Impian Hardi dan Kehangatan Vietnam

Jakarta jam-jam pulang kantor, persimpangan jalan seputaran Citraland sangat padat kendaraan dan orang berlalu-lalang mengejar bus berikutnya menuju rumah masing-masing. Masih dengan setelah kantoran, celana hitam berpotongan lurus dan kemeja biru langit pas badan yang lengannya digulung hingga siku, Hardi sekali lagi mencuri pandang ke layar Blackberry di genggamannya yang tidak sedang menyala. Ia memastikan rambutnya rapi walau wajahnya nampak lelah.

Sudah setengah jam ia berada di salah satu kafe, mengecek email ditemani secangkir besar Cappuccino yang kini telah dingin terpapar suhu ruang berpendingin, sesekali ia melihat ke arah pintu kafe, jelas-jelas menanti seseorang.

Orang yang dinanti tak kunjung datang hingga setengah jam kemudian, sementara Hardi sudah selesai dengan aktivitasnya mengecek dan menulis email ke beberapa kolega dan calon tamu berikutnya yang akan datang menjelang natal. Tiga perempat cangkir cappuccino telah direguk, tak membantu kantuknya hilang walau sedikit. Ia ingin pulang saja, sekedar meluruskan badan sesaat sebelum malam datang.

Ya, kehidupan malam Hardi sepertinya lebih penting ketimbang pekerjaan kantorannya. Kantuk yang menyergap di jam-jam kantor bisa menguap begitu saja bersama kepulan asap rokok, bila tak di kafe di bilangan Kemang, ya di club.

Entahlah, selain melepaskan diri dari rutinitas siang yang membosankan, malam juga begitu berarti baginya. Ia bertemu orang-orang favoritnya, biasanya ekspat, atau traveler yang singgah di Jakarta. Mereka akan berbicara tentang pekerjaannya di Jakarta, melontarkan pujian dan kekaguman tentang kehidupan di Indonesia, biasanya topik kekaguman ini berlangsung singkat, seperempat, atau seperdelapannya dibandingkan dengan banyaknya curhat berisi cercaan setiap kali harus berurusan dengan kantor imigrasi.

Bagaimana tidak, kantor-kantor itu kedatangan warga asing setiap harinya, namun kemampuan komunikasi mereka seringkali tak memadai, hanya cukup untuk percakapan ringan, ketemu masalah sedikit, mereka bingung tak mengerti penjelasan ekspat atau turis asing, pun tak tanggap.

Tapi yang paling dinikmati Hardi adalah dongeng petualangang teman-teman nongkrongnya ini. Kebanyakan mereka pernah menginjakkan kaki di banyak negara lain, terutama di Asia Tenggara. Sebagian dirinya bergelora setiap kali sebuah kisah dituturkan. Ia pun ingin pergi, berkunjung ke tempat jauh dan mengisahkan ceritanya pada dunia.

***

Vietnam, September 2012.

Thomas, akhirnya dapat menginjakkan kaki di Ho Chi Minh City, yang biasa disebut HCMC. Perdebatan alot dengan sang boss berujung manis, ia diperbolehkan menabung jam kerja agar durasi liburannya lebih panjang. Seharusnya ia bekerja delapan jam per hari, berkat kemampuan membujuk, atau lebih tepat  disebut merengek, ia lalu bekerja hingga 12 jam, mengakumulasikan kelebihan jam untuk ditukar dengan hari liburan. Sungguh menyenangkan, dan membuat sirik siapapun yang tak berdaya mengganti jadwal seenaknya, termasuk Hardi Nugroho.

Berbeda dengan kebiasaan Matt yang traveling tanpa tahu apapun tentang tempat yang dikunjunginya, Thomas menghabiskan lebih banyak waktu mempelajari suatu tempat sebelum berkunjung. Namun, setelah mendapat pengetahuan yang cukup, hal yang pertama dilakukan saat traveling justru bukan mengunjungi titik-titik yang banyak dikunjungi turis.

Thomas Weber, dengan bahasa Inggrisnya yang tak kunjung lancar, akan berjalan kaki hingga berkilo-kilo meter mengelilingi kota. Suatu hari setelah sarapan di hotel, ia mengganti celana pendek dan kaus putihnya dengan celana panjang khaki, mengenakan kemeja kotak-kotak merah kesayangan dan sepatu kets abu-abu. Kostum lapangan yang membuatnya terlihat lebih rapi ketimbang Matt dengan gaya tabrak lari, jarang bercukur dan lusuh.

Thomas lantas mencangklongkan Canon EOS 600D. Lebih mudah demikian ketimbang mengamankannya di dalam tas kamera, yang justru menyulitkan bila sewaktu-waktu hendak mengabadikan momen. Handphone lawasnya telah berada di saku celana, passport dalam tas pinggang telah terpasang kembali dengan rapi di balik kemeja, lalu diraihnya postman bag ukuran sedang berbahan kanvas, dan kunci kamar yang ternyata masih menggantung di sisi luar pintu. Ia lupa mencabutnya barusan saat hendak berganti pakaian.

***

Baru saja menikmati kota HCMC lebih kurang tiga kilometer, hujan mulai turun. Thomas yang rambutnya kini sedikit basah berlari agak panic mencari tempat berteduh, Canon kesayangan adalah hal pertama yang ia khawatirkan. Ia berlari menuju kolong sebuah jembatan yang uniknya memiliki hamparan rumput walau sempit sekali, nyaris seperti tempat piknik.

Benar saja, tiga orang bapak paruh baya memandang ke arahnya pebuh rasa ingin tahu. Dari pakaiannya, Thomas menilai mereka orang kurang mampu, semua berpakaian apa adanya dan lusuh. Rasa khawatir dan takut tiba-tiba menyergap, bagaimanapun ia orang asing. Ia tak kenal siapapun di kota itu. Ia tak bisa meminta pertolongan pada siapapun bila hal buruk terjadi, dan ia tak tahu sedang berada di mana dengan orang macam apa.

Di tengah segala rasa khawatir, Thomas mengumpulkan keberanian untuk membalas tatapan ketiga orang tersebut, lantas tersenyum. Ia melirik peti di belakang orang-orang itu. Di hadapan mereka ada beberapa kaleng kosong bir. Ah. Benar-benar piknik rupanya. Salah satu dari mereka melambakan tangan pada turis ini, yang dari penampilannya tentulah memiliki lebih banyak uang dari mereka.

Bukan rahasia bahwa orang-orang di negara berkembang selalu menginginkan uang para turis. Thomas menepis pikiran macam itu lalu bergabung dengan entah siapa orang-orang ini. Lima menit berikutnya mereka sudah tertawa-tawa. Bukan karena obrolan yang lucu, tapi karena mereka tak bisa mengobrol sama sekali. Ketiganya tak berbahasa Jerman maupun Inggris, sementara Thomas tak bicara bahasa setempat. Apa lagi yang bisa dilakukan selain berbahasa isyarat lalu tertawa-tawa tanpa mengerti satu sama lain.

Terkadang, mereka menggambarkan suatu objek di buku catatan Thomas untuk menjelaskan apa yang mereka coba bicarakan. Dua kaleng bir sudah tuntas oleh Thomas sendiri, berbeda dengan Indonesia yang perlu lebih banyak uang untuk membeli bir sehingga agak mustahil mendapati orang di kolong jembatan menikmati bir, bir di Vietnam bukanlah minuman mahal, semua orang bisa membelinya seperti orang Indonesia membeli rokok. Baiklah, rokok tak murah, ya? Tapi kita mampu, kan?

Hijan telah reda saat Thomas ditawari kaleng ketiga yang dengan senang hati dibukanya. Jerman dan bir. Siapa tak tahu fakta itu? Tiga kaleng sama sekali tidak banyak untuk pemuda Jerman bermata biru dan senyum menawan itu. Kaleng ketiga tuntas dalam kurang dari sepuluh menit dan hujan sudah benar-benar reda.

Thomas tak tahu bagaimana harus mengucapkan terimakasih, ia hanya mengatupkan kedua tangan sembari membungkuk-bungkuk, mengeluarkan mulai dari ‘danke’ hingga ‘thank you so much’. Ia pun meraih dompetnya, menyodorkan beberapa lembar Dong untuk tiga kaleng bir, yang ditolak mentah-mentah. Orang-orang ini menawarkan kehangatan tanpa ingin uang Thomas. Hangat yang meresapi jiwa Thomas, yang walau sering bertemu orang-orang tulus, ia pun sering menjadi korban pemerasan atau bujuk rayu yang pada intinya, orang menginginkan uangnya. Tiga kaleng bir dingin dan tiga orang Vietnam kini direkamnya baik-baik dengan kamera dan dalam ingatan.

 

 

Diupload dari atas bus full dangdut Yogya-Karawang. Berbagai detail, terutama tentang Vietnam, akan ditambahkan kemudian.

Advertisements
Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: