan saat kaupikir kuterlelap. Kita layaknya sepasang debu mikro yang maha besar bagi satu sama lain. Aku bungah. Kepalaku membesar dengan percikan-percikan yang tak sepatutnya di sana.

Aku kerap mengamatimu dalam setiap hal sederhana yang kaulakukan. Bagaimana kau menbuka kaleng Diet Coke, caramu mencela orang dengan lucu, atau mata birumu yang terbelalak mendengar aku menyimpan koleksi celana dalam bolong. “Nenek-nenek sekalipun tak menyimpan celana dalam bolong,” katamu. Tawa kita meledak sebelum kau menyerbuku dengan kecupan-kecupan yang intensitasnya lebih pekat daripada anggur merah dalam gelasku. Lalu kulit telanjang kita bersentuhan kembali. Debu kosmos yang menjadi satu.

Wanitamu menghubungiku. Ia tengah bungah akan kedatanganmu dua minggu lagi. Dari bibirnya mengalir dongeng cinta indah. Dongeng yang membuat dadaku sesak hendak meledak. Kekasihmu mengajakku bahagia, karena kau milik kami berdua, tapi aku tak kuasa untuk tak tenggelam dalam palung terdalam di muka galaksi. Tempat gelap di mana aku bisa menjadi diriku yang sebentar lagi bermata sembab hingga beberapa jam ke depan.

Tak sepatutnya ini dibesar-besarkan. Kita hanyalah dua debu yang bersinggungan dalam satu potongan waktu. Kepadaku kauceritakan dongeng indah pengantar tidur, tapi padanya kau beberkan segala kelam. Dongengmu menjadi tak berarti, karena kau punya teman yang lebih layak untuk berbagi kisahmu yang paling kelam. Wanita itu. Karena kita hanya bersinggungan dalam satu potongan waktu. Irisan diagram dinamis yang menyeret pada satu sama lain, hanya untuk menyadarkan bahwa kita akan selamanya asing. Tak sepatutnya ini dibesar-besarkan. Bila saatnya tiba, aku akan pamit dalam senyuman walau dipaksakan. Tak perlu ada air mata. Sembabku sudah kuhabiskan malam ini.

Protected: Diari 30 Hari 30 Cerita

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Mulutmu Harimaumu

Baru-baru ini saya bertemu orang-orang gila yang selalu mengingat orang lain di langkahnya menuju kesuksesan. Saat dalam ketakpastian, mereka tak menyeret orang lain ikut serta, namun mereka punya sejuta keinginan, bila semua berjalan lancar, bolehlah orang lain dilibatkan, berproses bersama, bersenang-senang bareng, dan berbagi kesuksesan.

Dalam perjuangannya, mereka sudah punya sederetan nama untuk dilibatkan. Niatnya cantik: berbagi dan menolong. Semua itu karena mereka berhati tulus dan tak egois. Tak perlulah pula niatnya dikemukakan pada pihak yang hendak ditolong. Mereka tahu-tahu akan muncul mengajak orang yang mereka pilih untuk dibantu.

Di sisi lain, pihak yang tak sadar akan dibantu suatu hari nanti, meremehkan calon partner (penolong) mereka. Bahwa orang-orang ini seperti pungguk merindukan bulan. Tak tahu diri dan sebaiknya membabu saja.

Ibarat jalur birokrasi, posisi saya dapat memudahkan namun bisa mempersulit segala sesuatu antara kedua belah pihak tanpa perlu berkata banyak. Walau memberi seharusnya memang tanpa pamrih, namun untuk urusan jangka panjang yang berkelanjutan, niat baik lebih layak diarahkan pada sesuatu yang mampu merespon dengan positif saja.

Tagged ,

Sabar adalah sebentuk kesadaran akan realitas yang plural: bahwa setiap individu berbeda, termasuk tingkat kecerdasannya.

Sabar adalah se…

Tagged , ,

IRONMASK

They wear way too many masks all at once, I noticed.
They wanted to play the game of fakeness, they offered.
I say yes. I am in.
I wear the only mask I’ve got. That’s all I need to get theirs ripped into pieces. Get their ugly faces exposed to the light of truth.

Tagged , , ,

when I am being watched, I’ll invite the person(s) to come by and see everything they wanted to know: the darkness.

when I am being…

Tagged

We cannot do a thing without being judged. So going ‘f*ck it’ is the best easy way out I can come up with.

Do what makes you happy. O:-)

We cannot do a …

Tagged , , ,

Menyayangi dalam keterbatasan.
Mengasihi di tengah kesempitan.
Mencintai ketaksempurnaan.

Terima kasih tuhan, masih kau beri rasa walau kuingin lari saja.

#Escapist

Menyayangi dala…

Suck It Up

Tak perlu banyak menuntut. Kata para bulay sih, take it or leave it. Gue tambahin: change it, or suck it up.

Suck It Up…

Tagged ,
%d bloggers like this: