Monthly Archives: September 2012

Red Light

Pikiranku adalah teman dan musuhku.

Tubuhku, adalah peperangan yang kepadanya moralitas tak menemukan bentuk. Mereka bersama tak tersentuh potongan norma sosial. Mereka bersetubuh mencipta jejak-jejak dosa. Meninggalkanku terpaku pada kabut yang tetiba menyergap. Gelap dan lembab. Basah nan khidmat. Selayak sembahyang tanpa ritual yang tercantum dalam kitab-kitab agama.

Aku, diam, karena terlalu sakit untuk mengucap sepatah kata. Makna, patah-patah tereja dalam diam. Apatisku berdaya bunuh melebihi batang-batang rokok yang kuhisap dan malam-malam tanpa tidur, meninggalkan sebotol anggur berisi setengah seolah tanpa arti.

Cakrawala tentang apa yang bisa diterima secara moral tampak terlalu sulit dipahami. Seperti jalan terjal yang dihindari setiap manusia beradab. Membuat hatiku menghitam, dengan setitik merah jambu tersisa. Titik yang cukup menjadikanku manusia.

Bahwa kebaikan dapat dipisahkan dari kepercayaan moral yang berlaku jamak. Aku, hina dan mulia secara bersamaan dan semua itu membuatku tak berdaya, pun tak berkeinginan berpikir lebih jauh tentang penerimaan sosial.

Merah jambu masih tersisa di hatiku, seperti secercah harap pada dunia yang kian tua. Walau hanya setitik, namun nyata. Ketakutan terbesarku adalah hilangnya kemampuan melihat secercah merah jambu saat segala sesuatu yang lain menghitam, termakan gelap.

Aku, ingin menebar benih baik, namun hanya setitik cerah yang kupunya, mungkin setitik yang bahkan tak bisa kalian terima karena hitamku yang terlampau pekat, telah menggelapkan mata kalian pula.

***

Aku ingin menceritakan pada kalian dongeng indah pengantar tidur, tentang kerajaan damai sejahtera dan kehidupan yang tenteram bahagia, tentang dari mana cahaya berasal. Namun, sayang, kenyataan tak memungkinkanku menciptakan cahaya yang menyinari jiwa kalian dengan cara yang kalian inginkan. Aku tak bisa memercikkan pada jiwaku segala cerita indah yang ingin kalian dengar setiap malamnya.

Malam, sayang, tak selamanya bertutur manis tentang kehidupan. Malam adalah tempatku belajar menyatukan tubuhku dengan realitas di dalam remang cahaya merah. Malam, adalah saat aku bekerja, dan tidur, dan mendesah, di dalam remang cahaya merah.

***

Tak ada yang begitu salah. Namun aku muak. Tubuhku, pikiranku, dan kalian. Sesaat semua terlihat begitu salah. Namun tak ada yang terlalu salah.

Aku muak. Mengerang. Di kotak. Tempat tubuhku menyatu dengan realitas remang cahaya merah.

 

Nagan, 10 September 2012

Untuknya, yang telah bersabar menanti.

Tagged , , , , ,
%d bloggers like this: