Random

Looking from the inside, itulah judul dari proses yang sedang saya jalani, yang tadinya saya harapkan dapat membantu saya memahami dan menempatkan diri pada posisi yang selama ini saya kritisi. Pada perjalanannya, pemahaman itu tidak menjadi konta perspektif bagi pandangan saya sebelumnya, namun melengkapi dan justru memperkuat pandangan yang dianggap sinis oleh sebagian orang.

Katanya, apa salahnya menjadi orang kebanyakan, yang artinya menjadi ‘normal’? Tak ada yang salah, tak pernah ada yang salah akan hal itu selain menguapnya idealisme yang mungkin telah dipupuk sejak awal manusia memutuskan cita-citanya, yang kemudian berubah seiring waktu berjalan.

Saya selalu ingat pesan seorang pembesar, “Idealisme tak bertahan lama.” Saya begitu muda ketika itu, berumur belasan dan sedang dikelilingi oleh orang-orang idealis yang mendambakan negeri impian terbentuk di muka bumi. Saya tersenyum pada sang pembesar, mengamininya. Bagaimana tidak? Teman-teman idealis saya yang konon anti korupsi toh tak melewatkan kesempatan untuk mengambil lebih dari apa yang seharusnya. Misalnya, mengantongi merchandise yang tidak diperuntukkan bagi mereka. Sepele? Tidak bagi saya. Itu adalah sebentuk kontraproduksi dari apa yang mereka koarkan. Keyakinan saya sederhana, every little things count. Saya sendiri pernah melakukan korupsi kecil-kecilan, diam-diam mengambil kaos panitia untuk beberapa orang. Karena… bila every little things count, maka si empunya acara tak akan membiarkan panitianya mengenakan kaos yang sama selama seminggu, gila aja lu ngebiarin semua panitia berpenampilan kucel di acara yang katanya WAH! Tapi alasan saya itu akan memberikan ruang bagi pemakluman di taraf yang berbeda, ok it was just…  I was stupid…

Saya telah meninggalkan banyak hal, melewatkan banyak kesempatan demi keyakinan pribadi yang disebut idealisme. Semua itu melulu tentang sistem yang bobrok dan orang yang mendukung borok. Lalu tenggelamlah saya dalam dunia saya sendiri, dengan orang-orang yang saya pilih, dengan surga yang saya ciptakan dan optimisme yang saya tumbuhkan.

Namun dunia selalu menjadi tempat berbagi, termasuk memaksa saya untuk melihat borok lagi, menyaksikannya dalam keseharian, membagi antara harapan dan kenyataan. Topik basi yang sehari-hari kita konsumsi.

Singkat kata, seorang teman menyimpulkan semuanya menjadi, “Selamat datang di dunia yang bertingkat-tingkat!” Di mana kedudukan menjadi kunci dan nilai pribadi lebur dengan sistem yang mengagungkan tahta. Saya di dalamnya, menjadi orang dalam yang juga melihat dari luar, menjadi borok yang tak disadari, duri yang tak terasa namun ada. Saya ada. Menyaksikan lelucon demi lelucon yang tercipta 🙂

 

Batuceper, Oktober 2011

Advertisements
Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: