Maaf

I.

Iramaku pelan sebelum kau sodorkan pilihan

Warnaku pias sebelum kau pulas

II.

Harapanku buncah tak kenal lelah

Menari bagai lupa cara berhenti

Berdansa bersama waktu yang tersisa

Seperti teduh romansa pohon akasia

III.

Kau mau aku berlomba, menarik setiap dayaku untuk meraih ujung dunia yang satu dan melepas yang lainnya. Aku mau itu. Dunia baru terselubung mimpi nan pelangi dan aku bahkan tak peduli pada kabutnya yang tebal dan menyimpan dingin menusuk. Aku punya baju hangat dan kau yang kusayang, lalu akan lengkaplah energiku yang bolong-bolong. Kupikir demikian.

Kulepaskan pijakanku, kulepas duniaku, lalu kuserahkan sejumput mimpi di genggamanmu. Aku. Percaya padamu. Sepenuhnya. Orang-orang terbaikku percaya pada keputusanku. Seutuhnya. Kita, siap melangkahi gerbang, bermigrasi ke dunia baru.

IV.

Hutan beton menebalkan cangkangmu dalam bisu dan tuli yang sakitnya terasa. Jikalau langkah kita terjegal dengan telak, kau seharusnya bicara, karena aku telah menyerahkan mimpiku dalam genggamanmu. Namun kau diam. Bisu yang terus menular padaku. Bukan karena marah dan membenci. Aku tak tahu apa yang harus kita bicarakan bila kau berkesempatan bicara namun memilih diam. Aku hanya berpikir, mungkin kau pun bingung dan memang tak tahu apa yang harus kau katakan.

Aku kecewa. Bukan karena mimpiku bagai menguap pada saat-saat menjelang terwujudnya. Pun bukan karena satu dunia kulepas dan dunia impian itu tak teraih. Namun kebisuanmu lama-lama seperti tolol. Ah sudahlah.

Sejumput mimpi kuserahkan di genggamanmu, aku punya seratus jumput yang lain. Satu duniaku yang tenang telah kulepas, dan dunia yang baru telah gagal mewujud. Tapi pijakan akan selalu ada: harapan. Hingga, tak pantas aku menyalahkanmu atas segala yang terjadi. Aku bertanggungjawab penuh atas kebahagiaanku sendiri. Aku tak pernah menyalahkanmu. Aku hanya kecewa. Kecewa padamu yang diam lalu lenyap.

V.

Hidupku tenang sebelum kau tantang:

Maaf, katamu saat muncul kembali.

Tak kutahu kau simpan beban sekian lama.

Maaf, isakmu dalam sakit.

Aku tertohok dalam-dalam.

Terhantam badai.

Kau,

telah kumaafkan…

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: