Monthly Archives: June 2012

Maaf

I.

Iramaku pelan sebelum kau sodorkan pilihan

Warnaku pias sebelum kau pulas

II.

Harapanku buncah tak kenal lelah

Menari bagai lupa cara berhenti

Berdansa bersama waktu yang tersisa

Seperti teduh romansa pohon akasia

III.

Kau mau aku berlomba, menarik setiap dayaku untuk meraih ujung dunia yang satu dan melepas yang lainnya. Aku mau itu. Dunia baru terselubung mimpi nan pelangi dan aku bahkan tak peduli pada kabutnya yang tebal dan menyimpan dingin menusuk. Aku punya baju hangat dan kau yang kusayang, lalu akan lengkaplah energiku yang bolong-bolong. Kupikir demikian.

Kulepaskan pijakanku, kulepas duniaku, lalu kuserahkan sejumput mimpi di genggamanmu. Aku. Percaya padamu. Sepenuhnya. Orang-orang terbaikku percaya pada keputusanku. Seutuhnya. Kita, siap melangkahi gerbang, bermigrasi ke dunia baru.

IV.

Hutan beton menebalkan cangkangmu dalam bisu dan tuli yang sakitnya terasa. Jikalau langkah kita terjegal dengan telak, kau seharusnya bicara, karena aku telah menyerahkan mimpiku dalam genggamanmu. Namun kau diam. Bisu yang terus menular padaku. Bukan karena marah dan membenci. Aku tak tahu apa yang harus kita bicarakan bila kau berkesempatan bicara namun memilih diam. Aku hanya berpikir, mungkin kau pun bingung dan memang tak tahu apa yang harus kau katakan.

Aku kecewa. Bukan karena mimpiku bagai menguap pada saat-saat menjelang terwujudnya. Pun bukan karena satu dunia kulepas dan dunia impian itu tak teraih. Namun kebisuanmu lama-lama seperti tolol. Ah sudahlah.

Sejumput mimpi kuserahkan di genggamanmu, aku punya seratus jumput yang lain. Satu duniaku yang tenang telah kulepas, dan dunia yang baru telah gagal mewujud. Tapi pijakan akan selalu ada: harapan. Hingga, tak pantas aku menyalahkanmu atas segala yang terjadi. Aku bertanggungjawab penuh atas kebahagiaanku sendiri. Aku tak pernah menyalahkanmu. Aku hanya kecewa. Kecewa padamu yang diam lalu lenyap.

V.

Hidupku tenang sebelum kau tantang:

Maaf, katamu saat muncul kembali.

Tak kutahu kau simpan beban sekian lama.

Maaf, isakmu dalam sakit.

Aku tertohok dalam-dalam.

Terhantam badai.

Kau,

telah kumaafkan…

Advertisements
Tagged , ,

“Dreams are illustrations from the book your soul is writing about you.” -Marsha Norman-

Dreams

Mimpi

Telah kau sematkan bisikan mengawal mimpi.

Berdamai kita pada malam yang menua. Menanti ajal. Tak ayal hakim-hakim mengetok palu pada meja tak berdosa: Tak tahu malu! Atas ajal yang dinanti. Apakah mereka hanya ingkar akan sebuah niscaya?

Bila cahaya adalah pengkhianatan pada rupa kegelapan, maka alam tak pernah sinergi menghantarkan nafasnya pada hidup. Tercerabut akar.

Kau kekalkan sapa dan jumpa yang mampir tetiba pada setiap rangkai. Waktu ke waktu. Tak ada yang sengaja. Selain tuhan. Padanya muara segala kesengajaan namun disimpannya erat setiap rahasia dalam rongga yang kian terselubung kabut. Menggelap dalam rangkai zaman, terkubur bersama pikiran akan tuhan yang dangkal. Sebuah ambigu yang terpancang dalam sorban, berkelindan bersama rosario, terpatri pada salib dan menguap mengiringi asap hio yang terpaku berdiri disematkan pada abu. Ambigu. Namun wangi. Wangi yang tersesap dalam bebungaan di alam tidur. Kita terus ‘menjadi’ tanpa tahu kapan berakhir menjadi apa.

Menjadi mati, ha! Sesatunya jawab yang sanggup kau lontar.

Sebuah iklan menyodorkan kuasa determinasi dan tingginya antisipasi manusia akan hidup. Bahwa hidup adalah pilihan. Kau baca dari kacamatamu yang entah jernih atau buram, namun aku lebih menamakannya ironi: pilihan mensyaratkan lebih dari satu. Hidup adalah satu, yang satunya adalah… mati. Hidup bukan pilihan bila kau tak boleh memilih selain hidup. Pesan subliminal purba terselip pada jargon, menepikan Sang Maha dalam pengambilan keputusan, karena toh… manusia diijinkan memilih. Sang tubuh yang tertempel padanya ruh dari Sang Maha hidup yang juga adalah sang maha setengah hidup. Dia pun pilihan dalam alam paradoksal pikiran.

Tidak, pesan subliminal itu tak pernah terselip pada serabut kata yang membangun sebuah iklan. Semua hanya kecelakaan logika yang berakar pada kepalamu yang setengah hidup. Ya, kepalamu. Bukan kepala mereka. Media bergandengan tangan mengangkat kecerdasan masyarakat, bukan? Tidak sebaliknya, yang menggagas seret setan ke dalam kegelapan. Tapi setan itu api, kenyataan yang dalam skala besarnya telah membentuk sumber cahaya bagi umat bumi: bola api raksasa yang dijuluki matahari. Setan raksasa. Sumber energi tak terbatas.

Masihkah mereka mengingkari daya setan dan terus menjerumuskannya pada hina lubang hitam sementara merekalah lubang itu sendiri? Hina yang mengagungkan diri. Kudis yang ingkar cacatnya sendiri. Bangkai bertuhan tameng diri.

Telah kau sampaikan kecupan penggenap mimpi

Hingga bersua racauku dengan sebuah titik.

Amin.

Tagged , , ,
%d bloggers like this: