Energi

Segala partikel semesta, juga tuhan penguasa galaksi, tahu kecamuk emosi yang demikian kuat ketika serapah dan kutukan menyeruak dari pikirannya begitu saja. Demi terlukanya sepasang manusia pengasih yang dipanggilnya Ayah dan Bunda. Saat kepercayaan yang mereka titipkan dihancurkan, lumat dalam luka, dan harapan puluhan tahun yang mereka lambungkan kandas perlahan menyentuh dasar gua vertikal, lalu terkubur. Namun mereka memaafkan. Sementara Ia mengerahkan segenap energi yang tak pemaaf. Mengutuk. Tulus. Demi segala liukan sungai yang memberi kehidupan di bumi.

***

Orang-orang itu lalu melangkah dengan congkak, menatap dari ujung hidung pada manusia penuh kasih yang hanya tersenyum dalam pedihnya. Aku menyaksikan dengan jarak terbentang, namun medan merah mengelilingiku, daya penghancur yang tak hanya menghancurkan Ia, namun memporakporandakan daya terkuat sekalipun yang mengelilingi para bangsat itu. Aku mencengkeram mereka dalam pusaranku, lalu kulumat kuat-kuat. Sudah. Aku selesai. Biar semesta yang bekerja untuk penderitaan mereka.

Hukum tuhan dan karma, itu di luar jangkauan Ia, namun Ia berpegang teguh pada hukum alam, bahwa segala efek bulu yang dilepaskan akan kembali dengan kekuatan dahsyatnya. Aku hanya menambahkan sejumput kobar merah dalam aliran yang menuju pada mereka. Lalu bersiap menanti kekuatan dahsyat apa yang akan kembali setelah kulepaskan sederet merah yang busuk. Aku di ambang kehancuran saat berharap orang lain hancur. Namun itu harga yang harus dibayar.

Tuhanku semesta alam dan segala partikel di setiap sudut bumi, kami, pengisi alam beserta bebatuan dan benda paling mati sekalipun, semua satu dalam jalinan energi yang kompleks, kelindan halus yang menghubungkan setiap ucap dan pikir. Aku terhubung dengan segala sesuatu namun daya setan di dalamku hanya tertuju pada satu titik, manusia-manusia tak punya hati itulah yang kutuju. Merahku yang pekat bersama setiap nafas mereka.

Ternyata aku belum selesai.

Bara yang ada terlalu besar untuk dipadamkan saat kusaksikan para pengasih terluka…

***

Kemudian waktu mengirimkan satu orang, satu orang yang bersimbah merah ketakutan dan memohon ampun padaku. Aku terbahak, “Mengapa kau minta ampun padaku? Bukan aku yang kau sakiti namun dirimu sendiri.” Hingga kini aku masih tak menganggapnya manusia karena bila demikian, ia hanya mengotori nilai kemanusiaan.

Kelindan halus padaku selalu bekerja dengan caranya bersama waktu. Perlahan namun pasti dibawakanlah lagi oleh waktu, seorang lain, pada orang-orang yang kukasihi. Ia datang memohon ampun pada orang yang tepat, yang telah disakitinya, bukan padaku. Aku tersentuh untuk yang ini… Ia, masih manusia pada esensinya. Aku tak pernah ingin memaafkan namun kudapati diriku murah hati bila pengakuan dosa telah terlontar dan permohonan maaf telah terkatakan. Maka kumaafkan ia, setengah saja, bila maaf boleh diberi hanya setengah.

***

Saat waktu kian beranjak aku bahkan telah lupa bahwa aku pernah menitipkan segenggam merah yang jahat dan menghancurkan. Melihat luka orang-orang penuh kasih perlahan pudar, sudah mengobati lubang-lubang padaku yang dulunya ditempati putih, energi yang bisa kuwarnai dengan warna apa saja dan hanya boleh dipakai perlahan, agar ia memiliki waktu untuk beregenerasi, seperti darah yang juga tidak seharusnya diambil sekaligus. Namun ketika itu aku mengambil banyak sekali putih yang kuwarnai segera dengan kobaran merah, hingga meninggalkan lubang-lubang di sana sini seperti sekarang, yang memakan waktu untuk penuh kembali. Itu bila aku tak mengambilnya lagi dengan serampangan.

Aku, telah bersekongkol dengan alam menciptakan derita orang-orang tak berhati yang bersentuhan langsung dengan sepasang suami istri lembut hati yang dipanggilnya Ayah dan Bunda. Anaknyalah, anak mereka yang menciptakanku hingga aku mengada dalam semesta sebuah keluarga. Namun aku terhubung dengan setiap partikel di bumi dan langit.

***

Orang itu, ia datang kembali, ketakutan akan karma yang tengah dihadapi. Ia bersimpuh demi sebuah maaf yang mudah didapat dari Ayah dan Bunda. Namun, Anak merekalah sang berdaya pengirim kutuk, dengan aku sebagai budak dalam pusaran energinya. Kutanya ia, apakah telah mampu memaafkan. Ia tertunduk pilu, sengguk sedan dan buliran mengalir deras. Pusaran warna di sekitarnya berkecamuk bak tarian perang antara cerah dan gelap, dan saat ia mengangkat pandangannya padaku, ia berkata, “tuhan memberkati.” Berselubung cerlang gemilang, diputusnya aliran merah padaku hingga aku kembali mengalir murni, tak terkotori kutuk.

 

Rengasdengklok, Agustus 2012

Advertisements
Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: