Monthly Archives: November 2014

Asing

Kita telah kembali pada yang sunyi. Menjadi lebih asing dari ceceran daun di ujung jalan. Musim dingin telah berlalu namun pikiran ini tetap membeku, kesulitan mencerna apa yang tengah terjadi.

Adalah tentang sesuatu yang sebaiknya lenyap sebelum muncul. Perasaanku, yang tak tahu diri menginginkanmu sekali lagi. Sebentuk asa purba menuntut dipatri pada sebuah papan yang meneriakkan kepemilikan. Kita bukan itu. Komitmen kita sesatunya adalah pertemuan demi pertemuan, yang diakhiri kulit telanjangku yang menempel padamu. Tuntutan kita sesatunya adalah kebahagiaan yang dibayar dengan sesaknya dadaku. Ini menjadi perkara “membahagiakanmu dan melupakan perasaanku sendiri”. Karena perasaan itu sepatutnya dimasukkan ke dalam karung dan diletakkan pada palung terdalam di muka galaksi.

Perasaan itu tak sepatutnya ada dan tak selayaknya dibesar-besarkan. Kuberitahu kau, sayang, memang kita yang tak semestinya mencoba mengontrol perasaan karena itu hanyalah perbuatan yang sia-sia. Tapi pernahkan kau mendengar tentang susunan superkluster galaksi bertitel Laniakea? Di dalamnya ada seratus ribu galaksi, terbentang sebanyak hanya-tuhan-yang-tahu-berapa-juta-tahun-cahaya jaraknya. Atau mungkin ilmuwan tahu. Tapi bukan aku, karena memahami perasaanku yang sepersekian debu mikro pun aku tak sanggup.

Kita bagian dari debu mikro, dengan ukuran kecil yang jahanam di konstelasi semesta. Tak sepatutnya kisah kita dibesar-besarkan. Tapi, sayang, malam ini  kuhabiskan dengan pikiran penuh akanmu, karena dalam hidupku, sayang, kaulah pusatnya. Pentingmu melebihi ukuran seratus ribu galaksi berjarak hanya-tuhan-yang-tahu. Kau lebih dari itu. Bagaimana aku menyingkirkan pikiran tentangmu yang besarnya seolah melebihi Laniakea?

Aku telah tak tahu diri belakangan ini. Tak ada yang bisa kusalahkan selain kau yang memperlakukanku seperti puteri kecil. Kauberikan gaun indah, bebungaan dan dongeng pengantar tidur, juga kecupan saat kaupikir kuterlelap. Kita layaknya sepasang debu mikro yang maha besar bagi satu sama lain. Aku bungah. Kepalaku membesar dengan percikan-percikan yang tak sepatutnya di sana.

Aku kerap mengamatimu dalam setiap hal sederhana yang kaulakukan. Bagaimana kau menbuka kaleng Diet Coke, caramu mencela orang dengan lucu, atau mata birumu yang terbelalak mendengar aku menyimpan koleksi celana dalam bolong. “Nenek-nenek sekalipun tak menyimpan celana dalam bolong,” katamu. Tawa kita meledak sebelum kau menyerbuku dengan kecupan-kecupan yang intensitasnya lebih pekat daripada anggur merah dalam gelasku. Lalu kulit telanjang kita bersentuhan kembali. Debu kosmos yang menjadi satu.

Wanitamu menghubungiku. Ia tengah bungah akan kedatanganmu dua minggu lagi. Dari bibirnya mengalir dongeng cinta indah. Dongeng yang membuat dadaku sesak hendak meledak. Kekasihmu mengajakku bahagia, karena kau milik kami berdua, tapi aku tak kuasa untuk tak tenggelam dalam palung terdalam di muka galaksi. Tempat gelap di mana aku bisa menjadi diriku yang sebentar lagi bermata sembab hingga beberapa jam ke depan.

Tak sepatutnya ini dibesar-besarkan. Kita hanyalah dua debu yang bersinggungan dalam satu potongan waktu. Kepadaku kauceritakan dongeng indah pengantar tidur, tapi padanya kau beberkan segala kelam. Dongengmu menjadi tak berarti, karena kau punya teman yang lebih layak untuk berbagi kisahmu yang paling kelam. Wanita itu. Karena kita hanya bersinggungan dalam satu potongan waktu. Irisan diagram dinamis yang menyeret pada satu sama lain, hanya untuk menyadarkan bahwa kita akan selamanya asing. Tak sepatutnya ini dibesar-besarkan. Bila saatnya tiba, aku akan pamit dalam senyuman walau dipaksakan. Tak perlu ada air mata. Sembabku sudah kuhabiskan malam ini.

Post-human

Kau pernah bercinta dengan kesendirian. Semalaman itu. Saat berpuluh belokan kaulewati, hanya untuk menemukan sunyi. Sendiri menjadi begitu familiar. Kau mengenalnya sebaik setiap lekuk tubuh orang yang kaucinta. Hanya saja, ia tak di sana. Hanya kau dan kesepianmu yang jahanam. Lama-lama, toh kau tak keberatan. Kau begitu putus asa sehingga mengira memang layak mendapatkan apa yang kau punya saat itu: kesendirian.

Katamu, kau terjebak keadaan hingga tak tahu harus melangkah ke mana selain berdiam di tempat dan menerima. Kau merasionalisasi segalanya. Sementara tak segalanya dapat dicerna otak manusia yang serba terbatas. Tiba-tiba kau bergerak, berjalan kembali setelah lama terpaku di satu titik. Kau berjalan, namun telah kehilangan arah.

Tujuan tak penting, katamu. Tujuan akan membelenggu gerak, sementara tanpa tujuan adalah membebaskan. Tidak ada keyakinan dalam kalimatmu, hingga aku tahu kau tengah menghibur diri saja.

Bukankah tujuan yang menjadikan kita manusia?

Kau jawab, “Bukankah manusia tak pernah bisa disederhanakan sebegitu rupa? Tetapi mungkin memang aku selesai menjadi manusia. Menuruti tuntutan ini dan anu dengan mengabaikan hati nurani. Tampil sebagai apa yang bisa diterima masyarakat walau itu bukan aku? Itukah manusia? Aku selesai menjadi manusia.”

Kalimatmu begitu final, muak yang kausimpan beribu hari lamanya. Marahmu meracau, mungkin memang sebaiknya kau selesai menjadi manusia, menjadi manusia menuntutmu untuk serba palsu. Kau jadi dirimu saja: sebentuk kegilaan yang berjalan tanpa tujuan.

Bolehkan aku berjalan bersamamu? Kita menjadi gila bersama? Melambaikan selamat tinggal pada makhluk-makhluk yang berpikir mereka manusia, yang berpikir manusia adalah makhluk berakal budi. Haha! Aku ikut muak kaubuat. Akal budi macam apa yang ditampilkan dengan kepalsuan? Menjadi manusia bukanlah tentang akal budi, persetan pula dengan hati nurani. Menjadi manusia berarti kau menyesuaikan diri, menjadi sesuatu yang bukan engkau. Kau akan muak pada manusia lain sebelum muntah-muntah karena ketakberdayaanmu menghadapi mereka. Bolehkan aku berlajan bersamamu? Kita menjadi gila bersama? Menjadi apa yang bukan manusia.

Tagged , , , , , , , ,
%d bloggers like this: