Homophobe

Aroma kerak telor di kamar langsung menyambut kembali Hardi yang barusan dari kamar mandi, ia sudah segar dan wangi lagi walau matanya masih agak sembab akibat tidur pulas beberapa jam. Matt terpejam di atas tempat tidur sambil memegang perutnya dengan sebelah tangan, kekenyangan. Tangan lainnya masih menggenggam iPhone seselesainya membaca email dari Tiara. Ia akan menghubungi wanita itu nanti.

Hardi yang tadinya tak bermasalah dengan kerak telor mendadak jengkel kamarnya dipenuhi aroma mengganggu itu. Ia baru sadar setelah hidungnya mulai netral sekembalinya dari kamar mandi. Semua ini gara-gara Matt, seharusnya bule satu itu minta ijin dulu pada pemilik kamar, apa boleh makan di kamar. Bukan seenaknya membuka bungkus makanan yang sekarang baunya nempel, belum lagi remah-remah serundengnya yang mengotori meja di samping tempat tidur Hardi.

Seraya mematut diri di cermin, ia melirik pada Matt, “Are you ready?” tanya Hardi memendam rasa tak sukanya terhadap pendatang baru di kamarnya itu, bersikap seolah tak ada apa-apa.

Matt membuka matanya dengan malas menuju wajah di cermin dengan pandangan bertanya-tanya. Ia tak ingat pernah membuat janji dengan Hardi, “What? Where?”

“Have a drink somewhere, or partying around?”

“Oh well I’d really love to, but I feel really worn out tonight, can I just stay here?”

“Are you sure? Come on! This is your first night in Jakarta, bro! First night in Indonesia! We should celebrate tonight! There would be a lot of hot chicks you can flirt with.” kata Hardi berapi-api setengah memaksa.

Matt tak suka apa yang barusan didengarnya, setengah mati ia mengumpulkan uang demi keliling Asia, demi pemahaman yang lebih baik tentang manusia dan budayanya, demi lebih bisa menghargai orang lain, hanya untuk dicap sebagai orang yang mau mengorbankan sinyal tubuhnya yang meraung minta istirahat demi… wanita-wanita seksi di klub malam? Selain merendahkan dirinya, ia pun tak suka cara Hardi bicara tentang wanita. Entahlah, Matt bukannya tak pernah bercanda tentang wanita, itu biasa dilakukannya dengan teman-teman dekatnya di Amerika sana, mereka bahkan tak jarang menggosipkan para wanita malang itu, tapi semua semata-mata bercanda, berbeda dengan cara bicara Hardi yang tak terdengar seperti bercanda, tak lucu, begitu menyebalkan dan merendahkan. “Only because it’s my first night here doesn’t mean I have to be up all night long for some hot chicks, bro. But thanks.” pungkasnya tajam dengan tekanan di kata ‘bro’.

Wajah kuning langsat Hardi memerah, tak suka kemurahan hatinya menyediakan kamar gratis dibalas dengan keberanian sang tamu melempar komentar pedas. Bagaimanapun, ia yang punya otoritas penuh di ruangan itu, lawan bicaranya hanyalah tamu. Tamu seharusnya sopan. Seharusnya ditampung saja sudah berterima kasih, sudah bersyukur. Bukan membuat kamar menjadi bau. Bukan menantang tuan rumah. Bukan menyindir keakraban tuan rumah dengan penekanan ‘bro’ yang sengaja dilebih-lebihkan. Hardi merasa terhina. “Yeah you’d rather spend the whole time here in this smelly room, thanks to your silly kerak telor, the cheap food not even faggots want to eat!”

Darah terpompa lebih deras ke seluruh tubuh Matt, membuat kepala dan dadanya terasa hangat dan nafasnya lebih berat. Ia serta merta terduduk tegak dan menatap tajam pada Hardi yang kini sudah berbalik membelakangi cermin, berdiri menghadap Matt. “What the? What is your problem, Hardi? If your life is even HARDER than your name, you have no right to judge people’s sexual orientation!”

“See? You’re a faggot!” Hahaha, tawa histeris Hardi menyiratkan sesuatu, bahwa Matt akan percuma saja meladeni argumen apapun yang keluar dari orang yang bisa tertawa histeris macam itu.

“Listen. Seek help. You have some issue. Oh WAIT. You don’t. You’re just an A-HOLE. I’m so sorry for you.” Berlawanan dengan Hardi yang nada bicaranya seperti di luar kendali, Matt tampak menguasai keadaan dengan tetap membuat suaranya terkontrol. Tajam, datar dan rendah. Namun wajahnya merah dan matanya seperti singa siap menerkam korbannya.

Ia serta merta bangkit dari tempat tidur, buru-buru mengemasi barangnya, untung saja ia tadi agak berhati-hati saat mengeluarkan handuk, baju ganti dan perlengkapan mandi, hingga sekarang tak perlu berlama-lama membereskan semuanya kembali. Napasnya memburu menahan emosi, sekali lagi Hardi memprovokasinya ia bisa saja meledak dan menghantam Hardi dengan kepalannya yang sudah lama sekali tidak digunakan. Ia tak butuh memukul orang sekarang. Ia hanya perlu pergi secepatnya dari rumah itu.

Hardi menyaksikan semua itu dengan wajah sinis dan dengusan nyinyir, ia hendak meluncurkan cercaan lain untuk memancing emosi lawan, sebelum dilihatnya kilatan di mata Matt yang membuat Hardi ciut di kandang sendiri. Matt rak perlu dipanncing rupanya. Tapi ia hanyalah orang asing, sementara Hardi si penghuni rumah, lebih mengerti keadaan, lebih tahu situasi dan lingkungan, lebih mudah mencari dukungan atau bala bantuan bila diperlukan. Tapi jaraknya dengan Matt terlalu dekat, ia akan babak belur sebelum sempat meminta bantuan teman-teman di rumahnya. Lagipula, berurusan dengan polisi adalah hal terakhir yang dibutuhkan Hardi dalam hidupnya. Ia hanya butuh pasokan alkohol secepatnya. Malam itu juga. Saat itu juga.

Beban belasan kilo segera berpindah ke punggung Matt, dengan napas memburu, bergulat menahan diri agar tak melukai siapapun, tanpa ragu ia membanting pintu di belakangnya, meninggalkkan Hardi, melewati dua orang ekspat di ruang TV lantai bawah yang keduanya memandang penuh tanya padanya. Ia terus melangkah meninggalkan rumah itu untuk kedua kalinya di hari yang sama. Tanpa menoleh kembali. Hari pertamanya di Indonesia berakhir berantakan.

Ia tak mengenal daerah itu, ia tak mengenal Indonesia sama sekali, ia tak tahu harus berbuat apa, ia hanya ingin berjalan sejauh mungkin, nanti akan dipikirnya apa yang harus dilakukan. Mungkin mencari hotel untuk malam itu saja, mungkin langsung menuju Yogya. Tapi bagaimana? Ia lantas merutuk, menyesali brewok yang kini sudah lenyap. Kesan yang ditampilkan dengan brewok itu selalu lebih sangar, setidaknya membuat orang berpikir dua kali untuk mencari masalah dengannya. Itu penting untuk survival di tempat asing. Ah, dalam perjalanan beberapa bulan ini, ia berusaha keras memercayai manusia pada dasarnya baik, kenapa brewok kini menjadi soal? Bila manusia pada dasarnya baik, dengan atau tanpa brewok seharusnya Matt aman. Ia tak perlu tampil lebih intimidatif untuk menghindari menjadi korban kriminalitas. Persetan! Pikirannya tak bisa berhenti berperang, mulai dari mengutuk kecongkakan Hardi, meributkan brewok, memikirkan hotel, perjalanannya di Asia, hakikat manusia, pembuktian diri, atau lebih tepatnya mencari bukti atas prasangka baiknya terhadap manusia. Kepalanya ingin pecah. Untuk pertama kali selama perjalanannya ia begitu kesal. Ia hanya perlu menemukan tempat untuk duduk sesaat, menyulut sebatang rokok, lantas… Tiara! Ya, Tiara. Matthew akan menghubungi Tiara.

Advertisements
Tagged , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: