Mimpi

Telah kau sematkan bisikan mengawal mimpi.

Berdamai kita pada malam yang menua. Menanti ajal. Tak ayal hakim-hakim mengetok palu pada meja tak berdosa: Tak tahu malu! Atas ajal yang dinanti. Apakah mereka hanya ingkar akan sebuah niscaya?

Bila cahaya adalah pengkhianatan pada rupa kegelapan, maka alam tak pernah sinergi menghantarkan nafasnya pada hidup. Tercerabut akar.

Kau kekalkan sapa dan jumpa yang mampir tetiba pada setiap rangkai. Waktu ke waktu. Tak ada yang sengaja. Selain tuhan. Padanya muara segala kesengajaan namun disimpannya erat setiap rahasia dalam rongga yang kian terselubung kabut. Menggelap dalam rangkai zaman, terkubur bersama pikiran akan tuhan yang dangkal. Sebuah ambigu yang terpancang dalam sorban, berkelindan bersama rosario, terpatri pada salib dan menguap mengiringi asap hio yang terpaku berdiri disematkan pada abu. Ambigu. Namun wangi. Wangi yang tersesap dalam bebungaan di alam tidur. Kita terus ‘menjadi’ tanpa tahu kapan berakhir menjadi apa.

Menjadi mati, ha! Sesatunya jawab yang sanggup kau lontar.

Sebuah iklan menyodorkan kuasa determinasi dan tingginya antisipasi manusia akan hidup. Bahwa hidup adalah pilihan. Kau baca dari kacamatamu yang entah jernih atau buram, namun aku lebih menamakannya ironi: pilihan mensyaratkan lebih dari satu. Hidup adalah satu, yang satunya adalah… mati. Hidup bukan pilihan bila kau tak boleh memilih selain hidup. Pesan subliminal purba terselip pada jargon, menepikan Sang Maha dalam pengambilan keputusan, karena toh… manusia diijinkan memilih. Sang tubuh yang tertempel padanya ruh dari Sang Maha hidup yang juga adalah sang maha setengah hidup. Dia pun pilihan dalam alam paradoksal pikiran.

Tidak, pesan subliminal itu tak pernah terselip pada serabut kata yang membangun sebuah iklan. Semua hanya kecelakaan logika yang berakar pada kepalamu yang setengah hidup. Ya, kepalamu. Bukan kepala mereka. Media bergandengan tangan mengangkat kecerdasan masyarakat, bukan? Tidak sebaliknya, yang menggagas seret setan ke dalam kegelapan. Tapi setan itu api, kenyataan yang dalam skala besarnya telah membentuk sumber cahaya bagi umat bumi: bola api raksasa yang dijuluki matahari. Setan raksasa. Sumber energi tak terbatas.

Masihkah mereka mengingkari daya setan dan terus menjerumuskannya pada hina lubang hitam sementara merekalah lubang itu sendiri? Hina yang mengagungkan diri. Kudis yang ingkar cacatnya sendiri. Bangkai bertuhan tameng diri.

Telah kau sampaikan kecupan penggenap mimpi

Hingga bersua racauku dengan sebuah titik.

Amin.

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: