Monthly Archives: October 2012

Akulah Sang Maha

Aku, adalah Sang Maha yang kau puja

Bahwa Aku tak kekurangan suatu apapun, kau sudah tahu

DariKu kau berasal dan kepadaKu kau kembali, kau akui pula

Sembahmu tak terputus tipuan dunia yang lintas lalu

 

dalam kegelapan malam kau bersimpuh demi restuKu

namun kebencian yang kau pacu

 

dalam namaKu kau berlindung

namun kau nistakan pula namaKu

 

lantunan doa kau alirkan padaKu

lalu kau membelaKu dengan serapahmu

 

dalam lindunganKu kau mengada

lalu kerusakan yang kau tebar

 

demi Aku kau berjuang

namun Aku tak perlu diperjuangkan

 

karena Akulah Sang Maha

Akulah Sang Niscaya yang berdiri sendiri

Lengkap di dalamKu sendiri

 

karena Akulah Sang Maha

 

*

 

kau pun menghadapku sekali lagi, bersujud

kau sembah Aku

kau sibuk akanKu

lalu lupa takdirmu sendiri

 

Akulah Sang Maha yang kau lindungi

Aku Sang Maha Besar yang kau kecilkan

 

Lalu kau merasa pahlawan karena membelaKu

Namun Akulah Sang Maha yang tak terbela

Aku tuntas di dalamKu sendiri

karena Akulah Sang Maha

 

 

Blimbingsari, 28 Okt 2012

Advertisements
Tagged , ,

Yasmin

Namaku Yasmin, nama wangi yang dianugerahkan orangtuaku, nama yang akan melekat hingga amanatku selesai di dunia, nama yang wanginya kujaga dalam tindakan paling tak sadar sekalipun. Mungkin orangtuaku menanamkan semacam chip yang memprogramku untuk secara otomatis mengacu pada seperangkat kesantunan yang ada dalam masyarakat, walau kata orang aku macam pelacur, atheis pula!

Ah, kadang para pelacur lebih bermoral dan berhati nurani ketimbang orang yang terlihat suci dan atheis lebih spiritualis ketimbang orang yang terlihat relijius. Soal apa yang ada di dalam, siapalah yang tahu? Proses perjalanan spiritual individu, siapalah yang mengerti? Namun begitulah, kapasitas manusia menilai memang tak dapat diharapkan, mendekati helpless, namun mereka bertindak seolah yang paling benar dan menutup kemungkinan adanya kebenaran lain, padahal apalah yang absolut di dunia? Mungkin karena itulah orangtuaku menamaiku Yasmin, agar aku lebih mirip bunga ketimbang manusia.

Aku menjaga wangiku sesuai kapasitasku yang di luar jangkauan manusia. Sebutlah saja aku setan, tapi pemahamanku melampaui manusia normal. Lalu sebutlah aku abnormal, namun namaku kujunjung selalu. Sekuat itulah aku menjaga amanat. Atau aku hanya seorang narsis yang bangga dengan dunia yang kubangun sendiri? Kau simpulkan saja.

Nama adalah penting bagiku, namun seperti pernah kubilang, bahwa simpul dapat terurai dan temali bisa terputus, kita sudah dewasa untuk paham. Sehingga kunyatakan malam ini juga, aku menyanggupi menghapus nama-nama penting dalam hidupku. Orang-orang kusayang yang mengecilkanku atau konsisten tak santun terhadapku. Orang-orang bertuhan tapi sikapnya seperti bangsat. Nama, adalah penting. Namun semudah itu aku menghapus nama-nama dalam hidupku. Karena sikap, jauh lebih berarti.

Namaku Yasmin, aku wangi yang sekarat namun bertahan dalam kebusukan yang segera kuhilangkan. Malam ini, itulah waktunya. Seharusnya aku mendengar semacam permintaan maaf, tapi apa yang bisa kuharapkan dari manusia? Aku bukan manusia, aku bunga, yang disebut pelacur atheis, namun sudah nyata di mana aku berdiri. Aku tak abu-abu, namun putih, garisku tegas. Itulah yang kupertahankan dan satu-satunya yang bisa kubanggakan dari hidupku di dunia.

Namaku Yasmin, aku menyayangi saudara-saudaraku dengan hati, mereka membalasnya keji tak berhati. Aku tak mampu membenci namun tak sanggup pula bertahan dengan kepura-puraan dan segala duri yang ditancapkan. Aku masih menyayangi saudaraku, namun dengan ini kuputus tali yang mereka bilang persaudaraan, karena aku tak bersaudara dengan bangsat. Aku hanya bunga yang mudah menghapus nama walau itu penting. Aku Yasmin.

Tagged , , , ,

RED LIGHT

My mind is my friend and enemy

My body, is a battle in which morality isn’t formed. Together they remain untouched off the slices of social norm. They make love creating traces of sins. Left me stunned in the mist that suddenly assault. Dark and damp. Wet and solemn. Like prayers without any rituals listed in holy books.

I, remain silent, because it hurts too much to say a word. Meanings, spelled in stuttered silence. My apathy kills more than the cigars I smoke and the sleepless nights, left half full bottle of wine as if it’s a worthless entity.

The horizon of what can be morally accepted seems to be too difficult to understand. Like the rocky roads every civilized human being avoids. Those all, blackened my heart, with a dot of pink left. Just enough to make me human.

Kindness can be separated off the common moral beliefs. I am, despicable and honorable at once, which make me powerless and don’t have the will to think more thoroughly regarding social acceptance.

The pink that left inside my heart, is a glimmer of hope towards the aging world. Even though it’s only a dot, it is real. My biggest fear is to lose the ability to see the glimmer of pink when everything else blackened, disappeared in the dark.

I, want to spread the seed of virtue, yet only a dot of brightness I do have, a dot that might be unacceptable for you because of the strong dark side within me, that gets you blind.

***

I want to tell you beautiful bed time stories, about the peaceful and wealthy kingdom, about a serene and happy life, of where the lights come from. Yet, honey, reality doesn’t enable me to create the light to your soul in the way you wanted. I cannot spark to my soul every beautiful story you wanted to hear each night.

The night, honey, would not forever recite how sweet life can be. The night is the place where I learn to unify my body with the reality under the obscure red light. The night, is where I work, and sleep, and moan… under the red light.

***

Nothing is too wrong. Yet I am sick. My body, my mind, and you all, seems so wrong. But there is nothing too wrong.

I am sick. Groaning. In the box. Where my body unified with the realness of the obscure red light.

 

100_15761

%d bloggers like this: