Category Archives: Catatan

(masih dan selalu) Ada Tempat Bagi Kemanusiaan

Adalah cita-cita menahun yang terpampang jelas di daftar “goal jangka panjang”. Cita-cita yang saking malasnya dan saking bingungnya harus dimulai dari mana, sempat terkubur, terlupakan. Hingga seseorang yang akrab disapa Vey, lewat banyak perbincangan yang inspiratif, menggali kembali kuburan berisi cita-cita tersebut.

Tak lama berselang, saya dipertemukan dengan pemuda pemudi ajaib yang menamakan dirinya Revive Youth Movement. Selain berpartisipasi di pemantauan Gunung Merapi di DIY dan Jateng, gerakan ini berfokus ke bidang pendidikan dengan menyalurkan bantuan pada anak-anak yang terancam putus sekolah. Bidang yang tak secara langsung berhubungan dengan goal saya, namun kami menemukan beberapa kesamaan visi, yang membuat kami kemudian bersinergi, menuju arah yang sama.

Keyakinan kembali muncul, cara tak lagi terlalu menyedot energi dan pemikiran, kami hanya tahu, We are getting there.

Advertisements
Tagged , , , , ,

Komitmen

Baru-baru ini saya menceburkan diri pada sebuah komitmen yang melibatkan orang-orang yang secara moral, kualitasnya dipertanyakan. Alasannya sederhana, mereka memerlukan bantuan. Bolehlah dibilang ini semacam Sindrom Mother Theresa, di mana kasih (dan segala variannya seperti rasa kasihan dan keyakinan bahwa setiap orang pada dasarnya baik) menjadi dasar perbuatan.

Saya sebenarnya mempertanyakan apakah telah mengambil keputusan yang tepat, mengingat bahkan sebelum melangkah lebih jauh, sedikit banyak saya telah merasakan kekecewaan akan perbuatan mereka. Tentunya kekecewaan yang tak perlu terjadi saat tak berharap, tetapi seolah sebuah niscaya, bahwa komitmen dalam bentuk terkecilnya sekalipun, diikuti oleh sebentuk harap.

Komitmen, bagaimanapun, hal yang menyeramkan bagi beberapa orang, mengingat seriusnya kata tersebut. Namun di sanalah saya, berdiri tegak, menancapkan sebuah komitmen yang akan dipermasalahkan berbagai pihak. Namun saya telah berada di titik tersebut, dan memilih untuk bertahan.

Kasihkah yang sedang saya pertaruhkan, atau nilai kemanusiaan? Sepertinya bukan keduanya. Saya hanya tak suka ditantang…

Tagged , , ,

The Voice

Tonight I find myself consumed with anger. There should be no one (at least) in my circle wake up in the morning wondering if they would be able to afford some meal for the day. It breaks my heart into pieces, more to the fact that I could have done so much more if  I followed what my heart been telling me, not what people expect me to do…

Always listen to the voice deep within you, it knows better what’s good for you than the society does.

Tagged , ,

Berterima Kasih

Terima kasih. Ungkapan sederhana yang mudah diucapkan. Sekalipun demikian, saya mengurungkan niat saya untuk mengungkapkannya pada beberapa kawan lama, sesaat setelah postingan saya di hari ulang tahun almarhum adik.

Saat itu saya teringat teman-teman di Jogja yang begitu setia mendampingi dan mengurus segala sesuatunya saat berita duka itu saya dengar dari rumah. Mereka menyediakan bahunya untuk saya menangis. Dalam kondisi saya yang kalut, tanpa diminta, mereka menyebar menghubungi agen-agen perjalanan, mencari tiket bus, kereta api, travel hingga pesawat. Mereka mengusahakan saya tiba di rumah secepatnya. Tak banyak bertanya menuntut cerita, mereka ada, dan itulah yang terpenting.

Saya lupa pernahkah saya berterimakasih pada mereka atas hal sederhana tapi selalu membekas yang mereka lakukan, hingga saya ingin melakukannya beberapa hari lalu, namun tertahan rasa malu karena takut dianggap melow dan galaw, haha. Ya, saya pun menahan diri tak mengucapkannya.

Hari ini, seorang teman di Tangerang, mantan rekan kerja, berterimakasih pada saya entah untuk apa. Dia akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan ya sudah, itu saja.

“Ha? Kenapa makasih? Apa yang kulakukan?”

“Ga ada, kamu ga melakukan apa-apa,” jawabnya.

(mungkin) kita melakukan sesuatu yang tak kita sadari berpengaruh terhadap hidup orang lain dan itu cukup membuatnya berterimakasih walau tanpa alasan yang bisa dimengerti. Lalu saya malu sekali lagi, karena telah menahan diri hanya untuk mengucapkan terimakasih padahal alasannya sangat jelas…

Muh. Baskoro Aliandi dan geng Indonesia Kompak, Isaam Khalid, Dany ‘Chun Lee’ Kosasih, dkk. Terima kasih telah menjadi kalian. Terima kasih. :’)

Tagged ,

Manusia Mekanis

Setelah mengetahui keputusan saya untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat dulu saya pernah belajar, beberapa rekan membuka percakapan tentang pekerjaan, perasaan dan kehidupan mereka.

“Kamu tahu? Saya juga udah ga betah di sini,” tukas seorang rekan. Dia tak tahan dengan kondisi kantor dan kurang adanya kerjasama yang baik antar individu. Hal senada terungkap dari beberapa rekan lain, dan masalah utama yang terungkap bukanlah gaji ataupun loading kerja, namun hubungan sesama rekan yang kurang harmonis.

Setiap mereka yang berbagi cerita, berkonflik dengan dirinya sendiri. Mempertimbangkan segala kemungkinan dan meragukan setiap langkah. Mereka semua takut akan masa depan. Takut tempat yang baru tak lebih baik. Atau bahkan lebih buruk, dengan kondisi sosial ekonomi yang ada, ketakutan tak mendapat pekerjaan dalam waktu yang lama pun muncul. Manusiawi.

Saya yang sudah teracuni akut oleh virus nekat, menjawab enteng, “Kita ga pernah tahu sampe kita mencoba, kalaupun ternyata ketakutan itu jadi kenyataan, paling ngga kita udah nyoba.”

Semua itu bagi saya bukan tentang karir dan kemapanan, namun pemaknaan. Untuk apa pula melakukan hal yang tak lagi kita nikmati? Menjadi manusia mekanis itu mengerikan. Mengutip Paulo Coelho dalam Sungai Yang Mengalir, “Mautlah yang membuat kita berhenti melakukan hal-hal yang memerangkap dan menjadikan kita “mayat hidup”. Sebaliknya, kita didorong untuk mengambil risiko, mempertaruhkan segalanya demi segala yang kita impikan, sebab entah kita suka atau tidak, malaikat maut telah menunggu kita.”

 

Kotabaru, 2 Des 2012

Tagged , , , , ,

Marilah…

Adalah rangkaian kejadian yang menumpuk, pikiran yang bercabang dan mimpi-mimpi yang tak pandang bulu yang membuat saya bingung harus menulis diari atau tulisan lain yang katanya lebih bernilai, katanya. Tapi marilah menulis saja, walau tak tentu arah. Walau tak jelas antara menggunakan Saya, Aku, atau Gue. Gue masih gendut, tentu ini berita penting, bukankah itu yang katanya kalian suka dari saya? Lagi-lagi katanya :p

Well I miss Jogja, as much as I miss the people, my people yang kadang bikin merinding saat mengingat betapa konyolnya mereka. Atau betapa sadisnya mulut jahanam yang terlatih bermanuver setajam silet. Saya mulai berpikir mulai dari poin ini mungkin akan lebih bergaya esei tentang Jogja dan kehidupannya. Tapi kalian tahu, kan? Sudah terlalu banyak yang menulis tentang itu, jadi… marilah menulis saja, walau bentuk tak keruan. Sisi personal yang entah dibilang eksis atau narsis, itu saja yang mungkin akan kalian temui.

Benarlah adanya bahwa kita akan lebih menghargai sesuatu ketika kita tahu rasanya kehilangan. Sekarang, tragisnya, saya kehilangan teman, maksudnya bukan benar2 kehilangan namun kehilangan momen bersama mereka dan kesempatan untuk mencari yang baru pun tak kunjung datang. Rasanya seperti tengah menyelami kehidupan yang sebelumnya terlalu jauh dari jangkauan alam pemikiran saya. Terjebak rutinitas, seperti banyak orang lain. Boleh dibilang ini sedikit eksperimental karena apalah hidup bila tak bisa memilih, hehe. Saya memilih tetap di sini entah untuk berapa lama lagi. Kadang ini seperti bermain detektif a la Hollywood, temanya, seperti di note saya sebelumnya. “Saya ada, menonton dari dalam, melihat dari luar,” mencoba merangkai perspektif yang lebih utuh akan kehidupan. Herannya dengan ukuran saya yang tak pernah menyusut, baik yang di luar maupun yang di dalam seolah tak menyadari kehadiran saya.

Sebenarnya saya ingin menulis apa adanya dengan detail tanpa banyak kiasan, namun perlu pertimbangan dan tulisan yang lebih serius untuk itu, sementara energi saya terbatas, beginilah jadinya, tulisan yang mungkin hanya saya sendiri yang bisa memahaminya.

Pada dasarnya saya mulai tak tahan, bukan tentang rutinitas namun lebih pada tak tersalurkannya hobi saya cekikikan dari pagi ke pagi dengan orang-orang tak kenal waktu lainnya. Oh damn, pantai yang mesra, tepi jalan yang riuh, angkringan yang memanjakan, tepi kolam renang yang diguyur sinar purnama, mushroom yang membuat sedikit tolol, dan kafe remang2 mungkin? Ha!

Jadi bertambahlah cita2 saya saat ini: menikmati sekali lagi malam yang mesra dengan orang2 sedikit romantis (sedikit).

Sekian dulu, acungkan tangan bila berminat, dan bila tak ada suami/istri yang akan mengamuk. Better bila pasangannya (bila ada) bisa mengonsumsi mushroom juga :p

 

Batuceper, Oktober 2011

Tagged , , ,

Random

Looking from the inside, itulah judul dari proses yang sedang saya jalani, yang tadinya saya harapkan dapat membantu saya memahami dan menempatkan diri pada posisi yang selama ini saya kritisi. Pada perjalanannya, pemahaman itu tidak menjadi konta perspektif bagi pandangan saya sebelumnya, namun melengkapi dan justru memperkuat pandangan yang dianggap sinis oleh sebagian orang.

Katanya, apa salahnya menjadi orang kebanyakan, yang artinya menjadi ‘normal’? Tak ada yang salah, tak pernah ada yang salah akan hal itu selain menguapnya idealisme yang mungkin telah dipupuk sejak awal manusia memutuskan cita-citanya, yang kemudian berubah seiring waktu berjalan.

Saya selalu ingat pesan seorang pembesar, “Idealisme tak bertahan lama.” Saya begitu muda ketika itu, berumur belasan dan sedang dikelilingi oleh orang-orang idealis yang mendambakan negeri impian terbentuk di muka bumi. Saya tersenyum pada sang pembesar, mengamininya. Bagaimana tidak? Teman-teman idealis saya yang konon anti korupsi toh tak melewatkan kesempatan untuk mengambil lebih dari apa yang seharusnya. Misalnya, mengantongi merchandise yang tidak diperuntukkan bagi mereka. Sepele? Tidak bagi saya. Itu adalah sebentuk kontraproduksi dari apa yang mereka koarkan. Keyakinan saya sederhana, every little things count. Saya sendiri pernah melakukan korupsi kecil-kecilan, diam-diam mengambil kaos panitia untuk beberapa orang. Karena… bila every little things count, maka si empunya acara tak akan membiarkan panitianya mengenakan kaos yang sama selama seminggu, gila aja lu ngebiarin semua panitia berpenampilan kucel di acara yang katanya WAH! Tapi alasan saya itu akan memberikan ruang bagi pemakluman di taraf yang berbeda, ok it was just…  I was stupid…

Saya telah meninggalkan banyak hal, melewatkan banyak kesempatan demi keyakinan pribadi yang disebut idealisme. Semua itu melulu tentang sistem yang bobrok dan orang yang mendukung borok. Lalu tenggelamlah saya dalam dunia saya sendiri, dengan orang-orang yang saya pilih, dengan surga yang saya ciptakan dan optimisme yang saya tumbuhkan.

Namun dunia selalu menjadi tempat berbagi, termasuk memaksa saya untuk melihat borok lagi, menyaksikannya dalam keseharian, membagi antara harapan dan kenyataan. Topik basi yang sehari-hari kita konsumsi.

Singkat kata, seorang teman menyimpulkan semuanya menjadi, “Selamat datang di dunia yang bertingkat-tingkat!” Di mana kedudukan menjadi kunci dan nilai pribadi lebur dengan sistem yang mengagungkan tahta. Saya di dalamnya, menjadi orang dalam yang juga melihat dari luar, menjadi borok yang tak disadari, duri yang tak terasa namun ada. Saya ada. Menyaksikan lelucon demi lelucon yang tercipta 🙂

 

Batuceper, Oktober 2011

Tagged ,

Osama

Adalah tuhan dan agama, yang kerap menimbulkan huru hara di muka bumi ketimbang menciptakan kedamaian. Konflik-tuhan-agama seolah merupakan suatu niscaya dan ketiganya adalah tiga serangkai yang mencerahkan dan menyesatkan dalam arti sebenarnya. Karena tuhan dan agama, manusia bisa membatasi dengan siapa dirinya boleh bergaul, dan melakukan pembenaran ketika menyingkirkan orang lain yang tak sepaham, atau medoakan yang jelek-jelek untuk mereka yang menentang. Padahal doa tak ada yang jelek, karena bila ia jelek, maka ia kutukan, bukan doa. Dan bila fasih mengutuk, kenapa beragama?

Konflik agama bukan barang baru di planet ini, dari persoalan Palestina yang mendunia dan sarat isu politik hingga konflik di negeri sendiri, sebutlah Maluku. Di kalangan umat kristen Maluku beredar isu tentang islamisasi birokrasi Maluku dan dominasi ekonomi oleh para pendatang, antara lain dari Buton dan Makasar yang notabene muslim. Sementara itu di kalangan muslimnya santer dikabarkan tentang kristenisasi masyarakat Maluku, juga isu RMS yang meresahkan keamanan dan kedamaian di sana.

Acap kali saya melihat perdebatan mengenai tuhan dan agama, tak jarang pula saya terlibat di dalamnya dan dari semua itu, ada satu pola yang nampak, bahwa akal sehat sering dikesampingkan untuk mendukung argumen the believers. Ayat kitab suci, cukuplah itu. Satu keterikatan terhadap satu kepercayaan yang entah bagaimana caranya akan dibela sampai titik darah penghabisan bila perlu. Alasannya satu: KARENA INI AGAMAKU.

Begitulah, agama berpotensi menimbulkan konflik karena dogma dan ajarannya yang harus diterima tanpa mempertanyakan, jalani aja supaya jadi ahli surga, katanya. Sedihnya, dari setiap agama besar dan kecil yang masing-masing memiliki beberapa golongan yang seringkali berseberangan pemahaman antara satu dan lainnya, masing-masing meyakini pemahamannya yang paling benar. Kitabnya yang paling suci. Sudah ada kata “paling” di situ, yang artinya menegasikan yang lain, yang tidak paling. Arti lainnya adalah, menutup dialog. Selesai.

Mari kita tengok Osama bin Laden yang kematiannya masih meninggalkan perdebatan di sana sini, topiknya tak sebatas “Benarkah ia sudah mati?” tapi juga perdebatan pro-kontra terhadap apa yang sudah dilakukan Osama selama hidupnya. Bagi satu kubu, Osama tak lebih dari manusia rendah, untuk kubu lainnya Osama bagai pahlawan yang dielu-elukan jasanya bagi dunia jihad.

Osama bin Laden, bukanlah tuhan. Osama bukan agama. Namun pembelanya rela mati demi tuhan dan agamanya Osama. Pihak tertentu akan langsung mengaitkannya dengan islam, namun orang islam sendiri banyak yang menolak Osama digolongkan sebagai muslim dengan alasan islam itu damai, bukan teror.

Tagged , , ,

Muhammad Amin dan Ketololannya

Nama depannya Muhammad, junjungan umat islam sedunia, tapi alih-alih menyebarkan ajaran islam, Muhammad yang satu ini gemar mengkritisi tuhan dan agama. Ia cukup kontroversial di dunia fesbukiyah, mungkin karena topik sensitif yang sering diangkatnya dalam status, terutama soal tuhan dan agama. Bukunya yang berjudul “Ziarah ke Makam Tuhan” pun tak lepas dari hujatan-hujatan ‘ketuhanan’ yang lahir dari pemikirannya.

Tuhan memang selalu menjadi topik menarik untuk dibicarakan, bagi saya pribadi menyimak orang perang kata karena tuhan itu seperti nonton film kartun, ada tokoh yang sudah terlindas truk, ketiban gunung, diguyur aspal, tapi masih aja hidup, sama dengan orang-orang yang berargumen tanpa dasar yang parahnya, sering ga nyambung dengan bahasan, tapi diapa-apain ya tetep aja ngotot dengan pendiriannya. Bravo!!!

Soal pembicaraan ketuhanan, bagaimanapun si empunya hajat (dalam hal facebook: pemilik status/note) mengajak kahalayak untuk melepaskan atribut keyakinan pribadi dan murni mengajak diskusi yang rasional, tetap akan bermunculan orang-orang yang ngotot dengan keyakinan kacamata kuda. Atau yang bernada menyadarkan forum dengan kalimatnya, “Tiada tuhan selain Allah”. Hehe, Allah itu tuhan kan? Allah yang mana? Allahnya siapa?

Demikian pula yang terjadi di status terakhir Bung Amin pagi ini, “Semesta punya trilyunan planet, klo satu planet bisa punya ribuan tuhan seperti di bumi, jangan-jangan jumlah tuhan lebih banyak dari jumlah planet.” Dengan kurang ajarnya si Amin mengatakan jumlah tuhan lebih banyak daripada jumlah planet, manusia “tolol” macam dia inilah yang bisa merusak moral umat manusia. Tuhan cuma satu kok disekutukan. Sungguh dosanya tiada terkira. Wajar saja ada manusia-manusia yang berusaha menyadarkan si Amin.

Hayu Aji: maha besar Allah yg menciptakan semesta dan meliputi segala sesuatu.

(Hmmm syukurlah masih ada orang beriman di lingkaran pertemanan Amin)

Miina Catlover: Coba di slidiki tow mas! Bukn hny menduga duga… Oceeeeee

(Bung Amin, mulai sekarang kau harus keliling semesta untuk bikin status)

Abu Faz: Semakin terlihat TOLOL nya seorang Amin..

(Kasihan si Amin…)

 Zen Arifin: Bukan Tuhan kecuali Allooh. Muhammad utusan Allooh. Allooh maha Kuasa.

(Ada tuhan baru lagi nih, namanya Allooh)

Adi: Hahahaha…Sadiz…

(No comment)

Adimas: jangan2 planet2 lain diluar tata matahari tuhannya itu muhammad amin

(Susunan kalimat yang absurd… Kalo planet di dalam matahari kira2 punya tuhan gak ya?)

Abdul Mu’iz: jangan-jangan again and again

(Ini ga penting…)

Lulu Lul: ayo diselidiki ada alloh gak di angkasa sana, kalo ada kita panggil dan ajak diskusi…:D

(Engg…)

Mas Bacht: bagaiamana kalau ribuan planet itu hanya elemen kecil dari “entitas” bernama Tuhan?

(Reflektif, ok)

Phikahariwangeun: Ssst . . . G usah terlalu jauh berpikir kesanalah bung min. Mendingan kita kembl kpd kehidupan sosial masyarakat kita yg banyak masalahnya. Dari pada kita terlalu jauh berpikir dari apa yg anda baca. Yg real aja min. . . Sdr kita masih banyak yg susah. . . Jangan so pinter dan anggap org lain bodoh. Itu sombong namanya. bcr thn bcr anda silahkan aja. Bg kami tidak ada thn kecuali Allah. . .

(Absurd emang nama tengahnya Amin, tapi si Adun ini ngomong apa sih? Realitas sosial? Tingkat arogansi Amin? Toleransi pada saudara? Kebodohan orang lain? Oh… ok ok, dia cuma mau baca syahadat…)

Me: Astaga, sungguh malang nasib Bung Amin ini, sudah “tolol”, sok pintar dan nganggap orang lain bodoh dengan status2nya pula… Haleluya!!

(Di-like 2 orang yang tidak ngejempol statusnya bung Amin itu sendiri, saya ngeri kalo sarkasme saya ga tertangkap :p)

Ardika: mending g ush brimajanasi aplg brkhayal klo smua itu cma takhayul,tdk ada Tuhan klo anda tdk menTuhankan…….dan tdk ada Dewa klo anda tdk menDewakan…..hanya Allah dzat pncpt Alam.

(Trilyunan planet di semesta ternyata cuma hasil imajinasi Amin. Amin maha besar… Oh, ada Allah lagi di komen ini -cium salib-)

Hava: and Ifrit bless Us

(Ga penting nomer 2)

Jimmi Zul: Tiada tuhan selain hidup. Dan tidak ada utusan hidup selain diri sendiri.

(…… Asik, saya bisa jadi tuhan selama saya masih hidup!)

H K Proletariat: ‎@Mina: Ini bukan dugaan, memang di dunia ini ada ribuan ”Tuhan” yg dibuat otak manusia, ada yg menuhankan duit, sains, google, dan sendal jepit, org Jepang yg beragama Shinto justru menuhankan dewa matahari, koruptor menuhankan duit, sebagian org juga tanpa sadar menuhankan Facebook, twitter, yg suka tangannya gatal jika sehari tak update status wkwkwwkwkwk

(Very well said, finally…)

***

Ya, begitulah Muhammad Amin yang kontroversial dan teraniaya dengan segala judgement. Yang penting di sini justru daya tangkap orang mengartikan sesuatu. Lebih tepatnya mungkin kemauan orang untuk mengerti suatu persoalan atau pemikiran sebelum melayangkan komentar, lebih tepatnya sebelum ‘mensyahadati bung Amin yang sesat’. Haha. Dari sebagian kalimat-kalimat Bung Amin, yang saya tangkap justru beliau ini mengkritik konsep tuhan di kepala manusia daripada tuhannya itu sendiri. Dia itu mengkritisi manusianya, bung! Tapi orang2 malah ribut membela tuhannya masing-masing yang katanya maha besar, kalau memang maha besar tentu tak perlu dibela :p

Jelas Amin memang kurang ajar, karena dia seperti tuhan, memberi petunjuk tanpa membeberkan detailnya, katanya “terdapat tanda-tanda kebesaran allah bagi orang-orang yang berpikir”, alias… lu pikir aja sendiri apa maunya allah, dan apa maunya Amin…

Tagged , ,

Two things are infinite: the universe and human stupidity; and I’m not sure about the universe. -Albert Einsten-

Apakah Einstein sedang dikuasai superioritas ketika mengatakan kalimat tersebut? Atau ia juga mengatakan dirinya bodoh? Pandangan skeptis yang tercermin dalam kutipan di atas bisa jadi benar (apalagi bagi seorang skeptis). Dalam banyak hal, manusia menunjukkan ketakmampuannya mengatasi keadaan, lihat saja betapa buku-buku “self help” laku di pasaran. Apakah buku-buku itu membahas isu besar dunia? Ya, di dunia individu, seperti mengupas bagaimana mendapatkan teman kencan dengan menunjukkan bahasa tubuh yang tepat misalnya. Atau bagaimana cara berpakaian yang tepat sesuai bentuk tubuh. Atau apa yang harus dikatakan ketika seseorang mempermalukan kita di depan umum. It’s all about how to do such simple yet ‘big’ thing.

Manusia memang terkadang membutuhkan bantuan menemukan/menyelesaikan hal sehari-hari. Bahkan satu jerawat bisa menghancurkan hari seseorang, hingga ia butuh foundation yang tebal untuk menutupinya. Ketika bulan puasa, saya seperti menonton live sinetron di warung-warung makan demi melihat beberapa wanita ber-make up dengan wajah masih super ngantuk, mereka tetap ingin terlihat cantik, good! Tapi saya melihat hal lain: bahwa sesungguhnya mereka tak PD keluar rumah apa adanya tanpa berdandan, mungkin sedikit judgemental, tapi bagi saya makan sahur di pagi buta bukan saat yang tepat untuk memoles wajah.

Pandangan kita terhadap dunia mau tak mau dipengaruhi dengan siapa dan bagaimana kita berinteraksi. Bila lingkungan sehari-hari dipenuhi orang-orang yang mementingkan penampilan, mekanisme penyesuaian diri kita akan terprogram untuk itu dan perlahan kita mulai memberi perhatian lebih terhadap penampilan. Bayangkan bagaimana reaksi kita ketika seorang kawan berkomentar “Ya ampun kita mau dugem, kok baju kamu begini, ga ada yang lain apa?” Resistensi orang memang berbeda-beda, sebagian mungkin bodo amatan, bagaimana dengan sebagian yang lain? Mereka akan belajar dandan sesuai ‘tuntutan’ sosial. Selalu ada titik ekstrim dan ada titik balance bagi setiap hal. Saya salut dengan orang-orang dengan prinsip kuat, tapi ini berbeda dengan kaku dan keras kepala. Katakanlah jas tak lebih baik dari sarung dan sebaliknya, tapi ketika ada orang mengenakan sarung ke mall, oh my gawd, that’s just… oh… well… (giggles)… Itu salah kostum, kehabisan celana, terlalu pede, cari perhatian, atau… completely out of his mind? Hal yang sama berlaku untuk make up, akan cantik digunakan di saat yang tepat. Oh rupanya saya sudah terdeterminasi hingga bisa mengatakan kapan saat yang tepat dan tak tepat mengenakan make up 😉 Sesuatu yang “wajar” secara sosial, bagaimanapun adalah konsensus dan sah-sah saja bila ada segelintir orang yang tak sepakat dan melakukan hal yang sebaliknya.

Lagi-lagi yang saya soroti adalah aspek kesadaran manusia, tema yang selalu menarik bagi saya. Apakah kita sadar dengan pilihan-pilihan kita? Bila itu bertentangan sesuatu yang ada di dalam kita namun tetap dilakukan demi diterimanya kita secara sosial, disitulah letak ke-tak-berdayaan seseorang terhadap lingkungan. Jangan khawatir, ini bukanlah tanda cacatnya integritas diri, ini hanya suatu bawaan gen purba yang secara alamiah ada dalam diri setiap orang, suatu gen yang memacu individu menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Awalnya konon berkaitan dengan defense mechaniscm di jaman purba, berada di dalam kelompok akan memberi peluang bagi kita untuk survive, plus memberi kesempatan beranak pinak. Hukum Survival of The Fittest -nya Oom Darwin berlaku.

Lalu di mana letak kebodohan manusia bila selalu ada pemakluman untuk setiap perilakunya? Pertanyaan ini sebenarnya sangat menggoda saya untuk ngomel tentang betapa bodohnya manusia… Dan agar tak terlihat segitu skeptisnya, saya berusaha tidak ngomel (Lihatlah betapa kalimat itu sendiri adalah suatu kebodohan besar: Saya mengatakan saya skeptis saat saya tak ingin dunia mengetahuinya). Betul kawan, kita kadang tak menyadari kata-kata yang mengalir dari diri sendiri. Misalnya saja men-tag beberapa teman di suatu post facebook tentang jerawat dengan berkata “Maaf ya aku sama sekali ngga ada niat nyinggung kalian, tapi kalian baca deh tips ngilangin jerawat ini.” Helloooo… kalau sadar postingan itu berpotensi menyinggung, kenapa diposting di tempat umum? Setahu saya bisa PM deh… Paling nggak kalo beneran tersinggung bisa diselesaikan in private juga.

Itu hanya satu contoh, saya bisa menyebutkan banyak contoh lainnya yang berhubungan dengan bahasa. Penting? Penting ga penting, bahasa mencerminkan intelektualitas seseorang. Bagaimana mungkin dapat efektif berargumen bila logika kalimat saja sudah cacat? Atau pengen dianggap cerdas dengan banyak mengeluarkan kata-kata macam BODOH dan TOLOL? Well… Saya sendiri segitu bodohnya karena sering mengucapkan kata-kata tak intelek itu. Tapi gini ya, berekspresi itu boleh, membenci suatu hal yang dianggap tak tepat juga silakan. Tapi kalau yang bisa dikatakan hanyalah BODOH TOLOL IDIOT TAI BABI tanpa disertai alasan yang masuk akal, orang paling idiot pun bisa melakukannya. Kata kuncinya bagi saya adalah masuk akal. Tak peduli sepanjang apa kalimat justifikasi untuk kata-kata itu, bila di dalamnya ada pertentangan mendasar, that’s fucking bullshit, you idiot… *giggles*

Mau contoh lagi? “Valentine merusak moral bangsa, menyumbangkan pundi uang ke kantong kapitalis, merayakannya bisa mengarah pada sex bebas, bukan budaya bangsa, hanya orang TOLOL yang merayakannya.” Saya tak perlu membahas keseluruhan kalimat ini, saya hanya akan mengambil sepotong: menyumbang pada kapitalis. Wajarkah itu dipajang di fb? Heeeeeeyyyyy what the hell you think you’re doing?

Pertama, bila si penulis adalah pengguna fb, dia sendiri telah berkontribusi terhadap perkembangan kapitalis. Bah! Kau pikir kenapa kau bisa fesbukan gratis? Karena fb sudah dapet jutaan dolar dari iklan2nya. Kenapa pengiklan mau bayar demi beriklan di fb? Karena penggunanya ajegile banyaknya (target market). Kenapa para pengiklan ini punya dana beriklan? Karena iklannya menghasilkan transaksi, pelurunya tepat sasaran mengenai target market. Oh oh oh tapi kau tak pernah belanja online? Baiklah, kau hanyalah setitik debu dalam suatu sistem besar yang kau nikmati dengan sangat namun kau kutuk. Hipokritkah itu? Atau hanya idiot?

Tagged , , ,
%d bloggers like this: