Monas, Bus, Kurt Cobain dan Bungah Musim Semi

Tak jauh dari tempat Ika dan Matt duduk, kepanikan seorang wanita mengundang kerumunan orang. Ia merogoh setiap sakunya, ditepuk-tepuknya lagi dan lagi setiap saku, “Handphone saya ilang!” ulangnya kembali, yang mengundang perhatian semakin banyak orang. “Astagaaa…!” ia tercekat mulai berkaca-kaca, namun sekali lagi merogoh-rogoh ke dalam tas selempangnya yang tadi dengan bebas berada di sisi badan bagian kiri. Seperti tak kunjung percaya handphonenya telah benar-benar raib entah ke mana.

Matt yang kini memiliki penerjemah pribadi mendapat penjelasan tanpa diminta bahwa wanita yang kini sedang ditenangkan oleh beberapa orang tersebut baru saja kehilangan handphonenya, sepertinya dicopet. Serta merta ingatan Matt melayang pada obrolan pagi itu lagi. Oh, sudah sedemikian parah kah Indonesia? Baru mendapat peringatan dari Hardi beberapa jam sebelumnya, Matt sudah menyaksikan sendiri korban copet panik di tengah keramaian.

Sekali lagi Matt mencatat dalam hati, rangkuman kejadian untuk dicerna kemudian,  dengan sedikit membubuhkan pemikirannya yang, oh-kau-tak-pernah-tahu, kontemplatif! Gaya easy going Matt yang slengekan akan menipu siapapun bahwa mungkin, sekali lagi hanya mungkin, Matt adalah pemuda di bawah 30 tahun paling bijak yang pernah eksis di dunia backpackers.

Untuk memfasilitasi hobi rahasianya yang satu itu –berkontemplasi, Matt lebih suka naik bus dari satu kota ke kota lainnya ketimbang memilih moda transportasi lain, hal yang tak banyak diketahui orang yang seringkali sebenarnya sekadar menyarankan alternatif terbaik, termurah dan tercepat dari satu kota menuju kota lain. Terkadang melakukan hitchhike begitu mudah si suatu daerah, terkadang naik kereta adalah pilihan terbaik. Tapi Matt memilih bus. Pokoknya bus.

Posisi duduk di kereta yang terkadang harus hadap-hadapan tak memungkinkannya untuk menghabiskan waktu sendiri. Hitchike sama saja, Matt mesti paling tidak berbasa basi dengan orang baik hati yang mau mengangkut backpacker dekil macam dirinya. Tapi memang biasanya backpacker cowok itu dekil sih ya, beda dengan para cewek yang walau berhari-hari bergulat dengan debu jalanan, mereka punya superpower untuk tetap kinclong. Hanya kaum hawa, dan tuhan yang tahu rahasianya.

Matt, yang sudah berbulan-bulan hidup nomaden sebagai traveler, jarang memiliki ruang pribadi yang terkadang dibutuhkan setiap individu. Berkat jejaring traveler, ia sering mendapat tempat menginap gratis, yang artinya tentu saja berhemat, sebuah keuntungan yang sepintas lalu semacam oportunis. Tapi arti lainnya bagi penikmat perjalanan adalah, lebih lama durasi travelling, lebih banyak tempat yang dikunjungi, lebih banyak orang yang ditemui, lebih beragam budaya yang dicoba selami, lebih kaya wawasan, lebih luas perspektif, lebih memahami kehidupan. Lebih manusia. Mudah-mudahan.

Saat disediakan kamar pribadi di rumah host atau penduduk lokal sekalipun, Matt akan mengobrol tak jarang hingga larut malam dengan kenalan-kenalan barunya, yang seringkali kehangatannya mengingatkan akan keluarganya di Amerika sana.

Saat bertualang siang harinya, ia harus berinteraksi lagi dengan banyak orang entah sekadar menanyakan arah atau terlibat obrolan seru dengan penduduk lokal atau sesama turis. Dirinya melebur bersama orang-orang lain yang ditemuinya, menyatu dengan tanah yang diinjaknya, pemandangan yang dinikmatinya. Ia, tak memiliki waktu untuk berkontemplasi dan memikirkan ‘ke-dalam’

Bus, satu-satunya jawaban bagi Matt untuk dapat menyalurkan hobi merenungnya itu, kedalaman pemikirannya mungkin akan menjadikannya Paulo Coelho selanjutnya? Agak mustahil membayangkan pria yang kemana-mana membawa boneka Kurt Cobain untuk mainan, menjadi Paulo Coelho. Tapi, siapa tahu?

Bus, tak bertempat duduk hadap-hadapan, dan Matt seringkali dengan culas berhasil menyita dua kursi sekaligus untuknya sendiri. Upaya egois dalam rangka menghadiahi diri sedikit ruang pribadi. Saat ditanya apa bedanya merenung di bus dengan merenung di alam terbuka? Toh ia sering bertualang di alam, dan bukankah lebih syahdu menyelami kehidupan dan pemikiran diri sendiri di tengah-tengah pemandangan indah, di antara udara segar alam terbuka?

Beda. Bus itu spesial. Bus itu ajaib. Terlalu banyak hal di alam terbuka yang bisa dinikmati yang membuat kita tetap sibuk. Namun di bus kita terkurung, tak berdaya, tak bisa melakukan banyak hal, dalam perjalanan malam seringkali yang terlihat hanya kerlip cahaya lampu dan sisanya kegelapan. Dalam keadaan seperti itu, kita bosan, lalu… tidur, atau… melamun. Tapi Matt tak mau dibilang melamun. Ia calon Paulo Coelho, bagaimanapun, Coelho tak melamun. Tapi lagi-lagi, Coelho tak bawa boneka kemana-mana. (Matt: ini boneka Kurt Cobain! Beda!)

***

Kurt Cobain diposisikan Matt sedemikian rupa berlatarkan monas, kakinya direnggangkan beberapa senti, dan Snap! Waktunya berfoto. Kurt Cobain in Monas! Pose-pose sang empunya boneka tak kalah ajaib ketika berperan sebagai penata gaya idolanya tersebut. Matt nungging, jongkok, nungging lagi dan jongkok kembali, mengabadikan berbagai pose Kurt, dari close-up shot hingga foto berlatar Monas sampai ke puncaknya, memang harus berjuang nungging-nungging untuk dapat sudut demikian bagi boneka setinggi dua puluh senti saja. Di dunia fotografi, Matt ini fotografer yang lebih banyak gaya ketimbang modelnya, biasanya itu kebiasaan fotografer amatir. Gaya kocak yang sungguh tak sinkron dengan brewok lebat a la biker Harley Davidson yang tak kunjung dicukurnya.

Foto-foto hasil perjuangan mulianya tersebut –mulia karena berani mempermalukan diri di tempat umum, di kemudian hari akan muncul di blog Matt yang semakin hari semakin jarang diupdate. Maklum, ritme perjalanannya kini semakin cepat seiring sang traveller yang semakin gatal berlama-lama di satu kota saja. Boneka Kurt Cobain menjadi tokoh utama dari blog itu dan ada begitu banyak peristiwa dan pemikiran ditulis dari perspektif Sang Legenda. Versi konyol. Sebutlah Matt, kali ini tak sedang menjadi Coelho, namun coba-coba nekat menjadi Cobain.

Ika, sembari merapikan ujung ciput jilbabnya, terkikik mengamati Matt yang begitu larut dalam sesi foto boneka yang kesannya tak main-main. Pemandangan tak biasa melihat pria dewasa masih melakukan hal konyol macam itu tanpa peduli ditertawakan orang. Matt yang tak biasa. Mata coklat jenaka yang sekaligus menyimpan keteduhan. Penampilan apa adanya, tanda begitu nyaman ia dengan diri sendiri. Lontaran pertanyaan-pertanyaan entah sensitif entah polos yang bernada tanpa prasangka. Intensitas dan keseriusannya mendengarkan.

Rasanya sudah lama sekali Ika tak pernah merasa begitu diperhatikan… Begitu didengarkan… Perasaan bungah pergantian musim dingin ke musim semi yang kini dihadirkan oleh seorang asing yang baru saja dikenalnya. Ika tak pernah percaya perasaan macam itu bisa hadir secara instan, tapi ia kini merasakannya hanya di jam ke-dua setelah pertemuan tak sengaja dengan Matt.

Ada ketertarikan yang sekarang menjelma keterikatan, untuk terus menggali lebih jauh tentang Matt, untuk membuka dirinya lebih dalam kepada Matt, meski di tengah segala kendala bahasa yang acap terjadi. Namun hingga berapa lama lagi kebersamaan yang begitu Ika nikmati itu harus berakhir dan menguap bersama jejak Matt di Jakarta? Berapa jam? Berapa menit?

Kamu mau foto sama Kurt? He would bring you nice memories. Lamunan Ika dibuyarkan oleh sodoran boneka di hadapannya. Serta merta diraihnya Kurt mendekat ke wajah, ke samping dagu seperti SPG mempromosikan barang dagangan. Cheers! Senyum manis dari bibir mungil Ika pun terekam kamera. Mungkin akan membawakan Matt ‘the nice memories’ di kemudian hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: