Monthly Archives: December 2012

Berterima Kasih

Terima kasih. Ungkapan sederhana yang mudah diucapkan. Sekalipun demikian, saya mengurungkan niat saya untuk mengungkapkannya pada beberapa kawan lama, sesaat setelah postingan saya di hari ulang tahun almarhum adik.

Saat itu saya teringat teman-teman di Jogja yang begitu setia mendampingi dan mengurus segala sesuatunya saat berita duka itu saya dengar dari rumah. Mereka menyediakan bahunya untuk saya menangis. Dalam kondisi saya yang kalut, tanpa diminta, mereka menyebar menghubungi agen-agen perjalanan, mencari tiket bus, kereta api, travel hingga pesawat. Mereka mengusahakan saya tiba di rumah secepatnya. Tak banyak bertanya menuntut cerita, mereka ada, dan itulah yang terpenting.

Saya lupa pernahkah saya berterimakasih pada mereka atas hal sederhana tapi selalu membekas yang mereka lakukan, hingga saya ingin melakukannya beberapa hari lalu, namun tertahan rasa malu karena takut dianggap melow dan galaw, haha. Ya, saya pun menahan diri tak mengucapkannya.

Hari ini, seorang teman di Tangerang, mantan rekan kerja, berterimakasih pada saya entah untuk apa. Dia akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan ya sudah, itu saja.

“Ha? Kenapa makasih? Apa yang kulakukan?”

“Ga ada, kamu ga melakukan apa-apa,” jawabnya.

(mungkin) kita melakukan sesuatu yang tak kita sadari berpengaruh terhadap hidup orang lain dan itu cukup membuatnya berterimakasih walau tanpa alasan yang bisa dimengerti. Lalu saya malu sekali lagi, karena telah menahan diri hanya untuk mengucapkan terimakasih padahal alasannya sangat jelas…

Muh. Baskoro Aliandi dan geng Indonesia Kompak, Isaam Khalid, Dany ‘Chun Lee’ Kosasih, dkk. Terima kasih telah menjadi kalian. Terima kasih. :’)

Advertisements
Tagged ,

Manusia Mekanis

Setelah mengetahui keputusan saya untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat dulu saya pernah belajar, beberapa rekan membuka percakapan tentang pekerjaan, perasaan dan kehidupan mereka.

“Kamu tahu? Saya juga udah ga betah di sini,” tukas seorang rekan. Dia tak tahan dengan kondisi kantor dan kurang adanya kerjasama yang baik antar individu. Hal senada terungkap dari beberapa rekan lain, dan masalah utama yang terungkap bukanlah gaji ataupun loading kerja, namun hubungan sesama rekan yang kurang harmonis.

Setiap mereka yang berbagi cerita, berkonflik dengan dirinya sendiri. Mempertimbangkan segala kemungkinan dan meragukan setiap langkah. Mereka semua takut akan masa depan. Takut tempat yang baru tak lebih baik. Atau bahkan lebih buruk, dengan kondisi sosial ekonomi yang ada, ketakutan tak mendapat pekerjaan dalam waktu yang lama pun muncul. Manusiawi.

Saya yang sudah teracuni akut oleh virus nekat, menjawab enteng, “Kita ga pernah tahu sampe kita mencoba, kalaupun ternyata ketakutan itu jadi kenyataan, paling ngga kita udah nyoba.”

Semua itu bagi saya bukan tentang karir dan kemapanan, namun pemaknaan. Untuk apa pula melakukan hal yang tak lagi kita nikmati? Menjadi manusia mekanis itu mengerikan. Mengutip Paulo Coelho dalam Sungai Yang Mengalir, “Mautlah yang membuat kita berhenti melakukan hal-hal yang memerangkap dan menjadikan kita “mayat hidup”. Sebaliknya, kita didorong untuk mengambil risiko, mempertaruhkan segalanya demi segala yang kita impikan, sebab entah kita suka atau tidak, malaikat maut telah menunggu kita.”

 

Kotabaru, 2 Des 2012

Tagged , , , , ,
%d bloggers like this: