Monthly Archives: October 2011

Marilah…

Adalah rangkaian kejadian yang menumpuk, pikiran yang bercabang dan mimpi-mimpi yang tak pandang bulu yang membuat saya bingung harus menulis diari atau tulisan lain yang katanya lebih bernilai, katanya. Tapi marilah menulis saja, walau tak tentu arah. Walau tak jelas antara menggunakan Saya, Aku, atau Gue. Gue masih gendut, tentu ini berita penting, bukankah itu yang katanya kalian suka dari saya? Lagi-lagi katanya :p

Well I miss Jogja, as much as I miss the people, my people yang kadang bikin merinding saat mengingat betapa konyolnya mereka. Atau betapa sadisnya mulut jahanam yang terlatih bermanuver setajam silet. Saya mulai berpikir mulai dari poin ini mungkin akan lebih bergaya esei tentang Jogja dan kehidupannya. Tapi kalian tahu, kan? Sudah terlalu banyak yang menulis tentang itu, jadi… marilah menulis saja, walau bentuk tak keruan. Sisi personal yang entah dibilang eksis atau narsis, itu saja yang mungkin akan kalian temui.

Benarlah adanya bahwa kita akan lebih menghargai sesuatu ketika kita tahu rasanya kehilangan. Sekarang, tragisnya, saya kehilangan teman, maksudnya bukan benar2 kehilangan namun kehilangan momen bersama mereka dan kesempatan untuk mencari yang baru pun tak kunjung datang. Rasanya seperti tengah menyelami kehidupan yang sebelumnya terlalu jauh dari jangkauan alam pemikiran saya. Terjebak rutinitas, seperti banyak orang lain. Boleh dibilang ini sedikit eksperimental karena apalah hidup bila tak bisa memilih, hehe. Saya memilih tetap di sini entah untuk berapa lama lagi. Kadang ini seperti bermain detektif a la Hollywood, temanya, seperti di note saya sebelumnya. “Saya ada, menonton dari dalam, melihat dari luar,” mencoba merangkai perspektif yang lebih utuh akan kehidupan. Herannya dengan ukuran saya yang tak pernah menyusut, baik yang di luar maupun yang di dalam seolah tak menyadari kehadiran saya.

Sebenarnya saya ingin menulis apa adanya dengan detail tanpa banyak kiasan, namun perlu pertimbangan dan tulisan yang lebih serius untuk itu, sementara energi saya terbatas, beginilah jadinya, tulisan yang mungkin hanya saya sendiri yang bisa memahaminya.

Pada dasarnya saya mulai tak tahan, bukan tentang rutinitas namun lebih pada tak tersalurkannya hobi saya cekikikan dari pagi ke pagi dengan orang-orang tak kenal waktu lainnya. Oh damn, pantai yang mesra, tepi jalan yang riuh, angkringan yang memanjakan, tepi kolam renang yang diguyur sinar purnama, mushroom yang membuat sedikit tolol, dan kafe remang2 mungkin? Ha!

Jadi bertambahlah cita2 saya saat ini: menikmati sekali lagi malam yang mesra dengan orang2 sedikit romantis (sedikit).

Sekian dulu, acungkan tangan bila berminat, dan bila tak ada suami/istri yang akan mengamuk. Better bila pasangannya (bila ada) bisa mengonsumsi mushroom juga :p

 

Batuceper, Oktober 2011

Tagged , , ,

Random

Looking from the inside, itulah judul dari proses yang sedang saya jalani, yang tadinya saya harapkan dapat membantu saya memahami dan menempatkan diri pada posisi yang selama ini saya kritisi. Pada perjalanannya, pemahaman itu tidak menjadi konta perspektif bagi pandangan saya sebelumnya, namun melengkapi dan justru memperkuat pandangan yang dianggap sinis oleh sebagian orang.

Katanya, apa salahnya menjadi orang kebanyakan, yang artinya menjadi ‘normal’? Tak ada yang salah, tak pernah ada yang salah akan hal itu selain menguapnya idealisme yang mungkin telah dipupuk sejak awal manusia memutuskan cita-citanya, yang kemudian berubah seiring waktu berjalan.

Saya selalu ingat pesan seorang pembesar, “Idealisme tak bertahan lama.” Saya begitu muda ketika itu, berumur belasan dan sedang dikelilingi oleh orang-orang idealis yang mendambakan negeri impian terbentuk di muka bumi. Saya tersenyum pada sang pembesar, mengamininya. Bagaimana tidak? Teman-teman idealis saya yang konon anti korupsi toh tak melewatkan kesempatan untuk mengambil lebih dari apa yang seharusnya. Misalnya, mengantongi merchandise yang tidak diperuntukkan bagi mereka. Sepele? Tidak bagi saya. Itu adalah sebentuk kontraproduksi dari apa yang mereka koarkan. Keyakinan saya sederhana, every little things count. Saya sendiri pernah melakukan korupsi kecil-kecilan, diam-diam mengambil kaos panitia untuk beberapa orang. Karena… bila every little things count, maka si empunya acara tak akan membiarkan panitianya mengenakan kaos yang sama selama seminggu, gila aja lu ngebiarin semua panitia berpenampilan kucel di acara yang katanya WAH! Tapi alasan saya itu akan memberikan ruang bagi pemakluman di taraf yang berbeda, ok it was just…  I was stupid…

Saya telah meninggalkan banyak hal, melewatkan banyak kesempatan demi keyakinan pribadi yang disebut idealisme. Semua itu melulu tentang sistem yang bobrok dan orang yang mendukung borok. Lalu tenggelamlah saya dalam dunia saya sendiri, dengan orang-orang yang saya pilih, dengan surga yang saya ciptakan dan optimisme yang saya tumbuhkan.

Namun dunia selalu menjadi tempat berbagi, termasuk memaksa saya untuk melihat borok lagi, menyaksikannya dalam keseharian, membagi antara harapan dan kenyataan. Topik basi yang sehari-hari kita konsumsi.

Singkat kata, seorang teman menyimpulkan semuanya menjadi, “Selamat datang di dunia yang bertingkat-tingkat!” Di mana kedudukan menjadi kunci dan nilai pribadi lebur dengan sistem yang mengagungkan tahta. Saya di dalamnya, menjadi orang dalam yang juga melihat dari luar, menjadi borok yang tak disadari, duri yang tak terasa namun ada. Saya ada. Menyaksikan lelucon demi lelucon yang tercipta 🙂

 

Batuceper, Oktober 2011

Tagged ,
%d bloggers like this: