Matt’s First Day in Indonesia

Perasaan itu selalu muncul saat ia menginjakkan kaki di negara yang belum pernah disinggahinya. Baur antara senang, haru dan girang. Andai bisa menghilang sesaat dari pandangan para penumpang lain yang turun dari pesawat jurusan HCMC-Jakarta, Matthew Flanagan sudah jejingkrakan akhirnya bisa bertandang ke Indonesia. “Petualangan baru!” Serunya dalam hati, namun hanya bisa diekspresikan lewat senyum kelewat lebar di wajah brewoknya. Antusiasme yang mengundang senyum dari beberapa orang asing yang beradu mata dengannya.

Berlagak cool dan berusaha tak memejamkan mata, ia menghirup udara Jakarta yang sarat polusi dalam-dalam, seolah meresapi setiap partikelnya. Ritual itu selalu dilakukannya di setiap airport, mungkin mencoba menjadi satu dengan tempat baru. Ia lalu melangkah dengan mantap mengikuti arus penumpang menuju pintu keluar. Hal pertama yang dilakukannya kemudian adalah mencari simcard Indonesia agar segera bisa menghubungi kenalan-kenalannya. Tanpa banyak tanya, segera dibayarnya sebuah simcard dari provider teleponyang konon jaringannya paling luas di Indonesia. Ia meminta tolong si penjual untuk mengaktifkan kartu tersebut.

“Hi Hardi, this is Matthew Flanagan. How are you? I sent you a request the other day to stay at your house.” Hardi, hostnya di Jakarta, dikenal Matt melalui situs jejaring traveler.

“Hi hi, Matthew, I’ve been waiting for you! Welcome to Indonesia! Yes, I have a room ready for you, did you get the direction to my house?” jawab Hardi ramah.

“Yes I got it, now about to find a cab, but I think it’s better to touch base with you first. I’m so excited to explore your country!” Ungkap Matt penuh semangat.

Hardi tertawa renyah, kemudian menjelaskan pada Matt untuk memastikan atau paling tidak menanyakan perkiraan tarif taksi pada sopirnya sebelum berangkat, untuk menghindari sopir nakal yang gemar mengajak penumpang berkeliling Jakarta dahulu sebelum mengantar ke tujuan. Hardi lalu menyarankan Matt untuk menggunakan sebuah layanan taxi yang reputasinya dikenal baik, saran yang Matthew hargai dengan berkali-kali berterima kasih.

***

Matahari Jakarta belum terik saat Matthew tiba di rumah bertingkat 3 itu tanpa kesulitan berarti. Sopir dari armada yang dipilihnya sudah biasa berhadapaan dengan bule, terlebih mereka telah diberi pelatihan bahasa Inggris dasar.

Sosok enerjik Hardi menghambur keluar dari rumah, menjabat erat tangan Matt seolah berjumpa kawan lama. Interaksi macam itu sudah biasa terjadi di antara sesama anggota komunitas traveling yang mereka geluti, sekalipun belum pernah bertatap muka.

Hardi memandu Matt berkeliling rumahnya, menunjukkan letak kamar mandi dan kamar yang akan ditempati Matt di lantai dua, dapur dan jemuran di lantai yang terpisah. Rumah berkamar enam itu bergaya modern minimalis, didominasi warna putih dan abu-abu. Hardi menghuninya bersama lima orang expat, semuanya telah pergi ke kantor masing-masing saat Matthew tiba, hanya hostnya itu yang tinggal untuk menyambut kedatangan Matt.

***

Saat Matt menata barang di kamarnya, yang juga kamar Hardi, host yang berwajah selalu tersenyum itu menyiapkan dua cangkir kopi kental di dapur. Ide yang baik untuk keduanya. Hardi memerlukan terjangan kafein dalam darah untuk tetap terjaga setelah berpesta semalam suntuk. Sementara Matt yang juga kurang tidur hendak bertualang ke Monas siang itu juga, tanpa istirahat terlebih dahulu setelah perjalanan beberapa jam dengan pesawat.

Setelah membasuh wajahnya, sesaat Matt menghempaskan tubuh di kasur empuk Hardi, ia akan terlelap dalam beberapa menit andai saja tak tercium aroma kopi yang menyeruak dari dapur di lantai satu. Segera diceknya barang-barangnya sekali lagi, memastikan bahwa ia tak membuat kamar tersebut berantakan di hari pertamanya. Matt menyiapkan Daypack Deuter 20 liternya, tas ranselnya yang lebih kecil untuk membawa serta teman setia selama perjalanan di kota: botol minum, kamera poket, dompet dan notes kecil yang kerap digunakan untuk mencatat tip-tip perjalanan, mencatat kontak kenalan barunya, juga curahan pikiran dan perasaan yang terkadang menyergap tak tahu waktu.

Sembari menenteng ransel, Matt menghampiri Hardi yang masih sibuk menyiapkan sandwich di dapur. Hardi terheran-heran dengan stamina yang dimiliki Matt. Pikirnya, Vietnam memang tak jauh-jauh amat, tapi pastilah di Vietnam pun Matthew menghabiskan waktu dengan hidup nomaden dari satu tempat ke tempat lain. Lalu setelah sampai di Indonesia, pria Amerika itu pun tak beristirahat barang sejenak? “Hey, where are you going? Don’t you need some rest?” tanya Hardi, yang diikuti cengiran lebar saat tahu Matt hendak ke Monas.

“Why? What’s so funny about Monas?”

“Nothing dude, it’s just… it is historical place but I think it’s not so interesting, but you can still see Jakarta from the tower. Well, basically other than Kota Tua, there are nothing much to offer about this town. The nightlife would be awesome though.” Matt termangut-mangut mendengar penjelasan Hardi. Sebagai traveler impulsif, ia tak melakukan riset yang memadai tentang tempat-tempat yang akan dikunjunginya. Ia hanya mendengarkan saran orang lain, lalu pergi mengikuti ke mana hatinya ingin pergi.

“I have only two days in Jakarta. Kota tua noted, I think I’d go there tomorrow and if you’re free tonight, are you up for a drink or some party somewhere? Or any suggestion?” Tawaran keluyuran malam yang tentu saja disambut antusias oleh Hardi. Pesta telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan selama karir gemilangnya di Jakarta. Tentu saja ia akan dengan senang hati membawa Matt menganal kehidupan malam ibu kota yang sudah dikenalnya dengan baik.

***

Mereka menikmati “brunch” yang disiapkan Hardi di meja makan sembari berbincang tentang petualangan Matt di Asia Tenggara. Sedikit terburu-buru karena sudah terlambat lebih dari dua jam ke kantor, Hardi memperingatkan agar Matt tak membawa serta barang-barang berharganya. Terlalu banyak copet di Jakarta, terutama Monas, demikian terang Hardi. Matt hanya perlu membawa uang untuk transport, jangan membawa uang lebih, jangan membawa kamera, jangan membawa dompet dan kartu-kartu penting. Uang transport. Itu saja yang perlu dibawa.

Matthew heran, apakah betul Jakarta sedemikian tidak amannya, namun melihat gelagat Hardi yang tanpa kompromi, dan terburu-buru, mereka tak sempat berdiskusi lebih jauh. Sekali lagi Hardi memastikan keamanan Matt. “If you have other than pocket money in your day pack, you better leave them in my room, so much safer there. I just don’t want your first day here leave you with bad impression if you happened to encounter with any of those bastards on the street.” Tanpa pikir panjang, Matt kembali ke kamar Hardi dan membenamkan barang-barangnya kembali ke ransel besarnya. Ia hanya membawa botol minum dan beberapa lembar sepuluhan dan lima puluhan ribu sekarang.

Hardi sudah berada di pintu saat Matt membalikkan badan, siap berangkat. Dikuncinya pintu kamar tersebut, sembari berpesan bahwa biasanya sudah ada yang pulang ke rumah sekitar pukul lima sore, namun Hardi baru akan kembali saat jam makan malam, pukul tujuh nanti. Karena kunci kamar dibawa Hardi, Matt baru akan memiliki akses ke kamar setelah Hardi pulang.

Mereka lalu melenggang meninggalkan rumah itu, menuju arah yang berlawanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: