Marilah…

Adalah rangkaian kejadian yang menumpuk, pikiran yang bercabang dan mimpi-mimpi yang tak pandang bulu yang membuat saya bingung harus menulis diari atau tulisan lain yang katanya lebih bernilai, katanya. Tapi marilah menulis saja, walau tak tentu arah. Walau tak jelas antara menggunakan Saya, Aku, atau Gue. Gue masih gendut, tentu ini berita penting, bukankah itu yang katanya kalian suka dari saya? Lagi-lagi katanya :p

Well I miss Jogja, as much as I miss the people, my people yang kadang bikin merinding saat mengingat betapa konyolnya mereka. Atau betapa sadisnya mulut jahanam yang terlatih bermanuver setajam silet. Saya mulai berpikir mulai dari poin ini mungkin akan lebih bergaya esei tentang Jogja dan kehidupannya. Tapi kalian tahu, kan? Sudah terlalu banyak yang menulis tentang itu, jadi… marilah menulis saja, walau bentuk tak keruan. Sisi personal yang entah dibilang eksis atau narsis, itu saja yang mungkin akan kalian temui.

Benarlah adanya bahwa kita akan lebih menghargai sesuatu ketika kita tahu rasanya kehilangan. Sekarang, tragisnya, saya kehilangan teman, maksudnya bukan benar2 kehilangan namun kehilangan momen bersama mereka dan kesempatan untuk mencari yang baru pun tak kunjung datang. Rasanya seperti tengah menyelami kehidupan yang sebelumnya terlalu jauh dari jangkauan alam pemikiran saya. Terjebak rutinitas, seperti banyak orang lain. Boleh dibilang ini sedikit eksperimental karena apalah hidup bila tak bisa memilih, hehe. Saya memilih tetap di sini entah untuk berapa lama lagi. Kadang ini seperti bermain detektif a la Hollywood, temanya, seperti di note saya sebelumnya. “Saya ada, menonton dari dalam, melihat dari luar,” mencoba merangkai perspektif yang lebih utuh akan kehidupan. Herannya dengan ukuran saya yang tak pernah menyusut, baik yang di luar maupun yang di dalam seolah tak menyadari kehadiran saya.

Sebenarnya saya ingin menulis apa adanya dengan detail tanpa banyak kiasan, namun perlu pertimbangan dan tulisan yang lebih serius untuk itu, sementara energi saya terbatas, beginilah jadinya, tulisan yang mungkin hanya saya sendiri yang bisa memahaminya.

Pada dasarnya saya mulai tak tahan, bukan tentang rutinitas namun lebih pada tak tersalurkannya hobi saya cekikikan dari pagi ke pagi dengan orang-orang tak kenal waktu lainnya. Oh damn, pantai yang mesra, tepi jalan yang riuh, angkringan yang memanjakan, tepi kolam renang yang diguyur sinar purnama, mushroom yang membuat sedikit tolol, dan kafe remang2 mungkin? Ha!

Jadi bertambahlah cita2 saya saat ini: menikmati sekali lagi malam yang mesra dengan orang2 sedikit romantis (sedikit).

Sekian dulu, acungkan tangan bila berminat, dan bila tak ada suami/istri yang akan mengamuk. Better bila pasangannya (bila ada) bisa mengonsumsi mushroom juga :p

 

Batuceper, Oktober 2011

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: