Category Archives: 30 hari 30 cerita

Menuju Yogya

Belum tuntas urusannya di kamar kecil salah satu kafe di Gambir itu, iPhone Matt berbunyi dari dalam ransel yang digantung di pintu toilet. Pasti Tiara, pikirnya. Sejauh ini hanya ada tiga orang yang mengetahui nomor Indonesia tersebut. Hardi tak mungkin menghubunginya setelah apa yang terjadi. Ika pun, ia tak memliki alasan menghubungi Matt tengah malam begini.

Masih dengan tangan basah selepas cuci muka, Matt buru-buru menyambar handuk yang menjuntai dari dalam ransel, mengelap wajah dan tangannya sambil lalu sebelum merogoh-rogoh mencari telepon tersebut. Sudah mati. Ia beralih lagi ke handuknya untuk mengeringkan diri.

Matt beranjak lagi ke sudut nyaman yang malam ini menjadi daerah teritorialnya. Menghubungi Tiara.

“Hi, how is it going?” sahut suara di ujung sana tanpa basa basi.

“Hi Teeyarah, the last train to Yogya was at 9 pm, so… it’s’ too late now.”

“Ah ok, what you gonna do then? Finding a hotel?”

“I’m too tired for that, I’m just gonna spend the night here on the station, I found some cozy corner at a café, it’s pretty cool. Anyway, thanks for checking me in.”

“No problem, I’m just wondering if everything’s okay with the lost boy. Just give me a call if there’s anything I could do for you.” Tutur Tiara manis.

“Awww… Thank you so much, I appreciate that, I’ll take the earliest train tomorrow, I’ll let you know later.” Matt menjawab seraya tersenyum, selalu mengharukan mengetahui ada orang yang peduli saat kita jauh dari rumah.

“Okay then, you have a good rest, and stay safe ya!”

“Good night.”

Setelah menyetel alarm, iPhone pun dimatikan demi menghemat baterai. Jaket hitam tipis dengan tudung kepala sudah terpasang, lalu Matt meringkuk berbantalkan ransel besar dan memeluk ranselnya yang lebih kecil. Pegawai kafe itu menoleh ke arah Matt, memandangi badannya yang meringkuk sedemikian, dan bergumam, “Dasar backpacker!”

***

Cahaya mentari di luar stasiun masih semburat malu-malu saat Matthew terbangun pukul lima, selama beberapa detik bingung di mana dirinya berada. Masih ada waktu beberapa jam sebelum kereta paling awal pagi itu berangkat. Ia pun terlelap kembali hingga setengah jam kemudian, hanya sesaat sebelum alarmnya berdering.

Masih linglung, ia menyapukan padangan ke sekitar, ada beberapa pengunjung lain yang sedang menikmati kopi panasnya, mungkin menunggu jemputan, mungkin pula menunggu keretanya berangkat. Matt melangkah lagi ke kamar kecil untuk membasuh wajahnya. Kemudian ia memesan secangkir cappuccino panas dan dua potong donat keju untuk sarapan. Sebenarnya saat itu ia lebih menginginkan sandwhich dengan potongan sayuran dan daging, namun ia harus puas dengan pilihan yang ada.

“Can I have a walk for a minute and leave my stuff here after finishing my breakfast?” tanyanya pada kasir yang segera terbengong-bengong lalu celingukan seraya memanggil-manggil temannya, mencari bantuan penerjemahan. Ia bukan petugas yang sama dengan yang semalam, tapi untunglah temannya yang semalam memberi ijin Matt “menginap”, shiftnya belum usai. Ia muncul dari dapur membawa pesanan makanan pelanggan. Matt menanyakan hal yang sama, dijawab dengan anggukan, diikuti tangan kanan yang menunjuk bawaan Matt, lalu menunjuk ke bawah kakinya, menginstruksikan agar Matt lebih baik menaruh barangnya di balik counter, mereka akan menjaga barang-barang itu untuknya. Matt sangat berterimakasih pada kedua petugas itu, karena ia bisa setidaknya berjalan-jalan menikmati pagi beberapa saat tanpa membawa semua barangnya yang berat itu.

Di Stasiun Gambir, ada beberapa penitipan barang berbayar yang terletak di dekat toilet, tapi Matt tak tahu dan itu membuatnya berimprovisasi tanpa harus mengeluarkan ongkos tambahan. Terkadang solo traveler adalah diplomat yang handal, terutama di saat-saat genting.

Seusai sarapan seadanya dengan dua donat, kopi dan beberapa teguk air putih, Matt pun melenggang keluar dari stasiun. Tak lama kemudian… Monas!!! Ia baru sadar di mana dia berada, lalu terkekeh pada diri sendiri. Dari sekian banyak tempat di Jakarta yang bisa dikunjunginya dalam 24 jam terakhir, ia terpaku di depan monumen ramping itu, dua kali. Kurt Cobain mini keluar lagi dari rumahnya di daypack berwarna hitam, berpose lagi berlatarkan Monas, kali ini dengan langit yang mulai terang namun masih bersemburat jingga.

Sekembalinya ke stasiun Matt langsung membeli tiket kereta paling awal yang bisa membawanya segera ke Yogya. Dalam keadaan normal, sejak semalam mungkin ia sudah hitchhike dari Jakarta ke mana saja selama arahnya ke timur, sesuai dengan rute perjalannya. Tapi itu tak dilakukan. Mungkin lelah perjalanannya kebetulan terakumulasi dan mencapai puncaknya di Indonesia. Seusai membayar batinnya merutuk, thirties fucking bucks for a one way train ticket!

Akhirnya tibalah saatnya memasuki gerbong kereta eksekutif itu, keluhannya tentang betapa mahal harga yang harus dibayar demi sebuah tiket kereta segera –sedikit—teredam. Interior yang terang dan bersih, hawa AC yang nyaman, semua memberi kesan sedikit mewah. Tak mengecewakan untuk tiket semahal itu. Tunggu saja hingga ia ditawari makanan kereta yang sering mengecoh “unexperienced passengers” karena dikira gratis, padahal tak pernah gratis itu.

Baru sesaat setelah duduk ia teringat pada iPhonenya yang belum dinyalakan, ia segera menghubungi Tiara.

“Good morning, Teeyarah! How are you?”

“Hey, I’m good, just woke up.”

“Did I wake you up? I’m sorry…”

“No. I’ve been awake for maybe ten minutes. What’s up?”

“Guess what? I’m already on the train! I will be there in eight hours, will you be home?” nada ceria begitu terasa dari suaranya, yang segera menular ke ujung satunya.

“Yay! Congrats youuuu! If you’re taking one from Gambir I bethca will get some decent sleep along the way, because I think only executive ones departure from the station? I’m not sure though because it’s been a while for me not taking a train from Jakarta and I heard the business and economic class are now all as well cozy. Anyway, I don’t know if I’d be home by the time you arrived, just ring me when you’re in Yogya.”

“Will do. I will need that, I mean to get some sleep but I’m very excited about going to Yogya, sleeping would be difficult at this point!”

“Hahaha, just enjoy your trip, as you’re on the day trip you’ll be able to see some nice sceneries along the way, and remember if the train attendants offered you some dishes or drink, it’s never for free. Well sometimes tickets come with snacks, but just ask first.”

“It’s good to know, thanks!!!”

“Welcome! I’ll see ya soon!”

Tak lama kemudian, kereta merayap perlahan tepat seperti yang dijadwalkan.

Tagged , , , , , , , ,

Gambir

Sudah menjelang tengah malam saat Matt akhirnya tiba di Gambir, selama perjalanan ia mengenali beberapa lansekap yang tadi siang dilaluinya. Akhirnya, terlampau lelah karena kurang tidur, ia pun tak lagi tertarik pada pemandangan Jakarta di malam hari, ia memanfaatkan waktu di taksi untuk mencari jadwal keberangkatan kereta ke kota tempat Tiara menunggunya, bila ternyata tak ada keberangkatan tewat tengah malam ini, Matt terpaksa menghabiskan malam di stasiun itu.

Situs demi situs dikunjunginya dan ia tak menemukan kereta malam ke Yogyakarta, ia tak akan mencoba ke terminal bus atau mencari hotel. Ia sudah pasrah saja bila harus menginap di stasiun, toh itu biasa dalam sebuah perjalanan, untuk menghabiskan waktu menunggu di tempat umum. Ia hanya harus memastikan segala barang bawaannya aman. Biasanya ia akan tidur di lantai atau kursi panjang bila ada, sembari memeluk tumpukan kedua ranselnya agar barangnya lebih terlindung dari jangkauan tangan-tangan nakal.

Kantung mata kini mulai nampak di wajah Matt yang coklat kemerahanan terbakar matahari tropis. Ia menyandarkan kepala ke jok mobil sembari memejamkan mata, memikirkan apa yang barusan dialaminya. Orang itu sungguh gila, bagaimana mungkin seseorang semarah itu hanya karena ditolak ajakannya clubbing? Matt pernah bertemu dengan banyak orang aneh, tapi Hardi benar-benar sakit jiwa. Dari cara Hardi tertawa, Matt menangkap memang ada sesuatu yang tak wajar. Matt mengingat-ingat kembali mengapa ia menerima tawaran lelaki itu, padahal sejak awal ia tak terlalu “klik” melihat rona wajah Hardi.

Bagaimanapun, perjalanan yang dilakukannya ini lagi-lagi bukan soal perpindahan geografis dari satu tempat di atas peta ke tempat lain. Ia ingin menjadi orang yang lebih baik, termasuk lebih bisa berbaik sangka terhadap orang lain, terlebih pada orang yang menawarkan sebuah kebaikan untuk membuka rumahnya untuk disinggahi. Apa dosa Hardi saat itu, bila belum apa-apa Matt sudah mencurigainya? Lagipula kita hidup dengan berbagai jenis orang, apa salahnya sedikit saja berusaha lebih terbuka dan mengerti orang lain? Segala pertanyaan itu, akhirnya menyeret Matt pada keputusannya menginap di rumah Hardi selama di Jakarta, yang ternyata berujung sekedar menitipkan barang seharian. Tak jadi menginap, tak ada cerita berakrab ria dengan kehidupan malam Jakarta seperti yang direncanakannya. Lagipula, kehidupan malam macam apa lagi yang dicarinya setelah puas berkelana di Thailand? Walau sadar pengetahuannya termasuk minimalis soal traveling, ia yakin kehidupan malam di Thailand lebih “wah” dibanding Jakarta. Paling tidak dia tak pernah mendengar Jakarta mempromosikan klub striptis sebagai daya tarik wisatanya.

Nyatanya memang Matt tak banyak tahu tentang Indonesia, selain sebagai kepulauan surga tropis dengan barisan pantai dan kebudayaan yang konon eksotis. Pun baru tadi siang ia mendengar bahwa Indonesia memiliki populasi penduduk muslim yang jumlahnya banyak sekali itu. Ia pernah bertemu seorang Perancis di sebuah bar di Kuala Lumpur, lalu mereka tiba-tiba terlibat obrolan seru tentang keragaman budaya KL. Bayangkan, di kota itu, warga muslim melayu mengenakan busana tertutup, kontras dengan warga beretnis Cina yang dengan nyamannya melenggok dengan busana minimalis dan ketat, sementara yang keturunan India melenggang dengan busana mencolok mata berkat warna jreng-nya. Tak ada konflik. Entah karena toleransi sudah begitu mengakar sebagai bagian dari budaya Kuala Lumpur, atau… masyarakatnya terlampau sibuk untuk mengurusi hal-hal yang hingga kapan pun akan senantiasa ada: perbedaan.

Di Perancis sendiri sebagai negara maju, perbedaan tak dipandang demikian. Perbedaan dan kebebasan berekspresi masih menjadi isu. Ada upaya pelarangan bagi wanita muslim di sana untuk memakai jilbab di tempat umum. Berkat Islamophobia yang marak di negara-negara barat, dan banyaknya kaum agnostik dan atheis yang cenderung enggan mengurusi isu-isu religi, aturan itu tak mendapat banyak perlawanan sehingga dengan leluasa diterapkan di tempat-tempat umum, juga oleh para pemilik toko, kafe atau restoran yang enggan tempatnya disambangi para wanita berjilbab. Namun pada akhirnya kontroversi yang lebih santer tak dapat dihindari, kaum muslim dan para pendukungnya merasa ada hak-hak yang dilanggar, sementara kaum feminis, yang notabene tak mendasarkan diri pada “islamophobia” dalam  membangun argumennya, menganggap jilbab sebagai upaya penindasan hak asasi perempuan. Budaya patriarki dalam Islam terus menindas perempuan hingga bahkan ke ranah ‘cara berpakaian’. Kaum feminis ini mengajukan satu pertanyaan mendasar, “Bagaimana bila apa yang dipikir sebagai kebebasan, ternyata bukan kebebasan sesungguhnya?” Tak ada yang “bebas” dari kewajiban menutup kepala, alasan menutup aurat demi menghindari mengundang birahi pun tak dianggap cukup kuat. Bagaimana tidak? Angka kekerasan seksual di negara yang represif secara seksual seperti Arab Saudi ternyata lebih tinggi dibanding negara yang secara seksual jauh lebih bebas seperti Swedia. (perlu riset lebih jauh tentang ini).

Kata Islam bagi Matt, walau tak separah beberapa temannya yang mengidentikkan agama itu dengan terorisme, namun selalu mengingatkannya pada satu kata: represif. Dipikir-pikirnya lagi, apa menariknya tawaran Hardi untuk clubbing di Jakarta, di ibukota negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia? Clubbing heboh dan pesta seru macam apa yang mungkin terjadi? Konsep kehidupan malam yang glamor dan penduduk mayoritas muslim sungguh tak bisa dicernanya. Saat ini ia membayangkan apa mungkin ia menenggak bir selama sebulan ke depan perjalanannya di Indonesia? Akan sedikit mengerikan kalau ia tak bisa minum bir selama sebulan, batinnya.

Walau sudah mencari berkali-kali di telepon genggamnya, dengan pikiran yang kemana-mana, setiba di stasiun Matt masih memastikan jadwal kereta sekali lagi. Kereta terakhir hari itu sudah berangkat pukul 21.00 lalu, dan ia… sangat kecewa, walau sudah tahu dari hasil pencarian di internet bahwa tak ada kereta ke Yogya lewat dari tengah malam. Insting travelernya memerintahkan segera menyusun strategi mencari tempat terbaik untuk tidur. Ada kafe dan restoran yang buka 24 jam di Gambir, tapi sepi pengunjung saat Matt tiba. Sebagai turis, ia tak tahu jam ramai dan sepi, tapi apa salahnya bertanya apa ia boleh “kemping” di salah satu kafe itu.

Ia pun memesan secangkir teh di salah satu kafe dan mencari tempat duduk di sudut sepi dekat jendela, dipikirnya, tempat lebih tertutup di stasiun seperti dalam kafe ini selalu lebih aman ketimbang di area yang lebih terbuka. Ia lantas melangkah kembali menuju petugas di belakang counter, mengandalkan kemampuan diplomatis seadanya untuk diijinkan merebahkan badan di sudut jendela yang dipilihnya. Petugas itu agak berpikir sebelum berkata apapun, namun memutuskan tak tega melihat wajah lelah Matt, lalu mengizinkannya tidur dengan menjejerkan dua kursi kafe agar bisa sekedar meluruskan kaki. Petugas yang sama lalu mendapat tugas mengawasi ransel besar Matt sementara pemiliknya ke toilet, mengosongkan kemih dan sedikit membersihkan diri sebelum tidur. Di sudut kafe berpencahayaan terang benderang itu, seorang bule malang akan tidur sangat nyenyak malam ini.

Tagged , , , , , , , , , , , ,

Let’s Bus A Take?

Beberapa detik kemudian iPhonenya berdering, “Matt! Wait. Are you sure you have no idea where you are? Like in which part of Jakarta, central, west, east, anything like that? You have GPS on your phone, right? We’re just gonna… I’m not gonna send you the text, guide yourself with the GPS to bigger street, because it’s easier to reach public transportation from bigger streets. Find out in which part of Jakarta you are because I will send you to the nearest train station, so I need to know where exactly you are. Wait. Am I going too much about the whole thing? I’m not underestimating your ability to survive, nor do I know your actual condition, whether you were lost like the traveler’s usual lost or the I-don’t-know-what-to-do kinda lost, but I feel this sense of responsibility as you are in my country and you sound like… I don’t know, lost.”

Matt tak memiliki kesempatan barang sedetik untuk menjawab satu saja dari rentetan pertanyaan itu, tawanya nyaris terhambur saat mendengar nada khawatir dalam suara Tiara tapi ditahannya hingga wanita itu selesai bicara. Sepersekian detik setelah Tiara nampaknya selesai, tawa Matt pun meledak. Ia tak mau membandingkan, tapi Tiara mengingatkannya pada ibunya di Amerika sana. Caranya mengajukan rentetan pertanyaan, nada bicaranya saat mengkhawatirkan sesuatu, dan tentu saja intensitas emosional yang ditularkan pada Matt. Sesuatu yang tulus sedang dialaminya, dan itu datang dari seorang asing bernama Tiara. Ya Tuhan, Matt bahkan tak tahu siapa nama lengkap Tiara.

Serta merta saat Tiara belum lagi menyemprotnya untuk menghentikan tawa sialan itu, Matt menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia hanya perlu waktu berpikir sedikit untuk memikirkan langkah sistematis menuju Yogya. Tapi ia baik-baik saja dan semuanya dalam kendali. “I mean thanks, I really appreciate what you did, and I’ll do exactly what you told me to do, Ma’am!”

“That’s silly,”

“You’re not, what you told me to do isn’t silly either.”

“The ma’am part is.”

“Oh,” keduanya terkikik lagi sebelum mengakhiri panggilan telepon.

Pikiran Matt kali ini lebih bisa diajak bekerja sama, sesaat ia merasa bodoh, ah tidak, Tiara yang membuatnya merasa bodoh, ia sendiri tak bodoh, begitu gumamnya. Ia hanya memerlukan sedikit waktu berpikir, menjelajahi internet untuk beberapa info praktis di kota Jakarta, lalu mencari kendaraan umum menuju stasiun itu saja. Tapi wanita Yogya itu membuatnya terlihat ia seperti traveler tak berpengalaman dan cengeng, yang tersesat di kota besar saja sudah harus mengadu ke seorang wanita. Ia terus menyalahkan Tiara atas perasaan buruknya terhadap diri sendiri. Tetapi senyum lebar kini menghiasi wajahnya.

***

Kini Tiara akan mengirimnya ke stasiun kereta terdekat, tapi sebelum menginfokan Tiara di mana GPS-nya mengatakan dirinya berada, Matt, dalam upaya putus asanya, mencari jadwal bus. Sepuluh menit yang tak membuahkan hasil dan malam beranjak larut, ia harus bergerak cepat, paling tidak ke tempat yang lebih ramai. Ia pun menyerah, ia memberitahu Tiara bahwa ia ada di sebuah wilayah di Jakarta Pusat. Tiara menyarankan, agar Matt segera menuju jalan protokol terdekat untuk mencegat taksi, menanyakan harga di awal, minimal perkiraan harga sebelum naik menuju Gambir. Maksimal 30 ribu rupiah, begitu kata Tiara, tak buta kenyataan bahwa selalu akan ada orang yang mengambil untung dari ketaktahuan orang lain.

***

Di rumah Hardi, kedua ekspat menanyakan ada masalah apa dengan Matt, tepat saat Hardi menginjakkan kaki di ruangan dengan TV LCD 36 inchi.

“Ga ada masalah kok, dia minta dicariin cewek Indonesia for tonight, gue tolak lah, kan ngerendahin banget as if dia bisa datang seenaknya dan dapet cewek begitu aja. Typical arrogant tourist who thinks every local girl wants to sleep with bule. He pissed off as I said no to the stupid request,” jawab Hardi dengan wajah yang disetel tersinggung.

“Yea man, that’s bloody ridiculos, sometimes whiteys are so arrogant to behave like they own the world. I am white but I never liked such arrogancy, you know?” seorang lelaki Inggris berkomentar pedas terhadap perilaku Matt.

“Itu tidak baik, right? You travel ke negara mana saja with respect. Otherwise, piss off, Jeez!!!”

“Yes, true,” senyum tipis terlihat dari wajah Hardi, menyadari ia berhasil membuat kedua teman rumahnya percaya pada cerita tentang Matt. Tapi tak ada yang menyadari senyuman tipis itu, mereka berganti fokus sesekali dari layar TV, memandang satu sama lain, memandang Hardi, lalu beralih kembali ke TV. Hardi puas dengan reaksi yang didapatnya, lantas mengajak keduanya menuju salah satu kafe di Kemang untuk menikmati bir dan bersosialisasi dengan makhluk malam Jakarta lainnya.

***

Tak juga beranjak dari rumahnya yang kembali beraroma kopi, Tiara mengaktifkan laptopnya kembali, membaca ulang profil Matt karena ia yakin pasti melewatkan sesuatu di profil tersebut, profil yang mengesankan Matt seorang yang cerdas dan lucu. Sepertinya tak ada yang terlewat, kesan sedikit ceroboh (dan bodoh) yang didapatnya lewat obrolan telepon barusan pastilah karena Matt lelah. Itu saja.

Rasa lelah atau ngantuk terkadang membuat kita melakukan hal-hal konyol. Pernah suatu kali saat traveling berdua di Bangkok, Tiara dan mantan kekasihnya berjalan kaki berkilo-kilo meter. Berjalan kaki selalu menjadi pilihan menyenangkan karena bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih dekat dan detail, namun malam sebelumnya mereka clubbing hingga dini hari, berjanji tak akan ada yang mabuk. Mereka pun memasuki klub malam itu, Tiara sok cool mendapati banyaknya wanita mengenakan bikini saja. “Demi tuhan ini bukan pantai! Wow!” batin Tiara, tapi ia tak sedang mengkritik suatu budaya atau prostitusi terbuka macam itu. “Tunggu, apa itu di ujung sebelah sana? Oh baiklah, topless. Hahaha. I love Thailand!” ia terus saja membatin sambil membiasakan diri dengan apa yang ada di club itu. Banyak wanita lokal, dan prianya, tentu saja kebanyakan berkulit putih.

Kekasihnya melingkarkan tangan di pinggang Tiara, mungkin sekedar meyakinkan ia tak akan berbuat macam-macam. Namun tak sedikit wanita di bar itu terang-terangan merayu kekasihnya, sebelum kemudian membelai tangan Tiara, menawarkan threesome. “Hun, can I have a drink?” kata Tiara sesaat setelah berhasil lepas dari walah satu wanita di sana. Mereka tak juga beranjak karena sensasi berada di klub itu bukan sesuatu yang akan mereka rasakan setiap hari.

“I need one too,” balas lelaki itu. Tapi mereka sama-sama berjanji harus ada yang tetap sadar sebelum malam berakhir. Keduanya mabuk, lalu bangun kesiangan dan ngotot berjalan kaki. Setelah beberapa kilometer, Tiara menyerah, “Can’t we just bus a take?”

“What?” pasangannya menatap keheranan.

“Umh. Take a bus.” Tiara sangat malu, walau sadar bahasa Inggris bukan bahasa-ibu-nya. Kurang tidur, rasa lelah dan alkohol memperlambat fungsi otaknya, mungkin itu yang sekarang terjadi pada Matt.

Tagged , , , , , , , , , , , ,

Guardian Angel and Evilish Devil

Sebelum menghubungi hostnya di Yogya, masih dilingkupi kekesalan, Matthew menyempatkan diri untuk mempelajari profil Tiara melalui iPhone-nya, hal yang sudah menjadi semacam etika tak tertulis. Karena seorang calon surfer atau tamu yang baik harus mempelajari dahulu aturan-aturan di rumah yang akan disinggahinya walaupun hanya untuk beberapa malam. Matt pun ingin sedikit banyak tahu, orang macam apa yang akan dijumpainya itu.

Ia perlu mengeluarkan unek-uneknya, memaki dunia. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah bisa dilakukannya saat bertemu Tiara nanti? Itu sebenarnya yang perlu diketahui Matt. Ia hanya perlu menuangkan kepenatan pada orang yang mengerti bahasanya, atau bahkan yang tak mengerti sama sekali, namun mau mendengarkan tanpa menghakimi. Itu saja. Ia akan sangat berterima kasih pada dunia bila dipertemukan dengan orang semacam itu. Sambil memandangi wajah oriental Tiara di layarnya, tiba-tiba, ia ingin Tiara, wanita yang belum dikenalnya, menjadi orang yang dibutuhkannya. Ia ingin Tiara mendengarkan.

Dihisapnya dalam dalam batang Marlboro Light yang tinggal setengah di antara jari tengah dan telunjuk, ia nyaris tersedak asap rokok saat membaca Tiara menuliskan “pretty well behaved” di bagian “education” di profilnya, pernyataan konyol yang berhasil menguapkan rasa kesal walau sedikit. Ia menyukai profil Tiara. Sepertinya wanita yang menyenangkan walau terlihat agak konyol. Mudah-mudahan juga seorang pendengar yang baik. Ia betul-betul memerlukan seorang pendengar yang bersedia hanya berada di sampingnya, menampung segala keluhnya saat itu.

Tentu bukan sekali ini ia terpaksa terlibat dengan orang yang begitu menyebalkan dalam rangkaian perjalanan Asia-nya. Tetapi orang-orang menyebalkan ini biasa dijumpai di jalanan berwujud scammer yang memanfaatkan minimnya pengetahuan para turis tentang suatu wilayah dan budaya, demi keuntungan materi. Atau berwujud para turis menyebalkan yang mengeluh setiap saat tentang apa yang dilihatnya. Toliet yang jorok lah, kebiasaan penduduk lokal yang mengganggu lah, transportasi yang tak nyaman lah, cuaca tak mendukung lah. Matt selalu berpikir, untuk apa mereka “melihat dunia” bila hanya bisa mengeluhkan apa-apa yang tak sesuai keinginan dan standar mereka. Lebih baik tak usah kemana-mana saja.

Traveling bukan semata-mata mencari kesenangan, terkadang seseorang perlu mejelajahi dunia hanya untuk menemukan dirinya sendiri. Dalam segala kejadian buruk yang menimpanya, Matt selalu berusaha mencari sisi terang. Ia percaya silver lining, garis perak yang membingkai setiap awan kelabu. Selama perjalanannya, ia senantiasa berhasil membingkai segalanya dalam sebuah garis perak indah, walau terkadang perlu waktu menemukan (atau menciptakan, tergantung dari mana melihatnya) garis tersebut. Namun tak sekali jua ia mengijinkan harinya kacau hanya karena sebuah kejadian buruk. Move on bagi seorang pengelana seperti Matt memiliki makna lebih, yang bukan hanya move on dari sebuah masalah, tapi juga move on dari satu lokasi ke lokasi berikutnya tanpa mengikutsertakan segala permasalahan ataupun menyeret awan kelabu yang hanya akan mengganggu perjalanan.

Namun di malam yang murah hati mulai menurunkan gerimis itu, Matt menyadari satu hal, ia tak pernah benar-benar move on. Ia berusaha secara konstan memanipulasi diri agar percaya bahwa ia selalu bisa move on. Kasihannya, dirinya benar-benar percaya ia betulan berhasil menjadi seorang bijak yang dapat memilah dan meninggalkan apa yang harus ditinggalkan. Tidak. Kebrengsekan Hardi berhasil membangkitkan amarah-amarah yang selama ini tersembunyi rapi jauh sekali di dalam dirinya, amarah dan kekesalan yang bahkan tak disadarinya ada. Tapi perasaan-perasaan destruktif itu hadir kini, bangkit entah dari mana hingga Matt pun semakin marah. Kali ini karena menyadari bahwa dirinya tak pernah benar-benar move on seperti apa yang diyakini. Ia hanya meninggalkan masalah, bukan menyelesaikan seperti yang seharusnya sebelum melangkah lagi. Tak heran sisa-sisa kemarahannya masih ada, terakulumasi tanpa sadar dan siap meledak saat sesuatu memicu.

Kontemplasi itu lagi, hal yang belakangan sedang berusaha Matt hindari karena semakin merenung, semakin ia membenci dirinya akibat ketakmampuannya mengatasi diri sendiri. Sebatang lagi Marlboro Light menyala, gerimis masih halus menyapa, menghembuskan sedikit udara segar di tengah sumpeknya Jakarta.

Matt menghubungi nomor yang dikirimkan Tiara melalui email. Tak ada jawaban. Rasa gelisahnya semakin menjadi. Apa yang harus dilakukan? Dihubunginya nomor Tiara sekali lagi, berharap kali ini akan diangkat.

“Halo?” suara lembut Tiara menyahut di ujung sana.

“Hi, Tayara? This is Matthew Flanagan, I know this is a bit late and I supposed to go there in two or three days but are you up for a stranger tomorrow morning?” tanya Matt langsung ke pokok permasalahan.

“Huh? It’s Tee-ara” Tiara tak mengantisipasi telepon dari orang asing itu hingga ia perlu mencerna beberapa saat sebelum bisa berbicara.

“Hi Tee-yarah. Yeah I know. I don’t know where I am at the moment and I just feel like going there tonight, do you think it’s possible? I haven’t even checked any possible transportation to get me there like now.”

Tiara tak menjawab pertanyaan, ia justru terpaku pada Matt yang tak tahu dirinya di mana, “What do you mean you don’t know where you are?”

“It’s a long story,” jawab Matt sambil tertawa-tawa.

Ada sesuatu yang tak enak dirasakan Tiara dalam tawa Matt yang terkesan dipaksakan. “Where are you now?”

“I wish I knew,” cetus Matt lagi, kali ini ia tertawa lepas, karena ia sudah memberitahu Tiara sebelumnya ia tak tahu ada di mana.

“Oh sorry, you told me before. Why so soon? I mean you are very welcome here but what happened? How’s Jakarta been treating you?”

“The city has been nice to me but my guardian angel told me to leave the town as soon as possible.”

“Oh, really?” Tiara bercanda setengah sinis, merasa Matt menyembunyikan sesuatu. Sebagai orang asing, Tiara bisa menghargai itu, “Do you also have a devil with you? What’s the devil told you?”

“He didn’t tell me anything, not even a clue what should I be doing right now in the middle of nowhere, that’s why it’s an evilish devil.” Lagi-lagi tawa tersembur, keterhubungan keduanya tercipta kuat saat itu.

Tiara prihatin pada bule nyasar satu itu. Ia menginstruksikan pada Matt, seolah lelaki itu seorang anak kecil dengan masalah belajar, untuk bertanya pada orang sekitar, bagaimana caranya ke stasiun. “Just any station, I’ll give you a list of train stations in Jakarta. Ask for the nearest one. I will send along a text in Indonesian, all you need to do is to show them my text, okay?”

“Will do, Ma’am” tawa renyah lagi-lagi keluar dari mulut Matt.

“Shut up. Save your battery.” Matt tak tahu maksud Tiara dengan baterai, apakah baterai HP, atau energinya. Wanita itu sungguh lucu.

Tagged , , , , , , , , , ,

Homophobe

Aroma kerak telor di kamar langsung menyambut kembali Hardi yang barusan dari kamar mandi, ia sudah segar dan wangi lagi walau matanya masih agak sembab akibat tidur pulas beberapa jam. Matt terpejam di atas tempat tidur sambil memegang perutnya dengan sebelah tangan, kekenyangan. Tangan lainnya masih menggenggam iPhone seselesainya membaca email dari Tiara. Ia akan menghubungi wanita itu nanti.

Hardi yang tadinya tak bermasalah dengan kerak telor mendadak jengkel kamarnya dipenuhi aroma mengganggu itu. Ia baru sadar setelah hidungnya mulai netral sekembalinya dari kamar mandi. Semua ini gara-gara Matt, seharusnya bule satu itu minta ijin dulu pada pemilik kamar, apa boleh makan di kamar. Bukan seenaknya membuka bungkus makanan yang sekarang baunya nempel, belum lagi remah-remah serundengnya yang mengotori meja di samping tempat tidur Hardi.

Seraya mematut diri di cermin, ia melirik pada Matt, “Are you ready?” tanya Hardi memendam rasa tak sukanya terhadap pendatang baru di kamarnya itu, bersikap seolah tak ada apa-apa.

Matt membuka matanya dengan malas menuju wajah di cermin dengan pandangan bertanya-tanya. Ia tak ingat pernah membuat janji dengan Hardi, “What? Where?”

“Have a drink somewhere, or partying around?”

“Oh well I’d really love to, but I feel really worn out tonight, can I just stay here?”

“Are you sure? Come on! This is your first night in Jakarta, bro! First night in Indonesia! We should celebrate tonight! There would be a lot of hot chicks you can flirt with.” kata Hardi berapi-api setengah memaksa.

Matt tak suka apa yang barusan didengarnya, setengah mati ia mengumpulkan uang demi keliling Asia, demi pemahaman yang lebih baik tentang manusia dan budayanya, demi lebih bisa menghargai orang lain, hanya untuk dicap sebagai orang yang mau mengorbankan sinyal tubuhnya yang meraung minta istirahat demi… wanita-wanita seksi di klub malam? Selain merendahkan dirinya, ia pun tak suka cara Hardi bicara tentang wanita. Entahlah, Matt bukannya tak pernah bercanda tentang wanita, itu biasa dilakukannya dengan teman-teman dekatnya di Amerika sana, mereka bahkan tak jarang menggosipkan para wanita malang itu, tapi semua semata-mata bercanda, berbeda dengan cara bicara Hardi yang tak terdengar seperti bercanda, tak lucu, begitu menyebalkan dan merendahkan. “Only because it’s my first night here doesn’t mean I have to be up all night long for some hot chicks, bro. But thanks.” pungkasnya tajam dengan tekanan di kata ‘bro’.

Wajah kuning langsat Hardi memerah, tak suka kemurahan hatinya menyediakan kamar gratis dibalas dengan keberanian sang tamu melempar komentar pedas. Bagaimanapun, ia yang punya otoritas penuh di ruangan itu, lawan bicaranya hanyalah tamu. Tamu seharusnya sopan. Seharusnya ditampung saja sudah berterima kasih, sudah bersyukur. Bukan membuat kamar menjadi bau. Bukan menantang tuan rumah. Bukan menyindir keakraban tuan rumah dengan penekanan ‘bro’ yang sengaja dilebih-lebihkan. Hardi merasa terhina. “Yeah you’d rather spend the whole time here in this smelly room, thanks to your silly kerak telor, the cheap food not even faggots want to eat!”

Darah terpompa lebih deras ke seluruh tubuh Matt, membuat kepala dan dadanya terasa hangat dan nafasnya lebih berat. Ia serta merta terduduk tegak dan menatap tajam pada Hardi yang kini sudah berbalik membelakangi cermin, berdiri menghadap Matt. “What the? What is your problem, Hardi? If your life is even HARDER than your name, you have no right to judge people’s sexual orientation!”

“See? You’re a faggot!” Hahaha, tawa histeris Hardi menyiratkan sesuatu, bahwa Matt akan percuma saja meladeni argumen apapun yang keluar dari orang yang bisa tertawa histeris macam itu.

“Listen. Seek help. You have some issue. Oh WAIT. You don’t. You’re just an A-HOLE. I’m so sorry for you.” Berlawanan dengan Hardi yang nada bicaranya seperti di luar kendali, Matt tampak menguasai keadaan dengan tetap membuat suaranya terkontrol. Tajam, datar dan rendah. Namun wajahnya merah dan matanya seperti singa siap menerkam korbannya.

Ia serta merta bangkit dari tempat tidur, buru-buru mengemasi barangnya, untung saja ia tadi agak berhati-hati saat mengeluarkan handuk, baju ganti dan perlengkapan mandi, hingga sekarang tak perlu berlama-lama membereskan semuanya kembali. Napasnya memburu menahan emosi, sekali lagi Hardi memprovokasinya ia bisa saja meledak dan menghantam Hardi dengan kepalannya yang sudah lama sekali tidak digunakan. Ia tak butuh memukul orang sekarang. Ia hanya perlu pergi secepatnya dari rumah itu.

Hardi menyaksikan semua itu dengan wajah sinis dan dengusan nyinyir, ia hendak meluncurkan cercaan lain untuk memancing emosi lawan, sebelum dilihatnya kilatan di mata Matt yang membuat Hardi ciut di kandang sendiri. Matt rak perlu dipanncing rupanya. Tapi ia hanyalah orang asing, sementara Hardi si penghuni rumah, lebih mengerti keadaan, lebih tahu situasi dan lingkungan, lebih mudah mencari dukungan atau bala bantuan bila diperlukan. Tapi jaraknya dengan Matt terlalu dekat, ia akan babak belur sebelum sempat meminta bantuan teman-teman di rumahnya. Lagipula, berurusan dengan polisi adalah hal terakhir yang dibutuhkan Hardi dalam hidupnya. Ia hanya butuh pasokan alkohol secepatnya. Malam itu juga. Saat itu juga.

Beban belasan kilo segera berpindah ke punggung Matt, dengan napas memburu, bergulat menahan diri agar tak melukai siapapun, tanpa ragu ia membanting pintu di belakangnya, meninggalkkan Hardi, melewati dua orang ekspat di ruang TV lantai bawah yang keduanya memandang penuh tanya padanya. Ia terus melangkah meninggalkan rumah itu untuk kedua kalinya di hari yang sama. Tanpa menoleh kembali. Hari pertamanya di Indonesia berakhir berantakan.

Ia tak mengenal daerah itu, ia tak mengenal Indonesia sama sekali, ia tak tahu harus berbuat apa, ia hanya ingin berjalan sejauh mungkin, nanti akan dipikirnya apa yang harus dilakukan. Mungkin mencari hotel untuk malam itu saja, mungkin langsung menuju Yogya. Tapi bagaimana? Ia lantas merutuk, menyesali brewok yang kini sudah lenyap. Kesan yang ditampilkan dengan brewok itu selalu lebih sangar, setidaknya membuat orang berpikir dua kali untuk mencari masalah dengannya. Itu penting untuk survival di tempat asing. Ah, dalam perjalanan beberapa bulan ini, ia berusaha keras memercayai manusia pada dasarnya baik, kenapa brewok kini menjadi soal? Bila manusia pada dasarnya baik, dengan atau tanpa brewok seharusnya Matt aman. Ia tak perlu tampil lebih intimidatif untuk menghindari menjadi korban kriminalitas. Persetan! Pikirannya tak bisa berhenti berperang, mulai dari mengutuk kecongkakan Hardi, meributkan brewok, memikirkan hotel, perjalanannya di Asia, hakikat manusia, pembuktian diri, atau lebih tepatnya mencari bukti atas prasangka baiknya terhadap manusia. Kepalanya ingin pecah. Untuk pertama kali selama perjalanannya ia begitu kesal. Ia hanya perlu menemukan tempat untuk duduk sesaat, menyulut sebatang rokok, lantas… Tiara! Ya, Tiara. Matthew akan menghubungi Tiara.

Tagged , , , , , , ,

Tiara

Udara Yogya hari itu terbilang dingin setelah seharian diguyur hujan, Tiara  masih duduk di ruang tamu rumah mungilnya, menikmati secangkir double espresso yang kini aromanya mengambil alih segala keresahan Tiara. Masa depan bisnisnya terancam saat calon investor yang menjadi tumpuan harapan tiba-tiba mengindikasikan akan membatalkan kerjasama bisnis mereka.

Telah berjam-jam ia berpindah dari satu titik ke titik lain di rumahnya. Di halaman belakang, dengan rambut panjang sepunggung yang sengaja digerai agar lebih hangat, ia mengamati barisan pohon terong yang ditanamnya belum lama berselang, salah satu di antara pohon-pohon itu akhirnya tercerabut dari akar lalu tumbang akibat deraan air hujan. Tiara hanya menatapnya, ia akan membenahi posisi pohon itu kemudian, pikirnya. Ia berpindah ke teras depan, menikmati hujan dengan sesekali menjulurkan tangannya agar terkena cipratan air, diresapinya irama rintik air hujan dari atas atap, juga yang menimpa hamparan rumput dan pepohonan di hadapannya, seperti harmoni kelabu berlatarkan orkestra kodok dari kebun tebu tak jauh dari rumah itu, bertemankan langit abu-abu dengan awan tebal menggantung, dingin menusuk dan pahit kopi kentalnya. Segalanya begitu suram bagi Tiara hari itu.

Wanita yang memiliki darah Cina itu terpekur menggenggam cangkir kopinya dengan kedua tangan, memikirkan segala kemungkinan, berharap yang terbaik dan mempersiapkan diri bagi yang terburuk. Ia tengah mencari inspirasi akan langkah apa yang hendak diambilnya bila yang terburuk menjadi nyata. Sudah menjadi kebiasaannya untuk tetap berpikir jernih dalam situasi apapun, kecuali bila itu berkaitan dengan asmara. Ia hanya wanita biasa yang cenderung lemah hati saat berurusan dengan cinta dan laki-laki.

Ketangguhan yang nampak di meja rapat kantornya, atau ketegasan seorang pemimpin bisnis, sama sekali lenyap tanpa jejak saat berhadapan dengan lelaki. Menyadari kelemahannya yang satu itu, ia selalu berusaha meyakinkan diri, “Itu kan dulu, sekarang ngga lagi kok,” pernyataan yang selalu muncul dari waktu ke waktu hanya untuk dilanggarnya kembali. Ia mengingat banyak detail seperti seorang wanita mengingat dosa-dosa pasangannya, namun selalu lupa pernah menyatakan hal semacam itu. “Masa iya sih?” Tanyanya pada sahabatnya setiap kali, yang dibalas dengan helaan nafas panjang sang sahabat. Lalu mereka akan menghabiskan malam bertemankan cangkir demi cangkir kopi, dan kepulan asap rokok.

Handphonenya berbunyi, Lia, “Hai Ti, kamu lagi apa?” suara di ujung sana menyapa, dari nadanya Tiara langsung tanggap, sang sahabatnya yang satu itu sedang gelisah.

“Lagi bengong nih, kenapa?”

“Gini, aku ada mau host cowok Amrik dua atau tiga hari lagi, tapi terus ada panggilan dadakan ke Papua. Biasa, kerjaan. Harus berangkat besok pagi nih, Ti. Gimana dong?” Tiara tanggap betul ini semacam permohonan terselubung untuk menggantikan Lia hosting cowok ini. Tapi gimana, Tiara pun seperti butuh waktu sendirian untuk berpikir dan menyusun strategi terkait bisnisnya. “Orangnya asyik kok, Tiii,” rajuk Lia tiba-tiba seperti mengerti apa yang tengah dipikirkan Tiara.

“Hmmm…” gumaman malas terdengar dari hp Lia.

“Duh, Ti, kamu liat orangnya deh, kayaknya asyik, ganteng pula, serius deh.”

“Kamu nih mau minta tolong ato mau nyomblangin aku, sih?”

“Ya dua-duanya, kamu kan udah lama banget ngejomblo, sebagai teman yang baik, aku impor dong cowok ini langsung dari Amrik, just for you, darla. Lagian kan sekarang Yogya dingin…” tawa keduanya meledak diselingi rutukan Tiara. “Sebentar lagi aku kirim link ke profilnya dia biar kamu bisa cek, aku kasih tau dia juga sekarang soal ini, habis ini kamu kirim email ya, kenalan kek ato gimana gitu, ok?”

“Baeklaaaah.”

“Aaaahhh!!! I love you so much! Makasiiih!” Sambungan telepon pun mati. Tiara langsung melempar pelan teleponnya ke atas bantal di sofa seberangnya.

Lima menit berikutnya Tiara sudah sibuk dengan laptop, menyelidiki siapa calon tamu yang “diimpor” Lia ini. Beberapa uraian di profil Matthew Flanagan membuat senyumnya terkembang. “Okayyy, he’s got some brain,” gumam Tiara. “And some sense of humor too, it seemed. Sepertinya tipe orang yang menyenangkan, lagipula kan cuma mau nginap paling lama tiga malam, ga masalah lah, melihat pengalaman berbulan-bulannya traveling, yang model begini sudah tau harus ke mana dan ngapain, tak perlu diantar, ga manja, dan harusnya sih tau tata krama, kan udah ketemu banyak orang di lapangan? Harusnya sih ngerti lah. Biasanya mereka juga punya cerita-cerita hebat oleh-oleh dari petualangannya. Mungkin nanti aku dapat lagi cerita kekaguman ke pohon pisang, ato yang semacam itu lah. Lucu kan? Eh tapi itu cerita bule Eropa entah dari mana itu deh, kalo di Amrik ada pohon pisang dong ya? Oh! Ya ampun… matanya cokelatnya killer abis deh…” Tiara langsung berkhayal menghabiskan malam dengan Matt, bernaungkan cahaya rembulan di tepi pantai. Tersipu akibat tatapan Matt yang semacam kompromi antara hangat dan dingin, serius dan jenaka, intens dan seksi… Pikiran yang segera diakhirinya dengan tenggakan espresso terakhir di cangkir.

Segera Tiara mengklik opsi “kirim pesan”, memperkenalkan diri dan sedikit membantu menjelaskan situasi Lia yang, dia yakin sebenarnya sudah dilakukan sendiri oleh Lia, tapi apa salahnya menambahkan bahwa Lia adalah orang yang bertanggung jawab sehingga tak mungkin membiarkan seorang yang jauh dari rumah seperti Matt, terlantar. Cis, dibacanya sekali lagi suratnya, cukup murahan, tapi kan maksudnya bercanda? Begitu pikir Tiara. Dikirimnya email tersebut bersama nomor kontak dan peta rumahnya.

Saat banyak perempuan lain takut untuk mengungkapkan identitas personal seperti tempat tinggal pada orang asing, Tiara justru sangat terbuka mengenai hal itu. Bagaimana tidak, toh ia sudah terlanjur membuka tempat tinggalnya untuk kegiatan belajar dan bermain anak-anak sekitar rumahnya. Tak jarang teman-teman dari berbagai komunitas menjadikan rumah itu sebagai tempat singgah pula. Faktor yang menurut Tiara, “terlanjur semua orang tahu” yang sebenarnya bukan terlanjur, ia hanya begitu terbuka menyambut dan menjamu orang-orang.

Banyaknya berita kejahatan terhadap wanita tak juga membuatnya ciut. Ia percaya, manusia pada dasarnya baik, minimal kebanyakan manusia itu baik, kalaupun ada yang jahat jumlahnya tak sebanding dengan yang baik, dan sebenarnya hal-hal jahat macam itu semenjak dulunya sudah ada, pasti ada. Hanya saja, sekarang, dengan jurnalisme haus darah –julukannya terhadap pemberitaan yang memberitakan apa saja, penting tak penting— jumlah kejahatan yang dari dulunya segitu-gitu aja tanpa fluktuasi tajam itu diekspos di segala lini: media cetak dan elektronik, termasuk menjadi berita viral di internet. Hasilnya, kita seolah melihat kejahatan di mana-mana, lalu keluarlah ungkapan, “jaman sekarang harus hati-hati, harus lebih waspada” atau hal-hal bersifat peringatan semacam itu. Kita memilih apa yang mesti dipercaya. Tiara memilih aman dalam kepercayaan untuk fokus ke hal-hal baik dalam hidup. Menurutnya, waspada itu perlu, tapi bukan berarti harus menutup diri dan mencurigai setiap orang.

Tagged , , , ,

Matt, Si Abang Kerak Telor

Matthew beruntung kali ini, pegal di betisnya memang tak berkurang namun paling tidak, di bagian belakang bus tempatnya berdiri, seseorang baru saja beranjak berdiri dari kursinya, yang langsung diambil alih dengan cepat oleh Matt. Keterampilan adu cepat yang dipelajarinya dari mengamati kerumunan penumpang yang tak pernah sepi walau jam pulang kerja sudah jauh terlewat.

Tanpa Ika dan kebersamaan mereka yang mengundang perhatian, Matt tenggelam dalam kerumunan itu, tak ada yang peduli, tak ada yang memperhatikan, orang-orang menyumpal telinganya dengan earphone, atau sibuk dengan gadget masing-masing. Merengut, tersenyum sesekali, ada pula yang larut dalam bacaannya, seolah dirinya tersedot ke dalam buku dan tak lagi tahu di mana raganya berada. Sebagian lagi hanya bersandar ke dinding bus dengan mata terpejam.

Matt tersadar, ini kali pertama dalam perjalanannya di mana ia begitu tak diperhatikan, dianggap sama dan menjadi satu dengan aliran lalu lintas manusia Jakarta. Sebagai orang berkulit putih dengan postur khas kaukasia yang menjulang di antara manusia Asia, selama berbulan-bulan Matt terbiasa menjadi pusat perhatian. Awalnya ia menikmati peran sebagai pusat perhatian, dan menjadi teman praktek bahasa Inggris yang begitu antusias, terutama bagi anak-anak, tapi tak lama berselang, Matt terkadang bosan. Semua akan bertanya hal yang itu-itu lagi. Hi. How are you? Where do you come from? What do you do? Yang unik, ia mengalami pola percakapan macam ini di hampir setiap negara Asia Tenggara.

Anak-anak: Hello, Sir.

Matt: Hi, kids, how are you?

Anak-anak: I’m fine, thank you, and you?

Ia tak memiliki masalah untuk bersosialisasi dengan siapapun termasuk anak-anak, tapi perasaan bosan yang datangnya hanya sesekali yang jarang itu, akan menerkam dengan intensitas tinggi. Intensitas yang tentu tak akan membantunya menghilang dari sorotan lampu. Bila saja pabrik pakaian di China sana berhasil menemukan camouflage suit terbaik yang bisa membuatnya nampak lebih Asia untuk menghindari perhatian, ia pasti akan membelinya. Harga tak lagi relevan di titik ini, ia bahkan akan menggalang dana untuk menghadiahi diri pakaian bunglon, agar bisa muncul dan menghilang kapan pun ia mau.

Namun, di sebuah bus padat di Jakarta malam itu, kesadaran bahwa tak seorang pun memperhatikannya membuatnya sedikit girang. Rasanya mirip seperti pulang, semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Matt tersenyum tipis di balik brewoknya, saat seorang pemuda di sampingnya yang tadi menggunakan topi untuk menutupi wajah, menoleh ke arah Matt, “Hi, where do you come from?”

***

Malam itu, pukul delapan, Hardi masih pulas dibuai kenyamanan kamar. Pintu kamar diketuk pelan sebelum Matt muncul. Seisi rumah sudah mahfum bila ada bule celingukan sesaat, melempar senyum serasa menyapa dan berkenalan dengan mareka di ruang tamu lantai bawah, lantas langsung menuju ke kamar Hardi.

Kehadian Matt di kamar itu tak sanggup mengusik Hardi dari tidurnya yang dalam. Matt kemudian mengambil perlengkapan mandinya, merasa lengket setelah seharian terpapar matahari dan debu.

Tak lama berselang, ia menerima notifikasi email di iPhonenya, Lia, hostnya di Yogya baru saja memberitahukan tak dapat menjamu Matt karena mendadak harus ke luar kota. Jadi Lia mengabarkan akan mencarikan host pengganti agar Matt tak perlu repot kelabakan mencari host lain dengan waktu mepet.

Sepuluh menit kemudian, Matt bahkan belum membaca email tersebut dan Lia sudah mengirimkan email lain. Lia berhasil meyakinkan temannya, sesama member di komunitas traveling mereka, untuk menampung Matt. Temannya itu akan menghubungi Matt secepatnya melalui email. Pria Amerika yang kini wajahnya bersih dari brengos itu nampak lima tahun lebih muda saat keluar dari kamar mandi dan berbasa-basi sebentar dengan penghuni lain.

Email pertama yang dibacanya membuat sedikit panik, bagaimana tidak, dalam memilih tuan rumahnya Matt benar-benar mempelajari profil sang host dan biasanya ia hanya mengirimkan satu permohonan untuk satu calon tuan rumah saja, tak seperti kebiasaan beberapa traveler lain yang terkadang “menyebar” permohonan, lalu memilih host seenak hati, sementara calon host yang lain yang juga telah menyatakan kesanggupan untuk menerima tamu, tak kunjung dikabari kepastian kedatangan mereka. Menjengkelkan.

Matt memperlakukan setiap orang dengan respek, ia tak menganggap host semata-mata tumpangan gratis. Ia akan mengirim satu request hingga konfirm, berikut mengirim kepastian kapan ia akan datang, berapa lama akan tinggal dan detil semacam itu, untuk mencocokkan jadwal dengan sang host, apakah hostnya dapat menerima kehadirannya di tanggal-tanggal yang disebutkan. Pembatalan sepihak dari calon host sama saja mengacaukan jadwal Matt. Karena ia harus mengalokasikan beberapa puluh menit dari yang seharusnya digunakan bersosialisasi, berkeliling atau tidur, untuk mencari host baru.

Email kedua membuatnya sedikit lega, sembari harap-harap cemas menanti email dari teman Lia, yang entah orangnya seperti apa. Terlepas dari jiwa petualangnya, dan kemampuannya beradaptasi di berbagai situasi, untuk soal akomodasi semacam ini ia lebih suka bila memiliki gambaran walau sedikit tentang calon host. Siapakah pengganti Lia ini? Orang macam apa dia? Asyik kah? Open-minded kah? Apa Matt bisa minum bir bersama orang ini? Ia ingat fakta banyaknya muslim di Indonesia, yang didapatnya dari Ika. Tentu sulit mengajak seorang muslim minum bir, terlebih wanita muslim, batinnya.

Lamunannya diinterupsi Hardi yang meregangkan badan dengan malas, menyapa, “Heiiii.” Hardi pun bertanya sopan, bagaimana hari tamunya di Monas. Mata Matt berbinar saat menceritakan tentang Kerak Telor,“That stuff is so f-ing delicious, dude!” Ia masih kagum dengan cara membuat kerak telor yang disaksikannya sore tadi. Bagaimana ajaibnya benda itu menempel dengan mantap di wajan kecil sang penjual saat dipanggang terbalik, namun bisa dilepas utuh tanpa merusak bentuk bundarnya. Sepertinya seseorang baru saja menemukan makanan favorit yang baru. Karena ia menginginkannya untuk makan siang atau makan malam besok. Ia menginginkan kerak telor di Yogya. Ia lantas mengeluarkan dua bungkus kerak telor, satu untuknya dan satu untuk Hardi, “If you’ve had enough of this being in Jakarta, I don’t mind helping you finish it.” Diiringi tawa akrab mereka dari dalam kamar ber-AC yang kini dipenuhi aroma kerak telor.

Tak ada kerak telor di Yogya. Mungkin ada tapi tak populer dan Hardi tak pernah melihat seorang penjual kerak telor pun di Yogya. Tapi mungkin Hardi salah, mungkin Hardi tak cukup mengeksplorasi kota itu hingga bertemu dengan abang penjual kerak telor, demikian cetusnya pada Matt, yang ditanggapi dengan mata membelalak tak percaya. Bagaimana bisa makanan selezat ini tak populer di Yogya, kota itu kan masih satu pulau dengan Jakarta?

Apa maksudmu ga populer? Matt memicingkan mata penuh siasat, katanya ia akan tinggal lebih lama di Jakarta untuk belajar membuat kerak telor. “If I make a great abang kerak telor, I can be a millionaire selling those on Yogya’s street, don’t you think?”

Tagged , , , , , , , ,

“Oh my God, dude! I thought you’re missing somewhere?!” Sontak Hardi terlonjak saat orang yang ditunggu tiba-tiba menepuk bahunya dari samping, sementara ia tengah asyik menatap kosong ke arah barisan menu yang terpampang besar di tembok di hadapannya. Pikirannya membayangkan eksotisme Vietnam dan liburan berminggu-minggu, selamanya bila perlu.

Cengiran jahil muncul dari wajah Thomas, “You know, macet as always.” Jelas Hardi tak percaya alasan klasik itu. Seorang Jerman macam Thomas, akan setengah mati mengusahakan datang tepat waktu, terlebih bila sudah paham betul jam-jam dan titik-titik macet Jakarta. Beberapa bulan tinggal di Jakarta rupanya sudah membuatnya ahli jam karet dengan macet sebagai alasan.

Jadi, kita butuh ngobrolin detil itinerary lu, lu mau jalan ke mana aja? Tanya Hardi sekali lagi. Thomas masih sulit memutuskan hendak ke mana ia setelah habis kontrak enam bulan sebagai konsultan DRR management di sebuah NGO internasional.  Ia merencanakan liburan sebulan dengan rute ke timur seperti banyak dilakukan para turis yang memulai dari Jakarta. Bila memungkinkan, Hardi akan bergabung dengan Thomas di Bali.

Rute biasanya: Jakarta – Dieng – Yogya – Bromo (via Surabaya atau Malang) – Bali – Lombok. Begitu jelas Hardi, yang serta merta diprotes, bahwa itu hanya lima titik, selain Jakarta. Mereka berdebat. Memang hanya lima tempat, tapi di masing-masing tempat ada begitu banyak hal untuk dilihat dan dilakukan. Ambil contoh Yogya, tak cukup sehari atau dua hari untuk mengeksplor Yogya dari gunung, ke kota, hingga pantainya. Pilihan pantai di Yogya sendiri ada yang cantik berpasir putih di kawasan karst Gunungkidul sana, ada pula yang eksotis berpasir hitam di daerah Bantul yang relatif lebih mudah dicapai dari pusat kota.

“Dude I thought you’ve done some googling!”

Thomas protes dengan tutur Inggrisnya yang khas, kental logat Jerman. “I become not sure,” katanya, ia tahu banyak sekali hal yang bisa dilakukan di satu kota saja, tapi bukankah lima kota masih terlalu sedikit untuk perjalanan sebulan?

Hardi sebetulnya hanya ingin membantu memberi berbagai saran yang diketahuinya sebagai orang yang bertemu dengan banyak traveler dan mengetahui rute mereka dengan baik, saking seringnya mendengarkan kisah perjalanan dan rencana perjalanan berikutnya dari tamu-tamunya yang datang silih berganti.

Hal lain yang perlu dipastikan Hardi Nugroho adalah memastikan kapan Thomas dengan kekacauan perencanaan macam itu akan tiba di Bali. Ia akan ke Bali juga. Tapi percuma bila tak ada kawan. Ia akan ke Bali saat Thomas di Bali. Ia akan pergi bila ada jaminan Thomas di sana. Thomas harus di sana, atau dia gigit jari.

Pernah terbayang apa jadinya seorang sosialita bila sendiri di tempat nongkrong? Hardi itu gila kehidupan malam, gila ‘bergaol’, selalu haus berada di tengah kerumunan orang, menjadi pusat perhatian bila perlu. Minimal, ia tak boleh sendiri di tempat-tempat hip di Pulau Dewata. Terbayang kering garing seperti apa bila ia sendiri, anak muda sekarang menamainya, ‘mati gaya’. Seseorang seperti Hardi tentulah lebih memilih mati secara biologis daripada harus mati gaya saat kesadaran dan lima panca indranya berfungsi baik.

“Gini aja deh Tom, lu matengin dulu rencana perjalanan lu, nanti kasih tau, secepatnya kalo bisa, biar gue bisa atur cuti, kapan, tanggal berapa lu ada di Bali. Gue sekarang kedatangan orang Amrik, kami mau ke Kemang malam ini, ato lu ikut aja?” tutur Hardi, tentu dalam bahasa Inggris. Katanya Thomas akan menyusul kemudian bila sempat. Sekarang ia hendak menyambangi sebuah acara budaya di kedutaannya.

Mereka bergegas meninggalkan kafe yang kini telah semakin ramai. Ada sekelompok cewek di meja pojok, terpana menatap betapa menawannya Thomas, bahkan setelah polusi Jakarta menempel di wajah dan kulitnya yang kini lengket. Senyum tulus terlempar walau tipis dan agak malu-malu, dari bibir merah jambu di bawah hidung mancung melengkung. Cukup membuat cewek-cewek ABG itu bengong sepersekian detik, terhipnotis.

***

Setiba di rumahnya, Hardi mencari Matt di segala sudut rumah yang mungkin disambangi Matt. Ruang tamu, ruang makan, dapur. Tak ada. Ok, berarti Matt belum pulang, saat sebagian housematesnya sudah kembali, sibuk memasak di dapur atau terhipnotis siaran TV. Ia sengaja tak bertanya pada satupun dari mereka, apakah mereka melihat penghuni baru nan tampan tersebut. Toh lebih mudah mengecek ke beberapa ruangan ketimbang harus menjelaskan tentang penghuni baru mana lagi yang dimaksud Hardi, Hardi sudah menampung begitu banyak penghuni baru setiap bulannya.

Ia lalu memasuki kamarnya, tubuhnya segera rebah di atas tempat tidur, remote AC disetel hingga ke suhu 16, jam menunjukkan pukul tujuh malam. Ia lelap dalam sesaat. Masih dalam setelan kemeja biru pas badan dan celana hitam yang telah dikenakannya seharian.

***

Sekali lagi Matt harus berdesakan di bus Trans Jakarta, kali ini tanpa Ika karena perempuan itu harus ganti halte beberapa saat lalu, setelah sebelumnya berkali-kali memastikan Matt tahu harus ganti halte di mana, dan turun di halte apa. Ditanyainya Matt kembali untuk memastikan lelaki itu benar-benar paham. Ia sudah bertingkah selayaknya Matt anak umur sepuluh tahun yang berkeliaran sendirian di jalanan ibu kota, melupakan fakta bahwa bagaimanapun konyolnya boneka Kurt Cobain dalam ransel Matt, pemiliknya telah mengarungi jalanan di kota-kota Asia Tenggara beberapa bulan terakhir ini.

Mereka sudah bertukar nomor. Ika sengaja menyodorkan secarik kartu nama yang bagian belakangnya kosong, untuk ditulisi kontak telepon dan email Matt. Tindakan sentimentil, atau bahkan mungkin sedikit centil, yang dimaksudkan untuk mendapatkan jejak fisik Matt dalam bentuk apapun yang bisa didapatnya. Tulisan tangan di belakang kartu nama entah siapa. Tak apalah. Juga beberapa jepret selfies. Cukup untuk menutup episode pertemuannya dengan Matt.

Oh! Ada apa dengan Ika! Ia berjalan dengan senyum terkulum tak kunjung hilang selepas pertemuan dengan Matt. Menjadi penuh harap bungah-bungah musim semi. Ia memang belum pernah berinteraksi langsung dengan bule sebelumnya, tapi apa ia tak paham kebanyakan traveler menikmati perjalanan itu sendiri dalam setiap momennya. Hanya jejak kaki dan kenangan manis yang mereka tinggalkan. Hanya itu pulalah yang mereka bawa, berikut tambahan beberapa megabyte jatah dalam memori kamera.

Ika seperti tak peduli. Siapa peduli bila kehangatan dan kekuatan tatapan mata seorang lelaki sudah meresap hingga ke jiwa? Tak peduli seperti apa perkenalannya dan hanya berapa jam obrolannya, yang paling penting adalah, jejak itu ada, akan selalu di sana, dan tersegel bukti fisik berupa rekam tulisan tangan dan beberapa pose manis dengan Ika dalam rangkulan. Rangkulan bersahabat yang sering dilakukan Matt selama perjalanannya. Matt berfoto merangkul petani Thailand, merangkul ibu-ibu di Philippine, merangkul host perempuannya, juga host lelakinya. Dan seterusnya. Tapi… Ika tak peduli. Itu tak penting, yang penting adalah hangat dalam dirinya yang muncul kembali dan semoga saja ada di sana hingga lama, cukup lama untuk membuatnya bertahan…

Tagged , , ,

Impian Hardi dan Kehangatan Vietnam

Jakarta jam-jam pulang kantor, persimpangan jalan seputaran Citraland sangat padat kendaraan dan orang berlalu-lalang mengejar bus berikutnya menuju rumah masing-masing. Masih dengan setelah kantoran, celana hitam berpotongan lurus dan kemeja biru langit pas badan yang lengannya digulung hingga siku, Hardi sekali lagi mencuri pandang ke layar Blackberry di genggamannya yang tidak sedang menyala. Ia memastikan rambutnya rapi walau wajahnya nampak lelah.

Sudah setengah jam ia berada di salah satu kafe, mengecek email ditemani secangkir besar Cappuccino yang kini telah dingin terpapar suhu ruang berpendingin, sesekali ia melihat ke arah pintu kafe, jelas-jelas menanti seseorang.

Orang yang dinanti tak kunjung datang hingga setengah jam kemudian, sementara Hardi sudah selesai dengan aktivitasnya mengecek dan menulis email ke beberapa kolega dan calon tamu berikutnya yang akan datang menjelang natal. Tiga perempat cangkir cappuccino telah direguk, tak membantu kantuknya hilang walau sedikit. Ia ingin pulang saja, sekedar meluruskan badan sesaat sebelum malam datang.

Ya, kehidupan malam Hardi sepertinya lebih penting ketimbang pekerjaan kantorannya. Kantuk yang menyergap di jam-jam kantor bisa menguap begitu saja bersama kepulan asap rokok, bila tak di kafe di bilangan Kemang, ya di club.

Entahlah, selain melepaskan diri dari rutinitas siang yang membosankan, malam juga begitu berarti baginya. Ia bertemu orang-orang favoritnya, biasanya ekspat, atau traveler yang singgah di Jakarta. Mereka akan berbicara tentang pekerjaannya di Jakarta, melontarkan pujian dan kekaguman tentang kehidupan di Indonesia, biasanya topik kekaguman ini berlangsung singkat, seperempat, atau seperdelapannya dibandingkan dengan banyaknya curhat berisi cercaan setiap kali harus berurusan dengan kantor imigrasi.

Bagaimana tidak, kantor-kantor itu kedatangan warga asing setiap harinya, namun kemampuan komunikasi mereka seringkali tak memadai, hanya cukup untuk percakapan ringan, ketemu masalah sedikit, mereka bingung tak mengerti penjelasan ekspat atau turis asing, pun tak tanggap.

Tapi yang paling dinikmati Hardi adalah dongeng petualangang teman-teman nongkrongnya ini. Kebanyakan mereka pernah menginjakkan kaki di banyak negara lain, terutama di Asia Tenggara. Sebagian dirinya bergelora setiap kali sebuah kisah dituturkan. Ia pun ingin pergi, berkunjung ke tempat jauh dan mengisahkan ceritanya pada dunia.

***

Vietnam, September 2012.

Thomas, akhirnya dapat menginjakkan kaki di Ho Chi Minh City, yang biasa disebut HCMC. Perdebatan alot dengan sang boss berujung manis, ia diperbolehkan menabung jam kerja agar durasi liburannya lebih panjang. Seharusnya ia bekerja delapan jam per hari, berkat kemampuan membujuk, atau lebih tepat  disebut merengek, ia lalu bekerja hingga 12 jam, mengakumulasikan kelebihan jam untuk ditukar dengan hari liburan. Sungguh menyenangkan, dan membuat sirik siapapun yang tak berdaya mengganti jadwal seenaknya, termasuk Hardi Nugroho.

Berbeda dengan kebiasaan Matt yang traveling tanpa tahu apapun tentang tempat yang dikunjunginya, Thomas menghabiskan lebih banyak waktu mempelajari suatu tempat sebelum berkunjung. Namun, setelah mendapat pengetahuan yang cukup, hal yang pertama dilakukan saat traveling justru bukan mengunjungi titik-titik yang banyak dikunjungi turis.

Thomas Weber, dengan bahasa Inggrisnya yang tak kunjung lancar, akan berjalan kaki hingga berkilo-kilo meter mengelilingi kota. Suatu hari setelah sarapan di hotel, ia mengganti celana pendek dan kaus putihnya dengan celana panjang khaki, mengenakan kemeja kotak-kotak merah kesayangan dan sepatu kets abu-abu. Kostum lapangan yang membuatnya terlihat lebih rapi ketimbang Matt dengan gaya tabrak lari, jarang bercukur dan lusuh.

Thomas lantas mencangklongkan Canon EOS 600D. Lebih mudah demikian ketimbang mengamankannya di dalam tas kamera, yang justru menyulitkan bila sewaktu-waktu hendak mengabadikan momen. Handphone lawasnya telah berada di saku celana, passport dalam tas pinggang telah terpasang kembali dengan rapi di balik kemeja, lalu diraihnya postman bag ukuran sedang berbahan kanvas, dan kunci kamar yang ternyata masih menggantung di sisi luar pintu. Ia lupa mencabutnya barusan saat hendak berganti pakaian.

***

Baru saja menikmati kota HCMC lebih kurang tiga kilometer, hujan mulai turun. Thomas yang rambutnya kini sedikit basah berlari agak panic mencari tempat berteduh, Canon kesayangan adalah hal pertama yang ia khawatirkan. Ia berlari menuju kolong sebuah jembatan yang uniknya memiliki hamparan rumput walau sempit sekali, nyaris seperti tempat piknik.

Benar saja, tiga orang bapak paruh baya memandang ke arahnya pebuh rasa ingin tahu. Dari pakaiannya, Thomas menilai mereka orang kurang mampu, semua berpakaian apa adanya dan lusuh. Rasa khawatir dan takut tiba-tiba menyergap, bagaimanapun ia orang asing. Ia tak kenal siapapun di kota itu. Ia tak bisa meminta pertolongan pada siapapun bila hal buruk terjadi, dan ia tak tahu sedang berada di mana dengan orang macam apa.

Di tengah segala rasa khawatir, Thomas mengumpulkan keberanian untuk membalas tatapan ketiga orang tersebut, lantas tersenyum. Ia melirik peti di belakang orang-orang itu. Di hadapan mereka ada beberapa kaleng kosong bir. Ah. Benar-benar piknik rupanya. Salah satu dari mereka melambakan tangan pada turis ini, yang dari penampilannya tentulah memiliki lebih banyak uang dari mereka.

Bukan rahasia bahwa orang-orang di negara berkembang selalu menginginkan uang para turis. Thomas menepis pikiran macam itu lalu bergabung dengan entah siapa orang-orang ini. Lima menit berikutnya mereka sudah tertawa-tawa. Bukan karena obrolan yang lucu, tapi karena mereka tak bisa mengobrol sama sekali. Ketiganya tak berbahasa Jerman maupun Inggris, sementara Thomas tak bicara bahasa setempat. Apa lagi yang bisa dilakukan selain berbahasa isyarat lalu tertawa-tawa tanpa mengerti satu sama lain.

Terkadang, mereka menggambarkan suatu objek di buku catatan Thomas untuk menjelaskan apa yang mereka coba bicarakan. Dua kaleng bir sudah tuntas oleh Thomas sendiri, berbeda dengan Indonesia yang perlu lebih banyak uang untuk membeli bir sehingga agak mustahil mendapati orang di kolong jembatan menikmati bir, bir di Vietnam bukanlah minuman mahal, semua orang bisa membelinya seperti orang Indonesia membeli rokok. Baiklah, rokok tak murah, ya? Tapi kita mampu, kan?

Hijan telah reda saat Thomas ditawari kaleng ketiga yang dengan senang hati dibukanya. Jerman dan bir. Siapa tak tahu fakta itu? Tiga kaleng sama sekali tidak banyak untuk pemuda Jerman bermata biru dan senyum menawan itu. Kaleng ketiga tuntas dalam kurang dari sepuluh menit dan hujan sudah benar-benar reda.

Thomas tak tahu bagaimana harus mengucapkan terimakasih, ia hanya mengatupkan kedua tangan sembari membungkuk-bungkuk, mengeluarkan mulai dari ‘danke’ hingga ‘thank you so much’. Ia pun meraih dompetnya, menyodorkan beberapa lembar Dong untuk tiga kaleng bir, yang ditolak mentah-mentah. Orang-orang ini menawarkan kehangatan tanpa ingin uang Thomas. Hangat yang meresapi jiwa Thomas, yang walau sering bertemu orang-orang tulus, ia pun sering menjadi korban pemerasan atau bujuk rayu yang pada intinya, orang menginginkan uangnya. Tiga kaleng bir dingin dan tiga orang Vietnam kini direkamnya baik-baik dengan kamera dan dalam ingatan.

 

 

Diupload dari atas bus full dangdut Yogya-Karawang. Berbagai detail, terutama tentang Vietnam, akan ditambahkan kemudian.

Tagged , , , , ,

Monas, Bus, Kurt Cobain dan Bungah Musim Semi

Tak jauh dari tempat Ika dan Matt duduk, kepanikan seorang wanita mengundang kerumunan orang. Ia merogoh setiap sakunya, ditepuk-tepuknya lagi dan lagi setiap saku, “Handphone saya ilang!” ulangnya kembali, yang mengundang perhatian semakin banyak orang. “Astagaaa…!” ia tercekat mulai berkaca-kaca, namun sekali lagi merogoh-rogoh ke dalam tas selempangnya yang tadi dengan bebas berada di sisi badan bagian kiri. Seperti tak kunjung percaya handphonenya telah benar-benar raib entah ke mana.

Matt yang kini memiliki penerjemah pribadi mendapat penjelasan tanpa diminta bahwa wanita yang kini sedang ditenangkan oleh beberapa orang tersebut baru saja kehilangan handphonenya, sepertinya dicopet. Serta merta ingatan Matt melayang pada obrolan pagi itu lagi. Oh, sudah sedemikian parah kah Indonesia? Baru mendapat peringatan dari Hardi beberapa jam sebelumnya, Matt sudah menyaksikan sendiri korban copet panik di tengah keramaian.

Sekali lagi Matt mencatat dalam hati, rangkuman kejadian untuk dicerna kemudian,  dengan sedikit membubuhkan pemikirannya yang, oh-kau-tak-pernah-tahu, kontemplatif! Gaya easy going Matt yang slengekan akan menipu siapapun bahwa mungkin, sekali lagi hanya mungkin, Matt adalah pemuda di bawah 30 tahun paling bijak yang pernah eksis di dunia backpackers.

Untuk memfasilitasi hobi rahasianya yang satu itu –berkontemplasi, Matt lebih suka naik bus dari satu kota ke kota lainnya ketimbang memilih moda transportasi lain, hal yang tak banyak diketahui orang yang seringkali sebenarnya sekadar menyarankan alternatif terbaik, termurah dan tercepat dari satu kota menuju kota lain. Terkadang melakukan hitchhike begitu mudah si suatu daerah, terkadang naik kereta adalah pilihan terbaik. Tapi Matt memilih bus. Pokoknya bus.

Posisi duduk di kereta yang terkadang harus hadap-hadapan tak memungkinkannya untuk menghabiskan waktu sendiri. Hitchike sama saja, Matt mesti paling tidak berbasa basi dengan orang baik hati yang mau mengangkut backpacker dekil macam dirinya. Tapi memang biasanya backpacker cowok itu dekil sih ya, beda dengan para cewek yang walau berhari-hari bergulat dengan debu jalanan, mereka punya superpower untuk tetap kinclong. Hanya kaum hawa, dan tuhan yang tahu rahasianya.

Matt, yang sudah berbulan-bulan hidup nomaden sebagai traveler, jarang memiliki ruang pribadi yang terkadang dibutuhkan setiap individu. Berkat jejaring traveler, ia sering mendapat tempat menginap gratis, yang artinya tentu saja berhemat, sebuah keuntungan yang sepintas lalu semacam oportunis. Tapi arti lainnya bagi penikmat perjalanan adalah, lebih lama durasi travelling, lebih banyak tempat yang dikunjungi, lebih banyak orang yang ditemui, lebih beragam budaya yang dicoba selami, lebih kaya wawasan, lebih luas perspektif, lebih memahami kehidupan. Lebih manusia. Mudah-mudahan.

Saat disediakan kamar pribadi di rumah host atau penduduk lokal sekalipun, Matt akan mengobrol tak jarang hingga larut malam dengan kenalan-kenalan barunya, yang seringkali kehangatannya mengingatkan akan keluarganya di Amerika sana.

Saat bertualang siang harinya, ia harus berinteraksi lagi dengan banyak orang entah sekadar menanyakan arah atau terlibat obrolan seru dengan penduduk lokal atau sesama turis. Dirinya melebur bersama orang-orang lain yang ditemuinya, menyatu dengan tanah yang diinjaknya, pemandangan yang dinikmatinya. Ia, tak memiliki waktu untuk berkontemplasi dan memikirkan ‘ke-dalam’

Bus, satu-satunya jawaban bagi Matt untuk dapat menyalurkan hobi merenungnya itu, kedalaman pemikirannya mungkin akan menjadikannya Paulo Coelho selanjutnya? Agak mustahil membayangkan pria yang kemana-mana membawa boneka Kurt Cobain untuk mainan, menjadi Paulo Coelho. Tapi, siapa tahu?

Bus, tak bertempat duduk hadap-hadapan, dan Matt seringkali dengan culas berhasil menyita dua kursi sekaligus untuknya sendiri. Upaya egois dalam rangka menghadiahi diri sedikit ruang pribadi. Saat ditanya apa bedanya merenung di bus dengan merenung di alam terbuka? Toh ia sering bertualang di alam, dan bukankah lebih syahdu menyelami kehidupan dan pemikiran diri sendiri di tengah-tengah pemandangan indah, di antara udara segar alam terbuka?

Beda. Bus itu spesial. Bus itu ajaib. Terlalu banyak hal di alam terbuka yang bisa dinikmati yang membuat kita tetap sibuk. Namun di bus kita terkurung, tak berdaya, tak bisa melakukan banyak hal, dalam perjalanan malam seringkali yang terlihat hanya kerlip cahaya lampu dan sisanya kegelapan. Dalam keadaan seperti itu, kita bosan, lalu… tidur, atau… melamun. Tapi Matt tak mau dibilang melamun. Ia calon Paulo Coelho, bagaimanapun, Coelho tak melamun. Tapi lagi-lagi, Coelho tak bawa boneka kemana-mana. (Matt: ini boneka Kurt Cobain! Beda!)

***

Kurt Cobain diposisikan Matt sedemikian rupa berlatarkan monas, kakinya direnggangkan beberapa senti, dan Snap! Waktunya berfoto. Kurt Cobain in Monas! Pose-pose sang empunya boneka tak kalah ajaib ketika berperan sebagai penata gaya idolanya tersebut. Matt nungging, jongkok, nungging lagi dan jongkok kembali, mengabadikan berbagai pose Kurt, dari close-up shot hingga foto berlatar Monas sampai ke puncaknya, memang harus berjuang nungging-nungging untuk dapat sudut demikian bagi boneka setinggi dua puluh senti saja. Di dunia fotografi, Matt ini fotografer yang lebih banyak gaya ketimbang modelnya, biasanya itu kebiasaan fotografer amatir. Gaya kocak yang sungguh tak sinkron dengan brewok lebat a la biker Harley Davidson yang tak kunjung dicukurnya.

Foto-foto hasil perjuangan mulianya tersebut –mulia karena berani mempermalukan diri di tempat umum, di kemudian hari akan muncul di blog Matt yang semakin hari semakin jarang diupdate. Maklum, ritme perjalanannya kini semakin cepat seiring sang traveller yang semakin gatal berlama-lama di satu kota saja. Boneka Kurt Cobain menjadi tokoh utama dari blog itu dan ada begitu banyak peristiwa dan pemikiran ditulis dari perspektif Sang Legenda. Versi konyol. Sebutlah Matt, kali ini tak sedang menjadi Coelho, namun coba-coba nekat menjadi Cobain.

Ika, sembari merapikan ujung ciput jilbabnya, terkikik mengamati Matt yang begitu larut dalam sesi foto boneka yang kesannya tak main-main. Pemandangan tak biasa melihat pria dewasa masih melakukan hal konyol macam itu tanpa peduli ditertawakan orang. Matt yang tak biasa. Mata coklat jenaka yang sekaligus menyimpan keteduhan. Penampilan apa adanya, tanda begitu nyaman ia dengan diri sendiri. Lontaran pertanyaan-pertanyaan entah sensitif entah polos yang bernada tanpa prasangka. Intensitas dan keseriusannya mendengarkan.

Rasanya sudah lama sekali Ika tak pernah merasa begitu diperhatikan… Begitu didengarkan… Perasaan bungah pergantian musim dingin ke musim semi yang kini dihadirkan oleh seorang asing yang baru saja dikenalnya. Ika tak pernah percaya perasaan macam itu bisa hadir secara instan, tapi ia kini merasakannya hanya di jam ke-dua setelah pertemuan tak sengaja dengan Matt.

Ada ketertarikan yang sekarang menjelma keterikatan, untuk terus menggali lebih jauh tentang Matt, untuk membuka dirinya lebih dalam kepada Matt, meski di tengah segala kendala bahasa yang acap terjadi. Namun hingga berapa lama lagi kebersamaan yang begitu Ika nikmati itu harus berakhir dan menguap bersama jejak Matt di Jakarta? Berapa jam? Berapa menit?

Kamu mau foto sama Kurt? He would bring you nice memories. Lamunan Ika dibuyarkan oleh sodoran boneka di hadapannya. Serta merta diraihnya Kurt mendekat ke wajah, ke samping dagu seperti SPG mempromosikan barang dagangan. Cheers! Senyum manis dari bibir mungil Ika pun terekam kamera. Mungkin akan membawakan Matt ‘the nice memories’ di kemudian hari.

%d bloggers like this: