Yasmin

Namaku Yasmin, nama wangi yang dianugerahkan orangtuaku, nama yang akan melekat hingga amanatku selesai di dunia, nama yang wanginya kujaga dalam tindakan paling tak sadar sekalipun. Mungkin orangtuaku menanamkan semacam chip yang memprogramku untuk secara otomatis mengacu pada seperangkat kesantunan yang ada dalam masyarakat, walau kata orang aku macam pelacur, atheis pula!

Ah, kadang para pelacur lebih bermoral dan berhati nurani ketimbang orang yang terlihat suci dan atheis lebih spiritualis ketimbang orang yang terlihat relijius. Soal apa yang ada di dalam, siapalah yang tahu? Proses perjalanan spiritual individu, siapalah yang mengerti? Namun begitulah, kapasitas manusia menilai memang tak dapat diharapkan, mendekati helpless, namun mereka bertindak seolah yang paling benar dan menutup kemungkinan adanya kebenaran lain, padahal apalah yang absolut di dunia? Mungkin karena itulah orangtuaku menamaiku Yasmin, agar aku lebih mirip bunga ketimbang manusia.

Aku menjaga wangiku sesuai kapasitasku yang di luar jangkauan manusia. Sebutlah saja aku setan, tapi pemahamanku melampaui manusia normal. Lalu sebutlah aku abnormal, namun namaku kujunjung selalu. Sekuat itulah aku menjaga amanat. Atau aku hanya seorang narsis yang bangga dengan dunia yang kubangun sendiri? Kau simpulkan saja.

Nama adalah penting bagiku, namun seperti pernah kubilang, bahwa simpul dapat terurai dan temali bisa terputus, kita sudah dewasa untuk paham. Sehingga kunyatakan malam ini juga, aku menyanggupi menghapus nama-nama penting dalam hidupku. Orang-orang kusayang yang mengecilkanku atau konsisten tak santun terhadapku. Orang-orang bertuhan tapi sikapnya seperti bangsat. Nama, adalah penting. Namun semudah itu aku menghapus nama-nama dalam hidupku. Karena sikap, jauh lebih berarti.

Namaku Yasmin, aku wangi yang sekarat namun bertahan dalam kebusukan yang segera kuhilangkan. Malam ini, itulah waktunya. Seharusnya aku mendengar semacam permintaan maaf, tapi apa yang bisa kuharapkan dari manusia? Aku bukan manusia, aku bunga, yang disebut pelacur atheis, namun sudah nyata di mana aku berdiri. Aku tak abu-abu, namun putih, garisku tegas. Itulah yang kupertahankan dan satu-satunya yang bisa kubanggakan dari hidupku di dunia.

Namaku Yasmin, aku menyayangi saudara-saudaraku dengan hati, mereka membalasnya keji tak berhati. Aku tak mampu membenci namun tak sanggup pula bertahan dengan kepura-puraan dan segala duri yang ditancapkan. Aku masih menyayangi saudaraku, namun dengan ini kuputus tali yang mereka bilang persaudaraan, karena aku tak bersaudara dengan bangsat. Aku hanya bunga yang mudah menghapus nama walau itu penting. Aku Yasmin.

Advertisements
Tagged , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: