Pertemuan dengan Wanita Berjilbab

Matt berjalan sejauh kurang lebih satu kilometer sebelum menemukan shelter bus Trans Jakarta yang dimaksud Hardi saat berbincang di meja makan. Walau tanpa modal bahasa Indonesia sama sekali, ia tak menemui banyak kesulitan dalam menemukan arahan menuju Monas. Sontak ia berpikir bahwa semua orang Indonesia mengerti bahasa Inggris, tak seperti yang diduganya sebelumnya. Belum setengah jam berdesakan di bus, Ia melintasi jalan protokol ibukota yang dipenuhi gedung menjulang dan pawai mobil mewah yang tersendat macet. Dari posisinya yang terhimpit badan para penumpang lain, ia masih dengan leluasa menyaksikan pemandangan di luar bus melalui jendela.

Ia selalu membayangkan negara dunia ke tiga tak seharusnya semegah Jakarta, yang “wah” namun menyisakan jejak-jejak kemiskinan di banyak sudut dalam berbagai bentuknya. Pengemis dan gelandangan. Pemukiman kumuh. Selokan berair hitam pekat dipenuhi sampah. Sebuah kontradiksi yang sekali lagi harus disaksikan Matt selama petualangannya di Asia Tenggara.

Keheranannya belum juga sirna saat seorang wanita muda berjilbab memasuki bus, berdiri tepat di hadapannya. Tak sering ia bertemu langsung dengan wanita berjilbab, aneh rasanya kini berdiri hadap-hadapan dengan wanita ini. Perasaan yang sama menghinggapi wanita tersebut, bahwa ia jarang sekali berhadapan dengan jarak sedekat ini dengan seorang bule. Mereka pun dengan canggung saling menatap, diikuti saling melempar senyuman dan menganggukkan kepala.

“Where are you from?” si wanita memberanikan diri bertanya dengan bahasa Inggris yang patah-patah karena canggungnya.

“I’m from The States,” jawab Matt menunjukkan senyum lebar dan minatnya untuk meneruskan percakapan.

“What is that?” tanya wanita itu polos.

“The States? It’s America,” jelasnya sembari mengulurkan tangan, “I’m Matt, Matthew Flanagan.”

Tak biasa berkenalan dengan bule, wanita itu hanya menyambut uluran tangan Matt dengan tersenyum, tanpa berkata apapun. Terlebih ia jengah kini orang di kiri dan kanannya semua melirik ke arah mereka, setengah cuek dengan earphone terbenam di telinga, setengah penasaran.

“What’s your name?” tanya Matt akhirnya.

“My name is Ika.”

“Ah nice name, nice to meet you, Ika. I’m going to Monas, still far away?”

Merasa lebih santai dengan keramahan dan keterbukaan Matt, Ika pun lebih percaya diri berbahasa Inggris, lagipula ia tak pernah berkesempatan mempraktekkan hasil belajarnya bahasa Inggrisnya selama bertahun-tahun dengan native speaker. Ia menginstruksikan Matt untuk turun dua halte lagi, lalu sepintas bercerita bahwa ia barusan wawancara kerja di sebuah majalah ternama.

“If you’re free after the interview, why not join me to Monas?” ada sesuatu pada wanita itu yang begitu menarik bagi Matt. Ika terdiam sesaat, digigitnya bibir mungilnya, tanda ia sedang mempertimbangkan ajakan pria yang baru dikenalnya tersebut. Seandainya Matt pemuda lokal, tentunya Ika langsung menolak takut. Tapi Matt turis, tak mungkin turis berbuat kriminal di negara asing, kan? Demikian pikir Ika. Ia lantas mengiyakan ajakan Matt, lagipula Monas tempat umum, tak mungkin Matt macam-macam, dan Ika tak punya kesibukan lain hari itu.

***

Sengatan panas matahari tepat menimpa kepala saat Matt dan Ika memasuki area Monas. Hari minggu itu rombongan wisatawan dari luar kota Jakarta memadati Monas. Matt menyapukan pandangannya, mencoba mencari pembenaran akan keterangan Hardi tentang banyaknya copet berkeliaran di Monas. Ia berlagak seperti detektif yang ahli membaca orang dari penampilan dan bahasa tubuh.

Seorang pemuda berpenampilan lusuh dengan skinny jeans sobek-sobek dan kaus hitam pudar duduk di bawah pohon. Sebentar-sebentar dilihatnya handphone-nya, lalu diedarkan pandang ke sekeliling, nampak sedang menanti seseorang. Penampilannya berandalan namun Matt tak mencurigai anak punk ini sebagai copet.

Matt lantas menepis pikiran sok cool-nya yang pura-pura mampu membaca gelagat orang lain. Ia bagaimanapun, terlahir dengan pribadi easy going yang lebih sering berpikiran positif terhadap siapapun dan situasi apapun.

Bule bercelana pendek dan berkaus tanpa lengan, berjalan bersama wanita muda berjilbab. Pemandangan unik yang cukup mengundang perhatian para pengunjung lain. Sepasang teman baru ini toh lebih asyik ngobrol sendiri ketimbang memperhatikan tatapan aneh orang lain.

Jadi, Ika, aku belum pernah ngobrol langsung dengan wanita muslim berjilbab sepertimu, ini jadi pengalaman pertama yang seru buatku. Begitu ungkap Matt tak lama setelah mereka menemukan tempat berteduh di antara sengatan matahari Jakarta yang kian menjadi. Matt berusaha mengarahkan obrolan pada keislaman Ika. Akan sangat menarik baginya mendengarkan cerita tentang islam dari orang islamnya langsung, bukan dari media barat yang muatan beritanya cenderung mengidentikkan islam dengan teroris.

Ika tersenyum simpul, “Kamu pasti sudah tahu Indonesia punya penduduk muslim terbanyak di dunia, mungkin lebih banyak ketimbang jumlah seluruh muslim di timur tengah.”

“Oh ya???” Matt terperanjat, dia benar-benar tak melakukan riset apapun sebelum bertandang ke Indonesia.

“Yes, Matt, gampangnya, kamu akan menemukan banyak banget cewek berjilbab di sini, lihat aja rombongan arah jam 5 kita, mayoritas berjilbab, kan?” Matt lalu menoleh ke arah kanan belakangnya, sedikit mengangkat kacamata minusnya dan mendapati serombongan turis lokal berseragam biru yang hampir seluruhnya berjilbab.

Matt menatap Ika sembari menyunggingkan senyum, “No offense, tapi apa nyaman pake penutup kepala di negara tropis kayak gini?”

Ika geli mendengar pertanyaan yang menurutnya polos tersebut, ia pernah mendengar para jilbabers pemula bagaimanapun merasa tak nyaman. Beberapa bahkan mengeluhkan ketajaman pendengaran mereka sedikit terganggu dengan gemerisik gesekan jilbab dengan daun telinga, dan tentunya kegerahan dengan tambahan lapisan kain di kepala. Namun semua itu hanyalah soal waktu hingga terbiasa. Seperti ABG yang dadanya baru tumbuh dan terpaksa memakai bra, rasanya tak nyaman sama sekali. Gatal lah, seperti terikat lah, namun beberapa bulan kemudian keluhan itu sudah tak terasa lagi. Bra bahkan akan menjadi bagian hidup remaja cewek yang justru akan merasa tak nyaman luar biasa saat tak dikenakan keluar rumah.

Lawan bicaranya yang kini berkeringat terjemur matahari mengeluarkan botol minumnya, menawari Ika sebelum menenggak untuk dirinya sendiri. Sopan sekali, pikir Ika. “Jadi, apa setiap wanita muslim wajib pakai jilbab?” lanjut Matt.

Pertanyaan itu sungguhlah di luar kapasitas Ika untuk menjawab, mengingat selain faktor iman, sebagian dirinya mengakui bahwa ia mengenakan jilbab sebatas karena tekanan sosial. Ibunya di kampung adalah guru ngaji, teman-teman SMU-nya pun mayoritas mengenakan jilbab. Buruk sekali bila ia tak kunjung berjilbab. Ia tak kuat membayangkan pandangan negatif para tentangga dan kawan-kawannya di sekolah. Ia lalu mulai berdandan seperti teman-temannya, mencoba menyesuaikan diri dengan menaati kewajiban umat muslim yang satu itu.

“Ya, Matt, kami wajib pake jilbab untuk menutup aurat. Itu penting supaya ga ngundang birahi lelaki juga.” Ika menjawab sebisanya, saat hati kecilnya justru mencari jawaban yang lebih matang. Bagaimana tidak, ia tak menguasai ajaran islam secara kritis. Selama ini ia hanya ikut-ikutan, dan ia menyadarinya. Ia mengutarakan jawaban yang ia tahu agar tak terlihat berkepala kosong. Tak mungkin kan Ika mengaku hanya ikut-ikutan?

Matt memahami jawaban Ika sebatas ‘keimanan’, apapun alasannya, bila iman yang bicara, selesailah masalah. Tak ada diskusi. Tak ada ruang mengkritisi. Namun pertanyaan Matt itu membuat Ika terusik dan sekali lagi ingin menemukan jawaban atas keimanannya. Ia melamun, teringat ibunya di kampung. Apa kata ibunya bila tahu Ika mempertanyakan ajaran agama?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: