“Oh my God, dude! I thought you’re missing somewhere?!” Sontak Hardi terlonjak saat orang yang ditunggu tiba-tiba menepuk bahunya dari samping, sementara ia tengah asyik menatap kosong ke arah barisan menu yang terpampang besar di tembok di hadapannya. Pikirannya membayangkan eksotisme Vietnam dan liburan berminggu-minggu, selamanya bila perlu.

Cengiran jahil muncul dari wajah Thomas, “You know, macet as always.” Jelas Hardi tak percaya alasan klasik itu. Seorang Jerman macam Thomas, akan setengah mati mengusahakan datang tepat waktu, terlebih bila sudah paham betul jam-jam dan titik-titik macet Jakarta. Beberapa bulan tinggal di Jakarta rupanya sudah membuatnya ahli jam karet dengan macet sebagai alasan.

Jadi, kita butuh ngobrolin detil itinerary lu, lu mau jalan ke mana aja? Tanya Hardi sekali lagi. Thomas masih sulit memutuskan hendak ke mana ia setelah habis kontrak enam bulan sebagai konsultan DRR management di sebuah NGO internasional.  Ia merencanakan liburan sebulan dengan rute ke timur seperti banyak dilakukan para turis yang memulai dari Jakarta. Bila memungkinkan, Hardi akan bergabung dengan Thomas di Bali.

Rute biasanya: Jakarta – Dieng – Yogya – Bromo (via Surabaya atau Malang) – Bali – Lombok. Begitu jelas Hardi, yang serta merta diprotes, bahwa itu hanya lima titik, selain Jakarta. Mereka berdebat. Memang hanya lima tempat, tapi di masing-masing tempat ada begitu banyak hal untuk dilihat dan dilakukan. Ambil contoh Yogya, tak cukup sehari atau dua hari untuk mengeksplor Yogya dari gunung, ke kota, hingga pantainya. Pilihan pantai di Yogya sendiri ada yang cantik berpasir putih di kawasan karst Gunungkidul sana, ada pula yang eksotis berpasir hitam di daerah Bantul yang relatif lebih mudah dicapai dari pusat kota.

“Dude I thought you’ve done some googling!”

Thomas protes dengan tutur Inggrisnya yang khas, kental logat Jerman. “I become not sure,” katanya, ia tahu banyak sekali hal yang bisa dilakukan di satu kota saja, tapi bukankah lima kota masih terlalu sedikit untuk perjalanan sebulan?

Hardi sebetulnya hanya ingin membantu memberi berbagai saran yang diketahuinya sebagai orang yang bertemu dengan banyak traveler dan mengetahui rute mereka dengan baik, saking seringnya mendengarkan kisah perjalanan dan rencana perjalanan berikutnya dari tamu-tamunya yang datang silih berganti.

Hal lain yang perlu dipastikan Hardi Nugroho adalah memastikan kapan Thomas dengan kekacauan perencanaan macam itu akan tiba di Bali. Ia akan ke Bali juga. Tapi percuma bila tak ada kawan. Ia akan ke Bali saat Thomas di Bali. Ia akan pergi bila ada jaminan Thomas di sana. Thomas harus di sana, atau dia gigit jari.

Pernah terbayang apa jadinya seorang sosialita bila sendiri di tempat nongkrong? Hardi itu gila kehidupan malam, gila ‘bergaol’, selalu haus berada di tengah kerumunan orang, menjadi pusat perhatian bila perlu. Minimal, ia tak boleh sendiri di tempat-tempat hip di Pulau Dewata. Terbayang kering garing seperti apa bila ia sendiri, anak muda sekarang menamainya, ‘mati gaya’. Seseorang seperti Hardi tentulah lebih memilih mati secara biologis daripada harus mati gaya saat kesadaran dan lima panca indranya berfungsi baik.

“Gini aja deh Tom, lu matengin dulu rencana perjalanan lu, nanti kasih tau, secepatnya kalo bisa, biar gue bisa atur cuti, kapan, tanggal berapa lu ada di Bali. Gue sekarang kedatangan orang Amrik, kami mau ke Kemang malam ini, ato lu ikut aja?” tutur Hardi, tentu dalam bahasa Inggris. Katanya Thomas akan menyusul kemudian bila sempat. Sekarang ia hendak menyambangi sebuah acara budaya di kedutaannya.

Mereka bergegas meninggalkan kafe yang kini telah semakin ramai. Ada sekelompok cewek di meja pojok, terpana menatap betapa menawannya Thomas, bahkan setelah polusi Jakarta menempel di wajah dan kulitnya yang kini lengket. Senyum tulus terlempar walau tipis dan agak malu-malu, dari bibir merah jambu di bawah hidung mancung melengkung. Cukup membuat cewek-cewek ABG itu bengong sepersekian detik, terhipnotis.

***

Setiba di rumahnya, Hardi mencari Matt di segala sudut rumah yang mungkin disambangi Matt. Ruang tamu, ruang makan, dapur. Tak ada. Ok, berarti Matt belum pulang, saat sebagian housematesnya sudah kembali, sibuk memasak di dapur atau terhipnotis siaran TV. Ia sengaja tak bertanya pada satupun dari mereka, apakah mereka melihat penghuni baru nan tampan tersebut. Toh lebih mudah mengecek ke beberapa ruangan ketimbang harus menjelaskan tentang penghuni baru mana lagi yang dimaksud Hardi, Hardi sudah menampung begitu banyak penghuni baru setiap bulannya.

Ia lalu memasuki kamarnya, tubuhnya segera rebah di atas tempat tidur, remote AC disetel hingga ke suhu 16, jam menunjukkan pukul tujuh malam. Ia lelap dalam sesaat. Masih dalam setelan kemeja biru pas badan dan celana hitam yang telah dikenakannya seharian.

***

Sekali lagi Matt harus berdesakan di bus Trans Jakarta, kali ini tanpa Ika karena perempuan itu harus ganti halte beberapa saat lalu, setelah sebelumnya berkali-kali memastikan Matt tahu harus ganti halte di mana, dan turun di halte apa. Ditanyainya Matt kembali untuk memastikan lelaki itu benar-benar paham. Ia sudah bertingkah selayaknya Matt anak umur sepuluh tahun yang berkeliaran sendirian di jalanan ibu kota, melupakan fakta bahwa bagaimanapun konyolnya boneka Kurt Cobain dalam ransel Matt, pemiliknya telah mengarungi jalanan di kota-kota Asia Tenggara beberapa bulan terakhir ini.

Mereka sudah bertukar nomor. Ika sengaja menyodorkan secarik kartu nama yang bagian belakangnya kosong, untuk ditulisi kontak telepon dan email Matt. Tindakan sentimentil, atau bahkan mungkin sedikit centil, yang dimaksudkan untuk mendapatkan jejak fisik Matt dalam bentuk apapun yang bisa didapatnya. Tulisan tangan di belakang kartu nama entah siapa. Tak apalah. Juga beberapa jepret selfies. Cukup untuk menutup episode pertemuannya dengan Matt.

Oh! Ada apa dengan Ika! Ia berjalan dengan senyum terkulum tak kunjung hilang selepas pertemuan dengan Matt. Menjadi penuh harap bungah-bungah musim semi. Ia memang belum pernah berinteraksi langsung dengan bule sebelumnya, tapi apa ia tak paham kebanyakan traveler menikmati perjalanan itu sendiri dalam setiap momennya. Hanya jejak kaki dan kenangan manis yang mereka tinggalkan. Hanya itu pulalah yang mereka bawa, berikut tambahan beberapa megabyte jatah dalam memori kamera.

Ika seperti tak peduli. Siapa peduli bila kehangatan dan kekuatan tatapan mata seorang lelaki sudah meresap hingga ke jiwa? Tak peduli seperti apa perkenalannya dan hanya berapa jam obrolannya, yang paling penting adalah, jejak itu ada, akan selalu di sana, dan tersegel bukti fisik berupa rekam tulisan tangan dan beberapa pose manis dengan Ika dalam rangkulan. Rangkulan bersahabat yang sering dilakukan Matt selama perjalanannya. Matt berfoto merangkul petani Thailand, merangkul ibu-ibu di Philippine, merangkul host perempuannya, juga host lelakinya. Dan seterusnya. Tapi… Ika tak peduli. Itu tak penting, yang penting adalah hangat dalam dirinya yang muncul kembali dan semoga saja ada di sana hingga lama, cukup lama untuk membuatnya bertahan…

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: